Teruntuk Pelukisku,

Hallo Pelukis, apa kabarmu? Semoga baik-baik saja. Amin.

Sudah satu tahun lebih aku tidak mengirimu surat. Maaf, ini salahku. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sehingga aku tidak mengirimu surat. Tapi, aku sama sekali tidak lupa akan dirimu. Bahkan, kadang ada saat dimana aku berpikir tentangmu. Dan tak perlu kamu khawatir, karena namamu selalu dan terus ada dalam doaku.

Apa yang berubah sejak satu tahun aku tidak mengirimu surat, pelukis?

Banyak, pasti banyak. Jangankan satu tahun, dalam satu hari saja, banyak hal yang berubah. Bukan  masalah selama perasaanmu kepadaku masih tetap seperti dulu.

Pernah suatu ketika aku bersama temanku ngobrol tentang perubahan yang terjadi pada diri masing-masing. Masih jelas tergambar dalam ingatan bagaimana kami sewaktu sekolah dulu. Dari tingkah-tingkah yang baik, konyol hingga yang paling parah sekalipun. Kami hanya memikirkan "bagaimana cara menghabiskan hari ini agar menarik" tanpa harus berpikir "apa yang harus kami lakukan besok?" Itu adalah masa-masa yang paling menyenangkan, bukan? Kamu pun pasti merasakan, dimana masa sekolah adalah saat yang paling bahagia. Bukan soal belajar dan mengerjakan tugas, tapi tentang kesenangan yang dilakukan bersama teman.

Berbeda dengan sekarang, Selepas SMA, mulai dari situlah kita mulai berpikir, akan jadi apa hidup kita ke depan. Dari situlah mulai masa-masa yang menurutku menyebalkan. Sebagian dari kami ada yang melanjutkan pendidikan mereka, ada pula yang langsung mencari pekerjaan, sama sepertiku. Aku termasuk salah satu yang langsung mencari pekerjaan. Membayangkan bagaimana akan bekerja, membuatku malas, rasanya lebih baik terus menjadi anak-anak. Tapi apa daya, waktu tak mengijinkanku untuk tetap menjadi anak-anak.

Namun, setelah kujalani, ternyata tidak seburuk yang dibayangkan sebelumnya. Masih banyak hal-hal menyenangkan yang kutemui. Berpisah dengan teman lama, datang teman baru. Perubahan tidak seburuk yang dibayangkan. Sama seperti kamu, walaupun banyak yang berubah dari dirimu, kamu tetap yang terindah. Hidup tidak terlalu buruk, bagaimana kamu menjalaninya.

Biarlah dunia berubah sebagaimana ia harus berubah, yang terpenting jangan sampai kamu ikut terbawa arus ke yang lebih buruk. Sudah banyak orang jahat di dunia ini, jadilah orang baik agar seimbang. Dimulai dari kamu dan aku, semoga yang lain berpikiran sama. Because everythings is changed, but don't be a fucked one. 

Sampai jumpa di suratku berikutnya, pelukis. Semoga kamu tetap jadi yang terindah diantara yang indah.


Salam sayang,


Agung Adiwangsa



31 Desember 2016.
Menjelang pergantian tahun 2016 ke 2017. Yosh, waktu emang gak kerasa. Mengalir terus menerut tanpa berhenti. Bagai air sungai yang mengalir. Jadi, kalo ada diantara kalian yang ngarep masa-masa indah sama mantan kalian kembali, lupakan. Percuma, mereka gak akan kembali. Bahkan mungkin mantan kalian sudah menikah dengan pasangannya yang baru. Kalian saja yang belom. Kasian banget.

Tahun baru, semua harus baru. Kata beberapa orang, sih, gitu. Baju baru, celana baru, gadget baru. Tapi, untuk yang satu ini gue gak terlalu setuju. Tahun baru bukan berarti melupakan atau meninggalkan yang lama. Yang lama belum tentu buruk, dan yang baru belum tentu baik. Ya, gitulah. Begitupun kalian-kalian yang masih belom bisa move on, tenang. Ada alasan kalo misalkan teman-teman kalian yang kampret-kampret itu ngeledekin. Jawab aja “Tahun baru bukan berarti harus sesuatu yang baru” abis itu lempar pake petasan. Sip!

Flashback ke belakang. Banyak kejadian yang mungkin bisa dibilang gak akan terlupakan di tahun 2016 ini. Tentunya ada banyak juga pelajaran dan pengalaman yang gue dapet. Dari mulai pengalaman terbaik, sampai yang terburuk sekalipun ada.
Tahun 2016 ini bisa dibilang gue tahun ngegame bagi gue. Gak muluk-muluk. Cuman game HP doang. Khususnya Game Seven Knight besutan Netmarble. Sampe yang baru-baru ini gue mainin. Stellacept.

Mungkin ada diantara kalian yang baca berpikir “ah, ini Cuma game HP. Biasa aja. Gak ada spesialnya” eits bentar dulu. Buat gue beda lagi. Karena dari game ini juga gue dapet banyak pelajaran. Yang kayaknya kalo gue ceritain semua gak bakal selesai satu halaman.
Di game ini gue belajar tentang Leadership, Friendship, Partneship.  Kalo mau lebih jelasnya, PM aja. Girl Only!

Game itu hampir gue mainin selama tahun 2016 ini. Setiap hari, setiap waktu, siang dan malam. Ya gitulah kalo hobi udah kumat. Padahal sebelomnya udah tobat ngegame. Hahaha

Oia kalo ada yang main juga bisa kenalan IGN gue di Seven Knight yang sekerang Zekken Lead Guild Elvenz kalo di Stellacept IGN Tidez. Guild Master dari guild Rexstorm.

Selain soal game, 2016 ini keluarga kami nambah satu orang. Kakak gue yang udah nikah baru ngelahirin anak pertamanya. Perempuan. Cantik. Namanya Anezka Riana Saputri. Dan yang hari lahirnya, tepat di hari ulang tahun gue. Tanggal 22 November 2016. Fix!  Keponakan gue keren. Sama kayak om nya.  

Dipenghujung tahun, atau di akhir tahun, biasanya ada satu kebiasaan anak muda masa kini yang mungkin kalian sendiri pun melakukannya. Apa itu? Yap! Membuat Resolution. Yang pada kenyataannya, Resolution yang dibuat itu sama dengan yang dibuat di tahun sebelumnya. Jadi Resolusi tahun 2017, adalah kumpulan resolusi yang belom tercapai di tahun 2016 yang merupakan lanjutan dari resolusi di tahun 2015 yang dibuat pada tahun 2014. Tapi, gak apa-apa. Biarpun begitu, gue juga mau ikutan bikin resolusi. Cuman, dengan versi yang berbeda. Gue mau bikin Resolushit.

1. Semoga di tahun 2017 mak gue tobat nonton film india.
Please, yang satu ini kadang bikin bete. Ketika televisi dirumah dikuasai oleh ibu gue. Dari pagi yang ditonton itu drama India. Yang walaupun pada akhirnya gue ikutan duduk, dan nonton juga. Sampe sampe kesel liat Tapasha dijahatin mulu sama orang. Greget kan jadinya.

2. Semoga di tahun 2017 orang-orang semakin kreatif membuat sebutan
Pernah dengar istilah “cewek cabe-cabean” PASTI! Gue juga pernah denger istilah “Cewe lidi-lidian” sebutan untuk mereka yang punya bentuk tubuh ramping kayak lidi. Nah, semoga di tahun 2017 ini yang membuat istilah-istilah itu semakin keren dan kreatif. Kebayang gak, kalo bener ada cewe lidi-lidian. Jangankan mau pegang tangan apalagi peluk, senggol dikit aja patah. Kan berabe.

3. Semoga di tahun 2017 kasir di Supermarket atau mini market membuat salam sambutan baru.
Yap. Ini penting. Mungkin ada beberapa diantara kalian yang merupakan seorang jomblo tulen, jomblo menahun, atau bahkan jomblo karatan. Pasti dong kangen di panggil sayang. Alangkah lebih baik kalo pas kita masuk supermarket, si penjaga kasir nyambut dengan kalimat “ selamat pagi, selemat berbelanja sayang, apa kabar? Have a nice day ya sayang” kurang lebih seperti itulah. Ya, sesekali bikin jomblo seneng bolehlah.

Cukup. Jangan banyak-banyak. Nanti kalian nyesel bacanya.

Tapi, diantara itu, ada satu harapan gue. Gue berharap di tahun ini segala sesuatu buruk yang terjadi, gak terulang lagi buat gue khususnya, buat kalian semua yang baca, dan untuk negaraku tercinta Indonesia. Semoga di tahun yang baru ini kita semua bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya, Amin.

Yosh, pepatah mengatakan “Lebih baik terlambat, dari pada tidak sama sekali” oleh karena itu, daripada gue terlambat, mending ngucapin duluan.

Selamat tahun baru 2017, semoga kalian semakin keren!!

Best Regards..


Agung Adiwangsa




Teruntuk Pelukisku,

Halo manis, apa kabar? Kudengar, beberapa hari kemarin kamu sakit, ya? Hmm… Pasti karena kebiasaanmu begadang itu. Sudah kubilang, jangan begadang. Tidak baik untuk kesehatan. Bahkan, Bang Haji Rhoma Irama pun melarang begadang, kalau tiada artinya. Begadang, sih, boleh saja. Kalau ada perlunya. Jangan dibaca sambil nyanyi ya, pelukisku. Haha

Sama sepertimu, kondisiku juga tidak benar-benar baik. Bisa dibilang sakit juga, sih. Tapi, aku tidak mau dibilang begitu. I had to be strong. Yes! Stronger for me, and stronger for you. Karena jika tidak, siapa yang akan melindungimu? Hahaha.
Cuaca di tempatku kadang tidak jelas. Iya, tidak jelas. Paginya cerah, siangnya hujan, sore nya panas, malamnya gelap. Hmmm… sebentar, sepertinya ada yang salah dari kalimatku barusan. Ah, sudahlah. Mungkin perasaanku saja.

Pelukisku, bagaimana harimu?
Selalu aku berdoa agar harimu penuh dengan tawa. Apa yang lebih indah dari melihat senyum bahagia dari wajah orang yang kita cinta. Walaupun aku tidak benar-benar bisa melihatnya, tapi membayangkannya pun bisa membuatku senyum-senyum sendiri. Bisa gila aku kalo terlalu lama begini.

Pelukisku, dalam hidup ini kadang keadaan tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kegagalan, masalah, hambatan, itu akan selalu kita temui. Layaknya sebuah jalan, kita tidak pernah tau kapan kita akan menemui tikungan, entah itu tikungan tajam atau bukan. Kuncinya ada pada diri kita sendiri. Kamu harus bisa menempatkan diri, memposisikan dirimu di tempat yang tepat. As you say, kita hidup di dunia tiga dimensi. Yang baik belum tentu baik, dan yang buruk belum tentu buruk. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Dan tergantung bagaimana kita menerimanya. Kamu harus bisa memilih dan memilah. I know you can. Yes you can!  
Pedang terbaik dibuat dengan banyak tempaan. Berkali-kali dibakar. Belajarlah darinya. Kamu ditempa banyak masalah, bukan untuk menjadikanmu lembek, tetapi membuatmu menjadi semakin kuat.

Pelukisku,
Jalan kita masih sama, kan? Tetap menuju jalan kepada-NYA. Percayalah, suatu saat nanti kita akan bertemu di akhir jalan itu. Yap, di jalan-NYA.

Sampai jumpa di suratku berikutnya. Semoga kamu tetap dalam lindungan-NYA.

Salam Sayang,



Agung Adiwangsa
Kuminum secangkir kopi yang berada di sampingku. Sudah mulai dingin. Maklum, udara di taman pagi itu memang cukup dingin. Napasku saja sampai mengeluarkan asap, seperti kereta uap saja. Kucabut sebatang rokok dari bungkusnya, membakarnya, lalu menghisap perlahan. Nikmat. Itu yang pertama kali tergambar di benakku.

Sepi pagi itu mulai terusir oleh orang-orang yang beraktivitas. Ya, hari libur seperti ini, taman memang selalu jadi tempat yang pas untuk meluangkan waktu. Untuk olahraga atau hanya sekedar bermain.  Bersama keluarga, kekasih, atau sendirian, seperti aku ini.

Jauh di tanah terbuka di sana, aku melihat seorang anak kecil sedang berlari-lari mengejar bola. Tak jauh dari tempatnya, ada satu keluarga yang sedang duduk beralaskan tikar. Menyiapkan makanan yang mereka bawa dari rumah. Hmm… piknik kecil-kecilan mungkin. Ide yang bagus.
Pandanganku kembali kepada si anak tadi. Ia dengan asik mengejar-ngejar bola sendirian. Aku perhatikan, sepertinya ia masih belajar. Kadang bola itu meleset dari kakinya. Sesekali ia terjatuh. Duduk sebentar, mengusap kakinya yang kotor karena terjatuh tadi, lalu kembali bangkit. Hebat juga, aku pikir ia akan menangis.

Tak lama, seorang anak datang menghampirinya. Sepertinya kakak dari anak kecil itu. Mungkin ia ingin ikut bermain. Tapi, tunggu sebentar. Itu, kan, tidak adil. Si kakak yang lebih dewasa sudah pasti lebih hebat dari si adik. Hebatnya, si anak kecil itu tidak terlihat takut. Ia malah menantang kakaknya. Ayolah, nak, jangan mau kalah dari kakakmu!

Permainan dimulai. Si anak kecil melawan kakaknya. Mula-mula, bola di kuasai si adik. Ia menggiring dengan percaya diri. Lucunya, kadang bola itu tertinggal. Atau, ia menggiring terlalu keras. Hingga yang tadinya berniat menggiring, malah seperti mengoper kepada kakaknya. Beda dengan kakaknya yang sudah mahir memainkan bola. Berkali-kali ia membuat pusing adiknya. Si adik berusaha keras mendapatkan bolanya. Tapi tetap saja tidak berhasil.

Permainan terus berjalan dengan posisi bola masih berada di kaki sang kakak. Malah, saat ini ia sedang mempermainkan adiknya. Ah, sudah tidak seru lagi. Bahkan, aku bisa tebak, pasti akhirnya si adik menangis, lalu mengadu pada orangtuanya, kemudian permainan berakhir.

Aku mengambil sebatang rokok lagi. Kopi yang tinggal setengah itupun kembali aku seuruput. Biarpun dingin, tapi tetap enak. Matahari yang tadi bersembunyi dibalik pepohonan, sekarang mulai menampakan sinarnya. Mengusir dingin yang sedari tadi menyelimuti kulit.

Pandanganku kembali ke anak-anak tadi. Betul dugaanku. Anak kecil yang tadinya penuh semangat, sepertinya mulai menyerah. Ia duduk ditanah, terlihat kesal karena tidak mampu merebut bola dari kakaknya. Sedangkan kakaknya malah tertawa melihat adiknya itu. Apa sekarang anak kecil itu akan menangis lalu mengadu kepada orangtuanya? Ia berdiri, lalu berlari ke arah keluarganya. Aha, tebakanku betul lagi, ia mengadu kepada ibunya. Tapi, tunggu. Ia tidak terlihat menangis. Ia meminta minum. Lalu kembali bersama anak lain yang seumuran dengannya. Jadi, kembali hanya untuk mengisi tenaga dan mencari bantuan? Pintar juga. Dua anak kecil melawan satu anak dewasa. Melihat kemampuan si kakak, aku rasa ini cukup adil.

Pertandingan kembali dimulai. Tapi, bantuan yang didapat sepertinya tidak memberi perubahan. Si kakak tetap menguasai bola itu. Adiknya dan anak kecil itu dengan mudahnya ia lewati. Hadangan demi hadangan bisa ia atasi. Hebat juga.

Dua anak kecil itu terdiam. Mengatur napas, kemudian saling berbisik. Apa ia merencanakan sesuatu? Yap, sepertinya memang begitu. Kali ini mereka lebih semangat. Mereka berusaha lebih keras lagi, dan kali ini lebih kompak. Hmm… jadi itu yang mereka bisikan. Sampai akhirnya, posisi berbalik. Bola berhasil direbut. Malah, sekarang mereka berdua yang mempermainkan kakaknya. Tak lama si kakak mulai terlihat lelah dan meminta permainan dihentikan. Adiknya dan anak kecil tadi terlihat senang. Mereka berhasil mengalahkan kakaknya. Si kakak hanya tersenyum, lalu mengajak keduanya untuk beristirahat.

Aku bersandar di bangku taman. Pikiranku jauh melayang. Lalu kembali lagi ke permainan anak kecil tadi. Ada pelajaran terselip diantaranya. Seperti kata Iwan Fals “Walau hidup adalah permainan, walau hidup adalah hiburan.” Hidup adalah permainan? Ya, seperti permainan bola tadi mungkin. Aku mencoba menelaah dari awal. Ketika si anak kecil mulai bermain. Coba anggap tujuan adalah bola itu. Untuk mendapatkanya, tentu harus mengejarnya. Tidak mungkin bola itu akan menghampiri dengan sendirinya. Ketika bola tersebut meleset dari kaki, tidak jarang juga kita meleset dalam mencapai tujuan. Tapi jangan ragu untuk kembali berusaha. Terjatuh itu hal yang biasa. Tidak ada jalan yang mulus untuk mencapai satu kesuksesan. Poin pentingnya adalah jangan menyerah.

Kemudian tentang si kakak yang tiba-tiba datang sebagai lawan. Sudah menjadi hal biasa jika dalam hidup kita menemui lawan. Yap, masalah. Dalam perjalanan, kita pasti menemui masalah. Entah itu jalan berkelok, atau jalan buntu sekalipun. Dan lagi, pasti akan ada orang yang berusaha membuat kita tersesat. Supaya kita tidak bisa mencapai tujuan. Jika tidak mahir, sudah pasti kita akan dipermainkan oleh si masalah itu sendiri. Berlarilah bukan untuk menjauhi masalah, tapi menghadang untuk menghadapi. Buat ia takut, jangan sampai kita yang takut. Anak kecil itu duduk dan terlihat kesal. Kadang kita juga tidak bisa menerima apa yang terjadi. Kita marah. Tapi itu bukan cara yang baik. Boleh saja mengeluh, asal jangan menyerah. Masalah dan solusi itu selalu berdampingan. Beristilahatlah sejenak, sempatkan sedikit waktu untuk minum, mengisi ulang tenaga, lalu mulailah mencari solusi. Meminta bantuan orang lain misalnya.

Semakin dekat dengan tujuan, semakin besar rintangannya. Semakin kuat pula lawan kita. Disitulah kita harus berpikir tentang strategi. Lalu bisikan kepada teman, karena bekerja sama akan membuat kita tak terkalahkan. Sampai akhirnya kita sampai di tujuan kita. Sambil tersenyum lalu berkata “Yap, aku menang.”

Hmm… Pagi yang luar biasa. Pelajaran memang bukan hanya dari orang yang berdiri di depan kelas sambil menerangkan materi. Ada banyak ilmu yang harus di ambil dengan tangan kita sendiri. Belajar dari alam, dari orang sekitar, dan belajar dari hidup.

Satu teguk terakhir dari gelas plastik kopiku. Aku berdiri dan menarik napas panjang. Segar sekali. Kemudian aku melangkahkan kaki dari tempatku duduk tadi. Hmm… apa yang akan kulakukan hari ini? Yes! I will play my life…
Teruntuk Pelukis,

Surat datang, Pelukisku! Cukup lama dari suratku sebelumnya. Apa kamu merindukanku? Ah, salah. Aku tidak perlu bertanya begitu. Kamu sudah pasti rindu padaku, kan? hahaha! Aku terlalu percaya diri.

Pelukis, sudah masuk bulan ramadhan. Waktu memang tidak terasa, berlalu begitu saja. Rasanya, baru kemarin kita puasa. Aku jadi ingat ramadhan beberapa tahun lalu. Aku langganan membangunkan sahur bersama teman-temanku. Kami tidur di mesjid, atau di rumah salah seorang teman. Setelah waktunya tiba, kami segera berkeliling sambil memukul-mukul benda untuk membangunkan orang-orang. Lalu, ketika waktu berbuka sudah lewat, kami bersama-sama pergi ke mesjid untuk melaksanakan shalat tarawih. Ada satu kegiatan yang cukup menyenangkan, perang samping. Kamu tahu? Biasanya, aku bersama teman-temanku akan melakukan ini sampai tarawih akan dimulai, atau setidaknya sampai ada orang yang memarahi, karena kegaduhan akibat ulah kami. Hahaha ! Menyenangkan sekali.

Itu dulu. Sekarang, beda lagi. Teman-temanku sudah punya kesibukannya masing-masing. Untuk berkumpul saja, sulit sekali. Yah, seperti kataku, waktu memang cepat berlalu. Bagaimana ramadhanmu, sayang? Menyenangkan ? Harus!

Pelukis, kamu tahu dengan kalimat ini "Pada bulan ramadhan, setan-setan akan diikat." Kamu pasti tahu. Tapi, aku bingung. Begini, katanya, setan diikat. Lalu, orang-orang yang terang-terangan tidak berpuasa tanpa halangan, apa itu bukan setan? Yang tetap berbuat jahat, apa itu bukan setan? Aku pikir, kalau setan diikat, sudah pasti setiap kali bulan ramadhan tiba, hidup kita akan tentram. Lalu, siapa yang mengikat setan? Orang hanya tahu kalimat itu, tapi mereka tidak mencari tahu maksudnya. Sama sepertiku.

Aku berpikir, sampai akhirnya aku mendapat jawabanku sendiri.  Siapa yang mengikat setan? Kita sendiri. Kita yang harus mengikat setan. Ingat, puasa itu bukan cuma menahan lapar dan haus, bukan? Tapi juga menahan hawa nafsu. Hawa nafsu itu, bisa diibaratkan setan, kan? Ya, nafsu untuk makan ketika puasa, nafsu untuk berbohong, nafsu untuk berbuat jahat, bukankah itu pekerjaan setan? Menurutku, jika seseorang benar-benar puasa dan menahan hawa nafsu mereka, berarti dia telah mengikat setan. Jika semua orang benar-benar puasa, berarti semua telah mengikat setan. Maka benar, saat ramadhan itu, setan diikat. Betul tidak? Hahaha! Ini menurutku yang sok tahu, sih. Dan dengan ke sok tahuanku ini, aku ingin mengajakmu benar-benar mengikat setan.  Ya, dimulai dari kita, semoga semua orang mengikuti. Agar ramadhan ini, setan benar-benar diikat.

Pelukis, kita ingin jadi pasangan dunia akhirat, bukan? Seperti katamu, cukup berjalan kepada-Nya, agar kita bisa bertemu. Dan satu hal, kita juga perlu membersihkan jalan kepada-Nya, agar perjalanan kita tidak sulit. Ya, butuh perjuangan memang. Tapi, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Kamu tidak perlu takut. Kamu tidak sendiri. Ada aku, kita berjuang bersama, oke?

Sampai jumpa di akhir jalan yang bahagia, dalam skema kebahagiaan kita bersama. Aku dan kamu, sayang.

Salam sayang,


Agung Adiwangsa
Teruntuk Pelukisku,


Haiii, Pelukisku!!! Sudah bulan Juni. Sebentar lagi bulan ramadhan. Tidak terasa, ya?
Sampai saat ini, sudah berapa lama kita bersama? Ah, aku tidak pernah menghitung. Jumlah itu hanya sebuah ukuran. Aku ingin bersamamu selamanya, tanpa terpaut hitungan tersebut. Bahkan, hari jadi kita pun, aku tidak tahu. Bagiku, setiap hari adalah hari kita. Begitu lebih menyenangkan bukan?

Pelukis, kamu lihat berita yang ramai sekarang ini? Ya, tentang suara terompet dari langit, cuaca ekstrim di India, dan masih banyak fenomena yang lain. Kebanyakan orang menganggap itu adalah kiamat atau pertanda kiamat. Ada juga yang bilang itu hanya fenomena alam biasa. Menurutmu, bagaimana?

Tentang kiamat. Menurutku, setiap hari kita selalu berhadapan dengan kiamat. Bukan peristiwa hancurnya seluruh alam semesta ini. Tapi, kiamat-kiamat kecil yang selalu terjadi. Seperti gempa bumi, gunung meletus, longsor dan bencana alam lain. Itu kiamat kecil, bukan? Bakhan, kematian seseorang pun bisa disebut kiamat.

Kemarin aku sempat ngobrol dengan si bapak yang sering kuceritakan. Ada satu pertanyaan yang membuatku merasa bodoh. Kami sedang membahas kiamat ini. Lalu dia bertanya,

"Gung, syahadat emang gimana?"

Aku menjawab dengan membaca dua kalimat syahadat beserta artinya.

"Berarti kamu yakin akan adanya Allah dan nabi Muhammad? Kamu takut sama Allah?"

Aku mengangguk.

"Yakin sama Allah, takut sama Allah, tapi masih bikin kesalahan. Ngelakuin dosa."

Aku diam mendengar ucapan si bapak itu.

"Jarang orang yang bener-bener syahadat. Mungkin jaman rasul ada. Bapak sendiri masih salah. Bapak masih suka bikin dosa. Setan memang menggoda kita setiap detik, berbarengan dengan berdetaknya nadi kita. Nah, makanya dengan syahadat itu, kita jangan kalah sama setan. Kok mau-maunya dikalahin setan."

Sentilan yang menakjubkan bukan?

Sama seperti kiamat yang ramai sekarang. Kamu jangan seperti aku, ya? Takut sama kiamat, takut mati, pengen masuk surga, tapi cuma ngomong doang. Bukannya sudah jelas yang bisa menyelamatkan kita, ya diri sendiri. Yang udah, yaudahlah. Kan, pepatah juga bilang "Jangan ngeliat kebelakang, nanti nabrak." Itu maksudnya kesalahan yang udah, jangan dijadiin pikiran. Benerin aja yang ada di depan. Liat spion buat mempelajari yang di belakang, supaya kita tahu apa yang harus dilakuin ke depannya. Begitu, bukan?

Baru kemarin kita buka lembar baru. Aku pengen ngebenerin diri. Aku mau ajak kamu, kamu mau, kan? Bukannya cita-cita kita menjadi pasangan dunia akhirat? Makanya aku lagi ngebangun rumah masa depanku. Kamu juga, ya? Supaya kita bisa tinggal di rumah yang aman, nyaman, wangi, bersih. Dengan begitu, kita gak perlu mencari kebahagiaan. Tapi buat kebahagiaan kita sendiri. Oke?

Sampai berjumpa di rumah masa depan kita, Pelukisku.




Salam sayang,


Agung Adiwangsa


Aku sedang membangun rumah. Ya, untuk masa depanku kelak.

Ternyata, membangun rumah yang baik itu tidak mudah, ya? Banyak proses yang harus kulewati. Aku tidak bisa membangun sekaligus. Semuanya bertahap. Makanya, saat ini aku sedang fokus pada pondasi. Aku ingin membangun sebuah pondasi yang kuat. Sehingga angin sekencang apa pun tidak bisa merobohkannya, gempa sedahsyat apa pun tidak bisa menghancurkannya.

Bahan yang kugunakan pun tidak boleh sembarangan. Banyak orang salah memilih bahan, sehingga pondasinya tidak kuat. Hantaman kecil saja, bisa goyah, akhirnya hancur. Kupikir, di sini letak kesalahan orang-orang. Mereka tergiur pada popularitas. Mencari bekal kepada orang yang "katanya" tepat, "nyatanya" tidak baik. Mereka disuguhi sesuatu yang terlihat baik, padahal buruk.

Aku tidak ingin seperti mereka, tersesat ke dalam jurang yang terlihat indah. Sampul kadang bisa mengelabui. Berbalut emas, belum tentu berisi berlian. Beruntung aku menemukan tempat yang tepat. Memang, tidak terihat bagus seperti yang lain, tapi memiliki kualitas yang lebih. Aku sudah mulai, dengan bahan yang tepat, membangun sebuah pondasi yang kuat untuk diriku.

Jika pondasiku sudah selesai, aku akan membangun dinding yang kokoh. Aku sadar, dunia ini sangat kejam. Maka dari itu,  aku ingin membuat tempat untuk berlindung dari segala macam kejahatan. Agar aku bisa selamat dari segala gangguan, tentu selamat hingga akhir. Itu bukan, impian semua orang?

Setelah itu, aku akan menghias rumahku, agar semua betah dan ingin tinggal di sana. Mereka yang berniat baik dan membawa kebaikan tentunya. Menyenangkan bukan, jika rumah kita yang indah ini dihuni oleh orang-orang yang baik? Namun, kalaupun aku harus berhadapan dengan mereka yang berniat buruk, aku sudah siap. Pondasi yang kuat dan dinding yang kokoh itu akan tetap berdiri, melindungiku dari berbagai macam kejahatan. InsyaAllah.

Membangun rumah yang nyata memang tidak mudah, perlu modal besar dan usaha yang keras. Aku belum bisa. Tapi, aku ingin membangun rumah lain, rumah yang ada dalam diriku. Rumah sempurna, seperti yang kuceritakan. Dimulai dari sekarang, untuk masa depanku nanti.




Teruntuk pelukisku,


Maaf, Pelukisku. Aku baru sempat menulis surat lagi untukmu. Bukan aku melupakanmu, tidak sedetikpun.

Pelukisku, nenek sudah pulang. Tepat tiga bulan semenjak ia jatuh sakit, di jari Jum'at, ia dipanggil oleh penciptanya. Ia pergi dengan sebuah senyum di bibirnya. Aku ingat ketika pertama kali ia sakit. Aku dan pamanku membawanya dari rumahku ke rumahnya dengan kursi roda. Sakitnya belum terlalu parah, kami masih tertawa bersama ketika di perjalanan. Ia masih bisa berjalan, dengan dipapah. Tapi, untuk berjalan jauh, ia sudah tidak mampu.

Sebulan kemudian, sakitnya bertambah parah. Sebagian anggota tubuhnya tidak berfungsi. Bicaranya pun sudah mulai tidak jelas. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. Seperti yang pernah kuceritakan, ia hanya bisa mengerang ketika ingin sesuatu, atau ketika merasa sakit. Semakin hari, sakitnya semakin parah. Anggota tubuhnya sudah tidak berfungsi, lemas. Bicara pun sudah tidak bisa. Untuk makan saja, ibu harus memaksa makanan masuk ke mulutnya. Tidak banyak, paling hanya beberapa sendok. Hingga akhirnya, di bulan ketiga, Allah memanggilnya.

Selama nenek sakit, selama itu pula aku tidak pernah pulang ke rumahku. Aku setia menemaninya bersama dengan pamanku. Bayangkan, selama tiga bulan, aku tidur paling cepat jam tiga pagi. Kadang aku tidak tidur sama sekali. Untung saja, aku masih bebas. Jadi, itu bukan masalah buatku. Hanya saja, terlalu banyak begadang membuat kondisi tubuhku lemah. Tapi, aku tidak pernah bilang ketika aku sakit. Aku tidak ingin merepotkan ibu yang fokus merawat nenek. Benar saja, tanpa di obati, penyakit itu sembuh sendiri. Wajar kalau kamu sering meledekku dengan kata "Ringkih." Tapi, aku punya alasan untuk itu.

Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa aku lakukan semua ini untuk nenekku? Padahal, ada anak-anaknya yang seharusnya menjaga. Kamu masih ingat? Aku pernah berkata "Jangan membedakan orangtua."? Nenek adalah ibu dari ibuku. Aku berpikir, jika aku berbakti padanya, itu sama dengan aku berbakti pada ibuku. Toh, nenek juga orangtuaku, kan? Dari sekian banyak cucunya, hanya aku yang melakukan semua ini. Aku bangga dengan hal itu.

Ada satu kejadian unik ketika aku dan pamanku jiarah ke makam nenek. Makamnya sangat harum. Padahal, sudah seminggu lebih. Wangi bunga melati mengelilingi rumahnya yang baru itu. Hanya di makam nenekku. Aku tersenyum, nenek sudah tenang di sana.

Oh, iya. Mengenai harapan yang selalu kamu ucapkan. Pelukis, kamu boleh berharap setinggi langit. Tapi, jangan pernah tinggalkan bumi. Aku pun sama, berharap sepertimu. Ingin agar kisah kita menemui akhir yang bahagia. Tapi, pada hakikatnya, manusia hanya bisa berharap, Allah yang menentukan akhirnya. Maka dari itu, kita paksa Allah mewujudkan harapan kita, dengan berdoa tentunya.

Selagi kita menanti harapan itu, kita sama-sama memperbaiki diri. Mengobati luka yang masih bertebaran di tubuh masing-masing. Agar nanti ketika kita bersatu, kita tidak hanya menjadi pasangan yang serasi, tapi juga sempurna.



Salam sayang,



Agung Adiwangsa






Previous PostOlder Posts Home