Hallo pelukisku, apa kabar? Sudah lama rupanya aku tidak mengirimu surat. Maafkan aku. Bukannya tidak mau, hanya saja aku tidak sempat menulisnya. Bagaimana keadaanmu disana? Baik-baik saja kah ? Ah pasti kamu selalu susah untuk makan. Betul kan ? aku sudah hapal betul kebiasaanmu yang satu itu. Aku saja sampai bingung harus bagaimana mengatasinya. Tapi aku tidak akan pernah bosan untuk mengingatkanmu. Apalagi dalam beribadah. Jangan pernah sekalipun meninggalkan shalat dengan sengaja yah. Karena itulah yang nantinya akan menyelamatkanmu.

Bagaimana keadaan orang tua mu? Sehatkah ? Aku selalu mendoakan untuk kesehatan kalian. Terutama kesehatanmu. Sungguh, aku tidak tega ketika mendengar kabar bahwa kamu sakit. Apalagi mendengar suaramu yang sangat lemah. Sungguh aku tidak sanggup. Maka dari itu, selalu jaga kesehatanmu agar kamu tetap bisa ceria seperti biasanya. Aku sangat suka ketika mendengarmu tertawa. Sungguh, itu adalah suntikan semangat untukku dalam mengerjakan segala hal.

Pelukisku, bagaimana liburanmu? Menyenangkan kah ? dari foto-foto yang aku lihat di akun sosial media mu, sepertinya kamu sangat menikmati liburanmu. Aku bersyukur melihatmu bahagia seperti itu. Senyuman yang merekah dari bibirmu itu suatu pemandangan indah untukku. Tawa mu yang terdengar sangat renyah itu merupakan melodi yang indah yang selalu ingin aku dengar. Kebahagianmu itu adalah satu hal yang selalu aku ingin wujudkan. Kamu tahu kenapa aku selalu memintamu mengirimkan foto, video ataupun voice note ? sebenarnya bukan hanya itu yang ingin aku lihat. Aku ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Walaupun aku tidak tahu yang kamu tunjukan saat itu benar atau hanya pencitraan saja. Setidaknya, ketika aku melihat senyumu di foto, tawamu di video dan mendengar suaramu di voice note yang terlihat bahagia, itu membuatku merasa tenang. Sungguh, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.

Oh iya, aku dengar kemarin kamu pergi ke Bogor untuk melihat calon kampusmu nanti ? Bagaimana kunjungan mu itu ? Menyenangkan ? Semoga nanti kamu bisa masuk ke universitas yang kamu inginkan ya. Maka dari itu, belajar yang rajin dari sekarang. Tapi tidak lupa di barengi dengan doa. Aku selalu mengirimu doa untuk kesuksesanmu kelak. Perjuangan itu perlu untuk mencapai satu keinginan. Aku yakin kamu bisa, karena aku tahu kamu pintar. Tapi jangan sombong diri dulu. Pintar bukan berarti berhenti belajar. Belajar itu perlu, bahkan jangan pernah berhenti belajar. Sampai saat ini aku pun masih terus belajar. Walaupun tidak di bangku sekolah lagi. Banyak yang tidak aku tahu di dunia ini. Makanya aku terus belajar.

Pelukisku, menurutmu, bagaimana kota Bogor ini? Kemana saja kamu selama di Bogor? Aku lihat kamu main ke Kebun Raya Bogor bukan ? Bagaimana disana? Apa kamu pergi ke taman teratai seperti yang aku katakan ? Aku suka tempat itu. Melihat kolam yang penuh dengan tumbuhan teratai itu bisa menenangkan pikiranku. Atau, apa kamu pergi ke danau nya? Disana sangatlah indah pelukisku. Dari situ, kamu bisa melihat istana Bogor. Pokoknya disana itu sangat menyenangkan. Aku sangat suka duduk di bangku dan di kelilingi oleh tumbuhan. Selain sejuk dan udaranya segar, itu juga bisa menenangkan pikiranku. Maka dari itu sayangilah tumbuhan. Karena tumbuhan itu sangat penting untuk kehidupan manusia. Jika tidak ada tumbuhan, darimana kita bisa mendapatkan oksigen ? Atau bahan makanan ? Aku selalu membiasakan diri untuk menanam pohon. Aku menanam pohon di pekarangan rumahku. Aku pikir, untuk cadangan oksigen penerusku kelak. Karena kalau bukan kita yang melakukannya, siapa lagi ?

Hari itu aku sangat kesal karena rencana untuk bertemu yang sudah aku siapkan dari jauh-jauh hari itu gagal karena aku ada keperluan yang mendadak. Pokoknya hari itu aku merasa bete sekali. Bahkan aku sudah membuat sebuah kerajinan tangan berbentuk doraemon kartun kesukaanmu. Sampai sekarang doraemon itu tergantung di meja komputerku. Setiap kali aku melihatnya, aku pasti ingat kamu. Ah rindu sekali rasanya. Sudah berapa lama kita tidak bertemu ? terakhir bertemu ketika kemarin aku main kerumah mu. Itupun hanya sehari saja. Operasi zebra itu membuatku tidak leluasa pergi kemana-mana. Belum punya Surat Ijin Mengemudi. Aku hanya punya Surat Ijin Mencintaimu ha ha ha.

Aku selalu ingin tertawa ketika mengingat pertemuan kita kemarin. Awalnya aku berniat mengejutkanmu dengan tiba-tiba ada di depan sekolahmu. Aku sengaja berangkat sebelum jam pulang sekolahmu. Aku menunggu di pinggir lapangan sampai harus pindah berkali-kali karena salah parkir. Akhirnya aku pura-pura membeli minuman di Indomart, padahal sebenarnya aku hanya numpang parkir. Sengaja aku datang 1 jam lebih awal karena takut kamu keburu pulang, dan yang terjadi ternyata benar kamu keburu pulang. Aku jadi tertawa sendiri disana. Untungnya kamu baik hati mau kembali dan kita bertemu disana. Di depan Indomart. Sudah termasuk so sweet belum? Hahaha tapi aku tidak peduli, karena dimanapun tempatnya, kamulah yang membuat semuanya menjadi indah.     

Lalu ketika aku mengantarmu pulang. Saat kita sudah dekat dengan rumahmu, aku hampir salah jalan karena aku tidak melihat tanda forbidden. Saat itu banyak orang yang melihat, dan mentertawakan kita berdua hahaha. Ah aku memalukan sekali, untung sudah masuk perumahan jadi enggak akan di marahin polisi. Kalau sampai dimarahin, kan malu sama kucing yang meong meong meong itu. Tapi biarlah aku memalukan, yang penting kamu tertawa. 

Lanjut lagi ketika adikmu baru pulang sekolah. Lucu sekali melihat ekspresi adikmu saat itu. Mungkin ketika dia turun dari motor dia merasa ada di dunia lain, karena melihat lelaki tampan sedang duduk di depan rumahnya. Ayo jujur, aku tampan kan ? hahaha. Lucu sekali ekspresinya, entah karena salting atau kenapa. Pokoknya lucu. Sama sih kamu juga lucu hihihi.

Kemudian saat aku pulang dari rumahmu. Kali ini bukan karena aku salah jalan lagi. Bukan. Tapi saat di jalan, aku pulang lewat ke perumnas. Aku memilih jalan itu karena aku pikir itu lebih dekat dari jalan sebelumnya. Awalnya aku tenang saja jalan lewat sana. Sampai tidak lama aku melihat banyak mobil. Aku mulai tidak enak hati, pasti itu operasi zebra. Dan ternyata benar, disana ada razia. Tadinya aku mau berhenti dan putar arah. Karena aku lupa tidak membawa STNK ditambah lagi aku belum punya SIM. Sudah pasti motorku akan langsung di sita tanpa basa-basi lagi. Tapi saat aku akan kembali, aku berpikir lagi. Bagaimana kalau nanti aku lupa jalan dan kesasar? Aku berhenti sejenak. Dengan menyebut basmalah, aku nekat nerobos razia itu. “ah kena tilang mah urusan nanti” pikirku. Saat sudah dekat, aku belaga pede padahal hati deg-degan hahaha. Dan berkat rahmat Allah. Aku lolos begitu saja. Malah, pengendara motor di sampingku yang kena. Hahaha rejeki anak soleh. Kemudian aku pulang dengan santai, sambil senyum-senyum menjijikan mengingat kejadian lucu yang baru saja aku alami.

Oh iya ada lagi satu kejadian lucu. Jadi begini, aku ke sana itu sekalian mau memperpanjang STNK karena masa berlakunya sudah habis. Dari rumah sengaja aku berangkat selepas shalat subuh untuk menghindari razia. Lalu, setelah di perpanjang dan aku bersiap untuk pulang. Memang, ucapan kita itu adalah doa. Aku bilang gini “Nah sekarang mau ada polisi juga gak takut. Udah lengkap, mau tilang juga silahkan kalau bisa” dan saat di jalan pulang. Aku yang saat itu bersama saudaraku kena tilang. Sial memang. Dan yang lucu itu kami kena tilang bukan karena ada razia. Tapi karena salah jalan, dan tidak melihat tanda forbidden. hahaha selama di mintai keterangan oleh pak polisi, aku senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Bukan karena gila, tapi karena melihat kesalahan ku yang salah jalan sama seperti saat menuju ke rumahmu. Dan STNK yang baru saja di perpanjang itu akhirnya di sita polisi juga. Sia-sia sudah berangkat subuh agar terlepas dari operasi zebra karena akhirnya kena tilang juga hahaha. Ada-ada saja.

Tapi pelukisku, terlepas dari semua kejadian lucu itu. Ada yang lebih membuatku tesenyum bahagia. Yaitu ketika aku duduk di depanmu. Melihat senyumu, melihat tawamu, dan mendengar suaramu. Meskipun aku harus bertingkah seperti orang gila,tapi aku ikhlas melakukan semua itu asal kamu bahagia. Asalkan kamu bahagia. Selalu bahagia.

Pelukisku, sampai disini dulu ya suratku kali ini. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku ceritakan kepadamu. Tapi biarlah itu untuk suratku selanjutnya. Baik-baik disana, jaga adikmu dan bantu orang tuamu ya. Dan tetaplah menjadi si gadis yang riang selamanya. Sampaikan salam hangatku untuk orang tuamu, terutama ibumu yah.

Dari aku yang selalu mencintaimu.


 
Agung Adiwangsa.



Malam ini gue lagi duduk di depan rumah nenek gue sambil genjrang-genjreng gitar gak jelas. Untung aja gak di lempar sama tetangga karena suara gue terlalu bagus. Para tetangga sepertinya lagi menimbun diri di dalam selimut. Emang cuaca malam ini sangat dingin. Ditambah hujan gerimis romantis. Bikin orang-orang pengen pelukan karena gak kuat dingin nya. Hih untung gue bisa meluk gitar.

Gue mainin beberapa lagu dari om Iwan Fals. Walaupun suara gue pas-pasan, tapi karena lagunya bagus. Jadi kedenger bagus. Kebetulan gue nyanyi nya pelan, jadi yang denger cuma gue. Menurut gue sih bagus. Gak tau deh kalo mas Anang. Kayaknya lagi sibuk dengan film tentang istrinya yang melahirkan itu. Hih banget deh.

Kemudian gue beranjak dari tempat duduk, berhenti sejenak dari kegiatan meluk gitar, karena gitarnya mulai jijik gue pelukin mulu. Akhirnya gue putus sama si gitar, dan kemudian dia galau. Dia nyanyi lagu-lagu galau sendirian. Yaudah gue tinggalin aja. Gue nyari-nyari sesuatu di depan rumah. Sampe saudara gue yang ngeliat tingkah gue yang aneh itu nanya 

“Gung, lu tau gak Anang bikin film tentang istrinya yang melahirkan ?”

“oh iya? Udah sampe season berapa? Season tahun baru?”

eehh sorry bukan itu. Itu Cuma becanda aja biar lucu. Kalo gak lucu yaudah jangan ketawa. Apalagi senyum-senyum menjijikan gitu. Jangan !
Saudara gue nanya gini

“Gung, lagi ngapain ?”

“Gue lagi nyari stop kontak nih”

“oooohhh nyari itu”

“iya, dimana ya?”

“toko matrial banyak”

Kemudian setelah itu gue sambit dia pake palunya Bima yang di film Mahabar*ata.
Gak lama, ketemu juga stop kontaknya, ternyata ngumpet di balik kandang burung paman gue.
Lalu gue masuk rumah lalu keluar dengan membawa laptop dan secangkir kopi.

Gue pikir hujan-hujan gini ngopi sambil main laptop asik juga. Iseng buka twitter sama facebook. Untung operator three baik banget bisa buka facebook dan twitter gratis, jadi gue yang lagi krisis kuota masih bisa berselancar di dunia maya. Maklum ABG mainannya dunia maya. Ah elaah.

Gue liat-liat di twitter tapi gak ada notif satupun. Menyedihkan. Mention juga kebanyakan malah dari akun-akun gak jelas. Semakin menyedihkan. Jadi sok lah buat kamu-kamu yang baik hati, silahkan mention biar rame. Kasian gue kesepian. Kencing aja sendiri, gak ada yang mau nemenin. Tapi jangan minta follow ini itu, apalagi minta duit. Gue juga lagi butuh, mau ngasih ?

Gue liat-liat lagi twitter. Sepertinya malam ini banyak orang yang lagi galau. Soalnya di timeline gue banyak banget yang pada ngeluh-ngeluh gitu. Dari yang emotnya Cuma “:(” sampe yang emotnya “:((((((((((((((” gitu.

Setelah ngeliat itu, ada banyak pertanyaan di kepala gue. Yah kira-kira ada 2 lah. Pertama “kenapa sih mereka sampe ngeluh gitu? Seberat apa sih cobaan yang mereka hadapi?” yang kedua “memang harus ngeluh dengan cara seperti itu yah ?”

Kenapa sih mereka ngeluh ? seberat apa sih cobaan yang mereka hadapi?

Ya, kadang gue suka mikir. Seberapa berat sih cobaannya? Kok bisa sampe kayak gitu? Yang bikin gue heran, kebanyakan yang gue lihat, mereka ngeluh karena masalah cinta. Mereka yang patah hati. Setau gue sih, patah hati itu bukan berarti mati. Tapi gak jarang yang patah hati sampe-sampe kayak mau mati. Terus yang keliatannya lagi single. Gue gak mau sebut jomblo walaupun jomblo dan single itu sama aja. Tapi kan kebanyakan gak mau di sebut jomblo, pengennya single, ya kan ? Mereka yang single dan merasa kesepian. Seolah-olah dia itu cuma sendirian di dunia ini. Mungkin di rumahnya gak ada jendela. Jadi mereka gak bisa buka jendela dan ngeliat begitu banyak orang diluar sana. Dan seolah-olah kesendiriannya itu membawa mereka ke dalam goa yang penuh dengan manusia serigala kolaborasi dengan manusia harimau yang sedang dalam keadaan lapar. FYI aja sih gue juga lagi single, cuma posisi hati enggak kosong. Ada yang isi, dan gue nikmatin itu. HA HA HA.

Pokoknya masih banyak lagi deh yang lainnya. Dengan masalah dan cara nya masing-masing. Gue gak mau munafik juga. Kadang gue juga suka ngeluh. Cuman gue suka susah buat ngungkapinnya, jadi gue suka ngeluh sendiri dalem hati. Tapi bukan berarti gue gak pernah ngeluh kayak orang-orang gitu. Jujur gue juga pernah. Dan sekarang gue sedang berusaha buat menghilangkan sifat seperti itu. Gue pengen memperbaiki diri gue. Kemarin gue sempet ngobrol sama seorang penjual pecel lele. 
Di tengah percakapan gue bilang gini.

“Pa, kenapa ya hati tuh suka gak tenang. Kayak ada beban gitu.”

Dia jawab seperti ini.

“Jangan suudzon. Ikhlasin aja. Kalo ada masalah, kamu ikhlasin. Kita mikirnya positif aja. Kayak misalnya bapak mau masang tenda buat dagang. Tapi hujan, ah bapak cuek aja tetep masang. Urusan ada yang beli atau enggak, itu urusan belakangan. Yang penting udah usaha. Kalo kitanya sungguh-sungguh, Allah pasti bantu kita. Di saat kita ada masalah, ada cobaan dan lainnya. Kamu jangan langsung ngeluh dan nyerah gitu aja. Kamu harus siap. Allah lagi nguji kamu. Kamu terima dengan keteguhan hati. Keteguhan hati yang yakin kalo di hati kamu itu ada Allah. Kamu berdoa sama Allah, ‘kalo ini cobaan darimu, saya siap. Tapi berikan saya kesehatan, kekuatan, dan kesabaran untuk menghadapinya’. InsyaAllah hati kamu tenang”

Kira-kira seperti itu lah. Gue sering ngobrol sama orang yang lebih dewasa dari gue. Ngambil pelajaran dari kehidupan mereka. Pelajaran yang sangat berharga khususnya buat gue.


Memang harus ngeluh dengan cara seperti itu?

Ada banyak banget cara-cara orang buat ngeluh. Misalnya gue. Kadang gue suka ngeluh tapi di simpangin biar keliatannya lagi ngelucu. Padahal itu lagi ngeluh. Dan gak lucu pula. Yang gue liat saat ini, banyak banget mereka yang ngeluh dengan cara mengumbarnya di socmed. Dan pertanyaanya “Kayak gitu biar apa?” apa biar semua orang ngeliat, lalu iba sama kita, lalu kasihan sama kita, lalu kita di kasih duit receh seribuan biar gak nangis? Gitu? Ah elaaah, plis deh cyin. Gak semua orang mau tau masalah kita. Bahkan ada yang malah memandang sebelah mata setelah kita ngeluh dengan cara seperti itu. Lalu harus bagaimana? Ya coba jangan ngeluh lah. Mikir positif aja. Atau bisa dengan curhat ke temen aja, gak perlu diumbar sampe dunia tau.

Terlepas dari semua yang ada di atas. Gue gak bermaksud menggurui kalian semua. Cuma sekedar mencurahkan apa yang ada di kepala dan berbagi pengalaman yang gue alami. Ambil positifnya, buang negatifnya.

Wah gak kerasa kopi udah mau abis lagi. Daripada kepanjangan terus yang baca pada muntaber karena tulisan gue, jadi udah dulu ya. Kasian gitar gue kedinginan gak ada yang meluk. Eeeh udah gak usah ngeluh !!

 Best Regards



Agung Adiwangsa   






Di postingan gue ini, gue mau bilang 

Selamat Hari Ibu Untuk Seluruh Ibu di Muka Bumi ini”

Yah biarpun hari ibunya udah lewat, tapi gak apa apa. Maklumin aja lah, paket malem jadi ya begini. Udah kayak mahluk nokturnal, keluarnya tengah malem. Siangnya hibernasi di kamar.
Seorang yang bernama Eti Sumiati atau lebih sering gue panggil dengan sebutan “mama”. Ibu dari tiga anak, yaitu ; Kakak gue, gue, dan adik gue. Yang bertugas sebagai ibu sekaligus ayah buat gue. Dengan kata lain, dialah ibu gue. 

Beliau adalah orang yang super amat sangat hebat bagi gue.  Bayangin, beberapa tahun silam, beliau rela mempertaruhkan nyawanya buat ngelahirin gue (Gak mau sebut tahun, nanti ketahuan umur gue udah 20 tahun). Udah gitu, setelah gue lahir, beliau juga yang ngurus gue, ngasih makan, jagain gue dan menuhin kebutuhan-kebutuhan gue. Betul kan? Itu aja rasanya gue gak akan mungkin bisa ngebales kebaikan ibu gue. Gak akan bisa. 

Ibu gue adalah ibu sekaligus ayah buat gue. Iya, semenjak Ayah gue meninggal saat gue kelas 5 SD di RSUD Ciawi karena penyakit yang di deritanya, otomatis ibu gue lah yang sampai saat ini berperan sebagai Ayah buat kakak gue, gue dan adik gue. Beliau yang memenuhi kebutuhan dirumah sekaligus mencari nafkah untuk keperluan kami. Walaupun ada uang pensiunan ayah gue, tapi tetep aja gak cukup. Dengan pensiunan yang gak seberapa, harus cukup untuk keperluan sehari-hari. Belum lagi harus bisa ngebiayain sekolah kami bertiga. Tapi dengan kehebatan ibu gue, beliau memanfaatkan kebisaannya dalam membuat kue untuk menuhin semua keperluan itu. Dan alhamdulilahnya selalu saja ada orang yang butuh bantuan ibu gue. Gue suka kasihan sama ibu gue. Kadang beliau harus tidur sampe larut malem dan bangun pagi sekali untuk menyelesaikan pesanan pelanggannya. Gue suka ikut bantuin walaupun cuma ngaduk adonan kue, atau nganterin kue yang udah jadi ke pelanggan.

Waktu kecil, gue itu sering sakit sakitan. Gue pernah 3 tahun beruturut-turut minum obat dan sebulan sekali harus check up ke dokter. Dan selama itu, ibu gue lah yang jadi malaikat yang ngerawat gue. Pernah suatu ketika gue harus check up ke dokter malem malem sekitar pukul 8. Pas mau berangkat, hujan turun sangat deras disertai petir yang nyamber gak berhenti-berhenti. Dan sialnya, entah kenapa pada saat itu gak ada angkot yang mau di tumpangi. Padahalkan pasti di bayar ongkosnya, gak ngutang. Ibu gue dengan sabarnya terus ngeberentiin angkot walaupun harus kehujanan. Karena saat itu memang gue harus check up, dan kebetulan penyakit gue juga lagi kambuh. Sampe ada satu abang angkot yang mungkin kasihan kepada kami. Dan mau nganterin ke dokter tempat gue check up. Pas mau bayar ongkos, tiba-tiba supir angkot itu nolak dan bilang “gak apa apa bu, saya ikhlas lagian saya juga sekalian mau pulang.” Ibu gue langsung berterimakasih sama si supir angkot. Ini kejadian nyata, sampai sekarang gue masih inget kejadiannya.

Setelah gue dan kakak gue lulus sekolah, beban ibu gue sedikit berkurang. Ditambah lagi pada saat itu kakak dan gue udah kerja. Tapi pas gue suruh ibu gue buat berhenti kerja bikin gue, beliau malah gak mau. Beliau milih tetep nerima pesenan. Katanya “gak apa-apa buat nambah-nambah keperluan”. Dan sampai saat ini pun beliau masih tetap nerima pesenan kue dari pelanggannya.

Memang bener, seberapapun umur kita yang kita sendiri anggap kita udah dewasa. Bagi ibu kita, kita tetep anak kecilnya dia. Selama di Depok, ibu gue sering ngesms atau telpon cuma bilang “a bangun, jangan lupa shalat.”,”a udah makan belum ?”,”a lagi apa?” pokoknya masih banyak lagi deh. Dan itu beliau lakukan hampir setiap hari selama gue kerja disana.

Buat gue, bahagia banget rasanya ketika ngeliat orang yang gue sayang terutama ibu gue bisa ngerasain hasil dari jerih payah gue sendiri. Ada lagi satu cerita, waktu itu gue baru gajian. Pagi-pagi pas kebetulan gue libur, seperti biasanya ibu gue pergi belanja ke pasar. Dan saat itu gue inisiatif buat ikut nganter. Pas lagi asik belanja, gue yang saat itu ngerasa lagi ada rejeki niat mau beliin sesuatu buat ibu gue.

Gue tanya “mah, mamah pengen beli apa? Mau beli baju gak?”

“emang punya uang?”

“Ada lah sedikit rejeki” 

Setelah itu ibu gue gak bilang apa-apa dan langsung jalan aja. Gue pikir mungkin ibu gue bingung mau beli apa. Dan kami jalan lagi nyari barang lainnya yang mau dibeli. Setelah beberapa lama, ibu gue diem. Gue pikir beliau udah tau barang apa yang mau di beli. Terus gue siapin uangnya. Kemudian beliau bilang gini “mama mau somay aja deh. Uangnya simpen aja buat keperluan kamu” gue langsung cengo. Setelah sekian banyak pengorbanan yang dilakuin buat gue, beliau cuma minta di beliin somay. Ah gue gatau nyeritainnya gimana. Yang jelas, selama di jalan pulang gue cuma diem tapi hati gue rasanya sedih, pengen nangis sumpah. Silahkan kalian bayangin sendiri.

Pokoknya ibu gue itu adalah sosok yang sangat luar biasa bagi gue. Malaikat tanpa sayap yang Allah kasih buat gue. Gak ada kata yang pas buat menggambarkan betapa luar biasanya beliau bagi gue. Pengen rasanya gue bilang “mah terimakasih, agung sayang sama mama” tapi belum juga gue bilang, baru ngebayanginnya aja rasanya udah pengen nangis bombay walapun gue belum terlalu paham nangis bombay itu kayak gimana. Apakah saat nangis keluarnya bawang bombay atau gimana gue gatau. Yang jelas gue sayang banget sama mama gue.
Walaupun tanggal 22 nya udah lewat tapi gak apa apa lah,

 Gue mau bilang

Selamat hari ibu untuk ibu gue tercinta. Semoga Allah selalu memberimu kekuatan, ketabahan, kesabaran, dan kesehatan. Anakmu ini selalu mencintaimu. ”   





Dear : pelukis


Hallo pelukisku? apa kabar ? aku dengar kamu sedang sakit? Sudah di obati? Cepat sembuh ya, agar kamu bisa menebar kesenangan lagi untuk orang-orang disekitarmu. Jangan lupa diminum obatnya. Aku tahu kamu tidak suka meminum obat. Semua orang juga sama. Tapi untuk kali ini, minumlah agar kamu lekas sembuh. Jaga kesehatanmu, sekarang ini memang sedang rawan sakit. Bukan hanya sekarang, tapi untuk kedepannya. Aku selalu mendoakan untuk kesehatanmu dari sini.

Peluksiku, aku ingin berbagi cerita lagi denganmu. Kali ini mengenai pekerjaanku. Kamu tahu kan aku sudah tidak berkerja lagi di tempaktu yang dulu? Yah, itu juga yang membuat kita jadi jarang bertemu karena sudah tidak ada pemasukan untukku lagi. Maafkan aku yah pelukisku. Tapi aku janji akan berusaha keras agar kita bisa selalu bersama. Sabar yah pelukisku. aku juga tahu sabarmu tiada batasnya, sungguh hebat kamu ini. Semoga Allah senantiasa memberimu kesabaran yang lebih lagi untuk menghadapi ini semua yah. Ini hanya masalah waktu. Buah dari kesabaran itu amatlah manis. Kamu harus percaya itu.

Pelukisku, ada kabar baik untuk mu. Sekarang ini aku tidak Cuma menganggur yang tidak ada manfaatnya. Sekarang aku memiliki kerja yang lebih baik daripada menganggur. Aku menjadi seorang guru di salah satu tempat bimbingan belajar. Jadi begini ceritanya. Bibiku seorang guru di sebuah sekolah dasar di daerah tempatku tinggal membuka satu tempat bimbingan belajar. Awalnya aku tidak ikut serta disana. Hanya kakak ku saja yang ikut. Awalnya memang aku tidak tertarik. Karena aku berpikir “ah aku saja masih perlu banyak belajar, bagaimana mau mengajari orang” hanya kakak ku saja yang ikut disana.

Tempat bimbingan belajar itu memang tergolong baru, tapi sudah lumayan banyak yang menjadi murid disana. Sampai suatu ketika aku iseng main kesana untuk melihat saja. Kebetulan saat itu guru untuk kelas 5 SD tidak hadir karena ada halangan. Oh ya, tempat bimbel itu hanya untuk anak SD saja. Kemudian bibiku yang sedang mengajar meminta bantuanku untum menghandle anak kelas 5. Daripada aku hanya melihat saja, maka aku setujui permintaannya. Awalnya aku cukup canggung juga. Ya, bagaimana tidak? Aku tidak pernah mengajari orang sebelumnya. Jadi belum berpengalaman untuk menjadi seorang guru. Kadang aku suka bingung ketika seorang anak bertanya padaku mengenai suatu hal yang aku juga tidak tahu. Aku bingung harus bagaimana. Lalu, aku mencari cara agar aku bisa melihat di Google tanpa mereka sadari. Aku berpikir, masa seorang guru tidak tahu? Makanya aku mencoba mencarinya diam-diam. Untunglah dengan sedikit trik aku bisa melihat ke Google dan mengetahui yang mereka tanyakan tanpa mereka sadari. Jadi mereka seolah percaya bahwa aku benar-benar mengetahuinya. Hahah pintar bukan aku?

Tanpa aku sadari, ternyata bibiku itu memperhatikan ku saat sedang mengajari anak-anak. Sampai setelah bimbel selesai, aku dipinta untuk main kerumahnya. Lalu disana aku diminta untuk menjadi salah satu guru. Awalnya aku menolak dengan alasan aku tidak bisa. Lalu bibiku merayu aku. Kalo tidak salah begini dialognya :
“a mau gak ngajar? Kan kelas 5 gak ada yang pegang”
“ah bi, agung kan gak bisa. Jadi guru aja gak pernah”
“yah tadi aja di perhatiin bisa kok. Ayo daripada gak ada kerjaan”
“tapi nanti kalo salah gimana?”
“coba dulu, kok belum apa-apa sudah takut salah. Gimana kamu ini?”
“tapi jangan kelas 5 dong bi, kan materinya udah mulai susah”
“mau kelas berapa? Kan yang lain udah ada yang handle, lagian kelas 5 Cuma sedikit kok. Yakin deh kamu pasti bisa. Kan ayahmu guru, pasti ada bakan yang turun dari ayahmu.”

Nah kira kira seperti itu lah dialognya sampai aku meng-iya-kan permintaan bibiku itu. Ayahku memang seorang guru. Guru untuk muridnya di sekolah dan guru untukku di rumah. Ayahku ini sangat hebat. Tapi aku tidak mau seperti dia, aku ingin melampauinya. Aku yakin ayahku juga mengharapkan aku seperti itu.

Pelukisku, setelah hari itulah aku resmi menjadi pengajar di tempat bimbingan belajar yang dinamai HIPSI itu. Parahnya, sampai saat ini aku tidak tahu apa kepanjangan dari HIPSI. Konyol sekali bukan? Jangan ditiru ya. Aku mengajar di kelas 5 dan kakaku kelas 3. Aku sempat minta untuk bertukar dengan kakak ku. Tapi dia tidak mau, katanya dia sudah enak dengan kelas itu dan sudah hapal dengan anak-anaknya. Menyebalkan sekali.

Mulailah hari pertama aku menjadi guru resmi disana. Saat akan memberi materi, aku kaget. Dulu sewaktu aku sekolah, setiap mata pelajaran pasti punya bukunya sendiri. Tapi sekarang untuk semua mata pelajaran, hanya ada satu buku yang di sebut buku tematik. Tapi aku tidak terlalu memusingkan itu. Aku mulai pelajaran hari itu dengan satu buku.

Awalnya biasa saja. Tapi lama kelamaan ikut pusing juga. Aku bingung, masa saat aku sedang memberi pelajaran bahasa Indonesia. Tiba-tiba ada soal matematika yang nyelip. Kemudian di lembar berikutnya ada lagi soal senib udaya. Wah harus bagaimana ini pikirku. Mungkin permulaan aku tidak biasa dengan cara seperti itu. Namun setelah bertanya pada guru lain, ternyata mereka juga sama sepertiku.

Setelah pulang kerumah, aku memikirkan cara bagaimana mensiasati persoalan ini. Aku tidak ambil pusing, aku kelompokan materi-materi dalam buku itu menjadi bidangnya masing masing. Kemudian aku buat soal seperti biasa tanpa sistem tematik namun masih mengacu pada materi yang dibahas di dalam buku tersebut.

Pelukisku, setelah beberapa hari mengajar, sepertinya aku mulai terbiasa. Dan murid-murid yang awalnya tidak aku kenal itu satu persatu mulai hapal nama mereka. Mungkin memang mereka masih terbilang anak-anak. Kerjaan mereka selama les hanya mengobrol saja dengan teman sesamanya. Sampai-sampai aku pusing karena tidak jarang juga mereka jalan-jalan yang entahlah apa yang mereka lakukan itu. Bahkan ada juga yang mencari-cari perhatianku.seperti contohnya ada seorang anak yang kerjaannya hanya ingin salaman saja denganku. Entah kenapa aku juga tidak tahu. Pernah suatu ketika seorang ada seorang anak bernama Siti Masruroh atau biasa aku panggil dengan sebutan “neng”. Saat itu aku sedang memberi materi matematika. Dia seperti biasa ngobrol dengan salah satu temannya yang bernama Syifa. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba si Neng ini teriak sambil berkata padaku “pa, si Syifa katanya suka sama bapa” aku mendengarnya dan langsung menoleh pada mereka berdua. Si Neng hanya tertawa melihat temannya malu karena aku melihatnya. Hahaha ada-ada saja pikirku. Yah namanya juga anak kecil. Kamu jangan cemburu yah pelukisku hehe :p

Tidak terasa sudah hampir sebulan sampai saat ini aku menjelma menjadi seorang guru bagi mereka. Dan sekarang sudah mulai masuk Ulangan Akhir Smester. Aku harus lebih intens untuk membekali mereka ilmu agar siap menghadapi UAS. Hari ini aku harus membuat soal latihan untuk mereka. Memang, membuat soal itu sepertinya mudah. Tapi, tidak semudah yang dibayangkan juga pelukisku.  Haduh sepertinya aku harus lembur. doakan aku agar selalu sehat yah.

Oh iya, hari ini juga hari gajihan pertamaku. Tadi sore sebelum pulang, aku mampir dulu untuk membeli martabak. Pelukisku, ada satu kebahagiaan yang amat sangat bagiku. Yaitu ketika ibuku, keluargaku, bisa merasakan hasil dari jerih payahku sendiri. Sungguh, itu adalah kebahagiaan yang amat sangat bagiku. Apalagi barusan ketika ibuku mengucapkan terimakasih sambil tersenyum. Aku tahu ini tidak seberapa, tapi aku merasa senang karena bisa melihat orang yang aku sayangi merasa senang. Oleh karena itu, kamu harus tetap tersenyum yah. Doakan aku agar selalu bisa membahagiakanmu. Dan doakan juga agar Allah senantiasa memberiku rizki agar kita juga bisa bertemu nantinya. Insya Allah bila Allah mengijinkan, dalam waktu dekat ini aku akan pergi ke kotamu. Semoga kita bisa bertemu yah pelukisku. Aku sangat merindukanmu.

Sekian untuk suratku kali ini. Masih ada cerita yang akan aku bagi kepadamu. Tapi nanti di surat berikutnya yah. Dan untuk kamu, semoga cepat sembuh. Agar bisa ceria dan memberi keceriaan bagi semua orang. Aku tidak tega mendengar suaramu yang lemah itu. Aku sangat sedih sekali mengetahui kamu sakit disana. Oleh karena itu jaga kesehatanmu. Dan yang terpenting makan yang teratur karena aku tahu kamu sangat susah disuruh makan. Aku selalu mendoakanmu dari sini. Orang yang sangat aku sayangi. Iya, itu kamu pelukisku.


Salam rindu

Agung Adiwangsa





22 November 1994 – 22 November 2014

Ah gak kerasa gue udah kepala dua aja. Sori maksudnya umur udah nyampe kepala dua. Kok kesannya kayak yang udah tua banget yah -_- tapi asli kok gue mah masih muda, kemaren aja ada yang gak percaya gue udah 20 tahun, katanya kayak yang baru umur 35. Setelah dia bilang gitu, gue langsung ceburin ke kolam, biar dimakan lele. Sekarang serius, kemaren ada yang bilang muka gue terlalu muda buat umur 20. Emang sih baby face susah di sembunyiinnya.

Oke, jadi kali ini gue mau ceritain apa aja sih yang terjadi di tanggal 22 November 2014 ini. Dimulai dari 21 November malem, seperti biasa gue suka memanfaatkan internet gratis Thr*e buat buka facebook dan twitter, maklum masih abg mainannya facebook dan twitter dan itu juga gratis, maklumin aja ya. Malam itu kira-kira udah mau jam 12 malem, yang smsan aja udah ketiduran. Iya, siapa lagi kalo bukan operator? *halaah. Gue baru inget gue belum shalat isya, kemudian gue shalat, hape gue silent. Pas selesai shalat, gue liat hape kedip-kedip gitu, gue pikir “wah ini hape genit amat ngedipin gue” kemudian gue samperin. Ternyata ada yang memanggil, di layarnya keliatan nomor orang sama fotonya, sosweet banget berduaan gitu sama cowonya. Kemudian gue angkat, berat banget, karena yang ke angkat mejanya, gak lucu ya? Yauda!! Gue angkat ternyata dari seorang yang gue samarkan dengan nama “pelukis” dia langsung nyanyi selamat ulang tahun gitu, pas jam 00.00 dengan kondisi gue terduduk di sajadah panjang membentang... gue cuma bisa senyum-senyum sendiri ngedengar doi nyanyi, halah halaaah hahaha. Setelah itu kami ngobrol dan kemudian doi gue suruh tidur karena udah larut malem.

Pagi nya gue masih tertidur nyenyak kayak bayi, lucu banget, asli lucu. Dari luar samar-samar gue denger suara ibu gue. Ibu gue mau ngelayat ke tetangga yang kebetulan masih saudara juga sama gue, beliau meninggal di hari sebelum gue ulang tahun. Kemudian ibu gue masuk ke kamar dan tiba-tiba ngusap kepala gue yang masih setengah sadar sambil bilang “selamat ulang tahun ya nak, semoga jadi orang yang berguna” ah rasanya masih kayak anak kecil banget digituin sama nyokap, gue dengernya terharu banget. Yah memang, seberapapun umur kita, bagi orang tua, kita itu tetep malaikat kecilnya. Bener gak ? setelah itu gue kembali tidur karena masih ngantuk.

Gue bangun lagi dan matahari udah mulai tinggi. Gue keluar rumah, dan melihat situasi yang ramai. Rupanya lagi mau siap-siap mau nguburin jenazah. Lalu gue cuci muka dan berangkat menuju pemakaman, ada banyak orang disana yang lagi ngegali lubang buat “rumah baru” saudara gue itu. Gue bantu sebisa gue. Setelah selesai, gue kembali pulang kerumah sambil nunggu iring-iringan jenazah yang kebetulan lewat depan rumah. Gak lama, iringan jenazahnya lewat, gue langsung gabung buat nganterin. Dan prosesi pemakaman pun dimulai. Selama itu gue mikir, di hari kelahiran gue ini, gue nganterin seseorang buat pulang ke rumah dia yang sesungguhnya. Memang, umur gak ada yang tau, gue juga ngerasa, bertambahnya umur gue itu sesungguhnya berkurangnya masa hidup gue. Yah memang jodoh, rizki, maut dan kapan gebetan ditikung orang itu cuma Allah yang tau. Wallahu alam.

Setelah selesai, gue pulang ke rumah gue yang sesungguhnya, karena sebelumnya gue di rumah nenek. Sampai di rumah, ibu gue langsung ngasihin kue bolu yang memang kesukaan gue. Ibu gue tau banget kesukaan anaknya. Kemudian kue di potong dan kami menikmatinya bersama. Dari jauh gue denger suara adik gue yang baru selesai mandi. Dia keluar dan nyamperin gue. Tiba-tiba gak ada hujan gak ada angin, dia langsung nampar gue. Kampret !! dia nampar gue sambil bilang “selamat ulang tahun” bukan ucapannya yang jadi perhatian gue. Tapi, tamparannya itu loh sungguh kampret. FYI adik gue ini cuma berani nampar gue setahun sekali. Iya cuma setiap tanggal 22 November aja. Untungnya saat itu gak ada om gue. Kalau ada dia, bisa habis sudah gue di kerjain. Pernah waktu itu gue ulang tahun, gue di siram pake air yang entahlah bekas apaan, kemudian di ceburin ke kolam ikan setelah sebelumnya gue di ceplok pake adonan kue. Sampe gue harus mandi 3 jam, 2 jam 45 menitnya gue tidur dan 15 menit gue bener-bener mandi.

Udah mulai sore gue harus berangkat karena ada kewajiban buat ngajar anak-anak SD. Kebetulan gue jadi guru les di salah satu tempat bimbel. Baru mau berangkat, tiba-tiba langit keliatan galau. Wah feeling udah gak enak aja waktu itu. Bener aja, baru sebentar jalan, hujan mulai turun sedikit sedikit lama-lama menjadi deras. Gue sempet mampir dulu ke pom bensin sekalian isi bensin. Gue isi 10 ribu, yang biasanya keisi banyak, sekarang jadi gak berasa udah isi bensin. Ini ulah si BBM yang naik. Sampai di tujuan, gue gak langsung ke tempat bimbel. Gue mampir dulu ke rumah bibi gue buat ngeringin badan. Sialnya, hujan malah makin deras. Terpaksa gue nunggu dulu sampe hujannya agak selaw. Hujan mulai reda, walaupun masih ada gerimis-gerimis romantis, gue paksain aja. Sampai di tempat bimbel, gue bingung, soalnya sepi. Gue liat lagi takut anak-anaknya masuk ruangan, tapi gak ada siapa-siapa. Kemudian gue tanya sama penjaganya dan dengan santainya dia bilang “pak, kan diliburin sama ibu Nur” walaaaah gue udah bela-belain tembus hujan dan ternyata diliburin tanpa sepengetahuan gue. Bangkai ! tapi gak lama gue ngegerutunya, soalnya gue sadar, ini kewajiban gue, gue harus siap. Akhirnya gue kembali ke rumah bibi gue. Nyeruput dulu minuman jahe lumayan bikin anget badan. Lagi enak minum, ada anak bibi gue nyeletuk “yah, a Agung kan ulang tahun, kita siram yuk” kalimat itu sungguh menyakitkan. Ditambah orang tuanya malah ngedukung, kampret ! gue langsung siaga satu. Lu bayangin aja udah dingin, hujan, lalu kena siram, mending juga di siramnya barengan sama Raisa, lah ini cuma sendirian. Untung gue jago ngehindar sampai akhirnya mereka lelah dan gak jadi nyiram gue. Pas gue mau pulang bibi gue bilang “gak ada kado, jadi ini aja deh” sambil ngeluarin beberapa lembar uang dari dompetnya. Muka gue yang tadinya tampan, rupawan dan menawan jadi semakin tampan, rupawan, menawan *yang terakhir anggap aja typo.

Pas dijalan pulang, keapesan mulai datang lagi menghampiri. Hujannya turun lagi dan langsung deras, sialan. Neduh dulu juga udah tanggung, kepalang aja gue hujan-hujanan. Sampe dirumah dengan keadaan basah kuyup. Udah bete aja waktu itu. Sampai gue masuk kamar dan nemuin kardus gede, gue kira itu bom, gue ngumpet aja di belakang lemari. Tapi lama kok gak meledak juga. Terus gue deketin, gue liat banyak gambar gitu. Gue langsung hapal sama gambar dan tulisannya. Gak lama kakak gue masuk dan bilang kalo tadi ada kiriman dari J*E. Gue langsung cengo sambil senyum-senyum menjijikan gitu. Gue buka sedikit-sedikit karena sayang kalo sampe rusak. Tapi susah juga, akhirnya gue buka pake gunting. Gue cengo liat isinya. Asli spechless. Gue Cuma bisa senyum-senyum kayak orang gila yang masih waras. Gue yang sebelumnya kedinginan karena kehujanan sepanjang jalan langsung lupa sama yang gue rasain saat itu. Yang ada cuma seneng aja. Pas gue angkat kadonya, ada sesuatu yang jatuh. Ternyata itu sebuah CD. Gue penasaran, terus gue buka aja. Pas diliat ternyata ada video bikinan doi. Wah disitu gue langsung bener-bener spechless, gak tau harus ngapain lagi. Sumpah, ini keren !!! malemnya gue langsung telpon doi. Kebetulan waktu itu malam minggu. Pas banget timingnya. Pokoknya terimakasih yah pelukisku !!
Setelah puas dengerin suara doi, gue langsung tidur dengan pulas. Karena hari itu bener-bener spesial.

Sebelum gue akhirin tulisan ini, gue mau ngucapin terimakasih diantaranya :

Terimakasih kepada Allah S.W.T karena memberi saya kesehatan sampai bisa menikmati hari yang spesial itu.

Terimakasih yang amat sangat banyak kepada Ibu saya yang sudah merawat saya selama ini.

Terimakasih banyak kepada Vella Cancera yang sudah repot repot bikin semuanya buat saya. Kamu yang buat hari itu spesial.

Terimakasih kepada teman-teman/adik-adik dari SMAN 3 Karawang yang sudah mau direpotin Vella pas bikin video. Maaf dia malu-maluin, tapi dia sangat luar biasa.
.
Terimakasih kepada teman-teman dan sahabat-sahabat saya yang sudah mengucapkan selamat serta mendoakan.

Dan juga terimakasih kepada semua yang telah mengucapkan, yang kenal ataupun tidak kepada saya. Terimakasih.

Semoga doa kalian semua dikabulkan dan kebaikan kalian semua dibalas oleh Allah S.W.T Amiin !!
Baiklah, sekian dulu cerita dari gue. Terimakasih sudah meluangkan waktunya buat baca tulisan gue ini. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Best Regards



Agung Adiwangsa

Bogor, 20 November 2014


Dear : Pelukis,
Apa kabar pelukisku? baik baik saja ? semoga kamu di sana baik-baik saja dan sehat selalu ya. Amin. Jangan seperti aku yang saat ini hanya bisa terbaring di atas kasur. Maaf, bukan kebluk atau tidur mulu ya. Tapi, beberapa hari ini kondisi badan sedang tidak bersahabat. Mungkin karena akhir-akhir ini badan terlalu di forsir sampai akhirnya K.O seperti ini.

Iya, akhir-akhir ini yang aku kerjakan cukup bikin ngos-ngosan. Bulan lalu, paman ku memperbaiki rumahnya yang kebetulan ada di depan rumahku. Awalnya aku cuek saja, tapi kemudian ibuku berkata padaku “A bantuin gih, gak enak di depan rumah masa gak ngebantuin sama sekali” dan dari hari itu aku mulai menyumbangkan tenagaku sekedar membantu yang ringan saja. Tapi ternyata, yang ringan itu tidak seringan yang aku bayangkan. contohnya, aku pikir mengangkut beton yang keliatannya kecil itu mudah. Aku dengan pedenya mencoba mengangkat banyak sekaligus. Tapi ternyata, kecil ukuran itu bukan berarti ringan, rasanya pundak ini seperti turun ke pinggang karena saat itu aku mencoba mengangkatnya dengan menggunakan pundaku. Tapi, aku mencoba untuk berpikir positif, semoga saja setelah ini badanku bisa seperti Ade Rai, atau Agung Hercules, atau lebih bawahan dikit lagi, Agung Adiwangsa.

Mengangkut beton ternyata tidak sesuai dengan yang aku bayangkan, kemudian aku mencoba membantu yang lainnya. Aku mencoba untuk membuat adukan semen. Sepertinya hanya mengaduk-aduk seperti itu mudah sekali. Tapi ternyata, bayanganku kembali salah. Mengaduk semen seperti itu rasanya bikin pinggang mau loncat dari tempatnya. Mungkin semua itu karena aku tidak biasa melakukan pekerjaan seperti itu. Soalnya, aku melihat orang-orang tukang bangunan itu sepertinya biasa saja. Aku berpikir, mereka “biasa saja” karena sudah terbiasa apa terpaksa melakukan itu jadi di anggap biasa ya?

Oh iya pelukisku, bekerja itu tidak ada yang mudah. Sungguh. Kemarin aku sempat takjub kepada seorang tukang pasir. Kamu tahu kan mereka? Yang sering membawa pasir dengan alat tanggungan itu? Kamu tahu dari mana mereka dapatkan pasir-pasirnya? Mereka mendapatkan pasirnya dari sungai yang berada lumayan jauh dari rumahku. Jadi, mereka akan menambang pasirnya di sore hari, kemudian membawa ke pemesan pada pagi harinya. Dan itu mereka lakukan hampir setiap hari, kecuali hari jum’at mereka meliburkan diri. Tidak hanya sampai disitu, sungai tempat mereka menambang itu tempatnya ada di bawah. Jadi, jika kita ingin kesana, kita harus melewati turunan yang cukup banyak dan curam. Rasanya, tanpa membawa beban saja, kaki bisa pegal, apalagi membawa beban seperti mereka? Pelukisku, kamu mau tahu seberapa berat beban yang dibawa seorang tukang pasir ? Aku kemarin sempat mencoba mengangkatnya, dan kamu tahu apa yang terjadi? Ketika aku mencoba mengangkatnya, pasir itu tidak terangkat sama sekali, kenapa? Karena sangat amat berat. Bahkan paman ku pun ngos-ngosan setelah mencoba mengangkatnya, dan hanya terangkat sedikit. Dan kamu tahu berapa upah yang mereka dapat? Untuk satu tanggungan mereka hanya mendapat Rp.6000. Nah bayangkan untuk beban, jarak dengan trek yang sulit, mereka hanya mendapatkan Rp.6000/tanggungan. Kalo dipikir memang rasanya tidak sebanding, tapi hebatnya, mereka masih bisa bercanda bersama kami, tidak ada keluhan satupun yang keluar dari mulut mereka. Hebat bukan ? Hidup memang sulit pelukisku. Aku berpesan kepadamu, tolong kamu jangan sia-siakan jerih payah orang tuamu yah.

Pelukisku, adalagi yang ingin aku ceritakan padamu. Tentang para tukang bangunan. Begini, awalnya aku melihat yang mereka kerjakan, dan aku hanya menganggap itu mereka kerjakan dengan cara mereka. Tapi ternyata, setelah aku perhatikan, sangat banyak teori fisika yan mereka gunakan untuk membangun sebuah rumah. Aku baru sadar. Dan ini sangat keren buatku. Misalnya, untuk memastikan tembok yang akan mereka buat itu rata atau tidak, mereka menggunakan sebuah alat yang mereka sebut water pass. Alat yang berupa selang kecil yang diisi air. Lalu mereka mengukurnya dengan melihat ujung dan ujung yang di tegak luruskan ke atas, jika air di dalam selang tersebut diam, itu berarti antara ujung satu dan ujung yang lainnya sama. Nah, ini mereka menggunakan ilmu fisika yang yaitu “air yang tenang selalu datar/rata” sungguh menakjubkan untuk aku yang baru mengetahuinya.

Hampir sebulan lebih aku menjelma menjadi seorang tukang bangunan. Mungkin karena fisik ku yang lemah ini, pekerjaan seperti itu memaksa aku istirahat total karena sakit yang mampir ke tubuhku ini. Tapi aku tidak menyesal, banyak pelajaran yang aku dapatkan selama bekerja bersama mereka. Ini pengalaman sekaligus pelajaran berharga untuku, tidak ada pekerjaan yang mudah dan tidak ada pekerjaan yang rendah. Bahkan seorang tukang bangunan itu sangat penting dan di butuhkan. Coba bayangkan jika tidak ada pekerja bangunan? Apakah akan ada bangunan-bangunan yang berdiri? Sungguh luar biasa mereka itu.

Pelukisku, sampai disini dulu aku bercerita padamu, masih banyak yang ingin aku ceritakan padamu, tapi biar di surat selanjutnya akan kuceritakan pengalaman ku yang lainnya. Oiya, sudah lama rasanya kita tidak berjumpa, hanya bersapa lewat suara. Apakah kamu masih cantik ? hahaha maaf aku bercanda. Cantik ataupun tidak, aku tetap merindukanmu. Sampai jumpa di surat yang lain dan sampai bertemu nanti yah.



Salam rindu


Agung Adiwangsa
Awal-awal kenal dunia foto, gue suka ngeliatin foto orang. Dari situ gue mulai suka sama fotografi. Gimana caranya bisa bikin foto sebagus itu. Apa itu rekayasa si photoshop? Ya, awalnya gue kira foto foto mereka itu hasil kejeniusan photoshop. Tapi, setelah gue tau, ternyata gak selalu ulah photoshop. Karena emang ada teknik yang bisa bikin foto sebagus itu.

Ada satu jenis foto yang gue suka. Apa itu? Itu adalah Budi... Bukan bukan. Bukan budi kok, tapi Andi *loh? Alaah bukaan maksudnya jenis foto slow speed. Tau fotonya kayak gimana? Nih gue kasih liat.

Sumber : Google

Sumber : Google
Keren kan? Gue ngiler awal-awal liat foto begitu. Dipikiran gue cuma "Gimana ya bikin yang kayak gitu?". Gue nanya-nanya dan di kasih tau kalo itu namanya foto 'slow speed'. Akhirnya gue nyoba nyoba bikin pake kamera digital biasa. Waktu itu gue foto air keran yang ngalir. Tapi ternyata gak bisa. Karena emang kamera tertentu yang bisa.

Gak pendek akal, gue nyari tau di mbah gugel sampe akhirnya gue bisa hahaha *ketawa bahagia
Nih beberapa foto gue hasil nyoba nyoba.

Ini waktu gue di kasih tantangan buat bikin slow speed. Cupu yee -_-


Ini waktu gue nyoba bikin kayak fotografer pro. Ternyata susah -_-

Dan setelah beberapa kali salah dan gagal akhirnya gue bisa bikin yang agak mendingan. Walaupun masih ada cacatnya.

Gimana? Mendingan bukan?
Karena kurang modal, foto foto gue gak pernah pake tripod. Cuma ngandelin kestabilan tangan dan benda benda yang ada di sekitar. Makanya kalo ada yang kurang fokus, ya karena itu lah masalahnya. Terlalu banyak getar.

Oke sekalian deh gue kasih tips-tips kalo mau bikin foto slowspeed gitu.
Ada beberapa hal yang harus diperhatiin kalo mau bikin foto kayak diatas ini.

Shutter 
Ini utamanya. Soalnya ini yang bisa bikin foto slow speed. Set shutter speed kamera kalian di mode lambat. Misal 1,5 menit. Pokoknya lebih lambat lebih keliatan slownya. Tapi, inget. Semakin lambat, semakin banyak cahaya yang masuk, dan semakin terang foto yang dihasilkan, dan bakal jadi over exposure. jadi, dikira-kira juga buat nge-set shutternya.

Aperture 
Diafragma juga harus di bukaan terkecil. Misal f/22. Kenapa? Soalnya buat ngereduksi cahaya yang masuk juga biar ga over. Tapi gak harus juga sih, soalnya kalo mau ngambil slow slowspeed nya malem bisa kurang cahaya. Pokoknya pake feeling.

ISO 
Iso/Asa juga kalo misalkan foto siang, lebih baik di set ke yang terkecil. Kenapa? Sama kayak aperture juga. Buat ngereduksi cahaya yang masuk. Beda lagi kalo fotonya malem. Pokoknya tetep mainkan feeling kalian.

Tapi buat mengatasi over cahaya. Kita bisa pake filter tambahan buat ngurangin cahaya yang masuk. Jadi, gak perlu takut kelebihan cahaya waktu mau motret slow speed siang-siang.


Getaran 
Nah, ini yang penting. Kalo mau bikin foto slow speed, jangan sampe kamera kita ke goyang. Karena getar sedikit aja bisa bikin hasil dari foto kita kurang fokus. Makanya buat foto slow speed, sangat di anjurkan menggunakan tripod. Begitu juga objek yang bakal kita potret. Misal kita mau motret orang di deket air terjun yang bakal di jadiin slow speed. Objek orang itu jangan gerak sampe proses ngerekam si kamera selesai. Atau nani hasilnya akan jelek.  

Nah, gimana? Mau coba bikin foto slow speed? Ayo deh kita berkreasi dengan foto kita seindah mungkin hehehe.
Mungkin tips gue itu udah banyak yang bikin. Tapi, gak apa apa. Karena gue bukan sok-sok-an, justru gue bikin buat pembelajaran gue juga. Jadi, disaat gue lupa, gue bisa liat disini hehe.
Terakhir, terimakasih sudah mampir dan mau baca isi blog gue :)

Salam jepret !!!
Hai guys, kebiasaan buruk gue suka nelantarin blog nih. Duuh ini penyakit emang yah. Gue mau posting lagi ah, Kali ini gue mau bahas soal 'Kangen'. Eitss tapi bukan kangen ke pacar, apalagi pacar orang, atau juga kangen sama gebetan, apalagi gebetan yang udah di gebet sama orang. Gue mau bahas rasa kangen sama orang tua. 

Rasa kangen itu perasaan manusiawi. Ketika kita sudah lama tidak bertemu dengan orang, kita akan ngerasa pengen ketemu. Nah, rasa itulah yang biasa di sebut 'Kangen'. Betul gak? Kadang rasa kangen ini bisa ngerubah orang loh. Misal, ada orang yang penakut, terus dia kangen banget sama orang yang rumahnya deket kuburan. Nah pasti dia nekat dateng walau takut, ya kan? 

Kangen juga bisa di sebut rasa yang berdampingan dengan rasa cinta. Kalo kita cinta sama orang, biasanya kita suka ngerasa kangen sama orang yang kita cintai itu. Nah, sama orang tua misalnya.

Semenjak gue kerja di kota Depok, otomatis gue harus pindah kesana, karena terlalu cape kalo harus bulak balik Depok - Bogor. Tentu juga itu berarti gue harus jauh dari orang tua, karena gak mungkin lah gue kerja di Depok dan semua keluarga gue ikut pindah kesana. Waktu gue buat ketemu sama nyokap jadi gak bisa sepuasnya kayak waktu gue belum kerja. Sekarang ini paling gue bisa ketemu sama nyokap pas weekend atau hari libur. 

Kalo gue pulang, biasanya gak lama. Paling sehari atau pulang pagi dan berangkat lagi malam. Makanya, setiap kali gue pulang, gue selalu abisin waktu sama keluarga, walaupun gak jarang juga gue pergi sama temen. Tapi, lebih sering sama keluarga. Selain itu, waktu gue sama keluarga jadi lebih bermanfaat. Gue yang biasanya kalo di rumah suka berantem sama adik gue, jadi gak pernah. Malah kadang gue suka ngajak adik gue maen. Dan kalo gue udah kelewat kangen sama nyokap kadang gue suka minta tidur di kamar nyokap. Malu udah gede? Alah bodo amat !! 

Kalo udah kangen berat, kita emang bisa jadi gila. Misalnya kemaren, gue nekat pulang jam 11 malem dari Depok setelah siangnya cape-capean di Taman Safari. Segimanapun capenya, gue nekat pulang. Untung waktu itu masih ada angkutan yang lewat ke daerah rumah gue. Kenapa? Gue kangen sama nyokap gue. Atau waktu semalem, gue nekat pulang juga jam setengah 12 malem pake motor, ngantuk? Cape? Takut? Bodo amat ! 

Gue juga jadi punya kebiasaan baru. Sekarang - sekarang, kalo gue mau berangkat ke Depok, gue gak pernah absen cium tangan, pipi, sama kening ibu gue. So sweet gak selalu ke pacar meen, malah harusnya ke orang tua. 

Oke, segitu aja deh sharing tentang kekangenan gue. Ini cerita gue waktu kangen sama orang tua gue, nah yang punya cerita juga, yuk share di komentar :)





Gue sama fotografi. Awalnya gue gak terlalu tertarik sama fotografi. Itu karena dulu gue gak ada alat dan pendukung lainnya buat mendalami. Jadi, dulu gue cuma foto fotoin biasa aja pake kamera hape. Karena dulu gue beranggapan kalo fotografi itu identik dengan kamera DSLR. Ya kan? Misal, gue pernah ngajak beberapa temen buat hunting bareng. Tapi, beberapa di antara mereka jawab "Gak ah, aku gak punya kamera" Nah, kan? Kalo gak punya kamera, itu yang ada di handphone apa? Emang sih, kualitas kamera nya beda, bahkan sangat jauh perbedaannya. Dan sekarang gue udah sadar, kalo fotografi itu gak perlu kamera DSLR. Toh kita juga bisa menghasilkan gambar bagus walau cuma dengan kamera handphone. Dan juga, pernah ada yang bilang ke gue.

"Fotografer bukan berarti jago dengan kamera terbaik tapi orang yang bisa menghasilkan karya terbaik dengan kamera biasa"

Gue pikir bener juga, malah orang yang bilang itu cerita, kalo dulu fotografer itu pake kamera analog bukan digital. Jadi kita gak bisa langsung tau hasilnya sebelum kita cetak, itsilahnya fotonya dicuci. FYI, orang yang bilang ke gue itu juga seorang fotografer.


Setelah lulus sekolah, gue nyari kerja. Kebetulan temen gue nawarin kerja di perusahaan travel punya saudaranya, dan kebetulan juga yang punya itu seorang fotografer. Awalnya gue suka upload foto-foto ke facebook. Sampe akhirnya bos gue ngeliat dan dia nanya

"Kamu suka motret gung? Bisa DSLR dong?"

Gue langsung bilang "iya". Gue langsung punya harapan dari situ.

Kadang kita emang harus di jatohin dulu supaya bisa bangkit, kan? Pernah ada satu kejadian. Waktu itu ada temen bos gue dateng. Dan bos gue minta tolong fotoin pake hapenya. Gue di kasih tau angle buat ngambil yang bagus. Ada kalimat dari temen bos gue yang cukup bikin enek pada saat itu. Dia bilang

"Pake hape aja gitu, apalagi pake DSLR. Gemeteran ntar dia"

Gimana? Ngeremehin banget kan? Tapi dia juga yang akhirnya ngajarin gue motret sampe sekarang. Bahkan gue pernah di tawarin buka studio foto dan akan di modalin sama dia. Tapi gak gue sanggupin soalnya waktu itu gue baru bisa dan pasti bentrok juga sama kerjaan gue sekarang.

Setelah itu gue mulai di akui sama bos gue. Gue di masukin ke komunitas Id-Photographer. Gue suka di ajak tour dan tiap tour gue pasti di kasih kamera dan di suruh motret. Bahkan sekarang kamera kantor gue bebas pake, ya tapi karena itu punya kantor, gue jarang pake buat pribadi.

Ternyata motret bareng sama yang udah profesional itu enak gak enak. Enaknya lu bisa ngambil ilmu dari mereka, dan ga enaknya lu harus siap mental. Ini pengalaman gue. Setelah gue sering di ajak tour, otomatis gue jadi sering motret bareng sama bos gue itu. Dan gak jarang gue di bentak sama dia. Gue befikiran kalo ada momen yang bagus, baru gue motret. Jadi, gue selalu nunggu waktu yang tepat dulu baru neken shutter (bagian dari kamera). Tapi ternyata engga buat bos gue, menurut dia, apa aja potret. Dan kadang gue di kritik kalo foto gue jelek, kritikannya itu gak semanis madu men. Paiiit. Tapi dari situlah gue banyak belajar. Pernah suatu waktu lagi ada trip ke Citarik Sukabumi. Saat itu malem di restoran, bos gue bilang gini.

"Gung, saya tau kamu masih belajar. Saya wajar kok. Saya juga dulu begitu. Saya di bentak sama orang yang lebih jago dari saya. Saya di maki, pokoknya di marah marahin deh. Kamu harus belajar terus supaya jadi jago, gimana caranya? Ya potret terus. Jangan diem. Saya liat kamu diem terus. Buat apa kamu pegang kamera? Pokoknya apapun itu potret aja. Gak peduli hasilnya jelek, bisa di hapus kan? Fotografi itu mengabadikan sebuah momen. Momen itu waktu. Dan waktu itu bisa berlalu. Kalo kamu diem terus, kamu bakal kehilangan banyak momen. Satu momen kelewat aja gak akan bisa di ulang. jadi potret terus" Kurang lebih bgitu kata bos gue.

Setelah itu, apapun momennya, saat gue pegang kamera, selalu gue potret, gak peduli hasilnya bagus atau engga.


Sampe sekarang keinginan gue yang belum kecapai itu beli kamera. Harga kamera yang wow itu yang bikin nangis liatnya. Tapi beruntungnya gue, walaupun gak punya, tapi gue udah pernah nyobain kamera dari level pemula sampe yang level pro. Dari lensa paling standar sampe lensa yang WOW. Sebelum gue kerja, ibu gue pernah bilang

"Ayo kerja a, kan gaji nya buat beli kamera" Kata sang ibu

Kayaknya itu doa dari ibu gue sampe sekarang gue kayak gini. Udah ah daripada tulisan gue makin gak jelas, gue udahin aja. Pokoknya kurang lebih gitu lah awal mula gue sama fotografi.

Oiya, sebenernya gue paling gak mau di bilang fotografer. Kenapa? Soalnya gue ngerasa masih sangat cetek buat di sebut seorang fotografer. Kalo kalian pengen liat foto foto gue, bisa diliat disini 
Haaa baru posting lagi nihh, lumayan lama juga yah gak ngisi blog. Ah, gue mau cerita lagi ah, tapi kali ini gue mau ceritain liburan yang cukup mengenaskan, buat gue sih hehehe yasudah langsung saja ....

Sabtu tanggal 29 Maret kemaren kantor tempat gue kerja dapet lagi permintaan buat dari Instalasi Radiologi RS Fatmawati buat gathering ke Taman Safari Indonesia. Mereka minta buat dibikinin gatrhering tanggal 29 sama 30 Maret. Gue yang harusnya bisa menikmati liburan sama keluarga dari tanggal 29 sampe 31 ( 31 itu tanggal merah ) terpaksa batal karena harus jadi tour leader. Gue gak akan ceritain trip yang tanggal 29. Tapi, gue mau cerita yang tanggal 30, karena hari itu cukup mengenaskan buat gue.

Gue berangkat dari kanto jam 5 subuh, karena harus ngambil dulu snack buat peserta di Detos. Waktu itu gue berangkat sendiri, karena bos gue berangkat dari Bogor. Gue berangkat ke RS. Fatmawati pake taksi, karena gak mungkin juga naik bus dengan bawa 2 tas dan 4 dus makanan. Sampe ke RS. Fatmawati gue liat argo taksi nya sampe lima puluh ribu, berat banget rasanya ngasih uang itu ke si supir, soalnya akhir bulan itu masa-masa dompet lagi cekak banget.

Setelah kumpul dan foto foto, kami langsung berangkat ke TSI. Selama di perjalanan gue sibuk banget, sibuk tidur maksudnya. Gue balas dendam karena harus bangun pagi pagi. Untung saat itu berdua sama mbak Anna, jadi gue tidur aja. Gue bangun udah sampe Gadog, dan ngeliat kedepan itu banyak mobil lagi berjejer aja gak jalan jalan. You know lah itu macet brooo -_-

Sistem buka tutup ke arah puncak kadang kampret banget ketika kita yang kejebak disana. Sejam lebih mobil gak jalan, akhirnya di buka juga. Sampai lah kami di Taman Safari. Saat itu penuh banget, beda sama tanggal 29 yang sepi. Tapi gak masalah, tour tetap berlanjut. Sebelum keliling satwa, kami ke tempat parkir G dulu buat makan siang. EO kita emang terkenal dengan fotografi yang di padukan dengan wisata. Jadi udah jelas selama itu juga kita foto foto dulu.

Rombongan Keluarga Besar Instalasi Radiologi RS. Fatmawati




Setelah itu, kami jalan muter buat ngeliat satwa. Gak ada yang asik selama muter liat satwa, gue malah udah bosen. Jadi, setelah ambil beberapa foto kegiatan, gue langsung tidur hahaha :D

Sampailah kita di tempat wahana bermain. Karena gue gak kebagian tiket, otomatis gak bisa naik wahana bermain, paling bisa ngeliat dan masuk ke tempat yang gratisan. Akhirnya gue putusin masuk ke baby zoo. Karena daripada luntang lantung gak jelas. Sampe di tempat macan putih. Kebetulan saat itu lagi di kasih makan. Jadi, ngasih makannya itu daging di iket pake katrol yang melintang di atas kandangnya. Ntar si macan harus manjat ke tiang yang ada di kandang si macan.



Kalo mau makan ya usaha dulu ~


Tuh kan, kalo mau macan eh makan harus usaha dulu. Abis acara ngasih makan macannya, gue kembali bingung mau ngapain lagi. Kayak orang yang bener bener gak ada kerjaan, gue kembali masuk ke baby zoo. Selain karena seru liat burung, juga karena baby zoo itu gratis ga perlu pake tiket.

Sampe di ujung pintu keluar, gue di kasih adegan yang cukup wow dari dua ekor flamingo, eh bener gak yah namanya flamingo? ah liat aja deh nih hihihi

 Ini flamingo kan?


Gimana? Wow gak ? hahaha buat gue sih wow, soalnya baru nemu yang kayak gitu langsung hahaha
Lanjut lagi jalan jalan ke tempat Kangguru, ya pokoknya jalan jal sendirian deh kayak orang ilang haha. Sampe jam 4, gue balik lagi ke bis, soalnya takut kejepak macet.

Hari itu emang lagi kampret, ketakutan gue akan kejebak macet ternyata jadi kenyataan. Malah itu masih di area Taman Safarinya. Gue turun sama mbak Anna, nyari tukang bakso, soalnya cacing cacing diperut udah curi semua nutrisi, loh? Ah sudahlaah .... Bakso abis, jalan pun lancar, tapi kasian si kenek bis gue, dia baru aja mesen, eh jalannya lancar.

Di perjalanan gue mikirin gimana cara balik dari RS. Fatmawati ke Depok. Gue sama sekali gak tau harus naik angkutan apa, kalo naik taksi lagi wah tekor lah lima puluh ribu bisa buat makan 3 hari. Akhirnya gue ikut sama mbak Anna naik bis, niat nya mau turun di stasiun terdekat dan naik kereta. Tapi ternyta bis itu sampe ke Kp. Rambutan, huaah gue lega aja, karena banyak angkutan ke Depok dari situ.

Sampe kantor jam 11 malem, gue nekat berangkat lagi pulang ke Bogor karena besok libur. Rasa kangen sama nyokap bisa ngalahin semuanya. Untung aja kereta ke Bogor masih banyak. Tapi sial pas sampe daerah Ciawi gue kejebak macet, gilak gak jam 1 malem macet? Sampe di rumah jam 2 lebih. Kebetulan di kampung gue ada yang ronda tiap malem, jadi gak terlalu horor. Besok nya ternyat itu macet berlanjut lagi sampe malem, dan dapet kabar dari tukang asongan kalo itu macet dari tol Ciawi sampe Cigombong, ah ada apa dengan Bogor?

Liburan yang cukup kelam buat gue -_-
Sudahlah gue tuntaskan saja postingan ini. BTW karena gue suka motret, seperti biasa gue mau kasih beberapa foto hasil kemaen :D
















Oke,cukup dari gue. Thanks sudah membaca :)

 
Di kala mentari sudah lelah bersinar
Engkau datang menutupi redupnya
Menyambut dingin nya malam
Menjemput indah nya bulan

Terbentang menutupi jagat raya
Terpampang di antara jutaan pasang mata
Menghiasi langit dengan warnamu yang merona
Hingga burung burung pun tak segan berterbangan di antara mu

Sosok mu yang selalu di tunggu
Oleh mereka para pencari keindahan itu
Satu per satu berlomba mengambil sedikit keindahanmu
Tapi, tak banyak yang kau pilih untuk mendapatkannya

Hey senja, mau kah kau datang kemari?
Untuk menghiasi hati yang gelap ini
Hei senja, mau kah kau datang padaku?
Untuk menghibur hati yang sedang pilu
 
Hey senja, bolehkah aku meminta secuil dari dari sejuta warnamu yang indah itu?

Hari ini gue lagi ada di Bogor. Gue absen dari kerjaan, karena kondisi badan yang lagi gak ngedukung. Mungkin karena terlalu cape dan kurang istirahat. Jadi, seharian ini kerjaan gue cuma tidur, bangun tidur terus tidur terus bangun lagi teus tidur lagi terus...... terus..... terus...... *Udah woy !!!

Tadi sore pas bangun tidur di luar berisik banget. Ternyata hujan, lumayan deras. Gue mau tidur lagi, tapi takut di sebut kebo, padahal gue gak tau hubungannya kebo sama suka tidur. Mungkin mereka berpacaran.

Ngomongin soal hujan, ada satu hal yang gue benci dari hujan. Kalo gue liat hujan gue suka inget waktu gue lagi jalan sama dia, terus gue pegang tangannya, gue pegang erat, dan setelah gue tatap wajahnya, ternyata dia cowoook!!! Kampret !!! Tapi bukan bukan itu kok, gue udah insyaf jalan sama cowok *eh. Ada satu binatang yang gue benci. Dia biasanya keluar pas selesai hujan. Atau pas lagi banyak silaru, you know silaru? Search lah di google. Binatang yang suka dinyanyiin di film Si Entong. Lu tau gak? Yang lagunya "Sang kodok eh... eh... eh...Sang kodok" begitulah. Kalo kalian tau Si Entong, masa kecil kalian pasti luar biasa.

Kodok


Gue benci sama kodok. Kodok atau yang biasa di sebut bangkong bukan katak, kalo katak gue cuma jijik dan geli *Lah sama aja gak suka juga* Lu tau kodok kan? Binatang amfibi yang iih menggelikan. Apalagi kodok budug gitu deh. Ngeliatnya aja gue udah geli, apalagi megang. Ditambah lagi kodok kan ada yang beracun, terus air kencing nya bisa bikin buta. Entah lah gimana caranya kodok ngencingin mata orang sampe bisa buta kayak gitu.

Kodok itu serem loh bro. Badannya berlendir, terus suaranya yang bisa bikin susah tidur, bentuknya yang menggelikan gitu, dan ada juga kodok sawah yang buduk gitu. Duh gue ngomonginnya juga merinding -_-
Bingung gue sama pecinta kodok, apa yang disukain coba? Kodok kan bisa membunuh. Coba liat Gamabunta.

Saking gak bencinya gue sama kodok. Gue punya pengalaman yang cukup kampret tentang kodok. Jadi ceritanya waktu itu gue pulang malem malem, abis ngobor di sawah nyari belut, eh bukaaan !! Abis maen. Iya, maen di sawah sambil ngobor *eh. Waktu itu abis turun hujan, otomatis jalanan becek, udah pasti gak ada ojek, soalnya ngapain nyari ojek di depan rumah gue? kan rumah gue gang nya sempit, mana ada ojek? *WOOY NGAPAIN NGOMONGIN OJEK ?!!

Sampe depan rumah, gue terdiam, kaku, tak mampu bicara, tatapan kosong kearah pintu *enggak ini terlalu lebay* gue kaget, di depan pintu rumah gue banyak kodok, karena kondisi setelah hujan dan ditambah banyak serangga bernama silaru itu. Ah, sialan banget, gue bingung mau ngapain. Mau ngusir sendiri, tapi gak berani, jangankan ngusir, ngedeketinnya aja gue gamau. Akhirnya gue miscall-in ibu gue dari luar. Tapi sayangnya waktu itu udah malem banget. Ibu gue kayaknya udah tidur, jadi lama banget. Ada mungkin sejam lebih gue diem di depan, sialnya itu kodok gak mau pergi. Mungkin dia sengaja kali ya?

Sampai akhirnya ibu gue keluar bawa sapu dan ngusir mahluk menjijikan itu. Gue masuk rumah dengan tenang. Fiuuuh. Gitu lah saking gak sukanya gue sama si kodok.

Pokoknya apapun bentuknya. Gimanapun lucunya kata orang. Gue tetep benci sama kodok.Walaupun kodok itu jelmaan seorang putri yang cantik, gue tetep gamau. Kecuali dia udah jadi putri, bukan kodok.  
Sejatinya, sebuah peraturan itu di buat untuk di patuhi, betul? Karena memang peraturan itu di buat untuk mengatur orang orang yang ada di dalam lingkup peraturan itu. Tapi, kalian pernah denger kalimat :

"Peraturan dibuat untuk di langgar"

Pasti pernah kan? Ya jujur saja kalian pasti pernah denger. Bahkan mungkin jadi salah satu yang bilang gitu, ya kan? Soalnya gue juga pernah. Yang penting gue jujur loh. Dan insyaallah udah insyaf.

Baru baru ini gue pergi ke acara kumpul keblog jamban blogger di daerah Univ. Indonesia. Tempatnya itu di sisi danau. Asli itu danau nya bagus menurut gue. Tapi, ada satu yang cukup miris juga buat di liat. Kebetulan kemaren gue bawa kamera dan iseng ambil gambarnya.
Alangkah lucunya negeri ini...


Gimana? Cukup miris bukan? Emang sih gak ada yang berenang. Tapi, kalo kalian liat. Di sepanjang tepi danau ini banyak banget orang yang lagi mancing. Udah jelas jelas ada larangan. Tapi, tetep aja mancing disana. Lucu bukan? Kalo udah gini siapa yang salah? Siapa yang harus disalahin? Kalo menurut gue, kesalahan itu adanya di awal. Mungkin karena pemikiran tentang 'Peraturan itu ada buat di langgar'. Awalnya mungkin cuma buat bercandaan doang, dan salahnya di praktekin. Terus yang nindak kuang tegas. Sekali dua kali dilanggar gak ada tindakan. Lalu di ulang dan di ulang lagi. Jadi, mereka udah biasa ngelanggar peraturan. 

Kalo udah gini, gimana negara mau maju? Coba kita liat negara lain. Misalnya Singapura. Gue emang belum pernah kesana. Tapi, kata orang yang udah kesana. Katanya peraturan disana ketat dan yang nindaknya bener bener tegas. Buat buang sampah sembarangan aja mereka gak berani. Gak ada yang buang sampah sembarangan. Karena ada peraturan yang ngelarang buat buang sampah sembarangan. Dan gak ada yang ngelanggar peraturan itu. Jadi kalo pun ada yang mau buang sampah sembarangan, mereka pasti mikir, gak ada yang buang sampah sembarangan, lalu dia buang gitu aja, gak malu? Sekarang lihat hasilnya. Kalian bisa nilai sendiri bukan? Coba kalo di kita juga semua orang taat sama peraturan. Pasti kita gak akan liat lagi yang kayak gambar di atas itu, gak akan liat lagi sampah-sampah di sungai, pasti tentram deh negara ini.

Gak usah panjang lebar deh, biar sedikit yang penting ngena, ya kan? Sedikit pesen dari gue. Gak usah lah ngajarin yang enggak enggak. Kayak tentang peraturan itu. Biarlah yang udah terlanjur, kalo bisa di perbaiki dan jangan di ulangi. Kita ini generasi muda, kalo bukan kita yang mulai, siapa lagi? Negeri ini udah lucu, jangan di bikin lebih lucu lagi. 
Tak kenal maka tak sayang, walaupun sayang belum tentu jadian. Ya kan?
Nah makanya gue mau ngenalin diri nih, siapa tau setelah kita saling kenal, terus saling sayang, terus jadian, terus terus kanan mepet, kiri dikit kiri dikit !! Ah, sudahlah !!

Siapa sih si Agung? Mahluk seperti apa sih dia? Alien yang datang dari mana sih? Penasaran gak? Enggak !! Yaudah !! Eh santai dong nulisnya !!

Jadi dikisahkan pada hari selasa 22 November 1994. Telah lahir seorang anak laki laki yang sangat tampan *pada saat itu* dan di beri nama Agung. Asal usul nama Agung ini datangnya dari kakek gue. Jadi ceritanya waktu gue lahir, kakek gue ngedenger suara gong yang entah darimana. "Gung....gung...gung..." mungkin gitu lah bunyinya. Lalu muncul lah ide di benak kakek gue buat ngasih nama Agung. Gaje kan ? Sedangkan Adiwangsa itu tambahan dari orang tua gue. Maka di rangkai lah nama gue jadi Agung Adiwangsa. Gimana? keren kan? Enggak !! Yauda!!

Lahir di kota hujan yang katanya itu penyuplai tetap buat banjir di Jakarta. Besar di perbatasan antara Kab. Bogor dan Kab. Sukabumi. Itu merupakan tempat terindah buat gue. Tidak ada tempat seindah rumah sendiri kan? Gue orangnya kadang bener. kadang rusak. Labil gitu deh. Maklum ABG masih labil. Baik, ramah, murah senyum sampe sampe senyum gue di obral di pasar. Ah pokoknya kalo mau tau kenalan aja deh yuk :)

Memulai pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Cigombong 1. Gue termasuk anak yang cerdas di SD *jangan percaya*. Gue pernah jadi 3 besar selama 3 tahun. Iya itu kelas 1, 2, 3. Dimana pelajaran cuma bikin pager, bikin tulisan bersambung, ngitung, dan lain lain. Pinter kan? Di SD ini ga terlalu banyak yang menarik. Gue pendiem di SD. Bahkan nafas juga harus disuruh dulu...

Beranjak ke SMP gue mulai agak gak pendiem. Tapi, tetep pemalu, cuma kadang kadang malu maluin. Gue lulus SMP di SMPN 1 Cigombong. Kelas satu itu dimana gue lumayan agak bandel dikit. Soalnya gue gak bakat jadi anak bandel. Masuk jadi anggota PMR yang katanya kalo cowok cupu yang masuk PMR. Tapi, gue bantah semua itu. Nyatanya anak anak PMR saat itu preman doang. Pernah di nobatkan jadi dokter kecil waktu ada lomba K3 tingkat ....... ah gue lupa tingkat apa. Pokoknya waktu itu barengan sama lomba Adiwiyata tingkat nasional. Dan alhamdulilah sekolah gue menang *tepuk tangan*

Lulus SMP gue lanjutin ke SMAN 1 Cigombong. Labelnya Cigombong mulu yah. Gak bosen, Gung? Jarak SMP sama SMA gue ini cukup jauh. Kira kira 5 ..... meter lah. Jauh kan ? Iya jauh buat semut maksudnya. Jadi kalo gue gambarin. Semisalnya lu loncat dari SMP gue, itu udah langsung keliatan sekolah SMA gue. Hebat kan? Ah sudahlah jangan di bully terus sekolah gue. Di SMA gue mulai gaul *biasanya di gaulin*. Sikap malu maluin gue makin menjadi jadi. Bahkan berevolusi jadi gak tau malu. Hobi gue dalam bermusik mulai gue salurin. Gue gabung di grup Band EPIROGENESA. Yang alhamdulilah sampe sekarang masih solid walaupaun gak di dunia musik lagi. kalo mau dengerin lagunya ada disini. Kelas satu gue dapet kelas yang kampret. Udah tempatnya di ujung, kelas paling akhir, dan isinya orang orang kacau semua. Dari yang suka mabal, preman, bolos, dan lain lainnya. Di SMA gue lumayan pinter lagi. Kelas 10 gue masuk 5 besar, gatau karena gue pinter atau temen sekelas pada bego. Kelas 11 gue ke 11 beda tipis sama yang ke 10. Dan di kelas 12 gue masuk 10 besar lagi, bahkan setelah UN gue di nobatkan jadi peringkat 10 dari seluruh kelas IPA. Gue beranggapan kayaknya waktu isi rapot, guru gue baru pulang dari diskotik.

Ada satu yang menarik di dunia pendidikan gue. Dari mulai SD sampe SMA, semuanya berlabel "Cigombong" belum aja nanti ada Universitas Cigombong -_- tapi gue gak nerusin kuliah, soalnya kebentur biaya. Pas kelas 5 SD. Bapak tercinta gue di panggil sama yang nyiptainnya. Jadi sejak saat itu, ibu gue ngerangkap jadi ayah gue. Atau gue yang di anggap pemimpin keluarga. Karena gue cowok satu satunya di keluarga.

Semua orang punya hobi kan? ya gue juga sama. Gue suka sama yang namanya musik. Mungkin ini bawaan bapak kali yah? soalnya beliau juga sama suka musik kayak gue. Gue suka nge-game. Waktu kecil gue suka main ps dari bangun tidur sampe mau tidur. Gila kan? Iya gue gila. Gue suka fotografi. Tapi hobby ini baru bisa terealisasi pas gue lulus. Dan yang terakhir gue suka sama dia ......... Ah sudahlah !!

Selepas SMA gue langsung nyari kerja. Dan alhamduliahnya gue langsung dapet kerja di Depok. Saat ini gue kerja di salah satu perusahaan di bidang jasa. Nah dari situlah hobi gue tentang fotografi mulai bisa terealisasikan. Kebetulan yang punya perusahaan adalah seorang fotografer. Dan kerjaan yang gue kerjain itu mengedepankan seni fotografi. Mulai saat itu gue jadi belajar banyak tentang fotografi. Bahkan mulai punya temen temen seorang fotografer. Kalo mau liat foto foto hasil gue, bisa diliat diliat di sini. Atau di beberapa socmed gue kayak Twitter atau Facebook gue suka post foto gue disana. Ada satu kebanggan dunia fotografi. Gue di rekomendasiin buat masuk grup Indonesian Phorographer atau biasa di singkat IDP *bukan Indah Dewi Pertiwi ya* sama atasan gue. Buat gue itu satu kebanggan yang berarti gue mulai di akui di dunia fotografi. Walaupun cuma sama dia.

Dan kalo pengen tau mana sih si Agung itu. Nih gue kasih penampakannya


Atau waktu gue lagi beraksi

Kamera pinjeman

Keren kan? Udah ah takut pada jatuh cinta *eh

Apalagi yah yang belum gue ceritain? Ah udah aja deh, kebanyakan takut yang baca pusing. Kalo ada yang mau di tanyain boleh di komentar. Itu sekilas tentang gue. Semoga kalian gak nyesel kenal sama gue, thanks :)
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home