Surat Untuk Pelukis #1


Bogor, 20 November 2014


Dear : Pelukis,
Apa kabar pelukisku? baik baik saja ? semoga kamu di sana baik-baik saja dan sehat selalu ya. Amin. Jangan seperti aku yang saat ini hanya bisa terbaring di atas kasur. Maaf, bukan kebluk atau tidur mulu ya. Tapi, beberapa hari ini kondisi badan sedang tidak bersahabat. Mungkin karena akhir-akhir ini badan terlalu di forsir sampai akhirnya K.O seperti ini.

Iya, akhir-akhir ini yang aku kerjakan cukup bikin ngos-ngosan. Bulan lalu, paman ku memperbaiki rumahnya yang kebetulan ada di depan rumahku. Awalnya aku cuek saja, tapi kemudian ibuku berkata padaku “A bantuin gih, gak enak di depan rumah masa gak ngebantuin sama sekali” dan dari hari itu aku mulai menyumbangkan tenagaku sekedar membantu yang ringan saja. Tapi ternyata, yang ringan itu tidak seringan yang aku bayangkan. contohnya, aku pikir mengangkut beton yang keliatannya kecil itu mudah. Aku dengan pedenya mencoba mengangkat banyak sekaligus. Tapi ternyata, kecil ukuran itu bukan berarti ringan, rasanya pundak ini seperti turun ke pinggang karena saat itu aku mencoba mengangkatnya dengan menggunakan pundaku. Tapi, aku mencoba untuk berpikir positif, semoga saja setelah ini badanku bisa seperti Ade Rai, atau Agung Hercules, atau lebih bawahan dikit lagi, Agung Adiwangsa.

Mengangkut beton ternyata tidak sesuai dengan yang aku bayangkan, kemudian aku mencoba membantu yang lainnya. Aku mencoba untuk membuat adukan semen. Sepertinya hanya mengaduk-aduk seperti itu mudah sekali. Tapi ternyata, bayanganku kembali salah. Mengaduk semen seperti itu rasanya bikin pinggang mau loncat dari tempatnya. Mungkin semua itu karena aku tidak biasa melakukan pekerjaan seperti itu. Soalnya, aku melihat orang-orang tukang bangunan itu sepertinya biasa saja. Aku berpikir, mereka “biasa saja” karena sudah terbiasa apa terpaksa melakukan itu jadi di anggap biasa ya?

Oh iya pelukisku, bekerja itu tidak ada yang mudah. Sungguh. Kemarin aku sempat takjub kepada seorang tukang pasir. Kamu tahu kan mereka? Yang sering membawa pasir dengan alat tanggungan itu? Kamu tahu dari mana mereka dapatkan pasir-pasirnya? Mereka mendapatkan pasirnya dari sungai yang berada lumayan jauh dari rumahku. Jadi, mereka akan menambang pasirnya di sore hari, kemudian membawa ke pemesan pada pagi harinya. Dan itu mereka lakukan hampir setiap hari, kecuali hari jum’at mereka meliburkan diri. Tidak hanya sampai disitu, sungai tempat mereka menambang itu tempatnya ada di bawah. Jadi, jika kita ingin kesana, kita harus melewati turunan yang cukup banyak dan curam. Rasanya, tanpa membawa beban saja, kaki bisa pegal, apalagi membawa beban seperti mereka? Pelukisku, kamu mau tahu seberapa berat beban yang dibawa seorang tukang pasir ? Aku kemarin sempat mencoba mengangkatnya, dan kamu tahu apa yang terjadi? Ketika aku mencoba mengangkatnya, pasir itu tidak terangkat sama sekali, kenapa? Karena sangat amat berat. Bahkan paman ku pun ngos-ngosan setelah mencoba mengangkatnya, dan hanya terangkat sedikit. Dan kamu tahu berapa upah yang mereka dapat? Untuk satu tanggungan mereka hanya mendapat Rp.6000. Nah bayangkan untuk beban, jarak dengan trek yang sulit, mereka hanya mendapatkan Rp.6000/tanggungan. Kalo dipikir memang rasanya tidak sebanding, tapi hebatnya, mereka masih bisa bercanda bersama kami, tidak ada keluhan satupun yang keluar dari mulut mereka. Hebat bukan ? Hidup memang sulit pelukisku. Aku berpesan kepadamu, tolong kamu jangan sia-siakan jerih payah orang tuamu yah.

Pelukisku, adalagi yang ingin aku ceritakan padamu. Tentang para tukang bangunan. Begini, awalnya aku melihat yang mereka kerjakan, dan aku hanya menganggap itu mereka kerjakan dengan cara mereka. Tapi ternyata, setelah aku perhatikan, sangat banyak teori fisika yan mereka gunakan untuk membangun sebuah rumah. Aku baru sadar. Dan ini sangat keren buatku. Misalnya, untuk memastikan tembok yang akan mereka buat itu rata atau tidak, mereka menggunakan sebuah alat yang mereka sebut water pass. Alat yang berupa selang kecil yang diisi air. Lalu mereka mengukurnya dengan melihat ujung dan ujung yang di tegak luruskan ke atas, jika air di dalam selang tersebut diam, itu berarti antara ujung satu dan ujung yang lainnya sama. Nah, ini mereka menggunakan ilmu fisika yang yaitu “air yang tenang selalu datar/rata” sungguh menakjubkan untuk aku yang baru mengetahuinya.

Hampir sebulan lebih aku menjelma menjadi seorang tukang bangunan. Mungkin karena fisik ku yang lemah ini, pekerjaan seperti itu memaksa aku istirahat total karena sakit yang mampir ke tubuhku ini. Tapi aku tidak menyesal, banyak pelajaran yang aku dapatkan selama bekerja bersama mereka. Ini pengalaman sekaligus pelajaran berharga untuku, tidak ada pekerjaan yang mudah dan tidak ada pekerjaan yang rendah. Bahkan seorang tukang bangunan itu sangat penting dan di butuhkan. Coba bayangkan jika tidak ada pekerja bangunan? Apakah akan ada bangunan-bangunan yang berdiri? Sungguh luar biasa mereka itu.

Pelukisku, sampai disini dulu aku bercerita padamu, masih banyak yang ingin aku ceritakan padamu, tapi biar di surat selanjutnya akan kuceritakan pengalaman ku yang lainnya. Oiya, sudah lama rasanya kita tidak berjumpa, hanya bersapa lewat suara. Apakah kamu masih cantik ? hahaha maaf aku bercanda. Cantik ataupun tidak, aku tetap merindukanmu. Sampai jumpa di surat yang lain dan sampai bertemu nanti yah.



Salam rindu


Agung Adiwangsa
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

1 comment:

  1. Tulisannya bagus mas :)

    -www.fkrimaulana.blogspot.com-

    ReplyDelete