Hallo pelukisku, apa kabar? Sudah lama rupanya aku tidak mengirimu surat. Maafkan aku. Bukannya tidak mau, hanya saja aku tidak sempat menulisnya. Bagaimana keadaanmu disana? Baik-baik saja kah ? Ah pasti kamu selalu susah untuk makan. Betul kan ? aku sudah hapal betul kebiasaanmu yang satu itu. Aku saja sampai bingung harus bagaimana mengatasinya. Tapi aku tidak akan pernah bosan untuk mengingatkanmu. Apalagi dalam beribadah. Jangan pernah sekalipun meninggalkan shalat dengan sengaja yah. Karena itulah yang nantinya akan menyelamatkanmu.

Bagaimana keadaan orang tua mu? Sehatkah ? Aku selalu mendoakan untuk kesehatan kalian. Terutama kesehatanmu. Sungguh, aku tidak tega ketika mendengar kabar bahwa kamu sakit. Apalagi mendengar suaramu yang sangat lemah. Sungguh aku tidak sanggup. Maka dari itu, selalu jaga kesehatanmu agar kamu tetap bisa ceria seperti biasanya. Aku sangat suka ketika mendengarmu tertawa. Sungguh, itu adalah suntikan semangat untukku dalam mengerjakan segala hal.

Pelukisku, bagaimana liburanmu? Menyenangkan kah ? dari foto-foto yang aku lihat di akun sosial media mu, sepertinya kamu sangat menikmati liburanmu. Aku bersyukur melihatmu bahagia seperti itu. Senyuman yang merekah dari bibirmu itu suatu pemandangan indah untukku. Tawa mu yang terdengar sangat renyah itu merupakan melodi yang indah yang selalu ingin aku dengar. Kebahagianmu itu adalah satu hal yang selalu aku ingin wujudkan. Kamu tahu kenapa aku selalu memintamu mengirimkan foto, video ataupun voice note ? sebenarnya bukan hanya itu yang ingin aku lihat. Aku ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Walaupun aku tidak tahu yang kamu tunjukan saat itu benar atau hanya pencitraan saja. Setidaknya, ketika aku melihat senyumu di foto, tawamu di video dan mendengar suaramu di voice note yang terlihat bahagia, itu membuatku merasa tenang. Sungguh, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.

Oh iya, aku dengar kemarin kamu pergi ke Bogor untuk melihat calon kampusmu nanti ? Bagaimana kunjungan mu itu ? Menyenangkan ? Semoga nanti kamu bisa masuk ke universitas yang kamu inginkan ya. Maka dari itu, belajar yang rajin dari sekarang. Tapi tidak lupa di barengi dengan doa. Aku selalu mengirimu doa untuk kesuksesanmu kelak. Perjuangan itu perlu untuk mencapai satu keinginan. Aku yakin kamu bisa, karena aku tahu kamu pintar. Tapi jangan sombong diri dulu. Pintar bukan berarti berhenti belajar. Belajar itu perlu, bahkan jangan pernah berhenti belajar. Sampai saat ini aku pun masih terus belajar. Walaupun tidak di bangku sekolah lagi. Banyak yang tidak aku tahu di dunia ini. Makanya aku terus belajar.

Pelukisku, menurutmu, bagaimana kota Bogor ini? Kemana saja kamu selama di Bogor? Aku lihat kamu main ke Kebun Raya Bogor bukan ? Bagaimana disana? Apa kamu pergi ke taman teratai seperti yang aku katakan ? Aku suka tempat itu. Melihat kolam yang penuh dengan tumbuhan teratai itu bisa menenangkan pikiranku. Atau, apa kamu pergi ke danau nya? Disana sangatlah indah pelukisku. Dari situ, kamu bisa melihat istana Bogor. Pokoknya disana itu sangat menyenangkan. Aku sangat suka duduk di bangku dan di kelilingi oleh tumbuhan. Selain sejuk dan udaranya segar, itu juga bisa menenangkan pikiranku. Maka dari itu sayangilah tumbuhan. Karena tumbuhan itu sangat penting untuk kehidupan manusia. Jika tidak ada tumbuhan, darimana kita bisa mendapatkan oksigen ? Atau bahan makanan ? Aku selalu membiasakan diri untuk menanam pohon. Aku menanam pohon di pekarangan rumahku. Aku pikir, untuk cadangan oksigen penerusku kelak. Karena kalau bukan kita yang melakukannya, siapa lagi ?

Hari itu aku sangat kesal karena rencana untuk bertemu yang sudah aku siapkan dari jauh-jauh hari itu gagal karena aku ada keperluan yang mendadak. Pokoknya hari itu aku merasa bete sekali. Bahkan aku sudah membuat sebuah kerajinan tangan berbentuk doraemon kartun kesukaanmu. Sampai sekarang doraemon itu tergantung di meja komputerku. Setiap kali aku melihatnya, aku pasti ingat kamu. Ah rindu sekali rasanya. Sudah berapa lama kita tidak bertemu ? terakhir bertemu ketika kemarin aku main kerumah mu. Itupun hanya sehari saja. Operasi zebra itu membuatku tidak leluasa pergi kemana-mana. Belum punya Surat Ijin Mengemudi. Aku hanya punya Surat Ijin Mencintaimu ha ha ha.

Aku selalu ingin tertawa ketika mengingat pertemuan kita kemarin. Awalnya aku berniat mengejutkanmu dengan tiba-tiba ada di depan sekolahmu. Aku sengaja berangkat sebelum jam pulang sekolahmu. Aku menunggu di pinggir lapangan sampai harus pindah berkali-kali karena salah parkir. Akhirnya aku pura-pura membeli minuman di Indomart, padahal sebenarnya aku hanya numpang parkir. Sengaja aku datang 1 jam lebih awal karena takut kamu keburu pulang, dan yang terjadi ternyata benar kamu keburu pulang. Aku jadi tertawa sendiri disana. Untungnya kamu baik hati mau kembali dan kita bertemu disana. Di depan Indomart. Sudah termasuk so sweet belum? Hahaha tapi aku tidak peduli, karena dimanapun tempatnya, kamulah yang membuat semuanya menjadi indah.     

Lalu ketika aku mengantarmu pulang. Saat kita sudah dekat dengan rumahmu, aku hampir salah jalan karena aku tidak melihat tanda forbidden. Saat itu banyak orang yang melihat, dan mentertawakan kita berdua hahaha. Ah aku memalukan sekali, untung sudah masuk perumahan jadi enggak akan di marahin polisi. Kalau sampai dimarahin, kan malu sama kucing yang meong meong meong itu. Tapi biarlah aku memalukan, yang penting kamu tertawa. 

Lanjut lagi ketika adikmu baru pulang sekolah. Lucu sekali melihat ekspresi adikmu saat itu. Mungkin ketika dia turun dari motor dia merasa ada di dunia lain, karena melihat lelaki tampan sedang duduk di depan rumahnya. Ayo jujur, aku tampan kan ? hahaha. Lucu sekali ekspresinya, entah karena salting atau kenapa. Pokoknya lucu. Sama sih kamu juga lucu hihihi.

Kemudian saat aku pulang dari rumahmu. Kali ini bukan karena aku salah jalan lagi. Bukan. Tapi saat di jalan, aku pulang lewat ke perumnas. Aku memilih jalan itu karena aku pikir itu lebih dekat dari jalan sebelumnya. Awalnya aku tenang saja jalan lewat sana. Sampai tidak lama aku melihat banyak mobil. Aku mulai tidak enak hati, pasti itu operasi zebra. Dan ternyata benar, disana ada razia. Tadinya aku mau berhenti dan putar arah. Karena aku lupa tidak membawa STNK ditambah lagi aku belum punya SIM. Sudah pasti motorku akan langsung di sita tanpa basa-basi lagi. Tapi saat aku akan kembali, aku berpikir lagi. Bagaimana kalau nanti aku lupa jalan dan kesasar? Aku berhenti sejenak. Dengan menyebut basmalah, aku nekat nerobos razia itu. “ah kena tilang mah urusan nanti” pikirku. Saat sudah dekat, aku belaga pede padahal hati deg-degan hahaha. Dan berkat rahmat Allah. Aku lolos begitu saja. Malah, pengendara motor di sampingku yang kena. Hahaha rejeki anak soleh. Kemudian aku pulang dengan santai, sambil senyum-senyum menjijikan mengingat kejadian lucu yang baru saja aku alami.

Oh iya ada lagi satu kejadian lucu. Jadi begini, aku ke sana itu sekalian mau memperpanjang STNK karena masa berlakunya sudah habis. Dari rumah sengaja aku berangkat selepas shalat subuh untuk menghindari razia. Lalu, setelah di perpanjang dan aku bersiap untuk pulang. Memang, ucapan kita itu adalah doa. Aku bilang gini “Nah sekarang mau ada polisi juga gak takut. Udah lengkap, mau tilang juga silahkan kalau bisa” dan saat di jalan pulang. Aku yang saat itu bersama saudaraku kena tilang. Sial memang. Dan yang lucu itu kami kena tilang bukan karena ada razia. Tapi karena salah jalan, dan tidak melihat tanda forbidden. hahaha selama di mintai keterangan oleh pak polisi, aku senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Bukan karena gila, tapi karena melihat kesalahan ku yang salah jalan sama seperti saat menuju ke rumahmu. Dan STNK yang baru saja di perpanjang itu akhirnya di sita polisi juga. Sia-sia sudah berangkat subuh agar terlepas dari operasi zebra karena akhirnya kena tilang juga hahaha. Ada-ada saja.

Tapi pelukisku, terlepas dari semua kejadian lucu itu. Ada yang lebih membuatku tesenyum bahagia. Yaitu ketika aku duduk di depanmu. Melihat senyumu, melihat tawamu, dan mendengar suaramu. Meskipun aku harus bertingkah seperti orang gila,tapi aku ikhlas melakukan semua itu asal kamu bahagia. Asalkan kamu bahagia. Selalu bahagia.

Pelukisku, sampai disini dulu ya suratku kali ini. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku ceritakan kepadamu. Tapi biarlah itu untuk suratku selanjutnya. Baik-baik disana, jaga adikmu dan bantu orang tuamu ya. Dan tetaplah menjadi si gadis yang riang selamanya. Sampaikan salam hangatku untuk orang tuamu, terutama ibumu yah.

Dari aku yang selalu mencintaimu.


 
Agung Adiwangsa.



Malam ini gue lagi duduk di depan rumah nenek gue sambil genjrang-genjreng gitar gak jelas. Untung aja gak di lempar sama tetangga karena suara gue terlalu bagus. Para tetangga sepertinya lagi menimbun diri di dalam selimut. Emang cuaca malam ini sangat dingin. Ditambah hujan gerimis romantis. Bikin orang-orang pengen pelukan karena gak kuat dingin nya. Hih untung gue bisa meluk gitar.

Gue mainin beberapa lagu dari om Iwan Fals. Walaupun suara gue pas-pasan, tapi karena lagunya bagus. Jadi kedenger bagus. Kebetulan gue nyanyi nya pelan, jadi yang denger cuma gue. Menurut gue sih bagus. Gak tau deh kalo mas Anang. Kayaknya lagi sibuk dengan film tentang istrinya yang melahirkan itu. Hih banget deh.

Kemudian gue beranjak dari tempat duduk, berhenti sejenak dari kegiatan meluk gitar, karena gitarnya mulai jijik gue pelukin mulu. Akhirnya gue putus sama si gitar, dan kemudian dia galau. Dia nyanyi lagu-lagu galau sendirian. Yaudah gue tinggalin aja. Gue nyari-nyari sesuatu di depan rumah. Sampe saudara gue yang ngeliat tingkah gue yang aneh itu nanya 

“Gung, lu tau gak Anang bikin film tentang istrinya yang melahirkan ?”

“oh iya? Udah sampe season berapa? Season tahun baru?”

eehh sorry bukan itu. Itu Cuma becanda aja biar lucu. Kalo gak lucu yaudah jangan ketawa. Apalagi senyum-senyum menjijikan gitu. Jangan !
Saudara gue nanya gini

“Gung, lagi ngapain ?”

“Gue lagi nyari stop kontak nih”

“oooohhh nyari itu”

“iya, dimana ya?”

“toko matrial banyak”

Kemudian setelah itu gue sambit dia pake palunya Bima yang di film Mahabar*ata.
Gak lama, ketemu juga stop kontaknya, ternyata ngumpet di balik kandang burung paman gue.
Lalu gue masuk rumah lalu keluar dengan membawa laptop dan secangkir kopi.

Gue pikir hujan-hujan gini ngopi sambil main laptop asik juga. Iseng buka twitter sama facebook. Untung operator three baik banget bisa buka facebook dan twitter gratis, jadi gue yang lagi krisis kuota masih bisa berselancar di dunia maya. Maklum ABG mainannya dunia maya. Ah elaah.

Gue liat-liat di twitter tapi gak ada notif satupun. Menyedihkan. Mention juga kebanyakan malah dari akun-akun gak jelas. Semakin menyedihkan. Jadi sok lah buat kamu-kamu yang baik hati, silahkan mention biar rame. Kasian gue kesepian. Kencing aja sendiri, gak ada yang mau nemenin. Tapi jangan minta follow ini itu, apalagi minta duit. Gue juga lagi butuh, mau ngasih ?

Gue liat-liat lagi twitter. Sepertinya malam ini banyak orang yang lagi galau. Soalnya di timeline gue banyak banget yang pada ngeluh-ngeluh gitu. Dari yang emotnya Cuma “:(” sampe yang emotnya “:((((((((((((((” gitu.

Setelah ngeliat itu, ada banyak pertanyaan di kepala gue. Yah kira-kira ada 2 lah. Pertama “kenapa sih mereka sampe ngeluh gitu? Seberat apa sih cobaan yang mereka hadapi?” yang kedua “memang harus ngeluh dengan cara seperti itu yah ?”

Kenapa sih mereka ngeluh ? seberat apa sih cobaan yang mereka hadapi?

Ya, kadang gue suka mikir. Seberapa berat sih cobaannya? Kok bisa sampe kayak gitu? Yang bikin gue heran, kebanyakan yang gue lihat, mereka ngeluh karena masalah cinta. Mereka yang patah hati. Setau gue sih, patah hati itu bukan berarti mati. Tapi gak jarang yang patah hati sampe-sampe kayak mau mati. Terus yang keliatannya lagi single. Gue gak mau sebut jomblo walaupun jomblo dan single itu sama aja. Tapi kan kebanyakan gak mau di sebut jomblo, pengennya single, ya kan ? Mereka yang single dan merasa kesepian. Seolah-olah dia itu cuma sendirian di dunia ini. Mungkin di rumahnya gak ada jendela. Jadi mereka gak bisa buka jendela dan ngeliat begitu banyak orang diluar sana. Dan seolah-olah kesendiriannya itu membawa mereka ke dalam goa yang penuh dengan manusia serigala kolaborasi dengan manusia harimau yang sedang dalam keadaan lapar. FYI aja sih gue juga lagi single, cuma posisi hati enggak kosong. Ada yang isi, dan gue nikmatin itu. HA HA HA.

Pokoknya masih banyak lagi deh yang lainnya. Dengan masalah dan cara nya masing-masing. Gue gak mau munafik juga. Kadang gue juga suka ngeluh. Cuman gue suka susah buat ngungkapinnya, jadi gue suka ngeluh sendiri dalem hati. Tapi bukan berarti gue gak pernah ngeluh kayak orang-orang gitu. Jujur gue juga pernah. Dan sekarang gue sedang berusaha buat menghilangkan sifat seperti itu. Gue pengen memperbaiki diri gue. Kemarin gue sempet ngobrol sama seorang penjual pecel lele. 
Di tengah percakapan gue bilang gini.

“Pa, kenapa ya hati tuh suka gak tenang. Kayak ada beban gitu.”

Dia jawab seperti ini.

“Jangan suudzon. Ikhlasin aja. Kalo ada masalah, kamu ikhlasin. Kita mikirnya positif aja. Kayak misalnya bapak mau masang tenda buat dagang. Tapi hujan, ah bapak cuek aja tetep masang. Urusan ada yang beli atau enggak, itu urusan belakangan. Yang penting udah usaha. Kalo kitanya sungguh-sungguh, Allah pasti bantu kita. Di saat kita ada masalah, ada cobaan dan lainnya. Kamu jangan langsung ngeluh dan nyerah gitu aja. Kamu harus siap. Allah lagi nguji kamu. Kamu terima dengan keteguhan hati. Keteguhan hati yang yakin kalo di hati kamu itu ada Allah. Kamu berdoa sama Allah, ‘kalo ini cobaan darimu, saya siap. Tapi berikan saya kesehatan, kekuatan, dan kesabaran untuk menghadapinya’. InsyaAllah hati kamu tenang”

Kira-kira seperti itu lah. Gue sering ngobrol sama orang yang lebih dewasa dari gue. Ngambil pelajaran dari kehidupan mereka. Pelajaran yang sangat berharga khususnya buat gue.


Memang harus ngeluh dengan cara seperti itu?

Ada banyak banget cara-cara orang buat ngeluh. Misalnya gue. Kadang gue suka ngeluh tapi di simpangin biar keliatannya lagi ngelucu. Padahal itu lagi ngeluh. Dan gak lucu pula. Yang gue liat saat ini, banyak banget mereka yang ngeluh dengan cara mengumbarnya di socmed. Dan pertanyaanya “Kayak gitu biar apa?” apa biar semua orang ngeliat, lalu iba sama kita, lalu kasihan sama kita, lalu kita di kasih duit receh seribuan biar gak nangis? Gitu? Ah elaaah, plis deh cyin. Gak semua orang mau tau masalah kita. Bahkan ada yang malah memandang sebelah mata setelah kita ngeluh dengan cara seperti itu. Lalu harus bagaimana? Ya coba jangan ngeluh lah. Mikir positif aja. Atau bisa dengan curhat ke temen aja, gak perlu diumbar sampe dunia tau.

Terlepas dari semua yang ada di atas. Gue gak bermaksud menggurui kalian semua. Cuma sekedar mencurahkan apa yang ada di kepala dan berbagi pengalaman yang gue alami. Ambil positifnya, buang negatifnya.

Wah gak kerasa kopi udah mau abis lagi. Daripada kepanjangan terus yang baca pada muntaber karena tulisan gue, jadi udah dulu ya. Kasian gitar gue kedinginan gak ada yang meluk. Eeeh udah gak usah ngeluh !!

 Best Regards



Agung Adiwangsa   






Di postingan gue ini, gue mau bilang 

Selamat Hari Ibu Untuk Seluruh Ibu di Muka Bumi ini”

Yah biarpun hari ibunya udah lewat, tapi gak apa apa. Maklumin aja lah, paket malem jadi ya begini. Udah kayak mahluk nokturnal, keluarnya tengah malem. Siangnya hibernasi di kamar.
Seorang yang bernama Eti Sumiati atau lebih sering gue panggil dengan sebutan “mama”. Ibu dari tiga anak, yaitu ; Kakak gue, gue, dan adik gue. Yang bertugas sebagai ibu sekaligus ayah buat gue. Dengan kata lain, dialah ibu gue. 

Beliau adalah orang yang super amat sangat hebat bagi gue.  Bayangin, beberapa tahun silam, beliau rela mempertaruhkan nyawanya buat ngelahirin gue (Gak mau sebut tahun, nanti ketahuan umur gue udah 20 tahun). Udah gitu, setelah gue lahir, beliau juga yang ngurus gue, ngasih makan, jagain gue dan menuhin kebutuhan-kebutuhan gue. Betul kan? Itu aja rasanya gue gak akan mungkin bisa ngebales kebaikan ibu gue. Gak akan bisa. 

Ibu gue adalah ibu sekaligus ayah buat gue. Iya, semenjak Ayah gue meninggal saat gue kelas 5 SD di RSUD Ciawi karena penyakit yang di deritanya, otomatis ibu gue lah yang sampai saat ini berperan sebagai Ayah buat kakak gue, gue dan adik gue. Beliau yang memenuhi kebutuhan dirumah sekaligus mencari nafkah untuk keperluan kami. Walaupun ada uang pensiunan ayah gue, tapi tetep aja gak cukup. Dengan pensiunan yang gak seberapa, harus cukup untuk keperluan sehari-hari. Belum lagi harus bisa ngebiayain sekolah kami bertiga. Tapi dengan kehebatan ibu gue, beliau memanfaatkan kebisaannya dalam membuat kue untuk menuhin semua keperluan itu. Dan alhamdulilahnya selalu saja ada orang yang butuh bantuan ibu gue. Gue suka kasihan sama ibu gue. Kadang beliau harus tidur sampe larut malem dan bangun pagi sekali untuk menyelesaikan pesanan pelanggannya. Gue suka ikut bantuin walaupun cuma ngaduk adonan kue, atau nganterin kue yang udah jadi ke pelanggan.

Waktu kecil, gue itu sering sakit sakitan. Gue pernah 3 tahun beruturut-turut minum obat dan sebulan sekali harus check up ke dokter. Dan selama itu, ibu gue lah yang jadi malaikat yang ngerawat gue. Pernah suatu ketika gue harus check up ke dokter malem malem sekitar pukul 8. Pas mau berangkat, hujan turun sangat deras disertai petir yang nyamber gak berhenti-berhenti. Dan sialnya, entah kenapa pada saat itu gak ada angkot yang mau di tumpangi. Padahalkan pasti di bayar ongkosnya, gak ngutang. Ibu gue dengan sabarnya terus ngeberentiin angkot walaupun harus kehujanan. Karena saat itu memang gue harus check up, dan kebetulan penyakit gue juga lagi kambuh. Sampe ada satu abang angkot yang mungkin kasihan kepada kami. Dan mau nganterin ke dokter tempat gue check up. Pas mau bayar ongkos, tiba-tiba supir angkot itu nolak dan bilang “gak apa apa bu, saya ikhlas lagian saya juga sekalian mau pulang.” Ibu gue langsung berterimakasih sama si supir angkot. Ini kejadian nyata, sampai sekarang gue masih inget kejadiannya.

Setelah gue dan kakak gue lulus sekolah, beban ibu gue sedikit berkurang. Ditambah lagi pada saat itu kakak dan gue udah kerja. Tapi pas gue suruh ibu gue buat berhenti kerja bikin gue, beliau malah gak mau. Beliau milih tetep nerima pesenan. Katanya “gak apa-apa buat nambah-nambah keperluan”. Dan sampai saat ini pun beliau masih tetap nerima pesenan kue dari pelanggannya.

Memang bener, seberapapun umur kita yang kita sendiri anggap kita udah dewasa. Bagi ibu kita, kita tetep anak kecilnya dia. Selama di Depok, ibu gue sering ngesms atau telpon cuma bilang “a bangun, jangan lupa shalat.”,”a udah makan belum ?”,”a lagi apa?” pokoknya masih banyak lagi deh. Dan itu beliau lakukan hampir setiap hari selama gue kerja disana.

Buat gue, bahagia banget rasanya ketika ngeliat orang yang gue sayang terutama ibu gue bisa ngerasain hasil dari jerih payah gue sendiri. Ada lagi satu cerita, waktu itu gue baru gajian. Pagi-pagi pas kebetulan gue libur, seperti biasanya ibu gue pergi belanja ke pasar. Dan saat itu gue inisiatif buat ikut nganter. Pas lagi asik belanja, gue yang saat itu ngerasa lagi ada rejeki niat mau beliin sesuatu buat ibu gue.

Gue tanya “mah, mamah pengen beli apa? Mau beli baju gak?”

“emang punya uang?”

“Ada lah sedikit rejeki” 

Setelah itu ibu gue gak bilang apa-apa dan langsung jalan aja. Gue pikir mungkin ibu gue bingung mau beli apa. Dan kami jalan lagi nyari barang lainnya yang mau dibeli. Setelah beberapa lama, ibu gue diem. Gue pikir beliau udah tau barang apa yang mau di beli. Terus gue siapin uangnya. Kemudian beliau bilang gini “mama mau somay aja deh. Uangnya simpen aja buat keperluan kamu” gue langsung cengo. Setelah sekian banyak pengorbanan yang dilakuin buat gue, beliau cuma minta di beliin somay. Ah gue gatau nyeritainnya gimana. Yang jelas, selama di jalan pulang gue cuma diem tapi hati gue rasanya sedih, pengen nangis sumpah. Silahkan kalian bayangin sendiri.

Pokoknya ibu gue itu adalah sosok yang sangat luar biasa bagi gue. Malaikat tanpa sayap yang Allah kasih buat gue. Gak ada kata yang pas buat menggambarkan betapa luar biasanya beliau bagi gue. Pengen rasanya gue bilang “mah terimakasih, agung sayang sama mama” tapi belum juga gue bilang, baru ngebayanginnya aja rasanya udah pengen nangis bombay walapun gue belum terlalu paham nangis bombay itu kayak gimana. Apakah saat nangis keluarnya bawang bombay atau gimana gue gatau. Yang jelas gue sayang banget sama mama gue.
Walaupun tanggal 22 nya udah lewat tapi gak apa apa lah,

 Gue mau bilang

Selamat hari ibu untuk ibu gue tercinta. Semoga Allah selalu memberimu kekuatan, ketabahan, kesabaran, dan kesehatan. Anakmu ini selalu mencintaimu. ”   





Dear : pelukis


Hallo pelukisku? apa kabar ? aku dengar kamu sedang sakit? Sudah di obati? Cepat sembuh ya, agar kamu bisa menebar kesenangan lagi untuk orang-orang disekitarmu. Jangan lupa diminum obatnya. Aku tahu kamu tidak suka meminum obat. Semua orang juga sama. Tapi untuk kali ini, minumlah agar kamu lekas sembuh. Jaga kesehatanmu, sekarang ini memang sedang rawan sakit. Bukan hanya sekarang, tapi untuk kedepannya. Aku selalu mendoakan untuk kesehatanmu dari sini.

Peluksiku, aku ingin berbagi cerita lagi denganmu. Kali ini mengenai pekerjaanku. Kamu tahu kan aku sudah tidak berkerja lagi di tempaktu yang dulu? Yah, itu juga yang membuat kita jadi jarang bertemu karena sudah tidak ada pemasukan untukku lagi. Maafkan aku yah pelukisku. Tapi aku janji akan berusaha keras agar kita bisa selalu bersama. Sabar yah pelukisku. aku juga tahu sabarmu tiada batasnya, sungguh hebat kamu ini. Semoga Allah senantiasa memberimu kesabaran yang lebih lagi untuk menghadapi ini semua yah. Ini hanya masalah waktu. Buah dari kesabaran itu amatlah manis. Kamu harus percaya itu.

Pelukisku, ada kabar baik untuk mu. Sekarang ini aku tidak Cuma menganggur yang tidak ada manfaatnya. Sekarang aku memiliki kerja yang lebih baik daripada menganggur. Aku menjadi seorang guru di salah satu tempat bimbingan belajar. Jadi begini ceritanya. Bibiku seorang guru di sebuah sekolah dasar di daerah tempatku tinggal membuka satu tempat bimbingan belajar. Awalnya aku tidak ikut serta disana. Hanya kakak ku saja yang ikut. Awalnya memang aku tidak tertarik. Karena aku berpikir “ah aku saja masih perlu banyak belajar, bagaimana mau mengajari orang” hanya kakak ku saja yang ikut disana.

Tempat bimbingan belajar itu memang tergolong baru, tapi sudah lumayan banyak yang menjadi murid disana. Sampai suatu ketika aku iseng main kesana untuk melihat saja. Kebetulan saat itu guru untuk kelas 5 SD tidak hadir karena ada halangan. Oh ya, tempat bimbel itu hanya untuk anak SD saja. Kemudian bibiku yang sedang mengajar meminta bantuanku untum menghandle anak kelas 5. Daripada aku hanya melihat saja, maka aku setujui permintaannya. Awalnya aku cukup canggung juga. Ya, bagaimana tidak? Aku tidak pernah mengajari orang sebelumnya. Jadi belum berpengalaman untuk menjadi seorang guru. Kadang aku suka bingung ketika seorang anak bertanya padaku mengenai suatu hal yang aku juga tidak tahu. Aku bingung harus bagaimana. Lalu, aku mencari cara agar aku bisa melihat di Google tanpa mereka sadari. Aku berpikir, masa seorang guru tidak tahu? Makanya aku mencoba mencarinya diam-diam. Untunglah dengan sedikit trik aku bisa melihat ke Google dan mengetahui yang mereka tanyakan tanpa mereka sadari. Jadi mereka seolah percaya bahwa aku benar-benar mengetahuinya. Hahah pintar bukan aku?

Tanpa aku sadari, ternyata bibiku itu memperhatikan ku saat sedang mengajari anak-anak. Sampai setelah bimbel selesai, aku dipinta untuk main kerumahnya. Lalu disana aku diminta untuk menjadi salah satu guru. Awalnya aku menolak dengan alasan aku tidak bisa. Lalu bibiku merayu aku. Kalo tidak salah begini dialognya :
“a mau gak ngajar? Kan kelas 5 gak ada yang pegang”
“ah bi, agung kan gak bisa. Jadi guru aja gak pernah”
“yah tadi aja di perhatiin bisa kok. Ayo daripada gak ada kerjaan”
“tapi nanti kalo salah gimana?”
“coba dulu, kok belum apa-apa sudah takut salah. Gimana kamu ini?”
“tapi jangan kelas 5 dong bi, kan materinya udah mulai susah”
“mau kelas berapa? Kan yang lain udah ada yang handle, lagian kelas 5 Cuma sedikit kok. Yakin deh kamu pasti bisa. Kan ayahmu guru, pasti ada bakan yang turun dari ayahmu.”

Nah kira kira seperti itu lah dialognya sampai aku meng-iya-kan permintaan bibiku itu. Ayahku memang seorang guru. Guru untuk muridnya di sekolah dan guru untukku di rumah. Ayahku ini sangat hebat. Tapi aku tidak mau seperti dia, aku ingin melampauinya. Aku yakin ayahku juga mengharapkan aku seperti itu.

Pelukisku, setelah hari itulah aku resmi menjadi pengajar di tempat bimbingan belajar yang dinamai HIPSI itu. Parahnya, sampai saat ini aku tidak tahu apa kepanjangan dari HIPSI. Konyol sekali bukan? Jangan ditiru ya. Aku mengajar di kelas 5 dan kakaku kelas 3. Aku sempat minta untuk bertukar dengan kakak ku. Tapi dia tidak mau, katanya dia sudah enak dengan kelas itu dan sudah hapal dengan anak-anaknya. Menyebalkan sekali.

Mulailah hari pertama aku menjadi guru resmi disana. Saat akan memberi materi, aku kaget. Dulu sewaktu aku sekolah, setiap mata pelajaran pasti punya bukunya sendiri. Tapi sekarang untuk semua mata pelajaran, hanya ada satu buku yang di sebut buku tematik. Tapi aku tidak terlalu memusingkan itu. Aku mulai pelajaran hari itu dengan satu buku.

Awalnya biasa saja. Tapi lama kelamaan ikut pusing juga. Aku bingung, masa saat aku sedang memberi pelajaran bahasa Indonesia. Tiba-tiba ada soal matematika yang nyelip. Kemudian di lembar berikutnya ada lagi soal senib udaya. Wah harus bagaimana ini pikirku. Mungkin permulaan aku tidak biasa dengan cara seperti itu. Namun setelah bertanya pada guru lain, ternyata mereka juga sama sepertiku.

Setelah pulang kerumah, aku memikirkan cara bagaimana mensiasati persoalan ini. Aku tidak ambil pusing, aku kelompokan materi-materi dalam buku itu menjadi bidangnya masing masing. Kemudian aku buat soal seperti biasa tanpa sistem tematik namun masih mengacu pada materi yang dibahas di dalam buku tersebut.

Pelukisku, setelah beberapa hari mengajar, sepertinya aku mulai terbiasa. Dan murid-murid yang awalnya tidak aku kenal itu satu persatu mulai hapal nama mereka. Mungkin memang mereka masih terbilang anak-anak. Kerjaan mereka selama les hanya mengobrol saja dengan teman sesamanya. Sampai-sampai aku pusing karena tidak jarang juga mereka jalan-jalan yang entahlah apa yang mereka lakukan itu. Bahkan ada juga yang mencari-cari perhatianku.seperti contohnya ada seorang anak yang kerjaannya hanya ingin salaman saja denganku. Entah kenapa aku juga tidak tahu. Pernah suatu ketika seorang ada seorang anak bernama Siti Masruroh atau biasa aku panggil dengan sebutan “neng”. Saat itu aku sedang memberi materi matematika. Dia seperti biasa ngobrol dengan salah satu temannya yang bernama Syifa. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba si Neng ini teriak sambil berkata padaku “pa, si Syifa katanya suka sama bapa” aku mendengarnya dan langsung menoleh pada mereka berdua. Si Neng hanya tertawa melihat temannya malu karena aku melihatnya. Hahaha ada-ada saja pikirku. Yah namanya juga anak kecil. Kamu jangan cemburu yah pelukisku hehe :p

Tidak terasa sudah hampir sebulan sampai saat ini aku menjelma menjadi seorang guru bagi mereka. Dan sekarang sudah mulai masuk Ulangan Akhir Smester. Aku harus lebih intens untuk membekali mereka ilmu agar siap menghadapi UAS. Hari ini aku harus membuat soal latihan untuk mereka. Memang, membuat soal itu sepertinya mudah. Tapi, tidak semudah yang dibayangkan juga pelukisku.  Haduh sepertinya aku harus lembur. doakan aku agar selalu sehat yah.

Oh iya, hari ini juga hari gajihan pertamaku. Tadi sore sebelum pulang, aku mampir dulu untuk membeli martabak. Pelukisku, ada satu kebahagiaan yang amat sangat bagiku. Yaitu ketika ibuku, keluargaku, bisa merasakan hasil dari jerih payahku sendiri. Sungguh, itu adalah kebahagiaan yang amat sangat bagiku. Apalagi barusan ketika ibuku mengucapkan terimakasih sambil tersenyum. Aku tahu ini tidak seberapa, tapi aku merasa senang karena bisa melihat orang yang aku sayangi merasa senang. Oleh karena itu, kamu harus tetap tersenyum yah. Doakan aku agar selalu bisa membahagiakanmu. Dan doakan juga agar Allah senantiasa memberiku rizki agar kita juga bisa bertemu nantinya. Insya Allah bila Allah mengijinkan, dalam waktu dekat ini aku akan pergi ke kotamu. Semoga kita bisa bertemu yah pelukisku. Aku sangat merindukanmu.

Sekian untuk suratku kali ini. Masih ada cerita yang akan aku bagi kepadamu. Tapi nanti di surat berikutnya yah. Dan untuk kamu, semoga cepat sembuh. Agar bisa ceria dan memberi keceriaan bagi semua orang. Aku tidak tega mendengar suaramu yang lemah itu. Aku sangat sedih sekali mengetahui kamu sakit disana. Oleh karena itu jaga kesehatanmu. Dan yang terpenting makan yang teratur karena aku tahu kamu sangat susah disuruh makan. Aku selalu mendoakanmu dari sini. Orang yang sangat aku sayangi. Iya, itu kamu pelukisku.


Salam rindu

Agung Adiwangsa




Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home