Surat Untuk Pelukis #2





Dear : pelukis


Hallo pelukisku? apa kabar ? aku dengar kamu sedang sakit? Sudah di obati? Cepat sembuh ya, agar kamu bisa menebar kesenangan lagi untuk orang-orang disekitarmu. Jangan lupa diminum obatnya. Aku tahu kamu tidak suka meminum obat. Semua orang juga sama. Tapi untuk kali ini, minumlah agar kamu lekas sembuh. Jaga kesehatanmu, sekarang ini memang sedang rawan sakit. Bukan hanya sekarang, tapi untuk kedepannya. Aku selalu mendoakan untuk kesehatanmu dari sini.

Peluksiku, aku ingin berbagi cerita lagi denganmu. Kali ini mengenai pekerjaanku. Kamu tahu kan aku sudah tidak berkerja lagi di tempaktu yang dulu? Yah, itu juga yang membuat kita jadi jarang bertemu karena sudah tidak ada pemasukan untukku lagi. Maafkan aku yah pelukisku. Tapi aku janji akan berusaha keras agar kita bisa selalu bersama. Sabar yah pelukisku. aku juga tahu sabarmu tiada batasnya, sungguh hebat kamu ini. Semoga Allah senantiasa memberimu kesabaran yang lebih lagi untuk menghadapi ini semua yah. Ini hanya masalah waktu. Buah dari kesabaran itu amatlah manis. Kamu harus percaya itu.

Pelukisku, ada kabar baik untuk mu. Sekarang ini aku tidak Cuma menganggur yang tidak ada manfaatnya. Sekarang aku memiliki kerja yang lebih baik daripada menganggur. Aku menjadi seorang guru di salah satu tempat bimbingan belajar. Jadi begini ceritanya. Bibiku seorang guru di sebuah sekolah dasar di daerah tempatku tinggal membuka satu tempat bimbingan belajar. Awalnya aku tidak ikut serta disana. Hanya kakak ku saja yang ikut. Awalnya memang aku tidak tertarik. Karena aku berpikir “ah aku saja masih perlu banyak belajar, bagaimana mau mengajari orang” hanya kakak ku saja yang ikut disana.

Tempat bimbingan belajar itu memang tergolong baru, tapi sudah lumayan banyak yang menjadi murid disana. Sampai suatu ketika aku iseng main kesana untuk melihat saja. Kebetulan saat itu guru untuk kelas 5 SD tidak hadir karena ada halangan. Oh ya, tempat bimbel itu hanya untuk anak SD saja. Kemudian bibiku yang sedang mengajar meminta bantuanku untum menghandle anak kelas 5. Daripada aku hanya melihat saja, maka aku setujui permintaannya. Awalnya aku cukup canggung juga. Ya, bagaimana tidak? Aku tidak pernah mengajari orang sebelumnya. Jadi belum berpengalaman untuk menjadi seorang guru. Kadang aku suka bingung ketika seorang anak bertanya padaku mengenai suatu hal yang aku juga tidak tahu. Aku bingung harus bagaimana. Lalu, aku mencari cara agar aku bisa melihat di Google tanpa mereka sadari. Aku berpikir, masa seorang guru tidak tahu? Makanya aku mencoba mencarinya diam-diam. Untunglah dengan sedikit trik aku bisa melihat ke Google dan mengetahui yang mereka tanyakan tanpa mereka sadari. Jadi mereka seolah percaya bahwa aku benar-benar mengetahuinya. Hahah pintar bukan aku?

Tanpa aku sadari, ternyata bibiku itu memperhatikan ku saat sedang mengajari anak-anak. Sampai setelah bimbel selesai, aku dipinta untuk main kerumahnya. Lalu disana aku diminta untuk menjadi salah satu guru. Awalnya aku menolak dengan alasan aku tidak bisa. Lalu bibiku merayu aku. Kalo tidak salah begini dialognya :
“a mau gak ngajar? Kan kelas 5 gak ada yang pegang”
“ah bi, agung kan gak bisa. Jadi guru aja gak pernah”
“yah tadi aja di perhatiin bisa kok. Ayo daripada gak ada kerjaan”
“tapi nanti kalo salah gimana?”
“coba dulu, kok belum apa-apa sudah takut salah. Gimana kamu ini?”
“tapi jangan kelas 5 dong bi, kan materinya udah mulai susah”
“mau kelas berapa? Kan yang lain udah ada yang handle, lagian kelas 5 Cuma sedikit kok. Yakin deh kamu pasti bisa. Kan ayahmu guru, pasti ada bakan yang turun dari ayahmu.”

Nah kira kira seperti itu lah dialognya sampai aku meng-iya-kan permintaan bibiku itu. Ayahku memang seorang guru. Guru untuk muridnya di sekolah dan guru untukku di rumah. Ayahku ini sangat hebat. Tapi aku tidak mau seperti dia, aku ingin melampauinya. Aku yakin ayahku juga mengharapkan aku seperti itu.

Pelukisku, setelah hari itulah aku resmi menjadi pengajar di tempat bimbingan belajar yang dinamai HIPSI itu. Parahnya, sampai saat ini aku tidak tahu apa kepanjangan dari HIPSI. Konyol sekali bukan? Jangan ditiru ya. Aku mengajar di kelas 5 dan kakaku kelas 3. Aku sempat minta untuk bertukar dengan kakak ku. Tapi dia tidak mau, katanya dia sudah enak dengan kelas itu dan sudah hapal dengan anak-anaknya. Menyebalkan sekali.

Mulailah hari pertama aku menjadi guru resmi disana. Saat akan memberi materi, aku kaget. Dulu sewaktu aku sekolah, setiap mata pelajaran pasti punya bukunya sendiri. Tapi sekarang untuk semua mata pelajaran, hanya ada satu buku yang di sebut buku tematik. Tapi aku tidak terlalu memusingkan itu. Aku mulai pelajaran hari itu dengan satu buku.

Awalnya biasa saja. Tapi lama kelamaan ikut pusing juga. Aku bingung, masa saat aku sedang memberi pelajaran bahasa Indonesia. Tiba-tiba ada soal matematika yang nyelip. Kemudian di lembar berikutnya ada lagi soal senib udaya. Wah harus bagaimana ini pikirku. Mungkin permulaan aku tidak biasa dengan cara seperti itu. Namun setelah bertanya pada guru lain, ternyata mereka juga sama sepertiku.

Setelah pulang kerumah, aku memikirkan cara bagaimana mensiasati persoalan ini. Aku tidak ambil pusing, aku kelompokan materi-materi dalam buku itu menjadi bidangnya masing masing. Kemudian aku buat soal seperti biasa tanpa sistem tematik namun masih mengacu pada materi yang dibahas di dalam buku tersebut.

Pelukisku, setelah beberapa hari mengajar, sepertinya aku mulai terbiasa. Dan murid-murid yang awalnya tidak aku kenal itu satu persatu mulai hapal nama mereka. Mungkin memang mereka masih terbilang anak-anak. Kerjaan mereka selama les hanya mengobrol saja dengan teman sesamanya. Sampai-sampai aku pusing karena tidak jarang juga mereka jalan-jalan yang entahlah apa yang mereka lakukan itu. Bahkan ada juga yang mencari-cari perhatianku.seperti contohnya ada seorang anak yang kerjaannya hanya ingin salaman saja denganku. Entah kenapa aku juga tidak tahu. Pernah suatu ketika seorang ada seorang anak bernama Siti Masruroh atau biasa aku panggil dengan sebutan “neng”. Saat itu aku sedang memberi materi matematika. Dia seperti biasa ngobrol dengan salah satu temannya yang bernama Syifa. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba si Neng ini teriak sambil berkata padaku “pa, si Syifa katanya suka sama bapa” aku mendengarnya dan langsung menoleh pada mereka berdua. Si Neng hanya tertawa melihat temannya malu karena aku melihatnya. Hahaha ada-ada saja pikirku. Yah namanya juga anak kecil. Kamu jangan cemburu yah pelukisku hehe :p

Tidak terasa sudah hampir sebulan sampai saat ini aku menjelma menjadi seorang guru bagi mereka. Dan sekarang sudah mulai masuk Ulangan Akhir Smester. Aku harus lebih intens untuk membekali mereka ilmu agar siap menghadapi UAS. Hari ini aku harus membuat soal latihan untuk mereka. Memang, membuat soal itu sepertinya mudah. Tapi, tidak semudah yang dibayangkan juga pelukisku.  Haduh sepertinya aku harus lembur. doakan aku agar selalu sehat yah.

Oh iya, hari ini juga hari gajihan pertamaku. Tadi sore sebelum pulang, aku mampir dulu untuk membeli martabak. Pelukisku, ada satu kebahagiaan yang amat sangat bagiku. Yaitu ketika ibuku, keluargaku, bisa merasakan hasil dari jerih payahku sendiri. Sungguh, itu adalah kebahagiaan yang amat sangat bagiku. Apalagi barusan ketika ibuku mengucapkan terimakasih sambil tersenyum. Aku tahu ini tidak seberapa, tapi aku merasa senang karena bisa melihat orang yang aku sayangi merasa senang. Oleh karena itu, kamu harus tetap tersenyum yah. Doakan aku agar selalu bisa membahagiakanmu. Dan doakan juga agar Allah senantiasa memberiku rizki agar kita juga bisa bertemu nantinya. Insya Allah bila Allah mengijinkan, dalam waktu dekat ini aku akan pergi ke kotamu. Semoga kita bisa bertemu yah pelukisku. Aku sangat merindukanmu.

Sekian untuk suratku kali ini. Masih ada cerita yang akan aku bagi kepadamu. Tapi nanti di surat berikutnya yah. Dan untuk kamu, semoga cepat sembuh. Agar bisa ceria dan memberi keceriaan bagi semua orang. Aku tidak tega mendengar suaramu yang lemah itu. Aku sangat sedih sekali mengetahui kamu sakit disana. Oleh karena itu jaga kesehatanmu. Dan yang terpenting makan yang teratur karena aku tahu kamu sangat susah disuruh makan. Aku selalu mendoakanmu dari sini. Orang yang sangat aku sayangi. Iya, itu kamu pelukisku.


Salam rindu

Agung Adiwangsa




Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

6 comments:

  1. Wah jadi udah diterima jadi guru ya gung? selamat yaa. \:D/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Guru abal abal di :D
      Btw, thank you \:D/

      Delete
  2. Menarik dari setiap tulisannya :)

    www.fikrimaulanaa.com

    ReplyDelete