Kuminum secangkir kopi yang berada di sampingku. Sudah mulai dingin. Maklum, udara di taman pagi itu memang cukup dingin. Napasku saja sampai mengeluarkan asap, seperti kereta uap saja. Kucabut sebatang rokok dari bungkusnya, membakarnya, lalu menghisap perlahan. Nikmat. Itu yang pertama kali tergambar di benakku.

Sepi pagi itu mulai terusir oleh orang-orang yang beraktivitas. Ya, hari libur seperti ini, taman memang selalu jadi tempat yang pas untuk meluangkan waktu. Untuk olahraga atau hanya sekedar bermain.  Bersama keluarga, kekasih, atau sendirian, seperti aku ini.

Jauh di tanah terbuka di sana, aku melihat seorang anak kecil sedang berlari-lari mengejar bola. Tak jauh dari tempatnya, ada satu keluarga yang sedang duduk beralaskan tikar. Menyiapkan makanan yang mereka bawa dari rumah. Hmm… piknik kecil-kecilan mungkin. Ide yang bagus.
Pandanganku kembali kepada si anak tadi. Ia dengan asik mengejar-ngejar bola sendirian. Aku perhatikan, sepertinya ia masih belajar. Kadang bola itu meleset dari kakinya. Sesekali ia terjatuh. Duduk sebentar, mengusap kakinya yang kotor karena terjatuh tadi, lalu kembali bangkit. Hebat juga, aku pikir ia akan menangis.

Tak lama, seorang anak datang menghampirinya. Sepertinya kakak dari anak kecil itu. Mungkin ia ingin ikut bermain. Tapi, tunggu sebentar. Itu, kan, tidak adil. Si kakak yang lebih dewasa sudah pasti lebih hebat dari si adik. Hebatnya, si anak kecil itu tidak terlihat takut. Ia malah menantang kakaknya. Ayolah, nak, jangan mau kalah dari kakakmu!

Permainan dimulai. Si anak kecil melawan kakaknya. Mula-mula, bola di kuasai si adik. Ia menggiring dengan percaya diri. Lucunya, kadang bola itu tertinggal. Atau, ia menggiring terlalu keras. Hingga yang tadinya berniat menggiring, malah seperti mengoper kepada kakaknya. Beda dengan kakaknya yang sudah mahir memainkan bola. Berkali-kali ia membuat pusing adiknya. Si adik berusaha keras mendapatkan bolanya. Tapi tetap saja tidak berhasil.

Permainan terus berjalan dengan posisi bola masih berada di kaki sang kakak. Malah, saat ini ia sedang mempermainkan adiknya. Ah, sudah tidak seru lagi. Bahkan, aku bisa tebak, pasti akhirnya si adik menangis, lalu mengadu pada orangtuanya, kemudian permainan berakhir.

Aku mengambil sebatang rokok lagi. Kopi yang tinggal setengah itupun kembali aku seuruput. Biarpun dingin, tapi tetap enak. Matahari yang tadi bersembunyi dibalik pepohonan, sekarang mulai menampakan sinarnya. Mengusir dingin yang sedari tadi menyelimuti kulit.

Pandanganku kembali ke anak-anak tadi. Betul dugaanku. Anak kecil yang tadinya penuh semangat, sepertinya mulai menyerah. Ia duduk ditanah, terlihat kesal karena tidak mampu merebut bola dari kakaknya. Sedangkan kakaknya malah tertawa melihat adiknya itu. Apa sekarang anak kecil itu akan menangis lalu mengadu kepada orangtuanya? Ia berdiri, lalu berlari ke arah keluarganya. Aha, tebakanku betul lagi, ia mengadu kepada ibunya. Tapi, tunggu. Ia tidak terlihat menangis. Ia meminta minum. Lalu kembali bersama anak lain yang seumuran dengannya. Jadi, kembali hanya untuk mengisi tenaga dan mencari bantuan? Pintar juga. Dua anak kecil melawan satu anak dewasa. Melihat kemampuan si kakak, aku rasa ini cukup adil.

Pertandingan kembali dimulai. Tapi, bantuan yang didapat sepertinya tidak memberi perubahan. Si kakak tetap menguasai bola itu. Adiknya dan anak kecil itu dengan mudahnya ia lewati. Hadangan demi hadangan bisa ia atasi. Hebat juga.

Dua anak kecil itu terdiam. Mengatur napas, kemudian saling berbisik. Apa ia merencanakan sesuatu? Yap, sepertinya memang begitu. Kali ini mereka lebih semangat. Mereka berusaha lebih keras lagi, dan kali ini lebih kompak. Hmm… jadi itu yang mereka bisikan. Sampai akhirnya, posisi berbalik. Bola berhasil direbut. Malah, sekarang mereka berdua yang mempermainkan kakaknya. Tak lama si kakak mulai terlihat lelah dan meminta permainan dihentikan. Adiknya dan anak kecil tadi terlihat senang. Mereka berhasil mengalahkan kakaknya. Si kakak hanya tersenyum, lalu mengajak keduanya untuk beristirahat.

Aku bersandar di bangku taman. Pikiranku jauh melayang. Lalu kembali lagi ke permainan anak kecil tadi. Ada pelajaran terselip diantaranya. Seperti kata Iwan Fals “Walau hidup adalah permainan, walau hidup adalah hiburan.” Hidup adalah permainan? Ya, seperti permainan bola tadi mungkin. Aku mencoba menelaah dari awal. Ketika si anak kecil mulai bermain. Coba anggap tujuan adalah bola itu. Untuk mendapatkanya, tentu harus mengejarnya. Tidak mungkin bola itu akan menghampiri dengan sendirinya. Ketika bola tersebut meleset dari kaki, tidak jarang juga kita meleset dalam mencapai tujuan. Tapi jangan ragu untuk kembali berusaha. Terjatuh itu hal yang biasa. Tidak ada jalan yang mulus untuk mencapai satu kesuksesan. Poin pentingnya adalah jangan menyerah.

Kemudian tentang si kakak yang tiba-tiba datang sebagai lawan. Sudah menjadi hal biasa jika dalam hidup kita menemui lawan. Yap, masalah. Dalam perjalanan, kita pasti menemui masalah. Entah itu jalan berkelok, atau jalan buntu sekalipun. Dan lagi, pasti akan ada orang yang berusaha membuat kita tersesat. Supaya kita tidak bisa mencapai tujuan. Jika tidak mahir, sudah pasti kita akan dipermainkan oleh si masalah itu sendiri. Berlarilah bukan untuk menjauhi masalah, tapi menghadang untuk menghadapi. Buat ia takut, jangan sampai kita yang takut. Anak kecil itu duduk dan terlihat kesal. Kadang kita juga tidak bisa menerima apa yang terjadi. Kita marah. Tapi itu bukan cara yang baik. Boleh saja mengeluh, asal jangan menyerah. Masalah dan solusi itu selalu berdampingan. Beristilahatlah sejenak, sempatkan sedikit waktu untuk minum, mengisi ulang tenaga, lalu mulailah mencari solusi. Meminta bantuan orang lain misalnya.

Semakin dekat dengan tujuan, semakin besar rintangannya. Semakin kuat pula lawan kita. Disitulah kita harus berpikir tentang strategi. Lalu bisikan kepada teman, karena bekerja sama akan membuat kita tak terkalahkan. Sampai akhirnya kita sampai di tujuan kita. Sambil tersenyum lalu berkata “Yap, aku menang.”

Hmm… Pagi yang luar biasa. Pelajaran memang bukan hanya dari orang yang berdiri di depan kelas sambil menerangkan materi. Ada banyak ilmu yang harus di ambil dengan tangan kita sendiri. Belajar dari alam, dari orang sekitar, dan belajar dari hidup.

Satu teguk terakhir dari gelas plastik kopiku. Aku berdiri dan menarik napas panjang. Segar sekali. Kemudian aku melangkahkan kaki dari tempatku duduk tadi. Hmm… apa yang akan kulakukan hari ini? Yes! I will play my life…
Teruntuk Pelukis,

Surat datang, Pelukisku! Cukup lama dari suratku sebelumnya. Apa kamu merindukanku? Ah, salah. Aku tidak perlu bertanya begitu. Kamu sudah pasti rindu padaku, kan? hahaha! Aku terlalu percaya diri.

Pelukis, sudah masuk bulan ramadhan. Waktu memang tidak terasa, berlalu begitu saja. Rasanya, baru kemarin kita puasa. Aku jadi ingat ramadhan beberapa tahun lalu. Aku langganan membangunkan sahur bersama teman-temanku. Kami tidur di mesjid, atau di rumah salah seorang teman. Setelah waktunya tiba, kami segera berkeliling sambil memukul-mukul benda untuk membangunkan orang-orang. Lalu, ketika waktu berbuka sudah lewat, kami bersama-sama pergi ke mesjid untuk melaksanakan shalat tarawih. Ada satu kegiatan yang cukup menyenangkan, perang samping. Kamu tahu? Biasanya, aku bersama teman-temanku akan melakukan ini sampai tarawih akan dimulai, atau setidaknya sampai ada orang yang memarahi, karena kegaduhan akibat ulah kami. Hahaha ! Menyenangkan sekali.

Itu dulu. Sekarang, beda lagi. Teman-temanku sudah punya kesibukannya masing-masing. Untuk berkumpul saja, sulit sekali. Yah, seperti kataku, waktu memang cepat berlalu. Bagaimana ramadhanmu, sayang? Menyenangkan ? Harus!

Pelukis, kamu tahu dengan kalimat ini "Pada bulan ramadhan, setan-setan akan diikat." Kamu pasti tahu. Tapi, aku bingung. Begini, katanya, setan diikat. Lalu, orang-orang yang terang-terangan tidak berpuasa tanpa halangan, apa itu bukan setan? Yang tetap berbuat jahat, apa itu bukan setan? Aku pikir, kalau setan diikat, sudah pasti setiap kali bulan ramadhan tiba, hidup kita akan tentram. Lalu, siapa yang mengikat setan? Orang hanya tahu kalimat itu, tapi mereka tidak mencari tahu maksudnya. Sama sepertiku.

Aku berpikir, sampai akhirnya aku mendapat jawabanku sendiri.  Siapa yang mengikat setan? Kita sendiri. Kita yang harus mengikat setan. Ingat, puasa itu bukan cuma menahan lapar dan haus, bukan? Tapi juga menahan hawa nafsu. Hawa nafsu itu, bisa diibaratkan setan, kan? Ya, nafsu untuk makan ketika puasa, nafsu untuk berbohong, nafsu untuk berbuat jahat, bukankah itu pekerjaan setan? Menurutku, jika seseorang benar-benar puasa dan menahan hawa nafsu mereka, berarti dia telah mengikat setan. Jika semua orang benar-benar puasa, berarti semua telah mengikat setan. Maka benar, saat ramadhan itu, setan diikat. Betul tidak? Hahaha! Ini menurutku yang sok tahu, sih. Dan dengan ke sok tahuanku ini, aku ingin mengajakmu benar-benar mengikat setan.  Ya, dimulai dari kita, semoga semua orang mengikuti. Agar ramadhan ini, setan benar-benar diikat.

Pelukis, kita ingin jadi pasangan dunia akhirat, bukan? Seperti katamu, cukup berjalan kepada-Nya, agar kita bisa bertemu. Dan satu hal, kita juga perlu membersihkan jalan kepada-Nya, agar perjalanan kita tidak sulit. Ya, butuh perjuangan memang. Tapi, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Kamu tidak perlu takut. Kamu tidak sendiri. Ada aku, kita berjuang bersama, oke?

Sampai jumpa di akhir jalan yang bahagia, dalam skema kebahagiaan kita bersama. Aku dan kamu, sayang.

Salam sayang,


Agung Adiwangsa
Teruntuk Pelukisku,


Haiii, Pelukisku!!! Sudah bulan Juni. Sebentar lagi bulan ramadhan. Tidak terasa, ya?
Sampai saat ini, sudah berapa lama kita bersama? Ah, aku tidak pernah menghitung. Jumlah itu hanya sebuah ukuran. Aku ingin bersamamu selamanya, tanpa terpaut hitungan tersebut. Bahkan, hari jadi kita pun, aku tidak tahu. Bagiku, setiap hari adalah hari kita. Begitu lebih menyenangkan bukan?

Pelukis, kamu lihat berita yang ramai sekarang ini? Ya, tentang suara terompet dari langit, cuaca ekstrim di India, dan masih banyak fenomena yang lain. Kebanyakan orang menganggap itu adalah kiamat atau pertanda kiamat. Ada juga yang bilang itu hanya fenomena alam biasa. Menurutmu, bagaimana?

Tentang kiamat. Menurutku, setiap hari kita selalu berhadapan dengan kiamat. Bukan peristiwa hancurnya seluruh alam semesta ini. Tapi, kiamat-kiamat kecil yang selalu terjadi. Seperti gempa bumi, gunung meletus, longsor dan bencana alam lain. Itu kiamat kecil, bukan? Bakhan, kematian seseorang pun bisa disebut kiamat.

Kemarin aku sempat ngobrol dengan si bapak yang sering kuceritakan. Ada satu pertanyaan yang membuatku merasa bodoh. Kami sedang membahas kiamat ini. Lalu dia bertanya,

"Gung, syahadat emang gimana?"

Aku menjawab dengan membaca dua kalimat syahadat beserta artinya.

"Berarti kamu yakin akan adanya Allah dan nabi Muhammad? Kamu takut sama Allah?"

Aku mengangguk.

"Yakin sama Allah, takut sama Allah, tapi masih bikin kesalahan. Ngelakuin dosa."

Aku diam mendengar ucapan si bapak itu.

"Jarang orang yang bener-bener syahadat. Mungkin jaman rasul ada. Bapak sendiri masih salah. Bapak masih suka bikin dosa. Setan memang menggoda kita setiap detik, berbarengan dengan berdetaknya nadi kita. Nah, makanya dengan syahadat itu, kita jangan kalah sama setan. Kok mau-maunya dikalahin setan."

Sentilan yang menakjubkan bukan?

Sama seperti kiamat yang ramai sekarang. Kamu jangan seperti aku, ya? Takut sama kiamat, takut mati, pengen masuk surga, tapi cuma ngomong doang. Bukannya sudah jelas yang bisa menyelamatkan kita, ya diri sendiri. Yang udah, yaudahlah. Kan, pepatah juga bilang "Jangan ngeliat kebelakang, nanti nabrak." Itu maksudnya kesalahan yang udah, jangan dijadiin pikiran. Benerin aja yang ada di depan. Liat spion buat mempelajari yang di belakang, supaya kita tahu apa yang harus dilakuin ke depannya. Begitu, bukan?

Baru kemarin kita buka lembar baru. Aku pengen ngebenerin diri. Aku mau ajak kamu, kamu mau, kan? Bukannya cita-cita kita menjadi pasangan dunia akhirat? Makanya aku lagi ngebangun rumah masa depanku. Kamu juga, ya? Supaya kita bisa tinggal di rumah yang aman, nyaman, wangi, bersih. Dengan begitu, kita gak perlu mencari kebahagiaan. Tapi buat kebahagiaan kita sendiri. Oke?

Sampai berjumpa di rumah masa depan kita, Pelukisku.




Salam sayang,


Agung Adiwangsa


Aku sedang membangun rumah. Ya, untuk masa depanku kelak.

Ternyata, membangun rumah yang baik itu tidak mudah, ya? Banyak proses yang harus kulewati. Aku tidak bisa membangun sekaligus. Semuanya bertahap. Makanya, saat ini aku sedang fokus pada pondasi. Aku ingin membangun sebuah pondasi yang kuat. Sehingga angin sekencang apa pun tidak bisa merobohkannya, gempa sedahsyat apa pun tidak bisa menghancurkannya.

Bahan yang kugunakan pun tidak boleh sembarangan. Banyak orang salah memilih bahan, sehingga pondasinya tidak kuat. Hantaman kecil saja, bisa goyah, akhirnya hancur. Kupikir, di sini letak kesalahan orang-orang. Mereka tergiur pada popularitas. Mencari bekal kepada orang yang "katanya" tepat, "nyatanya" tidak baik. Mereka disuguhi sesuatu yang terlihat baik, padahal buruk.

Aku tidak ingin seperti mereka, tersesat ke dalam jurang yang terlihat indah. Sampul kadang bisa mengelabui. Berbalut emas, belum tentu berisi berlian. Beruntung aku menemukan tempat yang tepat. Memang, tidak terihat bagus seperti yang lain, tapi memiliki kualitas yang lebih. Aku sudah mulai, dengan bahan yang tepat, membangun sebuah pondasi yang kuat untuk diriku.

Jika pondasiku sudah selesai, aku akan membangun dinding yang kokoh. Aku sadar, dunia ini sangat kejam. Maka dari itu,  aku ingin membuat tempat untuk berlindung dari segala macam kejahatan. Agar aku bisa selamat dari segala gangguan, tentu selamat hingga akhir. Itu bukan, impian semua orang?

Setelah itu, aku akan menghias rumahku, agar semua betah dan ingin tinggal di sana. Mereka yang berniat baik dan membawa kebaikan tentunya. Menyenangkan bukan, jika rumah kita yang indah ini dihuni oleh orang-orang yang baik? Namun, kalaupun aku harus berhadapan dengan mereka yang berniat buruk, aku sudah siap. Pondasi yang kuat dan dinding yang kokoh itu akan tetap berdiri, melindungiku dari berbagai macam kejahatan. InsyaAllah.

Membangun rumah yang nyata memang tidak mudah, perlu modal besar dan usaha yang keras. Aku belum bisa. Tapi, aku ingin membangun rumah lain, rumah yang ada dalam diriku. Rumah sempurna, seperti yang kuceritakan. Dimulai dari sekarang, untuk masa depanku nanti.




Teruntuk pelukisku,


Maaf, Pelukisku. Aku baru sempat menulis surat lagi untukmu. Bukan aku melupakanmu, tidak sedetikpun.

Pelukisku, nenek sudah pulang. Tepat tiga bulan semenjak ia jatuh sakit, di jari Jum'at, ia dipanggil oleh penciptanya. Ia pergi dengan sebuah senyum di bibirnya. Aku ingat ketika pertama kali ia sakit. Aku dan pamanku membawanya dari rumahku ke rumahnya dengan kursi roda. Sakitnya belum terlalu parah, kami masih tertawa bersama ketika di perjalanan. Ia masih bisa berjalan, dengan dipapah. Tapi, untuk berjalan jauh, ia sudah tidak mampu.

Sebulan kemudian, sakitnya bertambah parah. Sebagian anggota tubuhnya tidak berfungsi. Bicaranya pun sudah mulai tidak jelas. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. Seperti yang pernah kuceritakan, ia hanya bisa mengerang ketika ingin sesuatu, atau ketika merasa sakit. Semakin hari, sakitnya semakin parah. Anggota tubuhnya sudah tidak berfungsi, lemas. Bicara pun sudah tidak bisa. Untuk makan saja, ibu harus memaksa makanan masuk ke mulutnya. Tidak banyak, paling hanya beberapa sendok. Hingga akhirnya, di bulan ketiga, Allah memanggilnya.

Selama nenek sakit, selama itu pula aku tidak pernah pulang ke rumahku. Aku setia menemaninya bersama dengan pamanku. Bayangkan, selama tiga bulan, aku tidur paling cepat jam tiga pagi. Kadang aku tidak tidur sama sekali. Untung saja, aku masih bebas. Jadi, itu bukan masalah buatku. Hanya saja, terlalu banyak begadang membuat kondisi tubuhku lemah. Tapi, aku tidak pernah bilang ketika aku sakit. Aku tidak ingin merepotkan ibu yang fokus merawat nenek. Benar saja, tanpa di obati, penyakit itu sembuh sendiri. Wajar kalau kamu sering meledekku dengan kata "Ringkih." Tapi, aku punya alasan untuk itu.

Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa aku lakukan semua ini untuk nenekku? Padahal, ada anak-anaknya yang seharusnya menjaga. Kamu masih ingat? Aku pernah berkata "Jangan membedakan orangtua."? Nenek adalah ibu dari ibuku. Aku berpikir, jika aku berbakti padanya, itu sama dengan aku berbakti pada ibuku. Toh, nenek juga orangtuaku, kan? Dari sekian banyak cucunya, hanya aku yang melakukan semua ini. Aku bangga dengan hal itu.

Ada satu kejadian unik ketika aku dan pamanku jiarah ke makam nenek. Makamnya sangat harum. Padahal, sudah seminggu lebih. Wangi bunga melati mengelilingi rumahnya yang baru itu. Hanya di makam nenekku. Aku tersenyum, nenek sudah tenang di sana.

Oh, iya. Mengenai harapan yang selalu kamu ucapkan. Pelukis, kamu boleh berharap setinggi langit. Tapi, jangan pernah tinggalkan bumi. Aku pun sama, berharap sepertimu. Ingin agar kisah kita menemui akhir yang bahagia. Tapi, pada hakikatnya, manusia hanya bisa berharap, Allah yang menentukan akhirnya. Maka dari itu, kita paksa Allah mewujudkan harapan kita, dengan berdoa tentunya.

Selagi kita menanti harapan itu, kita sama-sama memperbaiki diri. Mengobati luka yang masih bertebaran di tubuh masing-masing. Agar nanti ketika kita bersatu, kita tidak hanya menjadi pasangan yang serasi, tapi juga sempurna.



Salam sayang,



Agung Adiwangsa






Teruntuk Pelukisku,


Pelukis, maaf, aku baru sempat membalas surat darimu. Beberapa hari terakhir, kondisi badanku agak menurun. Sekarang saja, aku flu. Ya, seperti katamu, tubuhku terlalu ringkih. Kamu memang menyebalkan, bukannya memberi perhatian, malah meledek. Huh!

Bagaimana tidak gampang sakit, sekarang ini, aku sudah hampir tiga bulan begadang, nonstop! Hebat, bukan? Tapi tenang Pelukisku, aku tidak ingin mengeluh sekarang. Kemarin aku sudah membaca suratmu. Kamu memang selalu bisa melukiskan senyuman, ketika senyum itu terasa sangat sulit hadir di wajah ini. Pelukisku, kamu tidak perlu khawatir. Aku hanya sedang ingin mengeluh, bukan menyerah. Mungkin cobaan yang kuterima ini cukup berat. Kadang, aku merasa lelah dan ingin menyerah. Tapi, kamu hadir membawa semangat yang membuatku kembali berdiri tegap, menghadapi rintangan. Terimakasih, Pelukisku!


Ah, aku jadi kangen kamu. Ya, rindu dan rindu lagi. Kamu tidak bosan, kan? Ingin rasanya aku mencubit pipimu yang menggemaskan itu. Atau, menarik hidungmu yang mancungnya cuma bohongan itu. Setiap kalimat yang kamu kirim, seperti menyuntikan rasa rindu sedikit demi sedikit. Akhirnya, menggunung dan meluap.

Sial, laptopku bermasalah. Kemarin, dia tidak bisa booting. Entahlah apa penyebabnya. Akhirnya, aku harus menghapus semua data yang ada. Untung saja tidak rusak total, aku hanya kehilangan semua tulisanku, naskah cerita yang sedang kubuat, semua koleksi foto saat aku hunting dulu, dan data-data lain termasuk fotomu yang aku kumpulkan sejak lama. Aku jadi tidak bisa melihatmu kala rindu menyergap, seperti sekarang ini.

Sedih memang, semua hilang begitu saja. Tapi, hanya sekejap. Percuma ditangisi, itu tidak akan kembali. Semua tulisanku yang hilang, biarlah Allah ganti dengan ide baru yang lebih baik. Koleksi fotoku yang hilang, biarlah Allah ganti dengan momen baru yang lebih indah. Dan fotomu yang hilang, biarlah Allah ganti dengan kamu, yang bukan sekedar foto. Amin.

Aku akan terus bersabar untuk pertemuan kita. Bertahan untukmu. Jika kamu kuat, aku akan lebih kuat. Sekarang, tolong kamu terima rindu ini. Simpan baik-baik. Hingga saatnya nanti, kita akan melepaskannya bersama. Di satu tempat dan suasana yang sama, bahagia.



Salam sayang,



Agung Adiwangsa





Teruntuk Pelukisku,

Rindu darimu sudah sampai, terasa sampai ke hati. Aku pun sama, merindu, kamu yang pendiamnya cuma bohongan. Yang katanya pemalu, tapi suka malu-maluin. Yang gila, tapi membuatku tergila-gila.

Pelukisku, kamu masih ingat cerita tentang nenekku? Hmm... aku ingin sedikit mengeluh. Boleh, kan? Sampai saat ini, sudah hampir tiga bulan nenekku tidak berdaya di atas kasur. Sakitnya belum juga sembuh. Memang, mulai membaik. Tapi, tidak terlalu banyak perubahan.

Nenekku masih sulit berbicara. Aku dan keluargaku sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkannya. Ia hanya bisa mengerang ketika ingin sesuatu, atau merasakan sakit. Kami harus menebak-nebak apa yang ia inginkan. Kadang benar, tapi lebih sering salah.

Malam kemarin, seperti biasa aku dan pamanku begadang, menjaga nenekku. Ia merintih, seperti menahan sakit. Kami tidak tahu apa yang ia rasakan. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Pamanku berbaring di samping ibunya itu. Ia menutupi wajahnya, menyembunyikan sesuatu. Tapi aku tahu, ia menangis. Aku hanya memerhatikan dari jauh. Bisa kamu tebak bagaimana perasaanku? Melihat seorang anak menangis di samping ibunya yang sedang merintih kesakitan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Beritahu aku jika ada orang yang tidak teriris hatinya ketika melihat itu. Kamu pasti mengerti.

Aku rasa, keluargaku sedang mendapat cobaan dari Allah. Belum sembuh sakit nenekku, ibuku jatuh. Otomatis ia tidak bisa bekerja seperti biasa. Lalu dua hari yang lalu, dompet kakakku hilang ketika sedang mengajar di tempat les. Aku yang mendengar kabar itu langsung pulang. Karena ketika kejadian, aku juga sedang mengajar di tempat yang sama.

Sepanjang jalan pulang, aku berpikir. Aku teringat perkataan seseorang. “Jika kamu sedang dalam kesusahan, sadarlah. Allah sedang mengujimu.” Di situ aku sadar, Allah sedang mengujiku. Aku hanya berdoa.  

Ya Allah, Jika ini cobaan dariMu, aku tidak akan menolak. Aku terima. Tapi tolong, beri aku dan keluargaku kekuatan untuk menghadapinya. Tunjukan aku jalan keluarnya. Aku lelah, tapi jangan biarkan aku menyerah. Semuanya aku serahkan kembali kepadaMu.

As-sami, Allah maha mendengar. Sehari kemudian, dompet kakakku kembali. Di tempat yang sama, seorang murid menemukannya. Masih utuh, tidak ada satu pun yang hilang. Lalu, sakit yang diderita ibuku akibat terjatuh itu juga ikut membaik. Alhamdulillah.

Sekarang tinggal nenekku. Pelukisku, maukah kamu ikut membantu, mendoakan kesembuhannya? Kita sama-sama berdoa ya, sayang.

Aku harus selalu semangat. Kalau aku patah semangat, siapa yang mau menyemangatimu ketika merasa lelah? Kamu juga harus semangat, karena kamulah semangatku. Sebenarnya, aku tidak ingin mengeluh. Tapi kurasa, aku perlu menceritakan ini padamu. Aku selalu ingin yang tebaik untukmu. Ambilah pelajaran dari ceritaku ini. Walaupun sedikit, semoga bermanfaat untukmu.

Salam sayang,


Agung Adiwangsa

Dari jendela lantai dua tempatku berdiri, pemandangannya cukup bagus. Awan yang berkejaran, induk burung sedang memberi makan anaknya. Ah, indah sekali. Bahkan, aku bisa merasakan angin yang berhembus mengusap kulit. Aku tidak ingin melewatkan saat ini. Seperti ini kali terakhir aku menikmati dunia.

Sudah dua minggu aku mengurung diri di kamar. Dunia luar menjadi asing bagiku. Atau, aku yang mengasingkan diri? Rasa bersalah itu terus menyelimuti pikiranku. Melekat erat di setiap dinding otakku. Bingung, takut, malu, selalu menghantuiku setiap waktu.

Pikiranku tertuju pada seseorang. Romi. Ya, dia yang selama ini menjadi Romeo dalam hidupku. Yang selalu menjadi alasanku untuk tersenyum. Setidaknya, sampai saat itu tiba.

Masih tergambar jelas di benakku, bagaimana kami bertemu. Masa orientasi sekolah. Itulah kali pertama aku melihatnya. Seorang kakak kelas yang menjadi primadona di SMP-ku dulu. Wajahnya memang tak setampan para personil Super Junior. Tapi, sikapnya yang begitu lembut dan romantis menjadi daya tarik tersendiri. Pernah suatu waktu, sekolah kami mengadakan camping. Aku dapat tugas memasak untuk reguku. Saat sedang memotong bahan masakan, tanpa sengaja jari tanganku teriris. Darah mulai mengalir dan aku berusaha menahannya dengan menekan bagian yang luka. Tiba-tiba, Romi datang menghampiriku. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung memasukan jari tanganku itu ke mulutnya. Setelah itu, ia membersihkan lukaku dan menutupnya dengan kain yang ia robek dari baju yang dipakainya.

“Lain kali hati-hati, ya,ucapnya sembari tersenyum.

Itu adalah senyuman pertama yang ditujukan padaku. Ah, manis betul Kak Romi ini. Jantungku berdebar kencang. Mulutku seperti terkunci.

Kejadian saat camping itu membuat kami semakin dekat. Kami jadi sering bertegur sapa di sekolah. Setiap kali aku bertemu dengannya, jantung ini akan berdebar lebih cepat dari biasanya. Aku menjadi salah tingkah. Apa ini yang dinamakan cinta?

Perasaan itu semakin lama semakin menguat. Aku tidak bisa mengelak. Ini benar cinta. Ya, aku mencintai dia. Tapi, aku tidak tahu, apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku? Sikapnya yang misterius membuat aku harus menebak-nebaknya sendiri.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Hari yang indah itu datang juga. Pertanyaan tentang sikapnya yang penuh misteri itu terjawab sudah. Di depan mading sekolah, ia mengungkapkan perasaannya.  Kisah cinta kami dimulai sejak hari itu. Kami berpacaran.

Waktu berlalu begitu cepat. Aku sudah kelas 2 SMA, sedangkan Romi masuk perguruan tinggi. Banyak kenangan indah yang kami ukir bersama. Sudah tak terhitung pula berapa senyuman yang ia lukis di wajahku. Perasaan cinta kami semakin kuat. Kadang, pertengkaran menghiasi hubungan ini. Tapi, kami selalu bisa mengatasinya. Orangtua kami pun sudah tau tentang hubunganku dan Romi. Tidak ada lagi rasa canggung yang kurasakan saat berkunjung ke rumahnya. Di hari jadi kami yang kedua tahun, Romi memberiku hadiah berupa cincin emas yang sangat indah. Aku tak pernah melepasnya sejak ia pakaikan di jari manisku. Dia benar-benar Romeo yang aku harapkan.

Sampai saat itu tiba. Sebuah kejadian yang tidak pernah aku duga seumur hidupku.

Ayah Romi masuk rumah sakit. Penyakit jantung yang dideritanya kambuh lagi. Aku menjenguknya. Di perjalanan pulang, hujan turun sangat deras. Memaksa Romi mengehentikan sepeda motornya di sebuah halte. Kami terjebak di sana.

“Hujannya deras banget. Kamu ke rumah aku dulu, ya. Nanti kalo hujannya reda, aku anter kamu pulang.”

Aku menyetujui sarannya. Karena, aku pikir benar juga apa katanya. Jarak dari rumah sakit menuju rumah Romi lebih dekat jika dibanding dengan rumahku. Kami sampai dengan keadaan basah kuyup. Romi meminjamkan pakaian adik perempuannya padaku. Kebetulan ukuran baju kami sama.

Hujan semakin deras. Hari pun mulai gelap. Saat sedang asik menenton televisi, aku menyadari satu hal. Di rumah ini hanya ada kami berdua. Ibu dan adik Romi pergi ke rumah sakit untuk menjaga ayahnya.

Romi duduk di sampingku. Aku menyandarkan kepalaku ke pundaknya. Hawa saat itu cukup dingin. Beruntung Romi mengerti apa yang kurasakan. Ia menggenggam erat kedua tanganku. Cukup untuk membuatku merasa hangat. Ia menatap mataku sambil tersenyum. Manis sekali. Kemudian ia mendekatiku, semakin dekat, terus mendekat hingga kejadian itu terjadi.


Aaaaaaaarrrrggghhhhh!!!! Aku berteriak keras. Membuyarkan lamunanku dua bulan yang lalu. Aku melemparkan semua yang ada di hadapanku. Bingkai foto kami yang kutaruh di atas meja, pecah, hancur berantakan.

“Nayaaaaaa!Kamu kanepa, Nak?” Mama berlari menghampiriku.

Aku tidak menjawab. Tubuhku menjadi terasa berat. Kepalaku pusing. Aku tak sadarkan diri.

Aroma minyak kayu putih membangunkanku. Mama duduk di sampingku.

“Naya, kamu kenapa? Sudah dua minggu kamu ngurung diri di kamar. Kamu juga jadi jarang makan. Ada apa? Cerita sama mama, Nak.”

Mama terlihat sangat khawatir. Sesekali ia menyeka air mata di pipinya. Aku tidak menjawab semua pertanyaan mama.

“Kamu makan dulu, ya? Mama buatin sup kesukaan kamu. Bentar, Mama ambilin.”

Mama pergi mengambil makan untukku. Aku hanya bisa menangis. Membayangkan perasaan mama jika mengetahui apa yang terjadi pada anaknya. Naya Aziza Wafa, putrinya seorang ustadz hamil diluar nikah. Sudah pasti nama baik keluargaku akan hancur. Akulah penyebabnya.

Langit sore itu sangat indah. Sama seperti satu minggu yang lalu, ketika aku bertemu dengan Romi. Aku sudah tidak sanggup menahan beban ini sendirian. Tapi, cerahnya langit kala itu tidak membuat hatiku menjadi cerah.

“Gak mungkin, Nay, kamu sendiri tahu kalo aku masih kuliah. Baru semester satu lagi. Orangtuaku pasti gak akan pernah setuju kalau kita menikah.”

Itu jawaban dari orang yang aku anggap pangeran dalam hidupku. Kecewa, takut, bingung, berbaur menjadi satu. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa.

“Temenku ada yang dokter. Kita gugurin aja kandungan kamu.”Terdengar lirih Romi menyarankannya padaku.

Tanpa menjawab ucapan Romi, aku melangkah pergi. Sambil kubawa semua kepedihan dan rasa luka ini. Bendunganku sudah tak tertahan lagi. Ia mulai mengalir tak beraturan. “Aku benci dia!!!” geramku dalam hati.

Aku sangat kecewa padanya. Dia pangeran yang selalu aku puja. Romeo yang selalu membisikkan kata cinta di telingaku. Tapi, dia juga yang menghancurkan hidupku.

Perlahan, aku berjalan ke arah jendela kamarku yang terbuka. Pikiranku kosong.Tak berbayang seperti apa marah ayah atau betapa kecewanya mama ketika mengetahui anaknya hamil. Langkahku semakin lemah. Ketika aku sadar, kakiku sudah tak menyentuh lantai lagi. Aku terjatuh. Tak banyak yang kuingat. Hanya terdengar mama berteriak memanggil namaku. Darah segar mengalir dari kepalaku. Sempat terlintas senyum Romi yang begitu manis. Namun, perlahan menjadi kabur, menghilang dan gelap. Kini aku tahu, bukan cintanya yang kotor. Tapi, perbuatan kita yang mengotori cinta.
Teruntuk Pelukisku,


Ah, aku terlambat lagi menulis surat untukmu. Maaf, Pelukisku. Jangan marah, nanti cepat tua. Padahal, aku sendiri bingung. Apa hubungan antara marah dan cepat tua? Apa jika kita marah, umur kita langsung bertambah lima tahun? Ya, mungkin begitu. Atau, anggap begitu sajalah. Kamu tidak mau, kan, tua sebelum waktunya? Makanya, jangan marah.

Kemarin, temanku menunjukan beberapa foto miliknya. Foto ketika ia berlibur besama kekasihnya. Mereka sama seperti kita, pasangan virtual. Atau yang sering orang bilang LDR, Long Distance Reladiduain. Eh, maksudnya Long Distance Relationship. Maaf, maaf. Yang reladiduain itu cuma bercanda, kok. Jangan dianggap serius, nanti aku malah pengen jadi serius. Ehh... maaf lagi. Ini cuma selingan. Cukup hubungan kita saja yang serius.

Di dalam foto itu, mereka terlihat bahagia. Bercanda bersama di sebuah tempat makan. Suap-suapan satu sama lain. Ada juga foto-foto konyol yang mereka buat. Pokoknya, melihat foto itu membuatku iri.

Pelukisku, jika kita bertemu, apa yang akan kita lakukan? Apa kamu ingin pergi makan malam seperti temanku itu? Atau, pergi ke tempat kesukaanmu?

Kalau aku bertemu denganmu. aku ingin mengajakmu ke tempat yang indah. Bukan ke sebuah restoran mahal. Bukan mall besar. Apalagi hotel bintang lima. Aku ingin mengajakmu ke tempat yang bisa membuatmu berdecak kagum.

Bagaimana jika kita pergi mendaki gunung Bromo? Menikmati pemandangan yang indah dari puncak gunung. Berlarian dan berkuda di atas hamparan pasir sepertinya menyenangkan. Aku bisa membayangkan bagaimana ekspresimu ketika mendaki. Kamu, kan, jarang jalan kaki, ya kan? Siap-siap saja aku bully kalau tidak kuat. Hahaha! Tenang, tenang. Kalau tidak kuat, aku siap menggendong. Yosh!

Jadikan Bromo itu cadangan. Aku juga ingin mengajakmu ke sebuah pantai. Bagaimana kita ke pantai Bale Kambang? Sudah menjadi rahasia umum, jika pantai itu tempat yang cocok untuk berlibur, apalagi bersama sang kekasih. Maka dari itu, aku ingin mengajakmu kesana, kekasihku.

Terlalu banyak tempat indah di bumi ini. Aku jadi bingung mau mengajakmu ke mana. Dari dulu, aku memang pencinta keindahan alam. Bahkan, sejak pertama aku belajar fotografi, aku lebih senang memotret landscape daripada objek lain. Sampai-sampai, aku punya satu keinginan. Aku ingin mengunjungi tempat-tempat indah yang ada di Indonesia. Yap! Indonesia. Negeri yang kucintai ini menyimpan surga-surga kecil yang ingin aku kunjungi. Kalau di beranda rumah sendiri saja sudah sangat bagus, ngapain jauh-jauh ke rumah orang, betul?

Sebenarnya, untuk bahagia, tidak perlu jauh-jauh ke tempat wisata yang harus mengeluarkan uang lebih. Cukup duduk di tepi sawah, di sebuah pedesaan yang udaranya sejuk, asal bersamamu. Ya, menikmati pemandangan yang indah, senyummu. Tapi, kupikir menyandingkan dua ciptaan Allah yang sangat indah itu akan lebih membuatku bahagia. Kamu dan alam ini.

Pelukisku, sepertinya kita harus mulai membuat rencana untuk apa yang akan kita lakukan jika bertemu nanti. Ah, tidak sabar aku rasanya. Sampai jumpa nanti ya, Pelukisku!



Salam sayang,



Agung Adiwangsa









Teruntuk Pelukisku,



Hai, Pelukis. Bagaimana surat kemarin? Apa pak pos terlambat mengantarkannya padamu?

Sudah sampaikah rasa rindu yang kukirim bersama dengan surat kemarin? Apa kamu bisa merasakannya? Rindu itu tak juga hilang. Terus menempel, bahkan merekat erat dalam benakku. Aku sendiri bingung harus bagaimana. Yang bisa kulakukan hanyalah memandangi foto yang terkumpul dalam folder khusus tentangmu. Setiap kali aku ingin melihatmu, aku harus menghidupkan laptopku. Setelah itu, kumatikan lagi. Menghidupkan laptop hanya untuk melihat fotomu, gila bukan? Ya, aku memang gila. Tergila-gila padamu tepatnya.

Pelukisku, ada satu pertanyaan darimu yang selalu menggelitik otakku. “Kenapa kamu bisa mencintaiku?” ya, itu. Setiap kali aku memikirkannya, bukan mendapat jawaban, malah bingung. Rasanya, aku lebih memilih soal fisika daripada itu.

Kenapa aku bisa mencintaimu? Hmm... kenapa, ya? Kamu cantik? Ah, tidak. Bukan karena itu. Banyak wanita yang lebih cantik darimu. Jika karena fisik, kenapa aku harus memilihmu? Di sini banyak yang lebih cantik, jaraknya pun dekat. Tidak seperti kamu yang jauh.

Karena kamu baik? Menurutku, semua manusia itu baik. Hanya saja setiap orang punya kadarnya masing-masing. Misalnya, seorang ustadz punya kadar kebaikan yang lebih tinggi dari seorang penjahat. Selain itu, baik juga tidak mutlak. Orang baik pasti pernah melakukan kejahatan, begitu juga sebaliknya. Jadi, aku mencintaimu karena kamu baik? Tidak.

Karena kamu pintar? Bukan. Aku tidak cinta pada kepintaranmu. Kamu pun tidak selalu pintar. Orang yang pintar tidak selalu mengerti. Buktinya, banyak orang yang tau kenapa terlalu banyak meminum alkohol itu berbahaya, tapi mereka tetap saja meminumnya. Jadi, kalau kamu berpikir aku mencintaimu karena kamu pintar, kamu salah.

Pelukisku, cinta tidak harus beralasan bukan?

Coba bayangkan, jika aku mencintaimu karena alasan itu. Suatu hari kamu menjadi jelek, tidak ada alasan lagi untukku mencintaimu. Jika suatu hari kamu berbuat kesalahan, yang membuatku merasakan sakit, tidak ada lagi alasan untukku mencintaimu. Jika suatu hari kamu bertindak bodoh, tidak ada lagi alasan untukku mencintaimu. Lalu, aku harus mencintaimu karena apa?

Pelukisku, mungkin ada banyak alasan untuk apa yang kulakukan, tapi tidak untuk yang satu ini. Yang terpenting bukanlah “Kenapa aku mencintaimu” tapi “Bagaimana aku mencintaimu”. Kamu tidak cantik, tidak selalu baik, dan tidak selalu pintar. Itu semua bukan ukuran untuk rasa cintaku padamu. Kamu biasa saja. Sederhana. Cinta pun begitu, sederhana. Sesederhana aku mencintaimu. Dan untuk jawaban atas pertanyaanmu, 
"Aku mencintaimu karena aku mencintaimu."



Salam sayang,


Agung Adiwangsa
Teruntuk Pelukisku,

Hey, Pelukis. Di awal suratku kali ini, aku ingin mengatakan, aku rindu padamu. Ya, sangat rindu. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bahkan, terakhir jumpa pun aku sudah tidak ingat. Memang, permasalahan kita yang paling berat itu adalah jarak. Posisi yang berjauhan membuat kita sulit untuk bertemu. Rindulah hasilnya.

Kadang, aku mengeluh kepada tuhan. Kenapa kita harus bersatu tapi tidak bisa bersama? Kenapa kita tidak bisa bersama dalam satu tempat? Berjauhan seperti ini cukup menyiksa. Iya, menyiksa hati kala rindu tiba. Tidak hanya sekali, berkali-kali.

Aku sering merasa iri kepada mereka yang bisa bertemu dengan pasangannya kapan pun dia mau. Seperti tadi pagi, di tempatku biasa jogging, banyak sekali pasangan yang asik berpacaran. Mereka berolahraga bersama, dengan pacar masing-masing. Terlihat menyenangkan. Tertawa bersama dengan orang yang dicintai, menyenangkan bukan?

Bohong jika aku tidak ingin seperti mereka. Berjalan bersama denganmu, menikmati udara pagi yang segar dan pemandangan yang indah. Membayangkannya saja sudah senang, apalagi benar-benar terjadi.

Pelukisku, aku memang pernah mengeluh. Tapi, itu tidak lama. Malah, sekarang aku lebih sering bersyukur. Walaupun berjauhan, aku bahagia bersamamu. Apa mereka yang sering bertemu, bisa sebahagia kita yang berjauhan? Belum tentu. Bisa saja mereka sering bertemu, sering pula bertengkar. Kita? Kapan terakhir kita marahan? Tidak pernah, bukan?

Hubungan jarak jauh ini mengajarkanku banyak hal. Dan yang paling terasa itu adalah belajar bersabar. Ya, bersabar mengahadapi rindu ini misalnya. Kadang memang terasa sangat berat, sampai-sampai aku hampir menyerah. Tapi, kamu selalu bisa membuatku bertahan.

Pelukisku, tak peduli seberapa jauh jarak yang memisahkan kita, aku akan terus bertahan untukmu. Aku selalu berdoa, agar tuhan menjaga perasaanku, perasaanmu, dan perasaan kita agar selalu bersama. Walaupun harus berakhir, aku harap akan menjadi akhir yang indah. Berakhir dengan sebuah pernikahan, indah bukan?

Pelukisku, aku ingin menjadi pohon yang tumbuh di mana pun kamu berada. Yang menjadi tempatmu bersandar saat kamu merasa lelah. Menyediakan oksigen untukmu bernapas. Jika lapar, kamu bisa memetik buahku. Dan jika suatu saat nanti hatimu kehilangan arah, aku akan tetap berdiri di situ. Agar kamu tahu, di mana cinta itu berada.


Salam sayang,


Agung Adiwangsa  

Ketika kamu datang membawa sebuah cerita. Kamu mulai menuliskan kisah baru pada lembar yang masih kosong itu. Dengan kata sederhana, kamu merangkumnya menjadi sebuah kalimat yang sempurna. Serupa purnama di antara jutaan bintang. Indah.

Melukiskan kenangan yang aku sendiri tidak pernah membayangkannya. Kamu membawaku ke sebuah dunia yang hanya ada kebahagiaan di dalamnya. Aku bertanya-tanya, apakah ini mimpi atau nyata? Atau, kenyataan yang selalu kuimpikan? Hingga akhirnya, kamu menjawab dengan sebuah senyuman yang membuatku yakin. Ya, ini nyata.

Ada benih yang tertanam dalam hati yang mulai gersang. Ada senyum terpancar dari wajah yang mulai kering. Itu semua ulahmu. Kamulah pemeran utamanya.

Aku selalu berdoa. Semoga tuhan memberikan waktu lebih kepada kita. Agar aku bisa terus bersama satu ciptaan-Nya yang begitu sempurna. Tidak. Kamu tidak sempurna. Kamu sederhana. Ya, kesederhanaan yang sempurna, itu kamu.

Di bawah langit musim semi penuh warna, kamu berjalan sendirian. Di jalan panjang yang selalu kamu bayangkan, sama seperti mimpi yang pernah kamu impikan. Aku akan menjadi pohon sakura yang abadi, tak akan bergerak dari sini. Ketika hatimu kehilangan arah

"Aku akan berdiri di sini. Agar kamu tahu, di mana cinta itu berada"
“Yah, cuma lima ratus ribu doang. Itu aja yang paling murah. Kapan lagi aku bisa nonton One Direction langsung? Apalagi, Zayn Maliknya mau keluar.”
“Ayah lagi gak ada uang. Nanti kalo ada, pasti Ayah kasih.”
“Kapan, Yah? Kan, Ayah cuma pulang seminggu sekali. Nanti konsernya keburu lewat.”

***

Begitu yang dipinta Yuri setiap kali ayahnya pulang kerja. Anak tunggal dari pasangan Pak Yusuf dan Bu Indah cukup keras kepala. Jika memiliki kemauan, harus selalu dituruti. Seperti sekarang, fans berat One Direction ini ingin menyaksikan idolanya tampil. Memang masih satu bulan lagi. Tapi, uang lima ratus ribu untuk satu tiket itu tidaklah sedikit. Ditambah, mereka bukanlah dari keluarga kaya, hanya berkecukupan. Tentu uang sebanyak itu sangat berharga. Daripada membeli tiket yang hanya sekali pakai, lebih baik untuk membeli makanan.

Pak Yusuf, ayah Yuri, bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Ia hanya seminggu sekali pulang ke rumah. Ia lebih memilih menetap di sana ketimbang harus bulak-balik Bogor-Jakarta. Selain boros ongkos, energi pun cukup terkuras selama di perjalanan. Oleh karena itu, setiap kali ada di rumah, Yuri selalu merengek minta dibelikan tiket kepada ayahnya, karena hanya pada saat itulah mereka bisa bertemu. Bu Indah pun sudah pusing dengan kelakuan anaknya itu. Tidak hanya sekali, Yuri sering meminta sesuatu dan harus selalu di turuti. Seperti beberapa waktu lalu, ia minta dibelikan sepatu baru. Terpaksa ibunya memakai uang simpanannya untuk memenuhi keinginan Yuri.

“Nak, Ayah lagi gak ada uang. Kan masih satu bulan lagi. Nanti, kalo Ayah ada, pasti dikasih, kok.”
“Ayah ini, nanti mulu. Nanti kapan? Kalo konsernya udah selesai? Teman-temanku yang lain pada nonton. Masa aku enggak?”
“Teman-temanmu kan orang kaya. Orangtua mereka bisa kasih begitu aja. Sedangkan Ayah? Lagian, baru kemarin kamu beli sepatu baru, uangnya sudah habis.”
“Ah, Ayah gak sayang sama aku!”

***
Konser One Direction sudah tinggal tiga hari lagi. Yuri belum juga mendapatkan uang lima ratus ribu itu. Ayahnya selalu memberikan alasan yang sama. Nanti, nanti, dan nanti. Kesabarannya sudah habis. Ia berniat menyusul sang ayah ke tempat kerjanya. Dengan bermodal kertas alamat yang ia dapat dari teman ayahnya, ia pergi sepulang sekolah.

Jalanan pada saat itu cukup bersahabat. Ia sampai di tempat kerja ayahnya pukul empat sore. Ia mencari tahu keberadaan ayahnya kepada para pekerja lain. Memang selama ini Yuri tidak tahu apa pekerjaan sang ayah. Ia hanya tahu ayah bekerja di sebuah perusahaan asing di daerah Jakarta Selatan.

“Mbak, bisa saya bertemu dengan Pak Yusuf?” Yuri bertanya kepada bagian informasi.
“Maaf, Dek. Pak Yusuf yang mana, ya?”
“Yusuf Aditya, Mbak.”
“Baik, tunggu sebentar ya, Dek.”

Petugas bagian informasi itu segera menghubungi bagian tempat ayah Yuri kerja. Yuri duduk menanti kedatangan sang ayah. Tak lama, seorang pria berumur empat puluh delapan tahun berjalan ke arahnya. Dengan seragam berwarna biru dan di pundaknya terdapat handuk kecil berwarna putih.

“Yuri, ngapain kamu ke sini?” ucap pria yang tidak lain adalah ayah Yuri.
“Mau nyusulin Ayah.”
“Hmm... tunggu Ayah sebentar lagi, ya? Ayah belum selesai kerja. Ngobrolnya jangan di sini.”

***

Jam kerja selesai. Yuri masih menunggu di bagian inormasi. Ayahnya datang menghampiri.

“Huh, lama banget, sih?” Yuri menggerutu.
“Sabar. Ini sudah selesai kok. Ayo, kita ke tempat ayah.”

Keduanya berjalan menuju tempat tinggal ayah Yuri selama di Jakarta.

“Sebenarnya, Ayah kerja apa, sih?”

 Ayahnya tidak menjawab. Ia hanya membalas pertanyaan Yuri dengan senyuman.

Setelah berjalan beberapa lama, sampailah ayah dan anak itu di sebuah mushola. Ayah Yuri masuk ke dalam. Bukan untuk shalat, karena ini bukan waktunya. Yuri mengikuti dari belakang. Ia bingung, apa yang akan ayahnya lakukan di tempat ini.

“Katanya mau ke rumah Ayah?”
“Ya, ini, kita sudah sampai di rumah Ayah.”
“Hah? Mushola ini?”
“Iya, ayo duduk. Gak ada kursi di sini. Jadi, di lantai saja,”

Mereka berdua duduk di lantai yang beralaskan sajadah. Yuri masih dengan ekspresinya yang kebingungan.

“Kenapa? Kamu heran, Ayah tinggal di mushola ini?”
Yuri mengangguk.
“Nak, dulu memang Ayah tinggal di sebuah kontrakan. Tapi, semakin hari kebutuhan keluarga kita semakin banyak. Uang Ayah tidak cukup untuk memenuhi semua itu. Makanya, Ayah tidak lagi tinggal di sana. Dan sekarang, Ayah tinggal di sini.”
“Lalu, Ayah masaknya gimana? Kan, gak ada alat masak di sini.”
“Ayah biasa beli makanan di warung. Ya, beli mie instan. Kalo ada uang, beli yang lebih enak. Tapi, kadang ada temen yang ngajak makan. Dia yang bayarin.”

Yuri terkejut dengan cerita dari ayahnya. Ia tidak menyangka, selama bertahun-tahun, ayahnya tinggal di sebuah mushola kecil dekat tempat kerjanya.

“Tadi kamu nanya kerjaan Ayah? Baiklah, sekarang Ayah kasih tau. Di sini, Ayah kerja jadi cleaning services.
“Serius, Yah?”
“Iya, dari situlah Ayah bisa membayar sekolahmu, membeli makanan untukmu dan Ibumu, baju yang kamu pakai sekarang,” jelas ayahnya.
“Oh, iya. Ayah jadi lupa nanya tujuanmu ke sini. Kamu masih tetep pengen nonton konser itu?”
Yuri diam tak menjawab.
“Ayah bukan gak sayang sama kamu. Ayah sayang banget sama kamu. Kalau tidak, ngapain Ayah cape-cape kerja kayak gini? Ayah bukan gak mau nurutin kemauan kamu. Tapi, Ayah memang lagi gak ada uang. Kamu tau sendiri, kan, setiap kali kamu pengen sesuatu, Ayah selalu belikan. Kalau gak sayang, ngapain Ayah bela-belain nyari uang buat itu?”

Perlahan, kepala Yuri tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Konser itu? Penting banget buat Kamu? Baiklah, ini ada uang simpanan Ayah. Kalau dengan ini kamu bisa percaya Ayah sayang sama kamu, pakailah.”

Beban di kepala Yuri seperti bertambah. Ia semakin tertunduk. Matanya pun sudah tak mampu lagi bertahan. Butiran air mulai mengalir melalui pipinya dan terjatuh di hamparan sajadah yang ia duduki. Hatinya terasa sakit sekali. Ya, sakit karena ulahnya sendiri.

“Ayaah! Maapin aku!”

Yuri memeluk ayahnya. Air matanya pecah, berhamburan ke mana-mana. Cerita dari sang ayah membuat hatinya tersadar. Saat ini, bukan lagi konser One Direction yang ada di pikirannya. Ia hanya ingin memeluk ayahnya dengan sangat erat.

***

Adzan Maghrib berkumandang. Pak Yusuf berdiri mengimami Yuri yang ada di belakangnya. Selesai shalat, mereka berdua membeli makanan.

“Ibu tau kalo kamu ke sini?”
“Oh, iya! Aku lupa bilang.”
“Hmm... lain kali jangan diulangi lagi. Ibumu pasti khawatir.”

Keduanya asik menyantap makanan yang ada di hadapan mereka. Sambil diselingi candaan, mereka menghabiskan makanannya dan bersiap untuk pulang ke rumah.

“Jadi, gimana? Masih mau nonton konser itu?”
“Hmm... enggak. Sekarang idolaku bukan mereka. Ada yang lebih hebat. Ayahku.” Yuri tersenyum.
Aku tidak pernah mengira bisa dipanggil “Pak Guru.” Padahal, aku sama sekali tidak punya niatan untuk bekerja di bidang itu. Memang, alm. Ayah dulu seorang guru. Waktu kecil aku sempat punya keinginan untuk menjadi guru, seperti ayahku. Tapi, seiring berjalannya waktu, keinginan itu terkikis oleh cita-citaku yang lain.

Ini berawal ketika bibiku menawari pekerjaan untuk mengajar di tempat bimbingan belajar miliknya. Aku sempat menolak, karena aku tidak punya pengalaman apa-apa perihal mengajar. Selain itu, aku hanya tamatan SMA. Aku merasa ilmuku belum cukup.

Satu waktu, aku iseng main ke tempat bimbel bibiku. Kebetulan, salah seorang guru yang mengajar kelas lima SD tidak hadir. Melihatku yang tidak ada kerjaan, bibi memintaku untuk menggantikan posisinya. Lagi, aku menolak permintaannya itu. Tapi, lama-lama aku merasa kasihan juga. Anak-anak jadi terlantar karena tidak ada yang memperhatikan. Akhirnya, aku bersedia menggantikan posisi guru yang tidak hadir hanya untuk hari itu saja. Dengan bermodal buku dan sok tau, aku mulai membimbing mereka.

Setelah kegiatan hari itu, aku diminta mampir ke rumah bibiku. Aku memang biasa main ke sana. Di sana, lagi-lagi aku ditawari pekerjaan yang sama. Aku tetap dengan sikapku yang menolak.

“A, mumpung belum dapet kerjaan, mending ngajar dulu. Cari pengalaman, belajar jadi guru.”
“Ah, Bi, Agung gak bisa. Jadi guru kan harus bisa materi yang mau diajarkan. Materi SD banyak yang udah lupa.”
“Kan ada buku, kamu bisa baca-baca. Lagian cuma anak SD ini. Pelajarannya belum terlalu sulit. Kebetulan masih kurang guru buat kelas lima. A Femi harus fokus di kelas enam.”

Begitulah percakapan yang terjadi antara aku dan bibiku. Hingga bujukan-bujukan yang dilontarkan bibi membuatku menerima pekerjaan itu dengan alasan “nyoba dulu”

Setelah beberapa kali mengajar, aku mulai menikmati pekerjaan ini. Mungkin karena ayahku yang seorang guru, jadi ilmu mengajarnya sedikit mengalir dalam darahku. Aku selalu mencoba beberapa cara untuk membuat anak didikku merasa nyaman dan senang belajar bersamaku. Misalnya, dalam memilih pelajaran, aku tidak pernah menentukan pelajaran apa yang akan kami peajari saat itu, aku biasa memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih pelajaran sesuka hati. Ini aku lakukan karena menurutku, dengan membiarkan mereka menentukan sendiri, itu akan lebih membuat mereka semangat dalam belajar, karena pelajaran itu yang mereka inginkan. Beda dengan jika aku yang menentukan. Aku takut, jika aku memilih pelajaran yang ternyata tidak ingin mereka pelajari saat itu, mereka akan menjadi malas dan belajar dengan terpaksa. Aku juga sering mengajak bercanda agar tidak terkesan menegangkan.

Selama mengajar, aku menyebut diriku dengan sebutan “Kakak.”. Tapi, murid-muridku malah memanggil dengan sebutan “Bapak” atau “Pak Guru”. Itulah awalnya kenapa aku bisa dipanggil “Pak Guru” sampai ada satu momen, salah seorang anak bertanya kepadaku.

“Pak Guru, kok masih muda udah dipanggil bapak?”

Aku hanya tertawa kecil mendengar pertanyaannya itu. Ya, umurku baru dua puluh tahun, masih terlalu muda untuk dipanggil “Bapak”.

Ada sedikit kebingungan. Di tempat bimbel itu, kakakku juga ikut menjadi pengajar untuk kelas tiga. Ini yang menjadi aneh. Aku yang hanya lulusan SMA mendapat tugas di kelas lima, sedangkan kakakku yang S1 di kelas tiga. Padahal, itu berarti ilmu kakakku lebih tinggi dariku. Aku sempat protes. Tapi, bibiku menjawab dengan santai “Ya, bagus dong. Itu berarti kemampuanmu sebanding dengan mereka yang gelarnya lebih tinggi darimu. Harusnya bangga, bukan protes.”

Sudah hampir setengah tahun aku menjelma menjadi seroang Pak Guru. Aku sudah sangat menikmatinya. Bahkan sekarang, aku membimbing beberapa anak di rumahku. Aku lakukan itu tanpa meminta bayaran sepeser pun. Sempat kepikiran membuat tempat bimbingan belajar untuk anak-anak kurang mampu, tapi belum kesampean juga. Seringkali aku merasa sedih ketika bepergian dan melihat anak-anak jalanan yang harusnya sekolah tapi malah mencari rejeki di pinggir jalan. Dari situlah muncul ide untuk membuat tempat bimbingan belajar itu. Yah, semoga suatu saat bisa terlaksana. 

Kemarin aku merasa bangga sendiri. Anak pamanku, kelas lima SD, mengkuti olimpiade sains. Aku mencoba untuk mengantarkannya menjadi yang terbaik. Setiap hari aku memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan. Tidak secara serius. Kadang, saat aku sedang mengerjakaan pekerjaan lain, atau dia sedang asik bermain, aku tiba-tiba memberinya pertanyaan dan dia menjawabnya. Kami terus melakukannya sampai hari itu tiba, Olimpiade Sains Nasional tingkat kabupaten. Setelah hari itu, aku tidak langsung mendengar kabar darinya. Aku harus menjaga nenekku yang sedang sakit. Saat aku pulang ke rumah, tiba-tiba dia datang dan mengucapkan terimakasih. Katanya, ia lolos tingkat kabupaten dan harus bersiap untuk tingkat berikutnya.

Mendengar kabar itu, aku senang. Bukan aku yang hebat, tapi dia yang pintar. Selama ini, aku hanya membimbingnya, bukan mengajarinya. Aku tidak memberinya pengetahuan baru, hanya memberi jalan bagi ilmu yang ada pada dirinya agar keluar. Ya, aku pikir, semua orang itu pintar. Mereka sudah punya ilmu terpendam dalam diri mereka sendiri. Tapi, tidak semua bisa membuka dan mengeluarkan ilmu itu. Buktinya, banyak yang pintar tanpa belajar dari seorang guru. Sama dengan kisah Nabi Yunus as ketika ia ditelan oleh seekor paus. Ia harus mengeluarkan dirinya agar bisa bermanfaat bagi banyak orang. Ilmu pun begitu. Kita harus mengeluarkannya, agar bisa bermanfaat untuk orang banyak. Tapi, itu hanya menurutku saja yang sok tahu. Menyambungkan kisah yang satu dan lainnya. Bagiku, itu bermanfaat, untuk motivasi diri.

Baiklah, ini adalah sepenggal kisahku. Semoga dengan kamu membacanya, bisa bermanfaat untukmu. Sampai jumpa di kisahku selanjutnya.


Best Regards,


Agung Adiwangsa




Teruntuk Pelukisku,


Maaf, dua minggu kemarin aku tidak mengirimmu surat. Aku tidak lupa. Tidak. Hanya saja, aku tidak sempat menulisnya. Sudah beberapa hari aku absen menulis. Padahal, banyak yang aku ingin ceritakan kepadamu.

Oh iya, apa kabarmu? Baik-baik saja, kan? Aku dengar, sekarang makanmu sudah teratur, ya? Hmm... bagus. Kamu harus banyak makan. Agar selalu sehat. Kalau nanti badanmu gemuk, aku jadi gampang berlatih tinju. Emm... maaf, bercanda hehehe!

Pelukisku, sudah genap satu bulan, bahkan lebih, semenjak nenekku sakit. Sebetulnya, dia memang sudah sakit sejak lama. Tapi, satu bulan terakhir, sakitnya semakin parah. Sampai-sampai, sekarang dia tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Untuk pergi ke kamar mandi pun, aku dan ibuku harus menggandengnya.

Satu bulan nenekku sakit, satu bulan juga aku selalu bergantian menjaganya pada malam hari. Itu berarti, selama itu pula aku selalu begadang bersama dengan pamanku. Ya, sebenarnya, badanku rasanya sudah tidak mampu. Tapi, kalau bukan kami, siapa lagi? Anak-anaknya yang lain sudah terlalu tua. Selain itu, beberapa diantara mereka sudah berkeuarga.

Pagi tadi, dadaku sakit sekali. Seperti tertusuk dari depan tembus ke belakang. Ah, rupanya tubuhku sudah mulai kelelahan. Dia minta istirahat. Tapi, aku sedikit ngeyel. Bukannya istirahat, malah disuruh kerja lebih. Alhasil, tumbanglah aku ini.

Bukannya aku tidak mau istirahat. Tapi, mencuri waktu untuk istirahatnya itu yang agak sulit. Ya, aku memang pengangguran yang sibuk. Aku punya anak didik baru selain murid-muridku di tempat bimbel. Setiap hari, aku belajar bersama anak-anak di rumahku. Masih saudara, sih. Lalu, sorenya, aku baru berangkat mengajar muridku di tempat les.

Oh iya, aku punya kabar baik. Kemarin, sepupuku mengikuti olimpiade sains. Aku mencoba kemampuanku untuk mengantarkannya menjadi juara. Setiap hari, aku membimbingnya dalam pelajaran. Dan alhamdulilah, dia masuk sepuluh besar tingkat kabupaten. Itu berarti, dia memang pintar.

Pelukisku, sampai di sini dulu suratku kali ini, ya. Badanku sepertinya perlu istirahat. Kamu harus selalu menjaga kesehatanmu. Dan ingat, jangan pernah berhenti belajar dan beribadah. Karena dua hal itu yang akan menyelamatkanmu di dunia dan akhirat.

Salam sayang,



Agung Adiwangsa
Sudah jam sembilan malam. Aryo masih asik bercengkrama dengan laptopnya. Ia masih di kantor. Mengutak-atik tulisan yang harus segera rampung hari itu juga. Minggu ini majalah yang diterbitkan oleh perusahaan tempatnya bekerja harus segera beredar. Sedangkan, ini sudah hari Jumat, ia belum selesai juga. Dengan terpaksa, ia harus berada lebih lama di kantor.

“Mas Aryo belum pulang?” tanya Ali -salah seorang security yang sedang berkeliling.
“Belum, nih. Biasa, kerja lembur.”
“Wah, deadline lagi, Mas?”

Aryo mengangguk.

“Mas Aryo masih lama?”
“Hmm... kayaknya, sih, gitu. Kenapa?”
“Gak apa-apa. Jangan pulang terlalu malam. Sekarang, kan, lagi rame-ramenya begal.”

Berita akhir-akhir ini memang sedang ramai dengan kejahatan dari para begal. Mereka tidak segan-segan melukai korbannya, bahkan membunuh. Terlalu beresiko untuk pulang sendiri larut malam. Ditambah, Aryo yang sudah mulai mengantuk. Otaknya yang dipaksa kerja keras membuat ia menjadi cepat lelah.

“Iya, ya. Haduh, belum beres, nih. Pak Ali pulang jam berapa?”
“Jam sebelas, pas pergantian shift.
“Bawa motor juga, kan? Bareng dong.”
“Yaudah, asal Mas Aryo mau nungguin aja.”
“Oke, nanti saya ke pos kalo udah beres.”
“Saya keliling dulu ya, Mas.”

Aryo kembali meneruskan pekerjaannya. Jarinya beradu dengan huruf-huruf yang tersebar di keyboard laptopnya.

Setelah beberapa lama, pekerjaannya selesai juga. Ia merenggangkan pinggangnya yang sedari tadi duduk. Tangannya ia rentangkan selebar mungkin, menyebabkan bunyi di antara sendi tulangnya. Duduk terlalu lama membuat badannya terasa pegal. Matanya mulai memberat menahan kantuk. Ia sandarkan punggungya ke sandaran kursi. Mencoba duduk se-rileks mungkin. Mengistirahatkan matanya yang sejak tadi menatap layar laptop.

***

Aryo sudah berada di parkiran motor bersama dengan Ali dan Eko –security di kantor tempatnya bekerja. Ketiganya membawa sepeda motor. Mereka bertiga pulang bersama, untuk menghindari ancaman dari para begal.

Aryo memacu motornya lebih dulu, Ali dan Eko mengikuti di belakang. Mereka bertiga berjalan beriringan. Baru jam sebelas, tapi kondisi lalu lintas sudah sepi. Mungkin karena berita tentang begal itulah, orang-orang jadi takut keluar saat malam.

Sampailah mereka di jalur yang sangat sepi. Di sekitar hanya ada lahan kosong dan pohon-pohon jalanan. Sesekali terlihat rumah, namun sangat jarang. Jarak dari rumah yang satu ke rumah yang lainnya cukup jauh. Tempat yang cocok untuk para begal beraksi.

Aryo mulai merasa gelisah. Ia seperti merasa akan terjadi suatu hal yang buruk. Mencoba untuk tidak menghiraukannya hanya membuat ia semakin gelisah. Berkali-kali ia melihat ke arah spion. Tidak ada apa-apa. Kedua temannya masih setia mengikuti dari belakang.

Beberapa meter kemudian, Aryo melihat sebuah batang pohon melintang di tengah jalan. Ia langsung menghentikan laju motornya.

“Apaan, nih? Kok ada batang pohon di tengah jalan gini?” Aryo kebingungan.
“Wah, yang pernah saya baca, sih, ini salah satu cara penjahat mencari mangsanya.” jawab Eko.

Mereka bertiga segera memindahkan batang pohon itu ke pinggir jalan. Takut apa yang dikatakan Eko menjadi nyata. Setelah itu, mereka kembali ke sepeda motornya masing-masing.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara sepeda motor yang dikebut. Ali menoleh ke arah belakang. Terlihat tiga sepeda motor yang berjalan sangat cepat ke arahnya.

“Wah, gawat, ada yang ngikutin! Cepet jalan!”

Aryo dan yang lain segera memacu kendaraanya secepat mungkin. Tapi, tiga pengendara di belakang tidak sedikit pun mengurangi kecepatannya, mereka semakin dekat. Mereka berteriak, memerintahkan Aryo dan temannya untuk berhenti. Sambil mengacungkan senjata tajam, mereka mengancam. Eko yang berada paling belakang menjadi sasaran empuk. Ia dihimpit oleh dua motor, memaksanya untuk berhenti. Ia mencoba melawan. Akibatnya, satu sabetan clurit mendarat tepat di lengan kirinya. Eko terjatuh.

Ali yang masih berjalan di belakang Aryo langsung menghentikan motornya. Ia mencoba menolong temannya itu. Aryo yang melihat Ali berhenti menjadi bingung. Berhenti berarti harus menghadapi para penjahat itu, pergi berarti meninggalkan temannya. Ia takut, tapi tidak ingin temannya menjadi mangsa para penjahat itu.

Tanpa berpikir lebih lama lagi, ia langsung menghentikan motornya dan langsung berbalik arah. Sebelumnya, ia memncari sebatang kayu untuk senjata. Dari kejauhan ia melihat Ali sedang berkelahi dengan tiga orang pembegal. Sebagai security, ia memang dibekali ilmu bela diri. Beberapa sabetan parang berhasil ia hindari. Sedangkan Eko, dengan tangan bercucuran darah, ia mencoba melawan serangan dua orang musuh lainnya.

Aryo berlari menghampiri sambil membawa sebatang kayu yang ia ambil di pinggir jalan tadi. Dua orang penjahat menyambut kedatangannya. Kini lengkap sudah, mereka bertiga mendapat lawan masing-masing. Lima lawan tiga. Aryo melawan dua orang, Ali juga melawan dua orang, dan Eko, dengan tangan yang cedera harus melawan satu orang.

Malam semakin larut. Tidak ada satu orang pun yang lewat di jalan itu. Ini merupakan malapetaka bagi Aryo dan temannya. Mereka kalah jumlah. Sudah dipastikan, para penjahat itulah yang menang. Mereka pergi membawa motor Ali dan Eko. Sedangkan motor Aryo mereka tinggalkan, karena tidak ada yang mengendarai.

Eko tergeletak bersimbah darah, ia tidak sadarkan diri. Beberapa luka bacok bersarang di tubuhnya. Begitu juga Ali yang berada tidak jauh dari Eko. Baju security-nya yang berwarna putih kini berganti menjadi merah karena darah. Di sisi lain, Aryo duduk bersandar di bahu jalan. Tangannya memegang perut bagian kiri. Ada luka tusuk menganga di sana. Ia mencoba bangkit dan menghampiri Ali.

“L-li, bangun, Li!”

Tidak ada respon. Ali tidak bergerak sedikit pun.

“Aliii!” dengan lemah Aryo berteriak.

Tetap tidak ada respon.

Aryo memegang urat nadi Ali. Tidak berdetak. Ia mencoba lagi, kali ini di lehernya. Masih sama. Ali tewas. Ia kehilangan satu temannya. Ia menatap ke arah tubuh Eko yang tidak bergerak sama sekali. Sambil menahan rasa sakit, ia mencoba merangkak ke tempatnya. Berharap temannya itu masih selamat. Namun, hal sama terjadi padanya. Tidak ada denyut nadi. Kedua temannya itu telah meninggal dunia.

Angin berhembus melewati luka-luka di tubuh Aryo, membuatnya semakin kesakitan. Darah segar terus mengalir di luka sobek akibat tusukan tadi. Sekuat tenaga ia menahannya. Ia berharap ada orang yang lewat, dan menolong mereka bertiga. Tapi, seperti sudah direncanakan, tidak ada satu pun orang yang lewat. Air matanya menetes. Sepertinya ini hari terakhir Aryo. Pandangannya semakin kabur, kesadarannya mulai hilang. Dengan tenaga yang tersisa, ia mencoba mengambil handphone di saku celananya. Mencari satu nama kontak. Lolita. Ya, dialah harapan satu-satunya saat ini. Namun sial, tenaganya habis. Untuk memencet tombol pun ia tidak mampu. Handphone-nya terjatuh. Pandangannya semakin hilang. Kepalanya berputar, pusing. Tubuhnya semakin lemah. Ia terjatuh, tidak sadarkan diri.

***
“Mas Aryo. Mas, bangun, Mas.” Seseorang membangunkan Aryo.

Matanya terbuka. Di depannya berdiri Ali dan Eko. Keduanya baik-baik saja. Tidak ada satu pun luka di tubuh mereka berdua. Begitupun Aryo, luka tusuk yang tadi menghiasi tubuhnya, kini hilang. Seperti kejadian pembegalan itu tidak pernah terjadi.

“Kalian baik-baik aja? Begal tadi kemana?” Aryo kebingungan.
“Begal? Begal yang mana, Mas?”
“Bukannya tadi kita diserang begal?”
“Ah, Mas Aryo ngaco, nih. Baru aja kita mau ngajak pulang. Yang shift malam sudah datang. Mas Aryo kayaknya kecapean, sampe ketiduran gitu” jelas Ali.

Aryo bernapas lega. Ternyata, serangan dari para pembegal itu hanya mimpi. Ia kelelahan, sampai-sampai tertidur di meja kerjanya sendiri.   



 ***

#memfiksikan minggu ini. Terimakasih sudah membaca!.



Best Regards,



Agung Adiwangsa
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home