Muka Pak Gondo terlihat geram. Matanya menatap tajam ke arah Aryo.

“Yo, sebenernya gue gak mau marah sama lo. Tapi, coba lo baca sendiri cerita lo. Udah lima kali lo kasih gue cerita dan isinya itu-itu terus. Gue udah bilang, kan, ganti. Cerita itu jelek. Pikiran lo tuh stuck di satu titik. Lo harus coba yang baru, jangan itu mulu. Kalo gini terus, sorry, gue kayaknya harus cari penulis lain.”

Sorry, Pak. Gue bakal tulis cerita baru.”

Pak Gondo menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya kembali.

Last chance, okey? Gue kasih lo waktu tiga hari. Yo, jangan sampe gue nyari penulis baru.”

Aryo mengangguk. Merapikan kertas yang berserakan di atas meja. Kemudian melangkah keluar  ruangan. Wajahnya kusut. Pikirannya semrawut. Ia sudah lima kali membuat cerita, lima kali pula ceritanya ditolak. Semenjak putus dari Sonya, ide-ide di otaknya serasa tersembunyi di suatu tempat. Setiap kali ia mencoba menuangkan, akan berujung pada alur yang sama.

Aryo duduk di kantin kantor. Segelas cappucino terlihat di depannya. Ia membuka laptop, membaca kembali cerita-cerita yang pernah ia buat. Membandingkannya dengan cerita yang sedang ia genggam. Memang, hampir semuanya sama. Mengisahkan tentang seorang wanita. Bayangannya tentang Sonya membuat ia sulit berpikir. Kenangan yang terjalin selama dua tahun itu tidak bisa dilepasnya begitu saja.

Lolita datang menghampirinya. Ia duduk tepat di samping sahabatnya itu.

“Kenapa lagi lo? Masih galauin Sonya?”
Ng-nggak, enggak.”
“Ah elah, lo gak usah bohong, Yo.”
“Enggak kok, suer. Barusan gue dari ruangan Pak Gondo. Dia nolak tulisan gue lagi.”
“Coba gue liat.”

Loli membaca cerita yang dipegang Aryo.

“Hmm... jelas. Tanpa lo bilang, gue udah tau kalo ini cerita tentang Sonya. Sama kayak cerita-cerita lo sebelumnya.”

Aryo diam.

“Lo masih kepikiran soal Sonya, Yo?”
“Dikit”
“Lo gak usah bohong sama gue. Cerita lo ngegambarin jelas banget.”
“Hmm... yah lo tau sendiri, Lol.”
“Lo butuh sesuatu yang baru. Pikiran lo tuh cuma terpaku sama Sonya. Makanya, tulisan-tulisan lo, walaupun ditulis dengan cara apa pun, tapi intinya sama.”

Aryo diam. Ia meneguk cappucino yang tinggal setengah itu.

“Gue cabut dulu, ya. Ada janji sama temen. Yo, coba lo buka, biarin yang lain masuk.”
Loli bangkit, dan meninggalkan tempat itu. Sedangkan Aryo, masih terdiam. Apa maksud Loli dengan membuka, lalu membiarkan yang lain masuk?

Gelas di depan Aryo sudah kosong. Capuccino itu sudah berpindah ke dalam perut Aryo. Ia merapikan laptopnya, kemudian bangkit, dan melangkah pulang.

Ia sudah berdiri di halte depan kantor. Menunggu bus yang akan membawanya pulang. Sambil menunggu, ia memerhatikan keadaan di sekitar. Di sampingnya ada sepasang suami istri yang sedang membicarakan anak mereka. Suasana halte yang saat itu sepi membuat percakapan mereka terdengar jelas.

“Pah, Adi mulai bandel, tuh. Main mulu. Mulai gak betah di rumah," ujar sang istri.
“Ya biar sajalah, Mah. Adi mulai dewasa. Jangan dikurung terus. Biarin dia keluar supaya pergaulannya luas," jawab suaminya.
“Tapi, mamah takut dia malah jadi gak bener.”
Yasudah, kita percaya saja sama Adi, ya.”

Percakapan pasangan suami istri itu seperti memberi sebuah pesan kepada Aryo. Pikirannya mencoba meneliti pesan itu.

Bus yang ditunggu Aryo akhirnya tiba. Pikiran tentang suami istri itu buyar bersamaan dengan langkahnya. Ia duduk dekat jendela. Menerawang ke arah luar. Mencari sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan untuk bahan menulis. Tapi percuma saja. Pikirannya tetap kembali pada satu hal. Sonya. Ya, kenangan tentang wanita itu masih tetap menyelimuti pikiran Aryo. Apalagi ketika ia melewati sebuah cafe. Tempat di mana ia pernah makan malam bersama Sonya. Aryo ingat betul ketika itu ia menyanyikan sebuah lagu untuk Sonya. Tapi sekarang, tempat itu hanya menjadi saksi bisu atas kisah cinta mereka yang telah hilang terbawa angin.

Suara klakson membuyarkan lamunan Aryo. Bus yang ia tumpangi tiba-tiba berhenti. Ia melihat ke arah luar, mobil-mobil lain pun ikut berhenti. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba macet? Padahal sudah hampir sampai. Aryo berdiri dari duduknya. Ia melihat ke arah depan. Dari kaca supir terlihat di perempatan ada polisi yang menghentikan laju mobil dari kedua arah.

“Ada apaan ya, Mbak?” Aryo bertanya pada penumpang di sebelahnya.
“Katanya, sih, mau ada pejabat lewat," jawabnya.

Aryo kembali duduk. Ia melihat handphone-nya. Tidak ada pemberitahuan satu pun.

Lama ia menunggu, tapi mobil-mobil itu belum juga melaju. Kemudian Aryo memutuskan untuk turun dan melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki. Toh, jarak menuju rumahnya pun sudah tidak jauh lagi. Tanpa terasa, resleting tasnya terbuka. Buku-buku yang ia bawa tersembul dan jatuh keluar. Aryo berhenti sejenak. Berjongkok dan mengambil kembali bukunya yang terjatuh. Di dekatnya, terlihat seorang ibu dan anaknya yang ingin menyebrang jalan. Anaknya yang masih berseragam SD itu bertanya kepada si ibu.

“Bu, kok polisi itu nutupin jalan, sih? Kan, yang lain jadi gak bisa lewat,tanya si anak.
“Pak polisi itu nutup jalan ini buat ngebuka jalan lain, supaya yang lebih penting bisa lewat tanpa hambatan,jawab si ibu sambil menggandeng anaknya menyebrang jalan.

Aryo terdiam sejenak mendengar jawaban si Ibu tadi. Kemudian kembali melanjutkan perjalanan pulangnya.

Hari berganti malam. Aryo duduk di teras rumahnya. Malam itu cukup tenang. Udara tidak panas dan tidak terlalu dingin. Aryo merasa malam itu cocok ia gunakan untuk menulis cerita yang akan menentukan nasib pekerjaannya. Segelas kopi menemaninya malam itu. Di sampingnya terdapat satu bungkus rokok Mild, padahal Aryo sudah lama berhenti merokok. Ia hanya teringat perkataan temannya, "Kalo gue lagi stres, biasanya gue ngerokok biar tenang.” Padahal, sebenarnya ia tidak tahu apa hubungan antara stres dengan sebatang rokok. 

Ia membuka Ms. Word dan mulai menulis. Ia merangkum kata-kata menjadi sebuah kalimat, dan menggabungkannya menjadi sebuah paragraf. Di tengah tulisannya, pikiran tentang Sonya tiba-tiba terbesit di benak Aryo. Jari tangannya yang sejak tadi mengetik itu seketika berhenti.

“Brengsek! Kenapa dia mulu yang muncul?" maki Aryo.

Aryo menengadahkan kepalanya ke atas. Menatap langit-langit rumahnya. Kemudian, ia membakar satu batang rokoknya. Hisapan pertama ditandai dengan batuk. Ia sudah tidak terbiasa lagi menghisap rokok. Ia berdiri, dan berjalan menuju tiang penyangga rumahnya. Menatap ke arah langit. Ia teringat pada kejadian yang ia alami hari ini. Dimulai dari perkataan Loli, sahabatnya, sampai jawaban dari seoang ibu untuk anaknya. Pikirannya berkelana mencari jawaban atas kebingungan yang ia alami.

Sesaat ia terdiam. Lalu tiba-tiba tersenyum. Senyum itu berubah mejadi tawa kecil dari bibirnya. Aryo seperti menyadari satu hal. Pikirannya seperti sudah pulang membawa jawaban atas kebingungan yang ia rasakan. Sekali lagi ia menatap ke langit. Bintang-bintang seperti bersinar semakin terang. Aryo membuang batang rokok yang tinggal setengah itu. Merogoh saku untuk mengambil telepon genggamnya. Ia mencari satu nama kontak “Lolita” kemudian menelponnya.

“Hallo, Yo, ada apa nelpon malem-malem?” tanya Loli yang setengah sadar di telponnya.  
“Lo udah tidur? Hahaha sorry ya ganggu. Gue cuma mau bilang makasih aja sama lo.”
Eh, makasih buat apa, nih?”
“Lo udah nyadarin gue.”
“Tunggu, tunggu, apa maksudnya? Gue gak ngerti.”
“Udah, lo terusin aja tidurnya. Gue mau nulis cerita baru hahaha!
Tunggu dulu, Yo. Lo harus jelasin dulu."
“Nanti gue jelasin.”

Telepon itu ia matikan. Ia kembali duduk di depan laptopnya. Mulai menulis cerita baru, dengan pikiran baru yang lebih bebas dari sebelumnya.

Tiga hari berlalu. Kini saatnya Aryo memberikan hasil tulisannya kepada Pak Gondo. Ia sudah berdiri di depan ruangan Pak Gondo. Menarik napas panjang, lalu mengembuskannya lagi. Hari itu ia lebih percaya diri. Tapi rasa degdegan pun masih ada pada dirinya. Bagaimana tidak, tulisannya kali inilah yang menentukan pekerjaannya. Jika ditolak lagi, ia harus mulai mencari pekerjaan baru. Aryo membuka pintu, dan masuk menghadap Pak Gondo.

Sekitar satu jam ia di dalam. Entah apa yang terjadi. Tak lama, gagang pintu itu terbuka. Aryo keluar dengan wajah yang tidak jauh beda dari tiga hari yang lalu. Seperti ada kabar buruk yang ia terima. Loli sudah berdiri di depan ruangan Pak Gondo. Menanti kabar dari sahabatnya itu.

“Gimana?” tanya Loli.
“Pak Gondo bilang gak bisa...” jawab Aryo dengan tidak bersemangat.
“Hmm... sabar ya, Yo. Gue pasti bantu lo.”
“Barusan dia bilang gak bisa nolak tulisan gue kali ini.”

Mimik lesu yang tadi tergambar di wajah Aryo kini berubah menjadi senyum kemenangan. Tulisan yang ia buat diterima oleh Pak Gondo.

“Eh, sialan lo! Berani nipu gue!” ucap Loli kesal.
“Hahahaha bodo amat!
“Eh, tunggu, lo masih hutang penjelasan sama gue.”
“Oke, oke, gue jelasin. Tapi gak di sini. Sambil makan aja. Tenang, gue selalu tau lo bokek, jadi gue traktir.”
“Hih, enak aja lo ngomong!" sangkalnya sembari memukul bahu Aryo.

Di sebuah restoran dekat kantor, kedua sahabat itu duduk sambil menikmati makanan yang tersaji.
“Nah, sekarang lo jelasin maksud lo nelpon gue malem itu.”
“Waktu itu lo di kantin bilang ke gue buat coba ngebuka, dan biarin yang lain masuk. Awalnya, gue gak ngerti maksud lo apaan. Sampe gue nemuin kejadian yang akhirnya bikin gue sadar. Pertama, pas gue pulang dari kantin waktu itu, gue denger sepasang suami istri yang ngomongin anaknya. Anaknya sering keluar rumah buat main. Si ayah membiarkan dengan alasan agar anaknya tidak terkurung dan biar pergaulannya luas. Dari situ gue mikir. Saat itu, pikiran gue lagi terkurung oleh satu hal. Sonya. Pikiran-pikiran tentang Sonya bikin gue gak bisa mikir luas. Terus, pas gue hampir sampe rumah, jalanan macet. Waktu itu ada penutupan jalan karena akan ada pejabat lewat situ. Ada seorang anak SD nanya ke ibunya, kenapa polisi itu nutup jalan. Ibunya jawab, polisi itu nutup jalan biar orang penting itu bisa lewat tanpa hambatan. Gue kembali mikir. Saat itu pikiran gue cuma terpaku sama Sonya. Sampai-sampai pikiran dan ide lain yang lebih baik, yang lebih penting itu gak bisa berjalan dengan normal. Pikiran gue kayak lagi ada dalam sebuah kemacetan. Gak bisa maju ataupun mundur. Pikiran gue cuma stuck di satu tempat. Makanya, gue harus menghentikan pikiran tentang Sonya dan biarin ide-ide lain yang lebih penting berjalan. Sampai akhirnya gue ngerti maksud perkataan lo. Gue harus ngebuka pikiran gue. Biarin dunia yang luas ini masuk ke dalam pikiran gue, biarin ide-ide baru yang lebih bagus itu masuk ke dalam pikiran gue. Bukan lagi tentang satu hal doang. Bukan lagi tentang Sonya. Posisi gue waktu itu kayak seekor lalat yang berada dalam toples. Gue cuma bisa liat apa yang ada di depan gue. Sampe akhirnya lo ngebuka tutup toplesnya, dan gue bisa terbang menjelajahi dunia yang sangat luas ini.”

Lolita hanya tersenyum mendengar penjelasan Aryo. Ia merasa, sahabatnya itu telah melakukan sesuatu yang sangat tepat. Kemudian Loli mengacak-acak rambut Aryo sambil tertawa senang.


***

Oke, kali ini gue mau memperkenalkan kalian dengan #memfiksikan. #memfiksikan adalah sebuah kebiasaan yang dibangun untuk belajar membuat fiksi. Bebas. Gak harus berbentuk cerpen seperti yang gue bikin sekarang. Kalian bisa membuat puisi, flashfiction, prosa, dan lain-lain.

Kegiatan #memfiksikan ini akan dilakukan setiap hari Jumat dengan tema yang berbeda-beda. Dan tema yang diambil kali ini adalah MACET. Buat kalian yang bingung dengan cerita yang gue bikin dan tema yang diambil, gue bakal jelasin. Tema yang di ambil adalah MACET. #memfiksikan gue kali ini menceritakan tentang sebuah kemacetan. Bukan di jalan raya. Tapi di dalam pikiran seseorang. Dimana pikiran seseorang dalam kondisi yang tidak bisa maju, dan tidak ingin mundur. Stuck di satu titik. Ya, layaknya kemacetan yang sering terjadi di jalan raya. Tapi, tentu semua masalah itu pasti ada solusinya. 
So, sampai jumpa di fiksi-fiksi gue lainnya. Mari #memfiksikan !!!

Best regards


Agung Adiwangsa

Teruntuk Pelukisku,


Aku ingin bertanya padamu. Apakah kamu sering mengadu? Kepada siapa kamu mengadu? Apa temanmu? Atau orang tuamu?

Aku punya sedikit masalah dalam hal berkeluh kesah. Ya, yang sering orang sebut dengan “Curhat.” Aku sangat sulit curhat pada orang lain. Padahal, aku merasa aku sangat ingin menceritakan masalahku. Sekedar untuk mengurangi beban yang aku rasakan. Tapi, entah kenapa rasanya sulit sekali.

Ketika aku akan mulai untuk bercerita, aku menjadi bingung. Aku bingung bagaimana cara menceritakannya. Kata apa yang harus aku gunakan untuk bercertita. Kalimat seperti apa cocok untuk menceritakan masalahku. Terdengar aneh memang, tapi seperti itulah adanya. Dan itu pula yang membuatku tidak pernah jadi ketika akan curhat pada orang lain.

Ketika aku akan bercerita, aku terlalu banyak berpikir. Misalnya, aku ingin sekali curhat. Tapi sebelum aku memulainya, aku akan berpikir. “Masalah mana yang harus aku ceritakan?”,”Kira-kira, masalah ini penting gak?”,”Masalah yang akan aku ceritakan ini patut untuk di ceritakan tidak?”,”Apa dia akan mengerti dengan yang aku ceritakan?” pokoknya, setiap kali aku akan mulai untuk curhat, akan ada banyak pertanyaan di pikiranku. Aku juga sering merasa takut mengganggu orang yang akan aku jadikan tempat curhat. Atau, kadang aku berprasangka buruk pada mereka. Aku berpikir “ah, mungkin dia gak akan peduli denganku” atau aku mengira orang lain akan berpikiran “yaelah, masalah gini doang dipikirin, lebay.” Aku juga sering berpikir “percuma aku cerita, itu tidak akan membuat masalahku selesai.” Dan akhirnya, aku tidak jadi curhat.

Orang yang jadi tempatku curhat pun kadang menyebalkan. Setelah mereka mendengar ceritaku, mereka hanya menjawab “Yaudah, sabar, ya.” Atau, mereka selalu menganggapku benar. Mereka akan membuat aku merasa telah melakukan hal yang benar dan menyalahkan orang lain, padahal kenyataannya aku yang salah. Aku tidak suka dengan jawaban yang seperti itu. Tanpa perlu mereka bilang, aku sudah tahu sabar itu perlu. Aku perlu solusi atas permasalahanku, bukan kata “sabar.” Aku juga tidak suka dengan mereka yang selalu menganggap apa yang aku lakukan itu benar. Karena, dengan begitu, aku tidak pernah tahu kesalahanku di mana. Bagaimana aku akan mengkoreksi diri jika aku sendiri tidak tahu salahku di mana? Memang bodoh jika aku berpikir seperti ini. Sudah bagus ada yang mau mendengarkan. Tapi, pikiran seperti ini juga yang membuatku tidak jadi curhat.

Beruntung saat ini aku kenal dengan seorang teman yang mau mendengar curahan hatiku. Dan dia pun tidak seperti orang lain yang selalu membenarkan caraku. Dia akan menyalahkan aku jika yang aku lakukan itu salah. Bahkan, dia juga tidak segan untuk memarahiku. Aku suka caranya. Mengkritik, tapi kritik yang membangun.

Pelukisku, itu hanya sedikit yang aku rasakan perihal “curhat.” Sampai-sampai membuat orang lain kesal. Aku sering mengirim SMS pada temanku dengan maksud ingin curhat. Tapi ketika temanku membalas, aku akan menjawab “gak jadi.” Atau “ah, manggil aja.” Itu karena selama menunggu balasan, pikiran-pikiran tentang yang aku certiakan di atas itu akan muncul, hingga akhirnya aku tidak jadi curhat. Mereka sampai bilang “ah, kebiasaan!”

Mengidap “penyakit.” Seperti ini kadang menyakitkan. Ketika aku merasa bebanku sangat berat dan aku sangat ingin menceritakannya pada orang lain, tapi aku tidak bisa. Aku sering mencari sendiri penyelesaian untuk masalahku, tapi tidak semua dapat kuselesaikan. Atau, ketika aku sudah tidak kuat menanggungnya, aku akan menceritakan dengan cara menganggap diriku seolah orang lain yang mempunyai masalah sama sepertiku, padahal nyatanya itu adalah aku. Ah! Aku memang menyebalkan !

Pelukisku, itu yang ingin aku ceritakan padamu lewat suratku kali ini. Terimakasih sudah mau menjadi tempatku untuk berkeluh kesah. Kamu akan selalu menjadi tempatku mengadu.

Salam sayang,


Agung Adiwangsa

Teruntuk Pelukisku,

Hallo!! Apa kabar pelukisku? Semoga kamu di sana sehat, ya !
Lalu bagaimana dengan aku? Ah, kondisiku sedang tidak baik. Aku sedang sakit. Mungkin karena cuaca hingga membuatku sakit begini. Musim hujan ini membuat hampir semua keluargaku sakit. Untungnya ibuku tidak. Karena jika sampai ibuku juga ikut sakit, bisa kacau sudah.

Cuaca kali ini memang sangat ekstrim. Aku mendengar dari temanku, katanya di Jakarta rasanya seperti di Puncak. Nah, jika di Jakarta saja terasa seperti di Puncak, bagaimana dengan di sini yang memang dekat dengan Puncak?

Hujan memang membawa berkah. Karena salah satu cara Allah menurunkan rezeki juga melalui hujan. Selain itu, hujan juga sangat berguna bagi kehidupan kita. Coba bayangkan saat kemarin tidak ada hujan, bagaimana? Kekeringan di mana-mana, sumur semuanya kering, untuk mandi saja susah, lalu pohon-pohon mati karena kekurangan air, dan cuaca menjadi panas. Itu hanya sebagian kecil dari masalah yang timbul karena tidak ada hujan. Jadi, kita butuh hujan, atau bahkan sangat butuh.

Tapi pelukisku, hujan juga kadang menyebalkan. Saat kita akan bepergian ke suatu tempat, tiba-tiba turun hujan. Padahal kita sedang buru-buru. Menyebalkan bukan? Atau, karena sering turun hujan, udara menjadi sangat dingin. Jika tidak pandai menjaga kondisi tubuh, bisa gampang terkena flu, atau penyakit lain.  Ya, seperti aku ini. Jika sudah sakit, jangankan untuk bekerja, bangun dari tempat tidur saja rasanya tidak kuat. Akhirnya aktifitas jadi terganggu.

Maka dari itu, sudah semestinya kita “Sedia payung sebelum hujan.” Agar aktifitas tidak terganggu, kesehatan juga terjaga. Karena kesehatan itu sangatlah penting. Percuma punya uang banyak, tapi sakit. Akhirnya semua uang akan habis untuk berobat.

Dan untukmu pelukisku, jaga selalu kesehatanmu. Jangan sampai kamu sakit di sana, ya!


Salam sayang,


Agung Adiwangsa
“Hey, sedang apa kau?”

“Aku sedang memikirkan masa depan.”

“Oh ya? Masa depanmu?”

“Ya, masa depanku.”

“Hmm... Bagaimana masa depanmu?”

“Kelak, aku akan menjadi seorang pengusaha sukses. ”

“Baik. Caranya?”

“Aku tidak akan bersantai-santai lagi. Besok, aku akan mulai mencari ide-ide untuk perusahaan yang akan kubangun.”

“Lalu?”

“Aku akan mencari orang-orang terbaik untuk perusahaanku.”

“Lalu?”

“Aku akan bekerja keras membangun perusahaanku.”

“Lalu?”

“Aku akan mempelajari pasar untuk perusahaanku.”

“Lalu?”

“Aku akan menarik banyak konsumen. Agar produk yang aku jual laku keras di pasaran.”

“Lalu?”

“Setelah perusahaanku cukup besar, aku akan membuka cabang di tempat  lain. Aku akan mengajak orang-orang bekerja. Agar tidak ada pengangguran lagi di negeri ini.”

“Lalu?”

“Aku akan membuat perusahaanku lebih baik dari perusahaan asing di negeri ini.”

“Lalu?”

“Setelah aku punya banyak uang, aku akan membelikan rumah baru untuk orang tuaku.”

“Lalu”

“Aku akan mengajak kedua orang tuaku pergi ke tanah suci.”

“Lalu?”

“Aku tinggal menikmati hidupku. Menyenangkan bukan?”

“Ya, tentu saja.”

“Apa kau punya saran untukku?”


Temannya menulis sesuatu pada secarik kertas. Memberikan kertas itu, lalu berjalan pergi. Ketika ia membukanya, ia menemukan sebuah tulisan.


Mulailah dengan mengubah kata “Besok.” menjadi “Sekarang.”
Baru bisa nulis lagi setelah beberapa hari kondisi tubuh gue labil. Iya, labil. Dibilang sakit, tapi keliatan sehat, dibilang sehat, padahal sakit. Sejak hari Minggu kemarin, gue ngerasa kurang enak badan. Di kepala gue rasanya kayak lagi ada komedi putar. Pusing tujuh keliling. Walaupun keliatannya gue kayak gak kenapa-kenapa, padahal aslinya rapuh. Itu kepala, apalagi hatinya.............. SKIP!!

Selain gangguan di kepala seperti yang gue bilang barusan, kondisi badan gue juga labil. Dibilang dingin, tapi dipegang panas, dibilang panas, tapi gue ngerasa dingin banget. Kayaknya gue demam. Gue juga suka ngerasa tiba-tiba menggigil banget, kalo bahasa kerennya sih “meriang.” Gaul banget kan penyakit gue? Tepok tangan, bro !

Sebenernya gue pengen ceritain ini dari kemarin. Tapi karena badan gak mampu kerja kayak pas lagi sehat. Jadi terpaksa gue pending. Maka dari itu, mumpung sekarang agak mendingan, walaupun masih ada krenyes-krenyes di kepala, gue paksain aja, daripada nanti ujungnnya gak jadi.

Senin kemarin, gue lagi duduk-duduk di kamar sambil mencoba nikmatin komedi putar yang ada di kepala. Cuaca waktu itu hujan gerimis. Bikin orang yang ngeliatnya jadi kangen sama mantan, gebetan, atau mantan gebetan. Tapi, yang gue pikirin saat itu bukanlah mereka, gue mikir “Kapan komedi putar ini akan berhenti?” soalnya ini bikin gue gak bisa berpikir kayak biasa, walaupun gue jarang mikir.

Lagi asik mandangin hujan, tiba-tiba om gue manggil. Gue langsung reflek ngejawab panggilan dia, gue berharap dia bakal ngasih gue duit. Setelah gue samperin, ternyata dia gak ngasih gue duit, dia malah ngasih gue kerjaan. Dia minta tolong gue buat nyalin modul Penilaian Kinerja Guru. Om gue yang satu ini memang langganan minta tolong kalo soal beginian. Gue yang memang sifatnya sulit buat nolak permintaan orang, langsung aja meng-iya-kan, padahal gue gak tau modul PKG itu kayak gimana. Setelah gue ngeliat modul yang mau disalin, gue kaget, ternyata modul itu banyak banget, sampe setebal buku telepon. Bangkai !! jadi orang yang bisa diandalkan ternyata tidak selalu menyenangkan.

Gue bawa modul dan laptop om gue itu ke rumah. Gue langsung masuk kamar. Bukan mau semedi, tapi mau langsung ngerjain. Awalnya gue cuma nyalain satu laptop doang, tapi lama-lama bete juga. Mau dengerin musik dari laptop om gue, tapi isinya lagu jadul sama lagu dangdut doang, masa iya gue dengerin lagu dangdut? Kan gak nunjukin remaja masa kini banget. Lalu gue nyalain laptop punya gue buat dengerin musik sama online. Jadi, malam itu gue pake dua laptop sekaligus. Keren kan? Iyalah, gue gitu....

Ngetik segitu banyak ternyata bikin mual juga. Mata gue lama-lama jadi pusing karena bolak balik liat laptop dan modul aslinya. Komedi putar yang ada di kepala seakan berputar semakin cepat. Gue diem sebentar. Nyari ide supaya bisa jadi lebih mudah. Lalu gue korbanin kuota yang tersisa. Gue nyari modul PKG yang sama di google, terus gue download. Setelah itu gue periksa lagi buat nyamain sama yang lagi gue kerjain. Hahaha cerdas kan ?

Dari sehabis maghrib gue masuk kamar, baru selesai jam satu malam. Itu pun bukan karena kerjaannya yang selesai, tapi mendadak kepala gue pusing banget dan badan gue jadi mengigil. Saking dinginnya, gue sampe pake baju tiga lapis di tambah jaket, celana panjang dua lapis, pake kaus kaki, terus ditutup lagi pake selimut.

Cuaca yang waktu itu emang dingin banget bikin badan gue ngerasa tambah menggigil. Tidur pun jadi gak karuan. Gue berkali-kali ganti posisi tidur sampe gak sengaja nyenggol asbak yang gue pake buat buang sampah kulit kacang. Asbaknya jatoh gak sengaja kena CPU komputer yang ada di bawahnya, lalu tutup CPU yang gak gue pasang ke badannya pun ikut jatoh dan semua itu menghasilkan suara yang sangat keras. Gue cuma melongo ngeliat kejadian itu. Tapi gue gak langsung beresin, gue pikir “ah, besok pagi ajalah.” Ngedenger suara yang cukup keras, ibu gue bangun dan pura-pura batuk, mungkin ibu gue ngiranya ada orang masuk ke rumah. Gak lama, om gue juga keluar dari rumahnya sambil nenteng-nenteng samurai. Dia mondar-mandir ngecek keadaan sekitar. Kemudian dari jauh gue ngedenger suara orang yang lagi ronda, om gue pergi nemuin mereka, mungkin mau ngasih tau tentang apa yang dia denger. Akhirnya para peronda itu jaga-jaga di sekitar rumah gue. Kejadian asbak jatoh itu sukses bikin orang-orang di sekitar rumah pada panik, sedangkan gue yang merupakan pelaku utamanya cuma ngintip dikit lewat jendela, kemudian kembali mencoba tidur.  

Paginya, kejadian semalem jadi trending topic. Gue yang baru bangun keluar dari kamar dengan wajah imut-imut menggemaskan. Gue pura-pura gak tau apa yang terjadi. *senyum iblis.

Nah, kira-kira begitulah tragedi hari senin gue. Sampai jumpa di cerita seru lainnya !


Best Regards


Agung Adiwangsa

Sumber : Here




Aku duduk termangu di samping sebuah batu. Angin berembus menghantam tubuhku yang rapuh. Kupandangi barisan semut yang berjalan tepat di depanku. Sungguh, aku malu. Bahkan jika dibandingkan dengan makhluk sekecil itu pun, aku kalah tangguh. Pekerja keras. Sedangkan aku?

“Ayah, aku lelah,” ucapku lirih.

Dia tak menjawab. Suasana yang sangat sepi membuat deru angin semakin jelas di telingaku. Aku semakin tertunduk seolah menopang batu besar di kepalaku.

“Menjadi dewasa itu ternyata sulit, Yah.”

Tetap tidak ada jawaban.

“Aku menyesal karena dulu selalu mengabaikan kata-kata Ayah. Ayah yang dulu selalu mengingatkanku untuk belajar, tapi aku malah asyik bermain tanpa mau mendengar. Dan sekarang, aku merasakan dampaknya. Banyak yang aku tidak tahu, karena aku mengabaikan waktu. Aku menyesal, Yah.

Langit meredup, seolah mengerti akan apa yang sedang aku rasakan.

“Yah, ternyata mencari uang itu sulit. Anakku sudah kelas enam, sebentar lagi ujian. Pasti butuh banyak biaya. Sedangkan, iuran sekolah yang sudah dua bulan pun belum mampu kubayar. Upah dari pekerjaan yang aku dapat hanya cukup untuk makan sehari-hari, kadang aku harus mencari pinjaman untuk mencukupi kebutuhan lainnya. Aku bingung, Yah,

bola mataku mulai berkaca-kaca.

“Aku menyesal. Aku menyesal dulu tidak pernah menghargai pemberian Ayah. Aku selalu marah ketika uang jajan yang Ayah berikan kuanggap kurang. Yang aku lakukan hanya meminta, tanpa pernah aku memikirkan betapa sulitnya mencari uang. Aku selalu merengek meminta uang untuk bermain dan aku hamburkan begitu saja. Aku tidak pernah menyadari seberapa banyak keringat yang Ayah kucurkan untuk mendapatkannya. Semasa sekolah dulu, aku sering membolos, aku tidak serius selama belajar, aku sering meminta uang dengan alasan untuk mengerjakan tugas, padahal aku gunakan uang itu untuk nongkrong dengan teman-teman. Aku selalu memaksa dibelikan sesuatu hanya karena teman-temanku memiliki itu. Tapi aku tidak pernah tau, betapa keras usaha yang Ayah lakukan untuk mendapatkannya. Kadang, aku diam-diam mengambil uang simpanan Ayah, padahalmungkinuang itu akan digunakan untuk keperluan yang lebih penting. Aku menyesal,Yah. Ayah mau memaafkan aku?”

Bendunganku tak mampu bertahan lagi. Sedikit demi sedikit ia mulai mengalir melewati sudut pipi.

“Aku juga menyesal. Dulu, aku tidak pernah mensyukuri apa yang kupunya. Ayah ingat Darto? Teman kecilku? Ayahnya punya mobil. Setiap pagi, ia selalu diantar oleh supir. Aku selalu meminta Ayah membeli mobil, karena aku ingin seperti Darto. Padahal, Ayah selalu mengantarkan aku dengan sepeda sebelum berangkat kerja. Jarak dari sekolahku ke tempat Ayah kerja, kan, cukup jauh. Atau, Ayah ingat waktu aku menangis seharian karena ingin dibelikan playstation? Ayah sampai rela menjual biola kesayangan Ayah. Ayah pergi dalam keadaan hujan. Hanya karena aku. Hanya karena Ayah ingin aku berhenti menangis. Aku selalu berpikir, seandainya aku menjadi orang lain. Aku tidak pernah mensyukuri apa yang kupunya. Aku menyesal, Yah. Aku menyesal. ”

Butir air mata itu semakin deras mengalir. Satu persatu menetes ke tanah. Burung wiwik kelabu yang sejak tadi memerhatikanku pun pergi, seolah ia tidak sudi melihatku.

“Oh iya, Yah, sudah berapa lama aku tidak datang kemari? Rumah Ayah sudah kotor. Rumput-rumputnya pun mulai tinggi, biar aku bersihkan.”

Aku mulai mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar rumah ayahku.Aku keluarkan saputangan biru dari saku celanaku. Aku menyeka tanah yang menempel di keramiknya. Kemudian aku melihat alroji yang terpasang di tangan kiriku. Sudah hampir maghrib.

“Yah, aku harus segera pulang. Anak dan istriku pasti sudah menunggu di rumah. Sekali lagi, maafkan aku, Yah. Oh iya, tolong sampaikan salamku pada Ibu. Aku pamit, Yah.

Aku bangkit. Kuusap air mata yang tersisa di sudut mataku. Sebelum pergi, aku simpan saputangan yang kupakai tadi di atas batu nisan ayahku. Baru kemudian kumelangkah pergi meninggalkan pemakaman itu.











Teruntuk Pelukisku,


Apa kabar kamu disana? Sehat selalu ? Jaga kesehatanmu, ya!

"Bermimpilah yang besar, dan jangan berhenti sebelum mencapai puncak."
Greg S. Reid
(American filmmaker, motivational speaker and best-selling author)

Perihal mimpi. Semua orang punya mimpi. Aku punya mimpi, kamu punya mimpi, mereka punya mimpi. Bukan mimpi yang biasa kita rasakan saat kita tertidur. Tapi, mimpi yang aku maksud adalah cita-cita, keinginan, tujuan.

Pelukisku, apa mimpimu? Apa kamu ingin menjadi seorang pelukis yang sangat hebat? Tentu saja kamu bisa ! Lihat karya-karyamu, sungguh luar biasa indah. Aku saja tidak pernah bosan melihatnya. Lalu, apa mimpiku?

Aku bermimpi menjadi seorang Guru. Berawal dari Ayahku yang juga seorang guru. Dimataku, seorang guru adalah sosok yang sangat luar biasa hebat. Bagaimana tidak? Coba kamu bayangkan jika di dunia ini tidak ada guru? Akan jadi apa kita? Sebagian besar ilmu yang kita miliki itu adalah berkat jerih payah seorang guru yang senantiasa membimbing kita. Kadang, kita sendiri sangat sulit diatur oleh guru kita. Padahal kita tahu, apa yang dilakukan oleh seorang guru itu adalah untuk kebaikan kita juga. Bahkan katanya, dulu sewaktu Jepang kalah akibat bom Hiroshima dan Nagasaki, yang pertama kali tanyakan oleh Kaisar Jepang adalah “Berapa banyak guru yang masih hidup?” Lihat, betapa berharganya seorang guru? Maka dari itu, aku sangat ingin menjadi guru.

Aku bermimpi menjadi seorang Musisi. Aku sangat ingin menjadi musisi. Aku selalu membayangkan bisa berada di atas panggung, dihadapan orang banyak yang ikut bernyanyi bersamaku. Kata Ibuku, Ayah dulu sering bermain musik. Ia juga pernah tampil untuk menjadi pengisi acara. Ayahku mahir bermain gitar, aku juga bisa, walaupun hanya sekedar “bisa”. Mungkin bakat turunan. Ya, mungkin. Tapi, aku tidak bisa bernyanyi. Saudaraku sering berkata bahwa aku itu “buta nada.” Sebenarnya aku tidak tahu maksudnya, tapi memang, saat aku bernyanyi, suaraku sering tidak pas dengan nada. Suaraku juga jelek. Mendengarkannya saja bisa membuat orang lain mual. Tapi aku beruntung, aku pernah merasakan berada di atas panggung di hadapan orang banyak yang ikut bernyanyi bersamaku. EPIROGENESA. Bersama mereka lah aku bisa mendapat pengalaman itu. Sebuah band yang sudah aku anggap keluargaku sendiri.

Aku bermimpi menjadi seorang Fotografer Profesional. Awalnya aku tidak berniat menjadi seorang fotografer. Bahkan, aku saja tidak tahu menahu soal kamera. Aku hanya suka memotret. Ini bermula ketika aku kenal dengan seorang fotografer. Ya, ditempat kerjaku dulu. Dia lah yang membuatku ingin menjadi seorang fotografer profesional. Pernah suatu ketika kami dalam perjalanan pulang dari Lampung. Dia bercerita tentang pengalamannya dalam dunia fotografi. Aku langsung menulis dalam buku catatanku “Saya akan menjadi seorang fotografer profesional dan saya akan mengelilingi Indonesia.” Kenapa aku pilih Indonesia? Kenapa tidak luar negeri? Bagiku, Indonesia itu adalah “Surga yang tidak disadari oleh penduduknya.” Tidak perlu di jelaskan kenapa, cukup lihat betapa indah dan kaya alam Indonesia. “Untuk apa pergi ke rumah tetangga, kalo rumah sendiri lebih bagus?.” Ya, Pelukisku, aku sangat ingin menjadi fotografer profesional dan bisa mengelilingi Indonesia.  

Aku bermimpi menjadi seorang Penulis. Aku sering membuat cerita. Semacam cerpen. Tapi tidak pernah tuntas. Sampai aku pernah berlomba membuat cerpen dengan guruku. Tentu saja karya nya jauh lebih bagus dari milikku. Aku juga pernah dipuji oleh guru bahasa Indonesia karena cerpenku. Tapi sialnya aku sangat malas membaca. Caraku menulis masih sangat amat buruk. Aku tidak pernah mempelajarinya. Karena aku sangat malas. Beruntungnya saat ini aku memiliki banyak teman yang mau mengajariku dalam hal menulis. Berawal dari blog, aku mendapat banyak pelajaran berharga dalam menulis. Aku sangat berterimakasih pada mereka. Sampai saat ini, aku terus belajar agar tulisanku menjadi lebih baik lagi.

Nah, itulah beberapa mimpiku. Sebenarnya masih banyak, bahkan sangat banyak. Tapi, cukup itu saja yang aku ceritakan padamu. Karena yang terpenting bukan “Apa mimpimu?” tapi, “Bagaimana caramu meraih mimpi itu?” percuma saja jika kita hanya bermimpi, tapi tidak pernah berusaha mewujudkannya. Walt Disney pernah berkata :
“Semua Mimpimu Akan Terwujud Asalkan Kamu Punya Keberanian Untuk Mengejarnya.”

Oleh karena itu, apapun mimpimu, teruslah berusaha untuk meraihnya. Tetap semangat! Aku yakin kamu bisa.

“Jangan seperti orang bodoh yang ingin buang air kecil, tapi tidak mau melangkah menuju toilet.” - Agung Adiwangsa
  
Sampai jumpa di surat berikutnya, pelukisku.


Salam sayang,



Agung Adiwangsa
Gue punya beberapa peliharaan di rumah. Beberapa jenis burung. Yaitu burung lory atau yang biasa di kenal burung nuri, burung perenjak Jawa atau ciblek, dan dua ekor burung zosteropidae atau yang tenar dengan nama burung kacamata. Mereka itu lah yang sukses bikin rumah gue rame. Gue gak akan bahas semua peliharaan gue. Gue cuma mau cerita tentang si lory atau si nuri.

Beberapa bulan yang lalu, sepupu gue bawa burung jenis nuri. Awalnya gue kaget, karena nuri yang dibawa sama sepupu gue itu beda dari yang lain. Nuri yang biasanya gue lihat berwarna campuran merah, hijau, biru. Sedangkan nuri yang dibawa sama sepupu gue itu warnanya hitam, merah, orange. Ternyata ini adalah jenis burung Dusky Lory. Gue baru tahu setelah searching di mbah google.

The Lory Dusky (Pseudeos fuscata) atau biasa di sebut nuri kelam adalah spesies monotypic burung dalam keluarga Psittaculidae, dan satu-satunya spesies dari genus Pseudeos. Alternatif nama umum adalah Lory Putih-rumped atau Lory Dusky-oranye. Burung ini bisa ditemukan di Indonesia dan Papua Nugini. (Sumber : wikipedia)

Selama dalam asuhan sepupu gue, burung ini kurang dapet perhatian, karena sepupu gue sibuk sama kerjaannya. Gue merasa kasihan. Gue minta ijin buat ngerawat si nuri. Sepupu gue ngijinin. Akhirnya pindah lah si nuri ini ke rumah gue. Semua bajunya di bawa gak ada yang ketinggalan. Sebelum pergi, dia pamitan dulu ke sepupu gue, sekalian bilang terimakasih karena udah mau ngerawat dia.  

Awal-awal dalam asuhan gue, si nuri galak. Setiap kali gue nyoba buat megang dia, tangan gue selalu di gigit. Pernah sekali gue di gigit sampe jari telunjuk gue sobek dan berdarah. Mungkin dia belum kenal sama gue. Tapi gue gak marah. Gue malah kasih perhatian lebih sama dia. Setiap pagi dan sore gue selalu kasih dia susu atau buah. Padahal, gue sendiri jarang banget minum susu. Kalo pengen makan buah, gue harus nunggu buah jatoh dari pohon dulu, itupun harus rebutan sama orang lain. Tapi buat si nuri, gue bela-belain beli. Ini semua demi dia. Setiap hari, dia selalu gue mandiin. Dia gak mau mandi sendiri. Manja banget. Sampe-sampe ibu gue sering bilang “burung aja di mandiin, yang punya gak mandi.” Tuh, kurang baik apa coba gue? Sama burung aja perhatian banget, apalagi sama pacar? Mau jadi pacar gue?

Setelah beberapa lama tinggal sama gue, si nuri mulai jinak. Yang awalnya tangan gue selalu digigit, sekarang udah enggak. Tapi ini cuma berlaku sama tangan gue doang. Tangan orang lain tetep dia gigit. Setiap kali gue menjentikan jari, dia selalu manggut-manggut kayak lagi joget. Kalo gue siulin, dia nyaut dengan teriak “kekekekekek.......keeeekkeeekkk” gitu. Dia selalu jadi alarm tiap pagi. Menjelang subuh, dia selalu teriak-teriak. Kicauannya itu kenceng banget. Sampe kira-kira jarak 100m masih kedenger, karena itu kemampuan khusus dia. Kadang, kalo gue mau mandi dan dia lagi disimpen di kamar mandi, dia selalu teriak sampe kuping gue rasanya pengang banget. Gue juga udah berani ngeluarin dia dari kandang, walaupun masih dalam ruangan tertutup.

Barusan gue iseng mainin si nuri. Gue keluarin dia dari kandangnya. Gue bikin kopi, lalu dia gue bikinin susu. Kami minum bareng. Keren gak? 





Terus gue iseng ajakin dia selfie.

“Nuy, selie yuk”

“Kekekek....keeeeeeeeekkk”

“Ayolah, gak usah malu. Sekali aja”

“Kekekekekek.....”

Awalnya dia gak mau, katanya malu. Kemudian gue elus-elus kepalanya dan akhirnya dia mau. Kami foto bersama.





Gimana? Ganteng kan gue?

Tadinya gue mau jual si nuri. Tapi setelah dipikir-pikir sayang juga. Lagian gak ada yang mau beli. Jadi, sampai saat ini dia masih sama gue. Setia banget gak sih? Nah, sekarang udah mau jadi pacar gue?

Oke, berhubung gak ada yang mau jadi pacar gue, jadi gue udahin aja tulisan kali ini. Buat kalian, terimakasih sudah mau merelakan waktu berharganya untuk membaca tulisan gue yang acak-acakan ini. Maklumin aja ya, gue lagi belajar nulis ehehehehe. Oh iya, kalo ada yang mau jadi pacar gue, komen aja yah. *eeehhh


Best Regards,
  


Agung Adiwangsa.





Dear diary,

Hai di, Naya mau nulisin kamu lagi. Kali ini aku mau cerita tentang Andy. Pacarku. Naya mulai jenuh di sama dia. Tadi pagi Naya ngobrol bareng temen-temen Naya. Kami ngomongin pacar masing-masing. Ayu cerita, dia setiap hari di antar jemput sama pacarnya. Terus kalo kemana-mana selalu di antar pacarnya. Setiap minggu mereka main di. Naya iri sama mereka. Naya cuma bisa denger cerita mereka. Andy mana bisa kayak gitu. Seminggu sekali ketemu aja gak bisa. Sukur-sukur kalo bisa ketemu sebulan sekali. Awalnya Naya kira bakal kuat sama hubungan ini. Tapi ternyata di, gak seindah awalnya. Naya jenuh di. Naya pengen kayak mereka yang setiap hari di ketemu sama pacar mereka. Naya mulai jenuh sama Andy.

***

Dear diary,

Di, hari ini Naya bete. Tadi pagi Ayu cerita lagi sama Naya. Katanya pacar dia romantis banget. Malam minggu kemarin dia dateng bawa bunga buat Ayu. Terus dia nyanyiin lagu kesukaan Ayu di depannya. Naya bete di. Andy gak pernah gitu. Terus ada lagi cerita lain dari Bila. Dia di ajak pacarnya main ke pantai. Pacarnya romantis banget. Dia bikin nama Bila di pasir lalu dia ngasih bunga ke Bila. Nyebelin gak sih? Andy mana bisa kayak gitu? Kita cuma bisa smsn. Telponan aja seminggu sekali, itu pun jarang. Naya pengen kayak mereka. Main sama pacarnya. Andy cuma nyuruh Naya belajar, belajar, dan belajar. Padahalkan Naya juga perlu main. Naya jenuh sama Andy. Setiap ketemu, Andy cuma Naya aku ke mall. Itupun cuma nongkrong doang. Rasanya perasaan Naya mulai pudar di sama dia.

***

Dear diary,
   
Hai di. Kemarin Naya ulang tahun di. Naya di kerjain sama temen Naya. Naya dapet surprise dari mereka. Seneng banget rasanya. Walaupun harus mandi empat kali karena dikerjain temen Naya. Naya seneng banget. Tapi di, Naya bete sama Andy. Naya sebel sama dia. Dia gak ada pas hari ulang tahun Naya. Awalnya Naya seneng, karena sebelum hari ulang tahun Naya, dia main kesini. Tapi, dia pulang sebelum hari spesial Naya. Nyebelin kan di? Coba, siapa yang gak pengen ada pacar pas hari ulang tahunnya. Ayu ngerayain ulang tahun bareng pacarnya. Bila juga. Sedangkan Naya? Dia cuma telpon aku malem-malem buat ngucapin selamat ulang tahun. Biasa banget kan di? Ah, Andy nyebelin. Kayaknya Naya gak akan ngelanjutin hubungan ini di.

***

Dear diary,

Di, Naya udah putus sama Andy. Sudah seminggu ini kami gak smsn. Aku ngerasa ada yang hilang di. Tadi Naya nonton tv. Tiba-tiba ada lagu Janet Jackson liriknya :


Doesn't really matter what the eyes are seeing,
cause I'm in love with the Inner being.

Naya tiba-tiba nangis. Betapa bodohnya Naya nyia-nyiain orang kayak Andy. Mungkin dia jarang main sama Naya. Tapi setiap waktu dia selalu kasih Naya kabar. Setiap pagi dia ngirimin kata-kata romantis yang bikin Naya senyum kalo bangun tidur. Andy mungkin jarang main ke sini. Itu karena dia harus kerja keras dulu supaya punya uang dan bisa main sama Naya. Dia gak mau minta sama orang tua nya. Pekerjaan seberat apapun dia lakuin supaya bisa ketemu sama Naya. Naya udah nyia-nyiain orang yang mau berjuang dan kerja keras buat Naya.

Di, mungkin Ayu sering ketemu sama pacarnya. Setiap hari jalan bareng pacarnya. Tapi setiap hari itu pula mereka marahan di. Dimas, pacar Ayu sensitif banget. Hal sepele apapun dia pasti marah. Ayu sering nangis. Tapi Andy, dia gak pernah marah sama Naya. Walaupun Naya ngelakuin kesalahan, dia pasti maapin Naya. Dimas selalu marah ketika Ayu main sama kita-kita. Dengan alasan “Kamu lebih pilih mereka daripada aku” sedangkan Andy, setiap kali Naya bilang mau main, dia ngijinin Naya. Dia selalu bilang “Aku gak bisa selalu main sama kamu. Jadi kalo dengan main kamu bisa seneng. Silahkan, asalkan kamu seneng” Andy selalu pengen Naya seneng. Padahal Naya suka cemburu kalo dia main sama temen-temennya. Dia lebih mentingin kesenangan Naya daripada cemburunya dia.

Di, Dimas selalu ngajakin Ayu smsn dan telponan. Sampe Ayu jarang belajar. Tapi Andy sering nyuruh Naya belajar. Karena Andy tau, belajar itu penting buat Naya. Andy selalu kasih Naya semangat. Andy selalu sabar nungguin Naya selesai belajar walaupun sampe malem banget. Andy tetep nungguin Naya dan dia selalu tidur setelah Naya tidur. Dia gak mau tidur sebelum Naya tidur. Andy baik banget di. Naya nyesel.

Setiap ketemu, Andy selalu ngajak Naya ke mall dan Cuma nongkrong doang. Tapi selama itu Andy selalu berusaha bikin Naya ketawa. Bikin Naya seneng. Apapun dia lakuin asal Naya seneng. Gak pernah sekalipun dia bikin Naya bete. Dia pernah nungguin Naya sampe berjam-jam dan dia gak pernah marah sama Naya. Kalo Dimas pasti udah marahin Ayu.

Andy gak pernah nyanyi di depan Naya. Tapi dia bela-belain minjem handphone ke temennya buat kirim Naya voicenote. Dia nyanyiin lagu-lagu romantis buat Naya. Dia selalu berusaha untuk bikin Naya seneng.

Di, pas ulang tahun kemarin. Andy memang gak ada buat Naya. Tapi kamu tau gak di? Ternyata, pas main sama Naya sebelum ulang tahun itu dia lagi sakit di. Dia bela-belain datang jauh-jauh dalam keadaan sakit cuma buat Naya. Dan dia pulang karena sakitnya semakin parah. Sebelum pulang dia bikin stop motion gitu di buat Naya. Sampe-sampe dia gak tidur semaleman cuma buat bikin hadiah buat Naya. Naya nyesel di udah berpikiran buruk sama dia. Naya nyeseeeeelll!!!.

Naya nyesel di. Sms Naya gak di bales sama Andy. Naya udah minta maap. Kayaknya dia gak mau maapin Naya. Dia udah benci sama Naya di. Naya nyeseeell !!

***

Dear diary,

Haaaaa Diaryku, Nayaa seneeng. Tadi Andy sms Naya nanyain kabar. Dia juga nanyain kabar mama Naya. Baik banget gak sih? Dia juga merhatiin kabar orang yang Naya sayang. Aaaahh pokoknya seneng banget. Dan katanya Andy mau telpon Naya nanti malem. Naya udah kangen banget sama suara dia. Naya pengen di nyanyiin lagi sama dia. Yaudah ya di, Naya mau smsn dulu sama Andy. Thanks banget ya di udah denger curhatan Naya. Naya belajar satu hal di.

Hargailah apa yang kamu miliki sekarang,
karena tanpa kamu sadari, kamu begitu
beruntung telah memiliki-nya.


Dadah diaryku !!!

NB: Muka Andy mungkin gak tampan, tapi hatinya luar biasa tampan.



Sumber : Google



Suasana sore itu cukup tenang. Orang-orang di sekitar rumah ku sedang membersihkan puing-puing yang berserakan di depan rumah mereka. Puing-puing bekas ledakan oleh tank-tank milik tentara Zionis Israel. Namaku adalah Ahmad Ishaq Ramlawy. Orang memanggil ku Ishaq. Aku tinggal di kota Gaza. Kota yang saat ini sedang terjadi konflik antara Palestina dan Israel. Aku sendiri tidak tahu apa salah kami hingga di usir dari tempat kelahiran kami. Sudah 18 tahun aku tinggal disini. Berkali-kali para mujahidin-mujahidin islam meminta kepada keluarga kami untuk pergi mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tapi Rayan yang tidak lain adalah ayahku selalu menentang. Ia dengan tegas mengatakan “Aku tidak sudi di usir oleh para tentara Jahanam itu !” ayah ku bersikeras tidak mau pergi. Walaupun kami harus merasa ketakutan ketika pesawat-pesawat Israel itu terbang melintasi atap rumah kami. Tapi ayahku tidak gentar sedikitpun. Ia senantiasa memberi kami semangat dan menenagkan hati kami. Bahkan, ibuku Fatima selalu membujuk ayahku untuk pergi dari tempat itu. Tapi tetap saja tidak mau. Ayahku malah menyuruh kami pergi mengungsi ke tempat bibiku di Mesir. Awalnya aku ingin sekali pergi, tapi entah kenapa aku tetap tinggal bersama ayahku. Mungkin karena cerita-cerita ayahku yang membuat aku menjadi tidak takut kepada para tentara itu. Ayahku berkali-kali certia tentang surganya Allah. “Nak, ini tempat kita, tempatnya umat muslim. Bukan mereka. Mereka tidak pantas disini. Mungkin mereka punya misil, tank, dan senjata-senjata canggih lainnya. Tapi ingat, kita punya Allah. Allah menjanjikan surganya untuk mereka yang berjihad dijalan Allah. Disana tidak akan ada orang-orang seperti para penjajah itu. Surga itu adalah tempat kita. Ingat itu nak.” Itulah yang sering ayah ceritakan padaku. Sampai aku tidak takut lagi kepada para penjajah itu.

Aku duduk di depan rumah sambil membantu para tetangga membersihkan puing-puing. Tiba-tiba dari arah rumah ibuku memanggil “Ishaaaaaqq !! Cepat kemari nak !!” aku langsung berlari menuju rumah. Sampai di dalam rumah, terlihat ada beberapa orang mujahidin yang meminta kepada kami untuk mengungsi. Tapi seperti biasa, ayahku tetap menolak. Malah, ia meminta aku untuk pergi mengungsi bersama ibu dan adiku Hani yang baru berusia 9 tahun. “Bu, cepatlah pergi. Ajak Hani dan Ishaq pergi ke rumah adikmu di Mesir. Biar aku sendiri yang menjaga rumah ini.” Titah ayah ku. “Tapi disini berbahaya, pa. Kenapa kamu tidak ikut bersama kami?” jawab ibuku. “Aku tidak mau. Aku tidak sudi diusir oleh para penjajah itu!” Jawab ayahku. Aku hanya terdiam melihat apa yang sedang terjadi. Aku bingung. Harus pergi bersama ibuku, atau tetap tinggal bersama ayahku.

DUUUUUMM!!!! Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah luar. Aku melihat melalui jendela. Ternyata telah terjadi serangan. Puing-puing yang baru saja di bersihkan kembali berserakan. Tetangga-tetangga yang tadinya membersihkan puing pun sudah tidak terlihat. Sepertinya mereka sudah pergi mengungsi. “Ishaaq ! Cepat kau pergi ke rumah bibikmu. Ajak adik dan ibumu !” ayah menyuruhku untuk segera pergi. “Ahmed ! cepat kau ajak mereka pergi” ucap salah seorang mujahidin kepada temannya. Kemudian ibuku bersiap pergi sambil menuntun adiku Hani. “Ishaq! Cepat !” Perintah ayahku. “Aku tidak mau. Aku ingin disini. Aku ingin berjuang bersama ayah !” Jawabku. Semua orang terdiam memandangiku. “Aku ingin berjuang di jalan Allah !” sekali lagi aku katakan dengan tegas. Ahmed salah seorang mujahidin itu segera menarik ibuku pergi. “Allah bersama kalian !” ucap ibuku sebelum menghilang dibalik tembok. Kini hanya tinggal aku, ayahku, dan empat orang mujahidin lain. Kami disini untuk berjuang. Berjuang di jalan Allah.

“Nak, ingat ! Surga Allah menanti kita!” sekali lagi ayahku memberi semangat. Dengan bersenjatakan senapan serbu AK-47, satu pelontar roket dan beberapa butir granat. Kami siap menghadang mereka. Mereka yang mencoba mengusir kami dari tempat kelahiran kami. “Allahu Akbar !!!” teriak kami serentak. Di luar terlihat beberapa tentara zionis dan sebuah tank sedang mencari-cari para mujahidin. Memang besar kuasa Allah, para tentara itu tidak bisa menemukan para mujahidin. Kami bersiap menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan balasan. Yusuf, salah seorang mujahidin pergi menuju atap sambil membawa peluncur roket. Salman dan Razak bersiap dari belakang rumah. Sedangkan aku, ayahku dan husein seorang mujahidin bersiap di dalam. “Ingat nak, Allah bersama kita !!!” tegas ayah memberi semangat.

Kami bersiap di celah jendela. Menunggu waktu yang tepat. Salman pemimpin dari para mujahidin itu memberi signal untuk menyerang. Kami langsung menekan pelatuk yang ada pada senjata kami. Ayah pernah mengajariku bagaimana cara menembakan senapan. Ttreeeet.......treeeeettt.... suara senapan yang keluar dari senjata kami. Para tentara itu tersentak menerima serangan balasan dari kami. Tapi itu tidak membuat mereka pergi. Mereka hanya sembunyi dan memberikan serangan balasan. Duuuuuummm !!!! suara tembakan dari tank yang mengarah ke arah kami. Untung saja bangunan itu cukup kuat menerima hantaman peluru dari tank tentara Zionis itu. Dua orang tentara Zionis jatuh terkena peluru yang berasal dari senjata kami. “Allaaahu Akbaar !!” teriak salah seorang mujahidin yang menambah semangat kami untuk membalas serangan para tentara itu.

“Kenapa roketnya tidak di tembakan ?!” tanya Salman. “Biar aku lihat.” Jawab Husein. Husein pergi menuju atap. “Yusuf telah syahid.” Ucap Husein sekembalinya dari atap sambil membawa peluncur roketnya. “Baiklah, biar aku yang lakukan” ucap Salman. Salman pergi keluar sambil membawa peluncur roket. Roket itu di tembakan dan tepat mengenai sasaran. Tank tentara Zionis itu hancur terkena hantaman roket Salman. Namun sayangnya, Salman tertembak tepat di bagian dada kirinya. Darah segar mengalir. “Sampai jumpa di surga nanti saudaraku !” Salman telah syahid. Kini tinggal kami berempat. Sedangkan diluar sana tentara zionis itu menyerang kami tiada ampun.

Sudah dua jam sejak serangan awal tadi. Kami tetap bertahan didalam. Para tentara itu pun masih terus melanjutkan serangannya. Sekeras apapun roket yang menghantam bangunan kami, bangunan itu tidak hancur. Sungguh besar kuasa Allah. “Jika harus mati sekarang, yakinlah. Kita mati di jalan Allah. Surga balasannya !” teriak Ayahku memberi semangat. Rasa takut yang menyelimutiku pun seketika hilang. Pertempuran cukup sengit. Peluru-peluru berterbangan mencari sasaran. Tapi tidak bisa menembus tembok tempat kami berlindung. Terdengar mustahil memang, tapi tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Bangunan itu seperti di jaga oleh para Malaikat yang tidak mengijinkan peluru-peluru menghancurkan tembok tempat kami berlindung.

 Kumandang adzan maghrib terdengar. Sementara, kami disini masih harus bertahan di antara dentuman senjata dan ledakan-ledakan bom para tentara itu. Amunisi sudah mulai habis, tapi semangat kami tidak ada habisnya. “Pergilah nak, biar aku sendiri yang menghadapi mereka.” Ucap ayahku. Aku terkejut. “Tidak ayah! Aku tidak akan menyerah ! Kalopun aku harus mati disini, aku siap. !” Jawabku penuh semangat. “Aku tidak menyerah. Menyerah hari ini untuk berjuang hari esok. Aku tidak sendiri. Aku bersama Allah dan para malaikatnya.” Jawab ayahku. Aku hanya terdiam. Air mata ku tidak mampu lagi aku tahan. Ia mulai menetes dari sudut-sudut mata ini. “Razak, bawa Ishaq pergi bersama kalian” ucap ayahku. “Lalu bagaimana denganmu? Biarlah Husein yang membawanya. Aku disini bersamamu” Jawab Razak. “Tidak. Ini rumahku, akulah yang bertanggung jawab menjaganya. Kalian harus melindungi anaku. ” jawab ayahku lagi. Razak terdiam. “Peganglah ini. Allah bersamamu.” Razak memberikan sebuah al-quran kecil kepada ayahku. Kemudian ia menarik aku untuk segera pergi. “Tapi Ayaah ! Apa yang akan ayah lakukan disini sendiri ?” ucapku. “Aku mau shalat nak. Ini sudah masuk waktu maghrib.” Jawab ayaku sambil tersenyum. Senyuman yang begitu cerah seperti tidak ada sedikitpun rasa takut di hatinya. “Sampai berjuma lagi saudaraku. Sampaikan salamku kepada baginda Nabi Muhammad SAW.” Ucap Razak. “Tentu saja. Akan kuceritakan perjuangan kalian kepada-NYA.” Jawab ayahku sambil tersenyum. Setelah itu kami bertiga pergi. Kini, tinggalah ayahku sendiri.

Di Dalam Rumah :

Rayan terdiam. Ia menatap bingkai foto yang tergantung di dinding rumahnya. Air matanya pun seketika menetes. Kemudian ia mengambil wudhu dan bersiap untuk shalat. Itu bisa jadi shalat terakhir untuknya. Dalam shalatnya, ia berdoa.

Ya Allah. Aku bersujud kepadamu. Ampuni aku atas segala dosaku. Berikanlah aku kekuatan untuk cobaan yang sedang aku alami ini. Jauhkanlah aku dari rasa takut.Lindungilah aku dari para orang-orang jahat itu. Lindungi anak dan istriku ya Allah. Serta lindungilah mereka yang berjuang di jalan-Mu. Karena hanya Engkau lah yang maha melindungi dan memberi pertolongan. Berikanlah surga kepada mereka yang telah syahid di jalan-Mu. Amin Ya Rabbal Alamin.”

Setelah itu ia bersujud. Sujud yang sangat lama. Sujud terakhir dalam hidupnya. Kemudian ia bangkit dan mengambil senjata di sampingnya. Bersiap kembali membalas serangan para tentara Jahannam itu. “TIDAK ADA SENJATA YANG LEBIH BAIK DARI SENJATA MILIK ALLAH !!! ALLAAAAAHU AKBAAAR !!!” ia berteriak dengan lantang. Seketika itu hati para tentara bergeming. Rasa takut menyelimuti hati mereka. Ketakutan yang sangat amat mendalam. Tapi itu tidak membuat mereka pergi. Mereka malah semakin giat melancarkan serangan.Hingga bangunan itu hancur bersama Rayan di dalamnya.

Di Tempat Persembunyian Mujahidin :

Aku, Razak dan Husein telah sampai di tempat persembunyian para mujahidin. Disana terlihat beberapa orang mujahidin serta ibu dan adiku. “Dimana Rayan ?!” Tanya ibuku sekembalinya kami. “Ia sedang di jalan untuk bertemu dengan baginda Nabi Muhammad.” Jawab Razak. Ibuku menangis. Air matanya tak terbendung lagi. Ia memeluk aku dan adiku. Semua orang disitu terdiam. Kemudian kami membaca surat Al-Fatihah untuk mereka yang telah syahid. Razak dan lainnya berusaha menenangkan ibuku. Aku masih tetap terdiam. Dalam hatiku berkata “Kenapa ini harus terjadi kepada kami? Apa salah kami? Apa salah kami? Ya Allah, beri kami kekuatan dan ketabahan. Tempatkan lah ayahku di sisi-Mu. Amin.”


Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home