Aku Menyesal


Sumber : Here




Aku duduk termangu di samping sebuah batu. Angin berembus menghantam tubuhku yang rapuh. Kupandangi barisan semut yang berjalan tepat di depanku. Sungguh, aku malu. Bahkan jika dibandingkan dengan makhluk sekecil itu pun, aku kalah tangguh. Pekerja keras. Sedangkan aku?

“Ayah, aku lelah,” ucapku lirih.

Dia tak menjawab. Suasana yang sangat sepi membuat deru angin semakin jelas di telingaku. Aku semakin tertunduk seolah menopang batu besar di kepalaku.

“Menjadi dewasa itu ternyata sulit, Yah.”

Tetap tidak ada jawaban.

“Aku menyesal karena dulu selalu mengabaikan kata-kata Ayah. Ayah yang dulu selalu mengingatkanku untuk belajar, tapi aku malah asyik bermain tanpa mau mendengar. Dan sekarang, aku merasakan dampaknya. Banyak yang aku tidak tahu, karena aku mengabaikan waktu. Aku menyesal, Yah.

Langit meredup, seolah mengerti akan apa yang sedang aku rasakan.

“Yah, ternyata mencari uang itu sulit. Anakku sudah kelas enam, sebentar lagi ujian. Pasti butuh banyak biaya. Sedangkan, iuran sekolah yang sudah dua bulan pun belum mampu kubayar. Upah dari pekerjaan yang aku dapat hanya cukup untuk makan sehari-hari, kadang aku harus mencari pinjaman untuk mencukupi kebutuhan lainnya. Aku bingung, Yah,

bola mataku mulai berkaca-kaca.

“Aku menyesal. Aku menyesal dulu tidak pernah menghargai pemberian Ayah. Aku selalu marah ketika uang jajan yang Ayah berikan kuanggap kurang. Yang aku lakukan hanya meminta, tanpa pernah aku memikirkan betapa sulitnya mencari uang. Aku selalu merengek meminta uang untuk bermain dan aku hamburkan begitu saja. Aku tidak pernah menyadari seberapa banyak keringat yang Ayah kucurkan untuk mendapatkannya. Semasa sekolah dulu, aku sering membolos, aku tidak serius selama belajar, aku sering meminta uang dengan alasan untuk mengerjakan tugas, padahal aku gunakan uang itu untuk nongkrong dengan teman-teman. Aku selalu memaksa dibelikan sesuatu hanya karena teman-temanku memiliki itu. Tapi aku tidak pernah tau, betapa keras usaha yang Ayah lakukan untuk mendapatkannya. Kadang, aku diam-diam mengambil uang simpanan Ayah, padahalmungkinuang itu akan digunakan untuk keperluan yang lebih penting. Aku menyesal,Yah. Ayah mau memaafkan aku?”

Bendunganku tak mampu bertahan lagi. Sedikit demi sedikit ia mulai mengalir melewati sudut pipi.

“Aku juga menyesal. Dulu, aku tidak pernah mensyukuri apa yang kupunya. Ayah ingat Darto? Teman kecilku? Ayahnya punya mobil. Setiap pagi, ia selalu diantar oleh supir. Aku selalu meminta Ayah membeli mobil, karena aku ingin seperti Darto. Padahal, Ayah selalu mengantarkan aku dengan sepeda sebelum berangkat kerja. Jarak dari sekolahku ke tempat Ayah kerja, kan, cukup jauh. Atau, Ayah ingat waktu aku menangis seharian karena ingin dibelikan playstation? Ayah sampai rela menjual biola kesayangan Ayah. Ayah pergi dalam keadaan hujan. Hanya karena aku. Hanya karena Ayah ingin aku berhenti menangis. Aku selalu berpikir, seandainya aku menjadi orang lain. Aku tidak pernah mensyukuri apa yang kupunya. Aku menyesal, Yah. Aku menyesal. ”

Butir air mata itu semakin deras mengalir. Satu persatu menetes ke tanah. Burung wiwik kelabu yang sejak tadi memerhatikanku pun pergi, seolah ia tidak sudi melihatku.

“Oh iya, Yah, sudah berapa lama aku tidak datang kemari? Rumah Ayah sudah kotor. Rumput-rumputnya pun mulai tinggi, biar aku bersihkan.”

Aku mulai mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar rumah ayahku.Aku keluarkan saputangan biru dari saku celanaku. Aku menyeka tanah yang menempel di keramiknya. Kemudian aku melihat alroji yang terpasang di tangan kiriku. Sudah hampir maghrib.

“Yah, aku harus segera pulang. Anak dan istriku pasti sudah menunggu di rumah. Sekali lagi, maafkan aku, Yah. Oh iya, tolong sampaikan salamku pada Ibu. Aku pamit, Yah.

Aku bangkit. Kuusap air mata yang tersisa di sudut mataku. Sebelum pergi, aku simpan saputangan yang kupakai tadi di atas batu nisan ayahku. Baru kemudian kumelangkah pergi meninggalkan pemakaman itu.

Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

16 comments:

  1. Ini flash fiction kah? Sedih gue bacanya mas. :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, jangan sampai kamu menyesal seperti lelaki itu :)

      Delete
  2. Kesian ya.. Tapi paling sedih sih nasib anaknya yang kelas 6 itu.. Mau sekolah aja susah.. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener, harusnya sih sekolah nya gratisin ya :3

      Delete
  3. Gue jadi terharu dan merasa banyak salah dan tak ingin lagi suka mengeluh. Kren Bro ceritanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, belajar dari cerita ini, bro. Thanks!

      Delete
  4. ngeri banget bro... merinding,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngeri kenapa ? kan bukan cerita horror :3

      Delete
  5. semoga jadi pembelajaran buat kita semua ya mas.
    agar jadi orang yang pandai bersyukur.

    ReplyDelete
  6. Dari awal ketebak kalo lagi ngobrol sama kuburan. :p
    Enak sih, pembacanya terhanyut. Sedih juga. Pemilihan diksinya juga lumayan. Tapi ada dialog yang kepanjangan. ( Sok ngasih tau, padahal gue aja susah ngerangkai kata pake diksi yang bagus ) Sorry yak, saran aja. :) Pas lagi di makam kalo ada gambar ilustrasinya pasti lebih mantep. Lanjutkan, Bro!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kritik dan saran setajam apapun di terima disini. Terimakasih, bro :)

      Delete
  7. *Editor datang*
    Oh, udah di-post, toh.
    *kemudian hilang*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kiriman gue yang satu lagi belum di lirik sepertinya, ya? ~

      Delete
  8. *sesenggukan* gak tahu mau ngomentarin apah. oh iya, ituh 'arloji' bukan 'alroji', apalagi 'algajali'.

    ReplyDelete
    Replies
    1. *kasih handuk*

      Oh iya kayaknya jari gue kepeleset pas ngetik :3

      Delete