Gaza!


Sumber : Google



Suasana sore itu cukup tenang. Orang-orang di sekitar rumah ku sedang membersihkan puing-puing yang berserakan di depan rumah mereka. Puing-puing bekas ledakan oleh tank-tank milik tentara Zionis Israel. Namaku adalah Ahmad Ishaq Ramlawy. Orang memanggil ku Ishaq. Aku tinggal di kota Gaza. Kota yang saat ini sedang terjadi konflik antara Palestina dan Israel. Aku sendiri tidak tahu apa salah kami hingga di usir dari tempat kelahiran kami. Sudah 18 tahun aku tinggal disini. Berkali-kali para mujahidin-mujahidin islam meminta kepada keluarga kami untuk pergi mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tapi Rayan yang tidak lain adalah ayahku selalu menentang. Ia dengan tegas mengatakan “Aku tidak sudi di usir oleh para tentara Jahanam itu !” ayah ku bersikeras tidak mau pergi. Walaupun kami harus merasa ketakutan ketika pesawat-pesawat Israel itu terbang melintasi atap rumah kami. Tapi ayahku tidak gentar sedikitpun. Ia senantiasa memberi kami semangat dan menenagkan hati kami. Bahkan, ibuku Fatima selalu membujuk ayahku untuk pergi dari tempat itu. Tapi tetap saja tidak mau. Ayahku malah menyuruh kami pergi mengungsi ke tempat bibiku di Mesir. Awalnya aku ingin sekali pergi, tapi entah kenapa aku tetap tinggal bersama ayahku. Mungkin karena cerita-cerita ayahku yang membuat aku menjadi tidak takut kepada para tentara itu. Ayahku berkali-kali certia tentang surganya Allah. “Nak, ini tempat kita, tempatnya umat muslim. Bukan mereka. Mereka tidak pantas disini. Mungkin mereka punya misil, tank, dan senjata-senjata canggih lainnya. Tapi ingat, kita punya Allah. Allah menjanjikan surganya untuk mereka yang berjihad dijalan Allah. Disana tidak akan ada orang-orang seperti para penjajah itu. Surga itu adalah tempat kita. Ingat itu nak.” Itulah yang sering ayah ceritakan padaku. Sampai aku tidak takut lagi kepada para penjajah itu.

Aku duduk di depan rumah sambil membantu para tetangga membersihkan puing-puing. Tiba-tiba dari arah rumah ibuku memanggil “Ishaaaaaqq !! Cepat kemari nak !!” aku langsung berlari menuju rumah. Sampai di dalam rumah, terlihat ada beberapa orang mujahidin yang meminta kepada kami untuk mengungsi. Tapi seperti biasa, ayahku tetap menolak. Malah, ia meminta aku untuk pergi mengungsi bersama ibu dan adiku Hani yang baru berusia 9 tahun. “Bu, cepatlah pergi. Ajak Hani dan Ishaq pergi ke rumah adikmu di Mesir. Biar aku sendiri yang menjaga rumah ini.” Titah ayah ku. “Tapi disini berbahaya, pa. Kenapa kamu tidak ikut bersama kami?” jawab ibuku. “Aku tidak mau. Aku tidak sudi diusir oleh para penjajah itu!” Jawab ayahku. Aku hanya terdiam melihat apa yang sedang terjadi. Aku bingung. Harus pergi bersama ibuku, atau tetap tinggal bersama ayahku.

DUUUUUMM!!!! Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah luar. Aku melihat melalui jendela. Ternyata telah terjadi serangan. Puing-puing yang baru saja di bersihkan kembali berserakan. Tetangga-tetangga yang tadinya membersihkan puing pun sudah tidak terlihat. Sepertinya mereka sudah pergi mengungsi. “Ishaaq ! Cepat kau pergi ke rumah bibikmu. Ajak adik dan ibumu !” ayah menyuruhku untuk segera pergi. “Ahmed ! cepat kau ajak mereka pergi” ucap salah seorang mujahidin kepada temannya. Kemudian ibuku bersiap pergi sambil menuntun adiku Hani. “Ishaq! Cepat !” Perintah ayahku. “Aku tidak mau. Aku ingin disini. Aku ingin berjuang bersama ayah !” Jawabku. Semua orang terdiam memandangiku. “Aku ingin berjuang di jalan Allah !” sekali lagi aku katakan dengan tegas. Ahmed salah seorang mujahidin itu segera menarik ibuku pergi. “Allah bersama kalian !” ucap ibuku sebelum menghilang dibalik tembok. Kini hanya tinggal aku, ayahku, dan empat orang mujahidin lain. Kami disini untuk berjuang. Berjuang di jalan Allah.

“Nak, ingat ! Surga Allah menanti kita!” sekali lagi ayahku memberi semangat. Dengan bersenjatakan senapan serbu AK-47, satu pelontar roket dan beberapa butir granat. Kami siap menghadang mereka. Mereka yang mencoba mengusir kami dari tempat kelahiran kami. “Allahu Akbar !!!” teriak kami serentak. Di luar terlihat beberapa tentara zionis dan sebuah tank sedang mencari-cari para mujahidin. Memang besar kuasa Allah, para tentara itu tidak bisa menemukan para mujahidin. Kami bersiap menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan balasan. Yusuf, salah seorang mujahidin pergi menuju atap sambil membawa peluncur roket. Salman dan Razak bersiap dari belakang rumah. Sedangkan aku, ayahku dan husein seorang mujahidin bersiap di dalam. “Ingat nak, Allah bersama kita !!!” tegas ayah memberi semangat.

Kami bersiap di celah jendela. Menunggu waktu yang tepat. Salman pemimpin dari para mujahidin itu memberi signal untuk menyerang. Kami langsung menekan pelatuk yang ada pada senjata kami. Ayah pernah mengajariku bagaimana cara menembakan senapan. Ttreeeet.......treeeeettt.... suara senapan yang keluar dari senjata kami. Para tentara itu tersentak menerima serangan balasan dari kami. Tapi itu tidak membuat mereka pergi. Mereka hanya sembunyi dan memberikan serangan balasan. Duuuuuummm !!!! suara tembakan dari tank yang mengarah ke arah kami. Untung saja bangunan itu cukup kuat menerima hantaman peluru dari tank tentara Zionis itu. Dua orang tentara Zionis jatuh terkena peluru yang berasal dari senjata kami. “Allaaahu Akbaar !!” teriak salah seorang mujahidin yang menambah semangat kami untuk membalas serangan para tentara itu.

“Kenapa roketnya tidak di tembakan ?!” tanya Salman. “Biar aku lihat.” Jawab Husein. Husein pergi menuju atap. “Yusuf telah syahid.” Ucap Husein sekembalinya dari atap sambil membawa peluncur roketnya. “Baiklah, biar aku yang lakukan” ucap Salman. Salman pergi keluar sambil membawa peluncur roket. Roket itu di tembakan dan tepat mengenai sasaran. Tank tentara Zionis itu hancur terkena hantaman roket Salman. Namun sayangnya, Salman tertembak tepat di bagian dada kirinya. Darah segar mengalir. “Sampai jumpa di surga nanti saudaraku !” Salman telah syahid. Kini tinggal kami berempat. Sedangkan diluar sana tentara zionis itu menyerang kami tiada ampun.

Sudah dua jam sejak serangan awal tadi. Kami tetap bertahan didalam. Para tentara itu pun masih terus melanjutkan serangannya. Sekeras apapun roket yang menghantam bangunan kami, bangunan itu tidak hancur. Sungguh besar kuasa Allah. “Jika harus mati sekarang, yakinlah. Kita mati di jalan Allah. Surga balasannya !” teriak Ayahku memberi semangat. Rasa takut yang menyelimutiku pun seketika hilang. Pertempuran cukup sengit. Peluru-peluru berterbangan mencari sasaran. Tapi tidak bisa menembus tembok tempat kami berlindung. Terdengar mustahil memang, tapi tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Bangunan itu seperti di jaga oleh para Malaikat yang tidak mengijinkan peluru-peluru menghancurkan tembok tempat kami berlindung.

 Kumandang adzan maghrib terdengar. Sementara, kami disini masih harus bertahan di antara dentuman senjata dan ledakan-ledakan bom para tentara itu. Amunisi sudah mulai habis, tapi semangat kami tidak ada habisnya. “Pergilah nak, biar aku sendiri yang menghadapi mereka.” Ucap ayahku. Aku terkejut. “Tidak ayah! Aku tidak akan menyerah ! Kalopun aku harus mati disini, aku siap. !” Jawabku penuh semangat. “Aku tidak menyerah. Menyerah hari ini untuk berjuang hari esok. Aku tidak sendiri. Aku bersama Allah dan para malaikatnya.” Jawab ayahku. Aku hanya terdiam. Air mata ku tidak mampu lagi aku tahan. Ia mulai menetes dari sudut-sudut mata ini. “Razak, bawa Ishaq pergi bersama kalian” ucap ayahku. “Lalu bagaimana denganmu? Biarlah Husein yang membawanya. Aku disini bersamamu” Jawab Razak. “Tidak. Ini rumahku, akulah yang bertanggung jawab menjaganya. Kalian harus melindungi anaku. ” jawab ayahku lagi. Razak terdiam. “Peganglah ini. Allah bersamamu.” Razak memberikan sebuah al-quran kecil kepada ayahku. Kemudian ia menarik aku untuk segera pergi. “Tapi Ayaah ! Apa yang akan ayah lakukan disini sendiri ?” ucapku. “Aku mau shalat nak. Ini sudah masuk waktu maghrib.” Jawab ayaku sambil tersenyum. Senyuman yang begitu cerah seperti tidak ada sedikitpun rasa takut di hatinya. “Sampai berjuma lagi saudaraku. Sampaikan salamku kepada baginda Nabi Muhammad SAW.” Ucap Razak. “Tentu saja. Akan kuceritakan perjuangan kalian kepada-NYA.” Jawab ayahku sambil tersenyum. Setelah itu kami bertiga pergi. Kini, tinggalah ayahku sendiri.

Di Dalam Rumah :

Rayan terdiam. Ia menatap bingkai foto yang tergantung di dinding rumahnya. Air matanya pun seketika menetes. Kemudian ia mengambil wudhu dan bersiap untuk shalat. Itu bisa jadi shalat terakhir untuknya. Dalam shalatnya, ia berdoa.

Ya Allah. Aku bersujud kepadamu. Ampuni aku atas segala dosaku. Berikanlah aku kekuatan untuk cobaan yang sedang aku alami ini. Jauhkanlah aku dari rasa takut.Lindungilah aku dari para orang-orang jahat itu. Lindungi anak dan istriku ya Allah. Serta lindungilah mereka yang berjuang di jalan-Mu. Karena hanya Engkau lah yang maha melindungi dan memberi pertolongan. Berikanlah surga kepada mereka yang telah syahid di jalan-Mu. Amin Ya Rabbal Alamin.”

Setelah itu ia bersujud. Sujud yang sangat lama. Sujud terakhir dalam hidupnya. Kemudian ia bangkit dan mengambil senjata di sampingnya. Bersiap kembali membalas serangan para tentara Jahannam itu. “TIDAK ADA SENJATA YANG LEBIH BAIK DARI SENJATA MILIK ALLAH !!! ALLAAAAAHU AKBAAAR !!!” ia berteriak dengan lantang. Seketika itu hati para tentara bergeming. Rasa takut menyelimuti hati mereka. Ketakutan yang sangat amat mendalam. Tapi itu tidak membuat mereka pergi. Mereka malah semakin giat melancarkan serangan.Hingga bangunan itu hancur bersama Rayan di dalamnya.

Di Tempat Persembunyian Mujahidin :

Aku, Razak dan Husein telah sampai di tempat persembunyian para mujahidin. Disana terlihat beberapa orang mujahidin serta ibu dan adiku. “Dimana Rayan ?!” Tanya ibuku sekembalinya kami. “Ia sedang di jalan untuk bertemu dengan baginda Nabi Muhammad.” Jawab Razak. Ibuku menangis. Air matanya tak terbendung lagi. Ia memeluk aku dan adiku. Semua orang disitu terdiam. Kemudian kami membaca surat Al-Fatihah untuk mereka yang telah syahid. Razak dan lainnya berusaha menenangkan ibuku. Aku masih tetap terdiam. Dalam hatiku berkata “Kenapa ini harus terjadi kepada kami? Apa salah kami? Apa salah kami? Ya Allah, beri kami kekuatan dan ketabahan. Tempatkan lah ayahku di sisi-Mu. Amin.”


Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

7 comments:

  1. Yang ini? Lo udah pernah ngasih ini ke gue bukan, sih?
    No edit, ya? Lo perlu belajar banyak soal self editing.
    Idenya, sih, gue rasa bagus. Tapi penceritaannya membosankan banget. Ditambah lagi beberapa kali lo pakai istilah-istilah yang gak umum. Harusnya lo kasih semacam footnote di akhirnya.
    Kalimat-kalimat yang ada di sini juga bisa dipadatkan lagi. EYD...... parah. Coba tambah referensi baaan lo. Nanti baru lo baca ulang tulisan lo. Rasain setelahnya, pasti akan banyak yang janggal dan gatel buat lo edit sendiri.
    Keep writing!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sorry ini cerita baru.
      Hmm baiklah. Terimakasih!!!

      Delete
  2. hmm, ini membuat haru. buat gue yang nggak terlalu ngerti ilmu tulis menulis.. ini keren :)
    apalagi waktu adegan bunyi bom terdengar. DUUUUUUUUUM!

    ReplyDelete
    Replies
    1. eho bro, followback blog gue dong :)

      Delete
    2. Ahaaaa terimakasih banyak !! :)

      Baiklah :)

      Delete
  3. Gaza, perjuangan yang tak terlupakan

    ReplyDelete