Surat Untuk Pelukis #4






Teruntuk pelukisku,

Sehat kah kau disana? Semoga sehat selalu, ya ! kabarku disini baik-baik saja. Jadi, kau tak perlu mengkhawatirkan keadaanku.

Pelukisku, ada pesan dari hati yang mencintaimu. Rindu. Ya, hati kecil ini selalu berteriak-teriak memanggil namamu. Sampai sakit dada ini mengurung ingin untuk bertemu. Dinding hatiku menebal oleh rindu atasmu. Seringkali, kubersusah payah menenangkannya kembali. Namun apa daya, teriakan di dada tak kunjung reda. Kadang meledak, kadang menghilang, tapi lebih sering kembali datang. Bagai balon yang sudah kelebihan udara. Siap meletus kapan saja.

Pelukisku, ada pesan lagi dari mata yang rindu menatap wajahmu. Bendunganku hampir pecah, namun masih dapat kucegah. Kadang, ia tak ingin berjumpa dengan pejam. Memintaku untuk terus menatap lewat lukisan indah tentangmu. Betapa inginnya ia menghabiskan waktu untuk selalu memandangimu

Pelukisku, kali ini akan kusampaikan pesan dari telinga yang merindu suaramu. Ia selalu saja memintaku untuk mendengarmu. Ya, walau hanya sekadar ucapan “hallo” saja. Suaramu adalah melodi favoritnya. Sama seperti mata, ia pun tak mengenal waktu. Sampai-sampai aku bingung bagaimana harus menghadapinya. Kadang, rindu seketika membuatnya gila. Suara lain pun terdengar bagai kamu sumbernya. Begitulah ia.
 
Pelukisku, jemari ini pun tak luput untuk memintaku menyampaikan pesan padamu. Ia juga sangat rindu saat di mana sela jemari ini terisi olehmu. Merindukan belaian lembut darimu. Ia selalu merengek memintaku mempertemukannya dengan jemari lentikmu itu. Ia rindu membelai lembut rambutmu, menggenggam erat lenganmu, menjadi pegangan bagimu.

Dan yang terakhir, pesan dari otakku. Rasanya ia mulai menjadi gila. Setiap jam, menit, detik, ia tak henti memikirkanmu. Bagai hamster yang berlari di atas roda putarnya, kau terus menerus berlari mengelilingi isi kepala ini. Selalu menjadi pemeran utama dalam mimpiku kala kulelap dalam alam bawah sadarku. Aku selalu berusaha membuatnya melihat sudut lain, tapi selalu saja kembali tertumbuk pada yang tak lain adalah kamu. Ya, kamu: pelukisku.

Pelukisku, itulah pesan-pesan dari mereka yang amat-sangat merindukanmu. Semoga rindu ini bisa segera tersampaikan ya.

Dari aku yang merindukanmu,


Agung Adiwangsa
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

2 comments:

  1. Tetaplah merindu kepadanya, juga kepada siapa saja yang memang pantas untuk dirindukan :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baik. Rindu ini akan aku berikan kepada orang yang tepat ! :D

      Delete