Surat Untuk Pelukis #7


Teruntuk Pelukisku,


Aku ingin bertanya padamu. Apakah kamu sering mengadu? Kepada siapa kamu mengadu? Apa temanmu? Atau orang tuamu?

Aku punya sedikit masalah dalam hal berkeluh kesah. Ya, yang sering orang sebut dengan “Curhat.” Aku sangat sulit curhat pada orang lain. Padahal, aku merasa aku sangat ingin menceritakan masalahku. Sekedar untuk mengurangi beban yang aku rasakan. Tapi, entah kenapa rasanya sulit sekali.

Ketika aku akan mulai untuk bercerita, aku menjadi bingung. Aku bingung bagaimana cara menceritakannya. Kata apa yang harus aku gunakan untuk bercertita. Kalimat seperti apa cocok untuk menceritakan masalahku. Terdengar aneh memang, tapi seperti itulah adanya. Dan itu pula yang membuatku tidak pernah jadi ketika akan curhat pada orang lain.

Ketika aku akan bercerita, aku terlalu banyak berpikir. Misalnya, aku ingin sekali curhat. Tapi sebelum aku memulainya, aku akan berpikir. “Masalah mana yang harus aku ceritakan?”,”Kira-kira, masalah ini penting gak?”,”Masalah yang akan aku ceritakan ini patut untuk di ceritakan tidak?”,”Apa dia akan mengerti dengan yang aku ceritakan?” pokoknya, setiap kali aku akan mulai untuk curhat, akan ada banyak pertanyaan di pikiranku. Aku juga sering merasa takut mengganggu orang yang akan aku jadikan tempat curhat. Atau, kadang aku berprasangka buruk pada mereka. Aku berpikir “ah, mungkin dia gak akan peduli denganku” atau aku mengira orang lain akan berpikiran “yaelah, masalah gini doang dipikirin, lebay.” Aku juga sering berpikir “percuma aku cerita, itu tidak akan membuat masalahku selesai.” Dan akhirnya, aku tidak jadi curhat.

Orang yang jadi tempatku curhat pun kadang menyebalkan. Setelah mereka mendengar ceritaku, mereka hanya menjawab “Yaudah, sabar, ya.” Atau, mereka selalu menganggapku benar. Mereka akan membuat aku merasa telah melakukan hal yang benar dan menyalahkan orang lain, padahal kenyataannya aku yang salah. Aku tidak suka dengan jawaban yang seperti itu. Tanpa perlu mereka bilang, aku sudah tahu sabar itu perlu. Aku perlu solusi atas permasalahanku, bukan kata “sabar.” Aku juga tidak suka dengan mereka yang selalu menganggap apa yang aku lakukan itu benar. Karena, dengan begitu, aku tidak pernah tahu kesalahanku di mana. Bagaimana aku akan mengkoreksi diri jika aku sendiri tidak tahu salahku di mana? Memang bodoh jika aku berpikir seperti ini. Sudah bagus ada yang mau mendengarkan. Tapi, pikiran seperti ini juga yang membuatku tidak jadi curhat.

Beruntung saat ini aku kenal dengan seorang teman yang mau mendengar curahan hatiku. Dan dia pun tidak seperti orang lain yang selalu membenarkan caraku. Dia akan menyalahkan aku jika yang aku lakukan itu salah. Bahkan, dia juga tidak segan untuk memarahiku. Aku suka caranya. Mengkritik, tapi kritik yang membangun.

Pelukisku, itu hanya sedikit yang aku rasakan perihal “curhat.” Sampai-sampai membuat orang lain kesal. Aku sering mengirim SMS pada temanku dengan maksud ingin curhat. Tapi ketika temanku membalas, aku akan menjawab “gak jadi.” Atau “ah, manggil aja.” Itu karena selama menunggu balasan, pikiran-pikiran tentang yang aku certiakan di atas itu akan muncul, hingga akhirnya aku tidak jadi curhat. Mereka sampai bilang “ah, kebiasaan!”

Mengidap “penyakit.” Seperti ini kadang menyakitkan. Ketika aku merasa bebanku sangat berat dan aku sangat ingin menceritakannya pada orang lain, tapi aku tidak bisa. Aku sering mencari sendiri penyelesaian untuk masalahku, tapi tidak semua dapat kuselesaikan. Atau, ketika aku sudah tidak kuat menanggungnya, aku akan menceritakan dengan cara menganggap diriku seolah orang lain yang mempunyai masalah sama sepertiku, padahal nyatanya itu adalah aku. Ah! Aku memang menyebalkan !

Pelukisku, itu yang ingin aku ceritakan padamu lewat suratku kali ini. Terimakasih sudah mau menjadi tempatku untuk berkeluh kesah. Kamu akan selalu menjadi tempatku mengadu.

Salam sayang,


Agung Adiwangsa
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

7 comments:

  1. Ahhh. Dalem sekali, Gung. :))
    Curhat itu emang penting, sih. Menurut gue, kalo curhat itu rasanya kayak abis boker. Legaaaaa. Hahaha. Kalo ditahan-tahan nggak enak. Sakit sendiri. Tapi ya gitu, masih jarang orang yang bisa dipercaya. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin gue kayak orang yang susah boker kali ya? yakali -_- :D

      Delete
  2. hmm, coba ya kalau yang diatas benar-benar bisa diajak curhat.
    pati enak, bisa minta dikirim bidadari juga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini gue lagi curhat sama yang di atas ...

      Delete
  3. cc : @sipelukis :' biar dia peka

    ini komentar macam apa ._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Macam apa hayo? macam-macam sepertinya..... ._.

      Delete
  4. Febri memang gak tau diri!!
    Hmm kalo menurut gue lo belum nemu orang yang pas aja. Curhat nggak bisa ke sembarang orang gung. :)

    ReplyDelete