Tama, seorang pemuda yang berasal dari Bogor, sudah dua minggu selalu tidur ketika pagi tiba. Insomnia, itu yang sering ia katakan. Ketika malam, matanya selalu terjaga. Banyak cara yang ia lakukan agar bisa tertidur. Temannya bilang, saat ia membaca, ia akan merasa ngantuk. Tama pun mencobanya, ia memang suka membaca. Tapi, bukan kantuk yang datang, ia malah asik dengan bacaannya. Sudah banyak buku habis ia baca.

Saran dari temannya sudah ia lakukan, satu pun tidak ada yang mampu membuatnya tertidur. Konsultasi ke dokter juga pernah. Berhasil memang, ia bisa tidur, tapi tidak lebih dari satu jam. Setelah itu, matanya kembali segar. Ketika pagi tiba, ia tertidur. Lagi-lagi hanya sebentar. Akhirnya, Tama mengambil satu kesimpulan. Ia diguna-guna. Ia mulai mencari 'orang pintar' untuk menyembuhkan penyakitnya. Sampailah ia pada Pak Hassan -'orang pintar' yang tinggal di desa Cigombong.

“Pak, sudah dua minggu saya tidak bisa tidur. Beberapa saran dari teman sudah saya kerjakan. Satu pun tidak ada yang berhasil. Obat dokter juga saya minum. Memang, saya bisa tidur, tapi cuma sebentar. Saya takut diguna-guna sama orang.” Tama menjelaskan.

“Hmm... sebenarnya, saya tidak bisa menyembuhkan orang. Itu semua kuasa Allah. Pertama, kamu harus yakin, bahwa Allah pasti menyembuhkanmu,” Pak Hassan diam, ia seperti sedang berpikir.
“Selama kamu tidak bisa tidur, apa yang kamu lakukan?” lanjutnya.
“Saya suka baca buku. Pokoknya, melakukan apa pun yang mengundang kantuk.”
“Kapan terakhir kamu baca Al-quran dari awal sampai akhir?”
“Wah, saya lupa, Pak. Dulu saya pernah belajar ngaji. Tapi, baca Al-quran kayaknya belum deh. Apalagi dari awal sampe akhir.” Tama sedikit malu.
“Kapan kamu terakhir shalat malam?”
“Itu juga saya lupa, Pak. Kayaknya udah lama.”

Pak Hassan masuk ke dalam kamarnya. Ia keluar sambil membawa sebotol air.

“Ini, nanti kalo sampe di rumah, kamu minum terus cuci muka pake air ini.” 
“Baik, Pak.”
“Terus, kamu shalat malam. Habis itu baca surat Al-fatihah dilanjutkan dengan surat berikutnya. InsyaAllah.”

Tama kembali ke rumahnya. Menjalankan apa yang di perintah oleh Pak Hassan. Biasanya, ia menghabiskan waktu dengan menonton atau membaca buku. Kali ini tidak, ia mengerjakan saran dari Pak Hassan. Tama sangat jarang membaca Al-quran, sudah lama ia tidak mengaji. Lidahnya terasa kelu ketika membaca ayat Allah itu.

Waktu terus berlalu, Tama semakin rajin menemui Pak Hassan. Setiap satu surat habis dibacanya, ia pasti menemui Pak Hassan. Tapi, penyakitnya itu tetap saja bersarang di tubuh Tama. Sekarang, sudah genap satu bulan ia tidak bisa tidur. Ia juga sudah selesai membaca satu Al-quran, dan harus memulai dari awal.

“Pak, saya sudah selesai baca semua surat. Tapi, kok masih gak bisa tidur?”
“Kamu mulai lagi dari awal.”
“Tapi, sampai kapan, Pak?”
“Coba kita lihat kembali ke belakang. Bagaimana awalnya kamu tidak bisa tidur ?”
“Dulu, saya emang sering begadang, Pak. Biasanya, saya suka tidur jam tiga pagi.”
“Apa yang kamu lakukan selama itu?”
“Kumpul sama temen, nonton film, baca buku. Wah, pokoknya banyak.”
“Pas kamu kena penyakit itu, apa yang kamu lakukan supaya tertidur?”
“Sama, saya sering kumpul sama teman, nonton film, atau baca buku.”

Pak Hassan diam. Ia seperti memikirkan sesuatu.

“Kamu sudah temukan obatnya?”
“Belum, Pak. Makanya saya konsultasi sama Bapak.” Tama mulai terlihat bingung.
“Sebenarnya, saya juga sama seperti kamu. Susah tidur.”
“Jadi? Bapak sendiri gak tau obatnya?”

Pak Hassan menggelengkan kepalanya.

“Kalo gitu, ngapain saya nanya sama Bapak?” wajah tama mulai terlihat kesal. Ternyata Pak Hassan juga mengalami hal serupa dengan Tama.
“Saya cuma mengubah kebiasaan kamu.”
“Maksudnya?”
“Coba bandingkan kebiasaanmu sekarang dan sebelumnya. Dulu, kamu hanya menonton film, membaca, dan lain-lain. Sekarang, kamu lebih sering membaca Al-quran. Kamu tidak sadar itu lebih baik?”

Tama terdiam. Ia serius mendengarkan penjelasan Pak Hassan.

“Sekarang, kamu bayangkan, di umurmu saat ini, kamu belum pernah membaca Al-quran. Jika tidak dipaksakan, kapan kamu mau mulai membaca? Saya cuma tidak ingin kamu menyesal seperti saya sekarang.”


***

Ketemu lagi sama #memfiksikan. Temanya TIDUR. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kalian. Suatu hal buruk tidak harus dipandang dengan cara yang buruk juga. 

Oh iya, #memfiksikan udah ada di twitter. Silakan follow @memfiksikan


Best regards



Agung Adiwangsa
Teman, aku ingin berbagi sedikit cerita denganmu. Aku sedih. Rasanya, aku mulai dilupakan. Entah ini hanya perasaanku saja, atau memang benar. Dulu, orang berlomba-lomba mendatangiku. Mereka sangat perhatian kepadaku. Jika aku sakit, mereka akan mengobatiku. Memperbaiki bagian yang rusak.

Aku kesepian. Sebenarnya, aku tinggal di tempat yang ramai. Tapi, aku tetap merasa sendiri. Banyak orang yang lalu lalang di depanku. Mereka hanya lewat begitu saja. Kadang, ada beberapa yang beristirahat bersamaku. Aku bersyukur, masih ada yang membutuhkanku, walaupun hanya sebagai tempat istirahat.

Teman, aku rindu. Rindu mereka yang selalu datang padaku. Menemaniku setiap waktu. Aku selalu menunggu kedatangan mereka. Dini hari sebelum orang bangun, aku sudah bersiap menyambut. Tapi sayangnya mereka lebih asik tidur. Tidak apa-apa. Mungkin mereka kelelahan. Aku tetap menunggu, sampai larut malam. Tapi, tetap saja tidak ada. Hanya mereka yang masih peduli kepadaku yang datang. Jumlahnya sedikit.

Aku bingung dengan orang-orang zaman sekarang. Sebenarnya, aku ini penting bagi mereka. Tapi, mereka mengabaikanku. Kamu tahu kenapa? Apa hati mereka sudah tertutupi oleh suatu hal? Apa? Hmm.. semoga mereka cepat sadar, ya.

Jauh di sana, temanku sedang berjuang. Dia sedang berperang dengan orang jahat. Oh iya, aku juga sedikit tenang. Ada beberapa temanmu yang baik hatinya mau melindungi temanku itu. Semoga mereka di sana baik-baik saja, ya.

Teman, aku ingin menitip pesan padamu. Tolong sampaikan pada temanmu yang lain agar tidak melupakanku, ya. Aku yakin, masih ada di antara temanmu yang hatinya belum menjadi hitam. Buktinya, setiap minggu masih banyak yang mendatangiku, berdoa bersamaku. Ya, walaupun hanya satu hari dalam satu minggu. Tapi, tidak apa-apa.

Aku tidak akan berhenti mengajak kalian untuk berdoa bersamaku. Ada seorang temanku yang biasa kupanggil dengan sebutan muadzin, dia selalu mengajak kalian untuk datang. Nanti, jika ia memanggil dengan adzan, kamu jangan lupa, ya. Allah, pemilikku, selalu membuka pintu rumah-Nya untukmu.






Best Regards


Agung Adiwangsa
Gue adalah seorang pencinta game. Awalnya, gue cuma liat orang main di rental. Lalu, gue coba dan ternyata ketagihan. Waktu masih sekolah SD, gue sering banget nongkrong di rental yang ada di deket rumah. Gak tanggung, gue bisa di sana dari pagi sampe sore. Pulang cuma buat makan dan minta duit. Orangtua aja kadang suka marah.

Gue gak setuju sama mereka yang bilang “Game itu pembodohan.” gue sangat gak setuju. Game itu tergantung gimana kita maininnya. Gue pribadi, bisa bahasa Inggris karena sering main PS. Serius. Selain itu, game juga hiburan. Jelas, semua orang butuh hiburan dan setiap orang punya caranya masing-masing.

Waktu gue di sunat, uangnya pun gue beliin PS. Masih zamannya PS1. Gak kalah gila dari sebelumnya, gue sering lupa waktu. Percaya atau enggak, kalo weekend, gue suka main dari bangun tidur sampai malem. Gila, kan? Ibu  gue aja udah bingung ngadepin kesukaan gue yang satu ini.

Gue cuma suka main di console Playstation. Itu pun cuma PS1 dan PS2 aja. Gue lebih asik main secara offline. Tapi, bukan berarti gue gak suka main online. Ada beberapa game yang pernah gue mainin. Misalnya : Atlantica, Modoo Marbe, Point Blank, Digimon Masters. Gue main semua itu gak bertahan lama.

Diantara genre game yang ada, gue lebih suka sama tipe RPG (Role Playing Game), FPS (First Person Shooter), dan RTS (Real Time Strategy). Gue suka permainan yang bisa bikin gue mikir. Bukan catur. Sejenis permainan RPG yang ada teka-teki di dalamnya. Kayak Resident Evil. Dalam game itu, banyak teka-teki yang harus dipecahkan. Dulu, gue sama temen pernah lomba namatin satu game. Resident Evil 4. Disaat mereka susah payah mecahin teka-teki yang ada, gue udah mau namatin yang kedua kalinya. Di situ saya merasa bangga.

Gue suka namatin game lebih dari sekali. Biasanya, gue akan main dulu sekali, cuma pengen tau doang tamatnya gimana. Setelah itu, gue akan main lagi untuk menuntaskan semua yang ada di dalam game tersebut. Gue akan berhenti setelah ngerasa puas. Misalnya Suikoden. Yang pernah main pasti tau, dalam game itu ada yang namanya 108 Stars of Destiny, kita diperbolehkan mengumpulkan seratusdelapan orang pendekar. Gue udah sering namatin Suikoden.Ggue berhenti setelah semua pendekar itu terkumpul.

Sampe sekarang, gue masih suka main kalo lagi ada waktu kosong. Ada beberapa game yang suka gue mainin. Final Fantasy XII dan Monster Hunter. Nah, kenapa gue masih suka mainin kedua game itu?

Final Fantasy XII. Gamer pasti tau permainan yang satu ini. Game RPG yang menceritakan tentang petualangan Vaan dan teman-temannya di dunia yang bernama Ivalice. Game ini berhasil bikin gue jatuh cinta. Gue suka sama semua seri Final Fantasy. Dan untuk seri ini, gue belum ngerasa puas. Padahal, gue udah berkali-kali namatin. Lalu, kenapa belum puas juga? Karena gue belum bisa ngalahin Omega Mark III dan Yiazmat. Gue juga belum dapetin Tournesol dan Wyrimhero Blade. Yang pernah main pasti tau apa dan siapa mereka itu.

Monster Hunter. Game besutan CAPCOM ini juga gak bosen gue mainin. Bercerita tentang seorang hunter dari desa Kokoto, yang membasmi para naga yang mengganggu. Dari monster yang seperti lebah, sampai naga yang hampir sebesar gunung. Game ini menarik karena kita bisa membuat senjata dan baju zirah sendiri. Tipe senjatanya pun macem-macem. Gue udah beresin semua quest, tapi gue masih suka main buat ngisi waktu luang. Gue juga suka koleksi armor dan weapon dalam game ini. Dulu, gue suka ikuta gathering sama hunter (para pemain game Monster Hunter) di Bogor. Kami kumpul buat main bareng di PSP.

Walaupun gue udah namatin banyak, ada permainan yang belum pernah gue coba. Mempermainkan wanita, gue gak mau bisa permainan yang itu. Gak mau.

Nah, itu sekilas tentang gue sama yang namanya GAME. Lalu, kalian gimana?



Best Regards



Agung Adiwangsa 


  
Wajah kita saling berdampingan.
Bicarakan hal yang sama seperti biasanya.
Sementara, pahlawan terlihat sibuk sendiri selamatkan masa depan.

Ada perasaan aneh di sini, yang tidak bisa kutemukan di tempat lain.
Saling berbagi waktu tanpa kepura-puraan. 
Tanpa perlu berkata "Aku bahagia","Sedih" atau apa pun.
Karena, kita benar-benar amatlah serupa.

Dalam hari-hari yang telah lewat, banyak hal yang membuat kita lelah.
Tapi, kita tertawa kala mengingatnya.

 You need a time machine?

Kita berencana tuk jelajahi dunia. 
Tapi, ketika aku memikirkannya, kita belum jua ikrarkan satu janji pun.
Seperti sebuah pulau nan nyaman.
Dimana kutak perlu lupakan banyak hal.

Musim perpisahan yang kian menjelang.
Aku tak perlu berkata "Bertahanlah.", atau "Hati-hati." 
Sama seperti diri yang sedang sensitif.
Sembari menggoda satu sama lain, tawa kita menghempas kesunyian.

Jika kita tinggalkan masa depan,
kita bisa hidupkan saat-saat unik yang dipenuhi banyak kejadian kecil.

You need a time machine?

Aku memimpikan sebuah mesin waktu.
Sudah kulalui saat-saat ingin kembali itu, membuatnya pergi menjauh.
Kini, aku tidak perlu mimpi-mimpi itu lagi.

Tiada yang perlu diubah, kutak perlu kembali.

I don't need a time machine!
Teruntuk Pelukisku,

Sudah dua minggu penuh aku selalu tidur menjelang Subuh. Sepertinya, aku benar-benar kembali sakit. Badanku semakin tidak enak. Mataku sering perih. Kedua lenganku terasa sakit. Ini karena aku selalu mengangkat nenekku ketika ia ingin bangun dari tidurnya, atau menidurkannya.

Kondisi nenekku masih belum ada perkembangan. Bicaranya yang sudah tidak jelas membuat kami sulit mengerti apa yang dia ucapkan. Aku kasihan. Aku sering membayangkan jika aku menjadi dia. Menyebalkan ketika kita bicara, tapi orang lain tidak mengerti. Itu juga yang dirasakan nenek. Dia sering marah karena kami tidak mengerti apa yang ia inginkan. Makanya, aku selalu pura-pura mengerti apa yang ia ucapkan, padahal sebenarnya aku menebak-nebak apa yang ia mau. Aku pikir, itu untuk mngurangi sedikit rasa kesalnya.

Malam Minggu kemarin, aku ngobrol berdua dengan seorang bapak. Bapak yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Ia seperti ayahku, karena selalu memberiku nasihat. Ada beberapa nasihat yang ia sampaikan padaku.

Yang pertama, jangan pernah memberi hutang kepada orangtua. Maksudnya, bukan ketika ibumu meminjam uang tapi tidak kamu beri. Tapi, jika ibumu meminjam uang, jangan anggap itu pinjaman. Anggap saja itu pemberian. Dan jika ibumu punya hutang padamu, jangan ditagih.

Yang kedua, jangan pernah sayang kepada sesuatu yang sedikit. Contohnya begini, ketika kamu punya uang lebih, lalu ada orang yang ingin meminjamnya lima ribu, sedekahkan saja. Jangan anggap itu hutang. Ada hak orang lain dalam rejekimu. Jangan sampai Allah mengambilnya secara paksa. Aku juga belum pernah melihat orang miskin karena sedekah.

Yang ketiga, jangan bedakan orang tua. Misalnya begini, ibumu dan ibu temanmu itu sama. Mereka harus kamu hormati. Jangan karena ia adalah ibu dari teman yang kamu benci, lalu kamu jadi ikut membencinya. Dan untuk masa depanmu nanti, ya, semoga masa depan kita berdua, jangan bedakan antara ibumu dan mertuamu.

Peluksiku, aku selalu ingin yang terbaik untukmu. Aku pikir, pesan ini juga penting aku sampaikan padamu. Semoga kamu bisa menjadi pribadi yang baik untuk orangtuamu, orang di sekitarmu, dan juga menjadi yang terbaik untukku. Amin.

Ah, aku rindu padamu. Sungguh!

Pelukisku, rinduku padamu seperti hujan. Datangnya tidak bisa diprediksi. Kadang, aku merasa sangat merindukanmu, seperti hujan yang turun dengan deras, atau hanya rindu kecil, seperti gerimis. Rasa rindu itu sering bertahan lama, seperti hujan yang turun dari pagi hingga sore. Atau, hanya sebentar, seperti hujan yang hanya sesaat. Tapi, sama seperti hujan, selama awan masih berkeliling di angkasa, selama itu pula hujan akan turun. Selama cinta ini masih bersemayam di hati, selama itu pula rindu akan selalu menemani. 

Yap! Aku tunggu balasanmu, ya!


Salam Sayang,


Agung Adiwangsa


“Yo, ada tugas buat lo. Bikin satu artikel tentang tempat wisata yang ada di Bogor. Namanya Lido. Nanti, lo ke sana ditemenin Lolita.” perintah Pak Gondo.

***

Aryo dan Lolita sudah berada di jalan menuju ke tempat tujuan. Satu jam terjebak kemacetan, mereka langsung menuju alamat yang ada di kertas pemberian Pak Gondo. Indah yang diharapkan ternyata hanya khayalan. Di hadapannya, sebuah rumah besar bercat putih, kusam. Dinding bagian bawahnya mulai dilapisi oleh lumut. Di halaman depan, berserakan daun-daun kering yang belum disapu. Lebih cocok jadi rumah hantu. Megah, tapi menyeramkan.  

“Mas Aryo dan Mbak Lolita, ya?” seorang bapak mengagetkan mereka berdua.
“Eh, iya, Pak. Bapak siapa, ya?” Aryo bingung
“Panggil aja Mang Yadi. Kemarin Pak Gondo bilang kalo kalian mau datang. Saya disuruh mendampingi selama kalian disini.”
“Emm, tinggal di rumah ini, Pak? Gak serem apa?” Lolita ikut bicara.
“Hahaha! Enggak kok, Mbak. Kalo ada hantu juga, udah takut hantunya sama Mamang.” jawabnya sambil tertawa.

Setelah mengeluarkan barang bawaan, mereka bertiga masuk. Langkah pertama ketika memasuki ruang tamu, bulu kuduk Lolita sedikit berdesir. Interior ruangan yang mirip rumah ala belanda,  membuatnya sedikit begidik. Furniture dari kayu zaman dulu seperti menunjukan bahwa, rumah ini sudah ada sejak Westerling masih berkeliaran di Indonesia. Tidak sampai di situ, sebuah lukisan abstrak yang tergantung di dinding dekat lemari berisi barang antik, memberikan aura mistis tersendiri.

“Yang punya rumah ini collector barang antik. Jadi, jangan heran kalo barang-barangnya terkesan seperti peninggalan sejarah.” Mang Yadi bercerita.

Mang Yadi mengantar Aryo dan Lolita ke kamarnya masing-masing. Di lantai dua sebelum pergi, ia menitipkan satu pesan. Pesan yang cukup aneh.

“Mas, Mbak, kalian anggap saja ini rumah sendiri, ya. Tapi, ingat, jangan sekali-kali masuk ke kamar yang ada di dekat dapur.”

Sebuah pesan yang mengundang banyak pertanyaan. Di rumah seseram ini, mengapa ada ruangan yang tidak boleh dimasuki? Apa ruangan itu bekas pembunuhan si empunya rumah? Kemudian mayatnya dikubur di dalam? Ya, begitulah yang biasanya terjadi di dalam film horror.

***

Langit senja sudah berganti malam. Udara dingin desa Cigombong menyeruak masuk di setiap ruangan. Gemericik air hujan menjadi musik pengiring malam itu. Lampu temaram membuat suasana lebih romantis –atau tepatnya lebih menyeramkan.

Tok..tok..tok... Seseorang mengetuk pintu kamar Aryo.

“Siapa?”
“Ini gue, Yo. Lolita.” jawab seseorang di balik pintu.
“Masuk, Lol.”

Lolita memasuki kamar. Sambil menenteng bantal, tubuhnya yang berbalut selimut menunjukan aura ketakutan.

“Yo, gue tidur di sini, ya? Takut.”
“Lah, kenapa?”
“Lo gak liat, rumah ini udah kayak rumah hantu. Serem!”
“Ah, lebay!”
“Bodo amat!” Lolita meringkuk di kasur sebelah Aryo.

Malam semakin larut. Sudah jam sebelas. Aryo masih asik berkutat dengan laptopnya. Tetiba, ia merasa ingin buang air kecil. Itu berarti ia harus pergi ke WC. Walaupun terlihat berani, ada rasa takut yang terselip dalam hatinya. Kalo gue tahan sampe pagi,bisa jadi penyakit. Kalo keluar, anjir,ngeri juga. Haduuuh. Gumamnya dalam hati.

Perang batin itu tidak berlangsung lama. Ia nekat pergi sendiri. Rasa takut yang berusaha keluar, ia tahan kuat-kuat. Ia berjalan tanpa sekalipun menengok ke arah lain. Langkahnya pun dipercepat..

KREEEKKK...

Sebuah suara seperti orang yang membuka pintu terdengar. Aryo yang sedang asik menunaikan hajatnya, terkejut. Asalnya dari arah dapur –tepatnya sebuah ruangan di sampingnya. Seketika bulu kuduk Aryo berdiri. Jantungnya berdetak seperti Mike Portnoy sedang menggebuk drum. Kencang. Ia menoleh ke arah sumber suara. Tidak ada apa-apa. Tanpa berpikir panjang, ia segera kembali ke kamar. Langkahnya lebih cepat. Ketika melewati ruangan yang dimaksud Mang Yadi,  

PRAAAANGG....

Kali ini suara sesuatu yang pecah. Tanpa menengok ke belakang, Aryo berjalan secepat yang ia bisa. Rasa takut yang sedari tadi ia tahan, akhirnya keluar.

***

Aryo dan Lolita sudah berada di tepi danau. Menikmati udara pagi yang sejuk di sana. Aryo tidak ingin mengingat kejadian semalam. Bersama dengan Mang Yadi, mereka berdua berkeliling untuk mencari informasi. Pemandangan yang cukup indah pun tak lupa Aryo abadikan dalam kameranya.

Sampai sore, mereka baru kembali. Ingatan Aryo kembali ke malam kemarin. Malam ini, ia juga harus menikmati keseraman rumah ini. Rasa berani yang ada saat pertama tiba, kini mulai tergerus oleh rasa takut.

Selesai membersihkan diri, Aryo dan Lolita duduk di dalam kamar. Malam ini pun Lolita tidur di kamar Aryo. Ia percaya sahabatnya itu tidak akan berbuat macam-macam padanya. Lagipula, Aryo sudah menganggap Lolita seperti adiknya sendiri.

“Tempatnya bagus, ya.” Lolita membuka pembicaraan.
“Hmm, gitulah.” jawab Aryo sembari menulis.
“Kapan-kapan, kita ke sini lagi. Jangan pas kerja, kita liburan di sini.”
“Boleh, asal jangan nginep di rumah ini lagi.”
“Di rumah ini lagi? Ogah! Mending gue tidur di mushola.”

Aryo diam tak menjawab.

“Eh, Yo, semalem lo kemana? Gue bangun, lo gak ada.”
“Oh, gue ke WC.”
“Sendiri? Berani emang?”
“Ngapain takut?” Aryo berbohong.

***

Pukul sepuluh malam. Aryo duduk di atas kasur, merangkum informasi yang ia dapat. Lolita berada di hadapannya, membantu Aryo.

“Yo, anter pipis, yuk?”

Aryo tersentak. Ia takut kejadian semalam kembali terulang. Tapi, ia tidak mau memberi tahu Lolita. Rasa takutnya pasti akan menjadi-jadi.

“Ah, lagi tanggung, nih. Tahan aja sampe pagi.”
“Lo gila kali, ya? Bisa kena kencing batu gue!”

Dengan terpaksa, Aryo mengantar Lolita ke kamar kecil. Lolita menggandeng tangan Aryo, ia takut. Mereka berjalan pelan. Suasana gelap membuat jarak pandang mereka berkurang. Jika salah langkah, bisa terjatuh.

Ketika usai menuruni tangga, ada sesosok bayangan hitam berjalan di balik jendela. Seperti ada orang yang lewat di luar. Lolita yang melihatnya langsung terkejut. Pegangannya pada lengan Aryo, semakin kencang.

“YO, ITU APAAA!!!” Lolita sedikit menjerit.
“I-iya, gue juga liat. Ah, elu, sih, pake kebelet segala!”
“Gue takut, Yo!”
“Udah, ayo jalan.”

Hasrat ingin buang air Lolita sudah tersalurkan. Kini, mereka harus kembali ke kamar. Ketika melewati ruangan yang di katakan oleh Mang Yadi, Aryo berhenti.

“Ih, ngapain, sih?” ucap Lolita ketakutan.
“Gue penasaran. Kenapa kita gak boleh masuk ke sini, ya?” Aryo mendekati pintu.
“Yo, lo jangan macem-macem. Mang Yadi bilang gak boleh. Jangan cari masalah.”
“Bentar.” Aryo mendekatkan kupingnya ke pintu.

SREEEKK..... SREEEKK

Keduanya saling pandang. Ada suara terdengar. Sama seperti malam sebelumnya, saat Aryo hendak buang air kecil. Kali ini bukan suara pintu atau barang pecah, tapi seperti suara kuas yang menggores kanvas. Tanpa berbicara sepatah kata pun, mereka langsung pergi dari tempat itu.

Ketika akan menaiki tangga, lagi-lagi Aryo berhenti. Ia terdiam seperti patung. Matanya menatap ke arah lukisan yang tergantung di ruang tamu. Ia mencolek bahu Lolita, lalu menunjukan apa yang dilihatnya. Ada orang berdiri tepat di bawah lukisan, di samping lemari antik. Entah manusia atau bukan. Berpakaian serba hitam, sosok bertubuh tinggi besar itu tidak bergerak sedikit pun. Wajahnya menatap ke arah lantai.

“AAAAARRRGGHHH!!!” Lolita teriak, lalu berlari. Aryo mengikuti dari belakang. Sampai di kamar, mereka langsung menimbun diri dalam selimut. Mencoba melupakan yang baru saja terjadi.

***

Pagi hari, mereka merapikan barang-barang. Bersiap untuk pulang.

“Yo, bener, kan, rumah ini angker.” ucap Lolita.
“Entahlah. Tapi, gue masih penasaran sama ruangan yang ada di dapur itu.”
“Tuh, kan. Udah, jangan cari masalah!”

Selesai merapikan barang, mereka keluar. Ketika menuruni tangga, di anak tangga yang terakhir, Aryo berhenti. Ia langsung membalikkan badan dan berjalan ke arah dapur. Tekadnya bulat. Rasa takut di hatinya, dikalahkan oleh rasa penasaran. Ia berniat membuka ruangan yang dilarang oleh Mang Yadi.

“Yo! Udah, ayo pulang!” Lolita mencoba menghentikan.
“Tunggu bentar!”

Aryo bediri di depan ruangan misterius itu. Mencoba membukanya. Terkunci. Ia tidak menyerah, pintu itu dia dobrak. Satu kali, masih terkunci, dua kali, belum juga terbuka. Di hentakan yang ketiga, pintu itu terbuka. Aryo terdiam melihat isi ruangan, Lolita pun sama. Di dalamnya, terdapat seperangkat alat untuk melukis. Beberapa kanvas terlihat berserakan, sepertinya gambar yang gagal. Dindingnya pun penuh dengan hasil lukisan yang aneh. Aryo tidak mengerti, kenapa Mang Yadi menyembunyikan semua ini.

“Kan udah dibilang, jangan masuk ruangan ini.” Mang Yadi sudah berada di belakang Aryo dan Lolita.
“Mang, ini maksudnya apa? Kenapa Mamang nyembunyiin ini?” ucap Aryo.

Lolita hanya berdiri di balik Aryo.

“Baiklah, Mamang jelasin. Sebenernya, Mamang lagi belajar ngelukis. Kalian lihat lukisan di ruang tamu? Itu satu-satunya karya Mamang yang paling bagus. Sisanya, buruk. Anak Mamang selalu minta dibuatkan lukisan, makanya Mamang belajar terus. Biasanya, tiap malam Mamang ke sini, lalu belajar melukis di ruangan ini.”
“Jadi, suara pintu, barang pecah, dan suara goresan kanvas itu ulah Mamang?”
“Mamang gak mau ganggu kalian. Jadi, Mamang diam-diam masuk ke sini. Suara barang pecah itu asalnya dari guci yang gak sengaja ke senggol.”
“Semalam, yang lewat di depan rumah, itu Mamang juga?”
“Iya, tadinya Mamang mau masuk lewat pintu depan, tapi gak jadi. ”

Mendengar penjelasan Mang Yadi, Aryo dan Lolita tertawa lega. Ternyata, kejadian yang menyeramkan itu ulah Mang Yadi. Mang Yadi pun Ikut tertawa.

“Terus, yang berdiri di samping lukisan semalem, siapa?” Lolita bertanya.
“Wah, kalo itu saya gak tau.”

Seketika semuanya terdiam.


 ***

#Memfiksikan lagi. Temanya Hantu. Sama sepeti sebelumnya, tulisan saya kali ini tetap menceritakan tentang Si Aryo. 

#Memfiksikan 1 : Terjebak Pikiran
#Memfiksikan 2 : Diary Itu
#Memfiksikan 3 : Kopi Kehidupan
 
Terimakasih sudah membaca !




Biasa dipanggil Pak Walet. Gue gak tau itu nama asli atau nama panggilan aja. Seorang kakek yang pernah gue ceritain di sini.

Orang yang gak tau mungkin akan nyangka dia itu gila, stres, atau yang lainnya. Karena, dia suka jalan-jalan pake kaos dalem sama celana pendek, lalu bawa gerobak buat ngumpulin sampah yang nantinya akan dipake sebagai pupuk di kebunnya. Selain itu, orang lain juga suka kesel sama dia. Soalnya, kalo udah ngobrol, gak cukup sebentar doang. Bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Tapi, setelah tau siapa dia, kayaknya gak mungkin orang gila bisa fasih delapan bahasa. Dan kayaknya gak ada orang gila yang jadi hakim militer lulusan fakultas hukum UGM. Punya empat belas anak, semuanya sarjana. Gak mungkin, kan? Gue tau ini setelah ngobrol sama dia. Gak bohong. Soalnya, kami pernah ngobrol pake bahasa Inggris dan Jerman. Kadang, dia juga ngomong pake bahasa Jepang, Mandarin, Perancis, Jawa, Sunda, dan Indonesia pastinya. Jelas, selain bahasa Inggris, Indonesia, dan Sunda, gue gak ngerti dia ngomong apa. Udah, segitu yang gue tau tentang dia. Sekarang, gue mau ceritain kejadian waktu Senin kemaren. Tentunya sama si kakek itu.

Senin pagi gue lagi nongkrong depan rumah. Padahal, semaleman gue belum tidur. Ngeramein twitter sama Yoga dan Rima. Kebetulan, di rumah juga lagi rame saudara dari Tasik yang nengokin nenek gue yang sakit. Jadi, gak ada tempat buat tidur.

Lagi asik ngeteh, si kakek datang. Dia emang biasa nongkrong di warung kecil punya bibi gue. Sama kayak gue, dia suka ngeteh sambil nikmatin gorengan yang dijual di sana. Dia duduk di samping gue. Kami ngobrol berdua, pake bahasa Inggris. Padahal, setiap kali ngomong bahasa Inggris, gue selalu bilang, bahasa Inggris gue jelek. Cuma bisa sedikit-sedikit. Apalagi soal grammar, buta banget. Tapi, dia selalu jawab gini.

"Aku gak peduli soal grammar, aku juga gak bisa. Yang penting, aku ngomong kamu ngerti, kamu ngomong aku ngerti."

Akhirnya, kami ngobrol pake bahasa Indonesia, cuma diselingi bahasa Inggris.

Dia mulai cerita tentang pengalaman hidupnya. Dulu, dia mungutin puntung rokok lalu di jual buat biaya kuliah. Gue bingung. Emang ada yang mau beli puntung rokok? Buat apa? Tapi, sudahlah, gak perlu dipikirin. Dia pergi ke Bali dengan cara numpang sama truk yang tujuannya ke sana. Belajar bahasa Inggris sama bule-bule yang ada di sana. Banyak banget yang dia ceritain, gue aja sampe lupa. Dia selalu bilang, kalo hidup itu harus berani nekat, jangan takut sama resiko. Karena kalo enggak gitu, susah dapet duit.

Di tengah obrolan, gue iseng nanya.

"Kek, suka nulis, gak?"
"Kamu tau Wisnu Ananta? Itu nama pena saya." 
"Udah bikin buku, Kek?"
"Ya, aku sudah bikin beberapa novel fiksi."

Gue kaget. Ternyata dia ini seorang penulis. Gak tau ini bener atau enggak. Tapi kalo gak salah, gue pernah liat buku yang nama pengarangnya Wisnu Ananta. Itu dulu, sebelum negara api menyerang. Buku si kakek ini emang udah lama banget. Judul dan tahun terbitnya gue lupa. Jadi, kayaknya kalaupun ada, pasti di toko buku bekas.

Gue yang lagi keranjingan nulis, ngerasa harus ngambil ilmu dari dia.

"Kek, saya suka bikin cerpen. Tapi, kadang saya bingung sendiri. Orang bilang writer block. Nah, itu gimana solusinya, ya?"
"Ya, tulis aja. Misal gini, kamu mau nulis tentang jalan tol Ciawi-Sukabumi. Kamu ambil satu bagian yang ada di antara itu. Kamu mulai dari Cigombong. Ada apa, sih, di sana? Kemudian kamu cari masalah yang ada di sana. Misal masalahnya itu pembebasan lahan. Banyak orang yang gak setuju. Atau, kamu bisa cari yang lainnya. Setelah itu, kamu buat jalan ceritanya sesuka hatimu. Gak perlu pengen yang bagus dulu. Sederhana, tapi tepat sasaran."

Ya, gue emang suka bingung bikin sebuah tulisan. Kadang, saking bingungnya, gue sampe gak jadi nulis.

"Anakku, bikin tulisan itu kayak makanan yang aku makan ini. Bahan utamanya gandum. Berawal dari gandum, lalu di buat jadi risol dan bakwan ini."

Dia gak ngejelasin apa maksudnya antara makanan dan tulisan. Dia emang suka gitu, ngebiarin gue buat nyari jawaban sendiri. Setelah gue tau jawabannya, gue nyengir-nyengir sendiri kayak orang gila. Si kakek juga ikutan nyengir, kami kayak orang gila. Kalian tau maksudnya gimana? Gue jelasin. Intinya gini, tulisan berasal dari satu bahan utama. Terserah kalian mau dikreasikan seperti apa. Sama kayak makanan itu. Bahan utamanya gandum. Lalu, terserah mau dijadiin apa, bisa risol, bisa bakwan. Paham?

"Kek, katanya, penulis yang baik adalah pembaca yang rakus. Nah, buat aku yang gak suka baca, gimana?"
"Kamu pikir aku suka makan gorengan di sini? Enggak."
"Lalu, kenapa?"
"Aku harusnya makan di restoran sana. Di sana lebih enak. Aku makan di sini bukan karena aku suka. Tapi, karena aku butuh. Dengan makan di sini, aku jadi punya banyak teman. Aku bisa kenal kamu, ibumu, dan orang-orang lain di sini. Ngerti?"

Lagi-lagi gue dibikin senyum sendiri sama si kakek. Gue emang gak suka baca. Selain buku pelajaran di sekolah dulu, buku-buku novel yang pernah gue baca aja bisa dihitung pake jari tangan. Dan buat jawaban si kakek, kalian ngerti maksudnya? Tenang, gue baik. Gue jelasin. Secara tidak langsung, si kakek bilang gini.

"Aku gak suka baca. Aku baca karena aku butuh. Soalnya, dengan membaca, aku jadi banyak tahu. Aku baca bukan karena aku suka bacaannya. Tapi, karena aku butuh pengetahuannya."

Paham? Cakep!

Kami ngobrol dari jam tujuh pagi sampe jam setengah satu. Berakhir karena gue udah gak kuat nahan ngantuk. Coba hitung berapa jam kami ngobrol? Keren bukan? Sebenernya masih banyak yang si kakek itu sampein. Tapi, seperti kata gue, dia selalu ngebiarin gue buat nyari jawaban sendiri. Gak semua yang dia omongin gue ngerti. Selebihnya, dia banyak cerita tentang pengalaman hidupnya. Ya, pengalaman yang jadi pelajaran buat gue.



Best Regards



Agung Adiwangsa





Teruntuk Pelukisku,


Apa kabarmu ? Baikkah? Semoga begitu, ya! Jaga selalu kesehatanmu. Musim hujan begini, gampang kena penyakit.

Pelukisku, sudah berapa lama aku tidak mengirimmu surat? Maaf, bukan aku melupakanmu. Tapi, tidak sempat. Setiap kali aku mencoba menulisnya, selalu saja ada halangan. Apa kamu merindukanku? Kalo aku, sudah pasti. Rindu parasmu yang menawan itu.

Aku ingin sedikit cerita padamu, tentang apa yang kualami saat ini. Sudah hampir seminggu aku selalu tidur saat pagi tiba. Bukan tanpa alasan. Saat ini, nenekku sedang sakit. Stroke. Tidak hanya itu, masih ada beberapa penyakit lain –yang tidak bisa disebut ringan- menggerogoti tubuh nenekku. Hampir setiap malam dia tidak bisa tidur. Maka dari itu, aku dan pamanku bergantian menjaganya.

Sebenarnya, tubuhku sudah terasa aneh. Gak enak. Ya, mungkin karena terlalu sering begadang. Tapi, bukan masalah bagiku. Mumpung masih diberi kesempatan untuk berbakti kepada orangtua. Tanpa sedikit pun berpikiran negatif, hari esok tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi.

Ketika sedang terjaga, aku selalu memerhatikan nenekku. Kadang, ada air di sudut matanya. Apalagi kalau bukan air mata? Membayangkan apa yang ia rasakan, hati ini sedih sekali. Diusianya yang sudah senja, ia harus merasakan sakit seperti ini. Tapi, aku tidak bisa menentang. Allah selalu punya rencana untuk hambanya.

Aku jadi ingat ayahku. Sembilan tahun lalu, penyakit sama diderita olehnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berbaring di atas kasur. Sebagian anggota tubuhnya tidak berfungsi. Sebulan ibu membawanya ke Jakarta untuk terapi. Tapi, hasilnya nihil. Sampai akhirnya, tanggal 14 April 2006 di RSUD CIawi, ayahku dipanggil oleh penciptanya. Sejak saat itu, aku tidak pernah mau pergi ke sana lagi. Apapun alasannya.

Awalnya, aku tidak bisa menerima kenyataan. Tapi, semakin dewasa, aku berpikir. Allah memang selalu punya rencana untuk hambanya. Ia pasti memberikan yang terbaik. Coba bayangkan saja, jika saat ini ayahku masih ada, mungkin ia sudah tersiksa oleh penyakitnya. Betul bukan? Sekarang, aku ikhlas.

Dulu, sewaktu ayahku sakit, aku tidak bisa merawatnya, karena aku masih kecil dan harus sekolah. Maka dari itu, sekarang aku tidak ingin menyesal untuk ke sekian kalinya. Selagi aku masih bebas, aku ingin menjaga nenekku. Berbakti padanya.

Pelukisku, aku minta kepadamu, tolong doakan kesembuhan nenekku dan kesehatanku. Karena, sehat itu adalah sesuatu tidak ternilai harganya. Dan untukmu juga, sekali lagi, jaga selalu kesehatanmu. Ingat, jaga.

Pelukisku, itu yang ingin aku ceritakan padamu. Sampai jumpa di suratku yang lainnya, ya. Semoga pak pos tidak terlambat menyampaikannya padamu.

Salam sayang,



Agung Adiwangsa





Bunyi ringtone terdengar mengalihkan perhatian Aryo pada kopinya. Baru pukul 06.30. Siapa yang menelepon sepagi ini? Disimpan cangkir kopi yang sedang ia pegang, kemudian berjalan menuju sumber suara.

Hallo?” Aryo mengangkat telepon.
“Iya, hallo. Betul ini dengan Aryo Bayu?”
“Iya, Ini siapa, ya?”
“Ternyata bener ini elo, Yo.” Orang itu menjawab seolah sudah akrab dengan Aryo.
“Emm.. maaf, Anda siapa?” Aryo memasang wajah bingung.
“Ini gue, Yo. Fandy. Teman sekolah lo.”

Aryo terdiam sesaat. Otaknya kembali mengingat teman semasa sekolah dulu.

“Ooooh, elo! Apa kabar, Fan?” Aryo sudah ingat.
“Baik, baik. Lo lagi sibuk apa sekarang?”
“Ya, sibuk sama kerjaan aja. Sekarang tinggal di mana?”
“Gue tinggal di Belitung. Tapi, sekarang lagi ada di Jakarta. Lo free kapan? Gue pengen ketemu.”
“Hmm... Hari ini gue free. Mau ketemu di mana?”
“Gue lagi di Semanggi. Kalo janjian di Plaza Semanggi, gimana?”
“Oke, nanti agak siang, ya.”

Fandy, teman kecil Aryo dan Lolita. Sewaktu SMP dulu, mereka bertiga selalu bersama. Bahkan, teman yang lain sampai menyebut mereka Trio Kwek Kwek. Di SMA pun mereka tetap satu sekolah. Sampai lulus SMA, Fandy harus ikut bersama keluarganya ke Belitung. Sedangkan Aryo dan Lolita melanjutkan kuliah di Jakarta.

Fandy tipikal orang yang ambisius. Dia selalu bersemangat dalam mengerjakan suatu hal. Semasa sekolah, dia selalu menyebut-nyebut kesuksesan yang akan ia capai kelak. Aryo adalah seorang pemikir. Banyak ide-ide cemerlang yang keluar darinya. Dan Lolita yang menengahi mereka berdua, membuat persahabatan mereka terhilat sangat sempurna.

Aryo sudah berada di dalam mobil. Mengarahkan lajunya ke arah Plaza Semanggi. Sampai di sana, ia mencoba menghubungi Fandy. Tidak ada jawaban. Ia menunggu sejenak, mungkin sedang dalam perjalanan.

Tak lama, handphone Aryo kembali berbunyi. Fandy yang menelepon. Ia sudah menunggu di sebuah kedai kopi yang berada tidak jauh dari situ. Kedai itu sudah tidak asing bagi Aryo. Ia pernah ke sana bersama Lolita. Ia memarkirkan mobilnya, lalu berjalan masuk ke dalam. Matanya menjelajah ke seluruh penjuru ruangan, kemudian berhenti di sebuah meja. Di sana sudah duduk seorang laki-laki yang tidak asing baginya. Memang ada beberapa perubahan, tapi ia tetap mengenali sahabatnya itu.

“Yo! Di sini.” Fandy melambaikan tangan.

Aryo melanjutkan langkahnya ke meja tempat Fandy menunggu. Fandy berdiri dan menyambut kedatangan sahabatnya itu.

“Apa kabar?” Tanya Fandy sembari menjabat tangan Aryo.
“Baik. Udah lama nunggu?”
“Ah, enggak. Baru sampai.”

Kedua sahabat itu duduk dan memesan kopi. Seperti biasa, Aryo memesan segelas cappucino sedangkan Fandy coffe latte. Mereka berdua mengenang kembali masa-masa sekolah. Aryo sangat rindu kepada Fandy. Lima tahun semenjak lulus SMA, mereka belum pernah bertemu kembali. Tapi, memang dasarnya laki-laki, serindu apapun, mereka akan terlihat biasa saja. Padahal, hatinya senang luar biasa.

Obrolan antara dua orang sahabat itu semakin seru. Fandy menceritakan kembali kejadian masa lalu, di mana mereka pernah kabur bersama saat pelajaran Pak Hamid –guru yang dianggap killer oleh Aryo dan Fandy- hingga mereka berdua di panggil keesokan harinya. Atau, mereka yang tidak pernah ikut kegiatan pramuka yang diwajibkan sekolahnya. Masih banyak lagi kekonyolan yang mereka lakukan dulu. Masalah asmara pun tak luput dari bahasannya. Aryo sering dibilang cupu karena tidak punya pacar, sedangkan Fandy dicap sebagai playboy karena sering gonta-ganti pasangan.

Langit cerah mulai tertutup awan mendung. Satu persatu butir air hujan jatuh membasahi bumi. Aryo dan Fandy masih asik berbagi cerita. Kadang, tawa menghiasi wajah mereka berdua. Tiba-tiba, Fandy terdiam.

“Yo, hidup itu sulit, ya.” Ucap Fandy dengan nada serius.

Aryo tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil sembari menyeruput cappucino miliknya.

“Gak semudah yang gue bayangin. Dulu, gue selalu bicara seolah kesuksesan itu buah yang tinggal dipetik. Tapi ternyata, memetiknya gak mudah. Lupakan dulu soal uang yang berlimpah, mencari selembar uang lima ribu aja, perlu ngeluarin keringet sampe seember. Di Belitung, gue pernah kerja jadi seorang ABK buat kapal pariwisata. Gak gede, cuma kapal sederhana dari kayu. Dalam sejam berlayar, gue cuma dikasih lima puluh ribu. Bayangin, keringet yang sampe bikin baju gue basah kuyup, cuma dihargain lima puluh ribu doang. Atau, waktu gue jadi seorang pelayan di sebuah cafe. Hampir setiap hari ada pelanggan yang seolah-olah dia itu raja di sana. Ya, memang, pelanggan adalah raja. Tapi, bukan berarti bisa seenaknya sama pelayan, kan? Gue juga pernah tinggal di jalanan. Gaji gue waktu itu cuma cukup buat makan doang. Sebulan gue tinggal di jalan, kalo lagi untung, sih, bisa nginep di rumah temen. Itu pun gak bisa setiap hari.”

Aryo mendengarkan cerita sahabatnya itu dengan seksama.

“Empat tahun gue kerja kayak gitu. Pindah sana, pindah sini. Kalo udah ngerasa gak sreg sama kerjaan ini, gue bakal resign dan cari pekerjaan baru. Beruntung gue kenal sama salah satu temen bokap, dia punya perusahaan. Akhirnya, gue diajak kerja di tempat dia. Baru deh gue ngerasain hidup yang sedikit lebih enak dari sebelumnya.”

Aryo tetap tidak menjawab. Ia memerhatikan keadaan sekitar. Ada seorang bapak yang sedang membaca koran. Di depannya, kopi hitam tersaji dalam gelas transparan. Di sudut lain, terlihat seorang wanita muda yang sedang meneguk segelas kopi sambil matanya tak lepas dari gadget yang ia genggam. Cukup banyak pengunjung di kedai siang itu. Udara dingin akibat hujan memang pas untuk menikmati secangkir kopi.

“Fan, lo liat kopi ini?” Aryo bicara sambil menunjuk kopi di hadapannya.

Fandy tidak mengerti maksud Aryo. Ia hanya mengangguk sambil memasang wajah bingung.

“Hidup itu kayak kopi. Pahit. Tinggal terserah lu mau diracik seperti apa. Kopi hitam, simple, sederhana, cuma tinggal campur kopi dan gula. Atau, lo mau yang lebih enak? Cappucino,espresso, coffe latte? Tinggal pilih sesuka hati. Tapi ingat, membuatnya pasti perlu usaha lebih dibanding kopi hitam biasa. Begitu juga dengan hidup. Kalo lo mau hidup simple, sederhana, lo hanya perlu jalanin tanpa perlu usaha lebih. Tapi, ya mungkin hidup lo bakal gitu-gitu aja. Kalo lo mau yang lebih enak? Lo harus usaha lebih keras dari biasanya. Lo juga harus contoh para penikmat kopi. Sepahit apapun kopi yang diminum, ia tetap menikmatinya.”

Mendengar penjelasan Aryo, Fandy hanya terdiam. Mulutnya seperti terkunci, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Fan, hidup itu memang pahit. Lo hanya perlu tambah gula biar manis. Untuk mendapat gula kehidupan, lo harus berjuang dengan keras. Setelah itu, lo tinggal nikmatin.”

Setelah penjelasan itu, keduanya sama-sama terdiam. Ada sedikit senyum yang mulai terpancar di bibir Fandy.

Hujan mulai reda. Kopi yang mereka pesan pun sudah habis. Kedua sahabat itu memutuskan untuk pulang. Sampai di depan pintu, Fandy berhenti.

“Bener, Yo. Hidup tidak terlalu buruk.” Ucapnya sambil tersenyum.

Aryo membalas senyum Fandy sambil menepuk pundaknya dua kali.



 ***

Yosh! #Memfiksikan lagi. Temanya KOPI. Gue bikin sebuah cerpen. Seperti biasa cerpen gue kali ini masih tentang Aryo, sama seperti yang sebelumnya. 


Gue tunggu tulisan kalian, ya!

Best Regards



Agung Adiwangsa
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home