Aku Sedih

Teman, aku ingin berbagi sedikit cerita denganmu. Aku sedih. Rasanya, aku mulai dilupakan. Entah ini hanya perasaanku saja, atau memang benar. Dulu, orang berlomba-lomba mendatangiku. Mereka sangat perhatian kepadaku. Jika aku sakit, mereka akan mengobatiku. Memperbaiki bagian yang rusak.

Aku kesepian. Sebenarnya, aku tinggal di tempat yang ramai. Tapi, aku tetap merasa sendiri. Banyak orang yang lalu lalang di depanku. Mereka hanya lewat begitu saja. Kadang, ada beberapa yang beristirahat bersamaku. Aku bersyukur, masih ada yang membutuhkanku, walaupun hanya sebagai tempat istirahat.

Teman, aku rindu. Rindu mereka yang selalu datang padaku. Menemaniku setiap waktu. Aku selalu menunggu kedatangan mereka. Dini hari sebelum orang bangun, aku sudah bersiap menyambut. Tapi sayangnya mereka lebih asik tidur. Tidak apa-apa. Mungkin mereka kelelahan. Aku tetap menunggu, sampai larut malam. Tapi, tetap saja tidak ada. Hanya mereka yang masih peduli kepadaku yang datang. Jumlahnya sedikit.

Aku bingung dengan orang-orang zaman sekarang. Sebenarnya, aku ini penting bagi mereka. Tapi, mereka mengabaikanku. Kamu tahu kenapa? Apa hati mereka sudah tertutupi oleh suatu hal? Apa? Hmm.. semoga mereka cepat sadar, ya.

Jauh di sana, temanku sedang berjuang. Dia sedang berperang dengan orang jahat. Oh iya, aku juga sedikit tenang. Ada beberapa temanmu yang baik hatinya mau melindungi temanku itu. Semoga mereka di sana baik-baik saja, ya.

Teman, aku ingin menitip pesan padamu. Tolong sampaikan pada temanmu yang lain agar tidak melupakanku, ya. Aku yakin, masih ada di antara temanmu yang hatinya belum menjadi hitam. Buktinya, setiap minggu masih banyak yang mendatangiku, berdoa bersamaku. Ya, walaupun hanya satu hari dalam satu minggu. Tapi, tidak apa-apa.

Aku tidak akan berhenti mengajak kalian untuk berdoa bersamaku. Ada seorang temanku yang biasa kupanggil dengan sebutan muadzin, dia selalu mengajak kalian untuk datang. Nanti, jika ia memanggil dengan adzan, kamu jangan lupa, ya. Allah, pemilikku, selalu membuka pintu rumah-Nya untukmu.






Best Regards


Agung Adiwangsa
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

16 comments:

  1. *mendadak sesenggukan*


    ampunkanlah aku~
    terimalah taubatku~
    sesungguhnya engkau...sang maha pengampun dosa~

    berilkanlah aku~
    kesempaatn waktu~
    aku ingin kembali...kembali~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Backsoundnya instrumental Haddad Alwi.
      Nah, loh, Haw. Ayo tobat, gih.

      Delete
  2. Menarik, tapi gue nebak dari awal ini bukan orang :p

    ReplyDelete
  3. Eh ini masjid ya maksudnya? Kereeenn. :))

    ReplyDelete
  4. tumben banget nih bukan aryo.
    lo lagi curcol yak?

    ReplyDelete
  5. aduuh ngerasa kesindir, ikut sedih sekaligus malu, kayanya udah lama gak mesjid :(

    ReplyDelete
  6. oh kirain kitab ternyata bangunan suci...
    keren guuung, coba bikin cerita kek gini an yang banyak

    ReplyDelete
  7. kereeen, saya suka gaya cerita tersirat kaya gini

    ReplyDelete
  8. Di awal2 aku kira orang. Pas di paragraf 3, mulai ngeh. Ternyata masjid.
    Keren, Gung.

    ReplyDelete
  9. Uda jarang ke masjid nih. Soalnya wanita kan diutamakan sholat buat di rumah. :3

    ReplyDelete