Insomnia

Tama, seorang pemuda yang berasal dari Bogor, sudah dua minggu selalu tidur ketika pagi tiba. Insomnia, itu yang sering ia katakan. Ketika malam, matanya selalu terjaga. Banyak cara yang ia lakukan agar bisa tertidur. Temannya bilang, saat ia membaca, ia akan merasa ngantuk. Tama pun mencobanya, ia memang suka membaca. Tapi, bukan kantuk yang datang, ia malah asik dengan bacaannya. Sudah banyak buku habis ia baca.

Saran dari temannya sudah ia lakukan, satu pun tidak ada yang mampu membuatnya tertidur. Konsultasi ke dokter juga pernah. Berhasil memang, ia bisa tidur, tapi tidak lebih dari satu jam. Setelah itu, matanya kembali segar. Ketika pagi tiba, ia tertidur. Lagi-lagi hanya sebentar. Akhirnya, Tama mengambil satu kesimpulan. Ia diguna-guna. Ia mulai mencari 'orang pintar' untuk menyembuhkan penyakitnya. Sampailah ia pada Pak Hassan -'orang pintar' yang tinggal di desa Cigombong.

“Pak, sudah dua minggu saya tidak bisa tidur. Beberapa saran dari teman sudah saya kerjakan. Satu pun tidak ada yang berhasil. Obat dokter juga saya minum. Memang, saya bisa tidur, tapi cuma sebentar. Saya takut diguna-guna sama orang.” Tama menjelaskan.

“Hmm... sebenarnya, saya tidak bisa menyembuhkan orang. Itu semua kuasa Allah. Pertama, kamu harus yakin, bahwa Allah pasti menyembuhkanmu,” Pak Hassan diam, ia seperti sedang berpikir.
“Selama kamu tidak bisa tidur, apa yang kamu lakukan?” lanjutnya.
“Saya suka baca buku. Pokoknya, melakukan apa pun yang mengundang kantuk.”
“Kapan terakhir kamu baca Al-quran dari awal sampai akhir?”
“Wah, saya lupa, Pak. Dulu saya pernah belajar ngaji. Tapi, baca Al-quran kayaknya belum deh. Apalagi dari awal sampe akhir.” Tama sedikit malu.
“Kapan kamu terakhir shalat malam?”
“Itu juga saya lupa, Pak. Kayaknya udah lama.”

Pak Hassan masuk ke dalam kamarnya. Ia keluar sambil membawa sebotol air.

“Ini, nanti kalo sampe di rumah, kamu minum terus cuci muka pake air ini.” 
“Baik, Pak.”
“Terus, kamu shalat malam. Habis itu baca surat Al-fatihah dilanjutkan dengan surat berikutnya. InsyaAllah.”

Tama kembali ke rumahnya. Menjalankan apa yang di perintah oleh Pak Hassan. Biasanya, ia menghabiskan waktu dengan menonton atau membaca buku. Kali ini tidak, ia mengerjakan saran dari Pak Hassan. Tama sangat jarang membaca Al-quran, sudah lama ia tidak mengaji. Lidahnya terasa kelu ketika membaca ayat Allah itu.

Waktu terus berlalu, Tama semakin rajin menemui Pak Hassan. Setiap satu surat habis dibacanya, ia pasti menemui Pak Hassan. Tapi, penyakitnya itu tetap saja bersarang di tubuh Tama. Sekarang, sudah genap satu bulan ia tidak bisa tidur. Ia juga sudah selesai membaca satu Al-quran, dan harus memulai dari awal.

“Pak, saya sudah selesai baca semua surat. Tapi, kok masih gak bisa tidur?”
“Kamu mulai lagi dari awal.”
“Tapi, sampai kapan, Pak?”
“Coba kita lihat kembali ke belakang. Bagaimana awalnya kamu tidak bisa tidur ?”
“Dulu, saya emang sering begadang, Pak. Biasanya, saya suka tidur jam tiga pagi.”
“Apa yang kamu lakukan selama itu?”
“Kumpul sama temen, nonton film, baca buku. Wah, pokoknya banyak.”
“Pas kamu kena penyakit itu, apa yang kamu lakukan supaya tertidur?”
“Sama, saya sering kumpul sama teman, nonton film, atau baca buku.”

Pak Hassan diam. Ia seperti memikirkan sesuatu.

“Kamu sudah temukan obatnya?”
“Belum, Pak. Makanya saya konsultasi sama Bapak.” Tama mulai terlihat bingung.
“Sebenarnya, saya juga sama seperti kamu. Susah tidur.”
“Jadi? Bapak sendiri gak tau obatnya?”

Pak Hassan menggelengkan kepalanya.

“Kalo gitu, ngapain saya nanya sama Bapak?” wajah tama mulai terlihat kesal. Ternyata Pak Hassan juga mengalami hal serupa dengan Tama.
“Saya cuma mengubah kebiasaan kamu.”
“Maksudnya?”
“Coba bandingkan kebiasaanmu sekarang dan sebelumnya. Dulu, kamu hanya menonton film, membaca, dan lain-lain. Sekarang, kamu lebih sering membaca Al-quran. Kamu tidak sadar itu lebih baik?”

Tama terdiam. Ia serius mendengarkan penjelasan Pak Hassan.

“Sekarang, kamu bayangkan, di umurmu saat ini, kamu belum pernah membaca Al-quran. Jika tidak dipaksakan, kapan kamu mau mulai membaca? Saya cuma tidak ingin kamu menyesal seperti saya sekarang.”


***

Ketemu lagi sama #memfiksikan. Temanya TIDUR. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kalian. Suatu hal buruk tidak harus dipandang dengan cara yang buruk juga. 

Oh iya, #memfiksikan udah ada di twitter. Silakan follow @memfiksikan


Best regards



Agung Adiwangsa
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

11 comments:

  1. wah. keren juga nih ide ceritanya. patut ditiru oleh mrk yang susah tdr.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini hasil kebingungan gue sama temanya. Pilih temanya membingungkan sih, Man. :3

      Delete
  2. Duh. Baca beginian, langsung inget dosa. Kalo nggak bisa tidur gue malah nidurin. :(

    Nidurin guling, kok.
    Keren, Gung! Eniwei, makasih. :)

    ReplyDelete
  3. Lo sellau aja bisa memberikan cerita yang bikin mikir dan nyadar. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. *Nulis selalu aja typo, payah lu Haw*

      Delete
    2. Gue punya kepuasan tersendiri ketika tulisan gue bermanfaat buat orang lain. Anggap saja sebagian dari dakwah.

      Delete
  4. Insomnia itu emang ngeselin, apalagi klo abis minum teh, pesti ga bisa tidur hehehee

    ReplyDelete
  5. Ini peristiwa menarik dari insomnia :)

    ReplyDelete
  6. kreiatif ni. ketika tema memfiksikan dari blogger yang lain tentang tidur atau bangun dari tidur, elo tentang susah tidur. dan akhirnya, mungkin lo sudah bis amove ondari aryo ya :)
    tapi kayaknya si tama sama kayak gue. selalu tidur di saat pagi menjelang. beberapa bulan belakangan, gue selalu tidur diatas jam satu..

    ReplyDelete
  7. Duh.. Sindirian banget iniiiih.. :/

    Tapi aku sekarang malah kebo. Demennya molor mulu.. Wkwkwk :D

    ReplyDelete