Kopi Kehidupan.


Bunyi ringtone terdengar mengalihkan perhatian Aryo pada kopinya. Baru pukul 06.30. Siapa yang menelepon sepagi ini? Disimpan cangkir kopi yang sedang ia pegang, kemudian berjalan menuju sumber suara.

Hallo?” Aryo mengangkat telepon.
“Iya, hallo. Betul ini dengan Aryo Bayu?”
“Iya, Ini siapa, ya?”
“Ternyata bener ini elo, Yo.” Orang itu menjawab seolah sudah akrab dengan Aryo.
“Emm.. maaf, Anda siapa?” Aryo memasang wajah bingung.
“Ini gue, Yo. Fandy. Teman sekolah lo.”

Aryo terdiam sesaat. Otaknya kembali mengingat teman semasa sekolah dulu.

“Ooooh, elo! Apa kabar, Fan?” Aryo sudah ingat.
“Baik, baik. Lo lagi sibuk apa sekarang?”
“Ya, sibuk sama kerjaan aja. Sekarang tinggal di mana?”
“Gue tinggal di Belitung. Tapi, sekarang lagi ada di Jakarta. Lo free kapan? Gue pengen ketemu.”
“Hmm... Hari ini gue free. Mau ketemu di mana?”
“Gue lagi di Semanggi. Kalo janjian di Plaza Semanggi, gimana?”
“Oke, nanti agak siang, ya.”

Fandy, teman kecil Aryo dan Lolita. Sewaktu SMP dulu, mereka bertiga selalu bersama. Bahkan, teman yang lain sampai menyebut mereka Trio Kwek Kwek. Di SMA pun mereka tetap satu sekolah. Sampai lulus SMA, Fandy harus ikut bersama keluarganya ke Belitung. Sedangkan Aryo dan Lolita melanjutkan kuliah di Jakarta.

Fandy tipikal orang yang ambisius. Dia selalu bersemangat dalam mengerjakan suatu hal. Semasa sekolah, dia selalu menyebut-nyebut kesuksesan yang akan ia capai kelak. Aryo adalah seorang pemikir. Banyak ide-ide cemerlang yang keluar darinya. Dan Lolita yang menengahi mereka berdua, membuat persahabatan mereka terhilat sangat sempurna.

Aryo sudah berada di dalam mobil. Mengarahkan lajunya ke arah Plaza Semanggi. Sampai di sana, ia mencoba menghubungi Fandy. Tidak ada jawaban. Ia menunggu sejenak, mungkin sedang dalam perjalanan.

Tak lama, handphone Aryo kembali berbunyi. Fandy yang menelepon. Ia sudah menunggu di sebuah kedai kopi yang berada tidak jauh dari situ. Kedai itu sudah tidak asing bagi Aryo. Ia pernah ke sana bersama Lolita. Ia memarkirkan mobilnya, lalu berjalan masuk ke dalam. Matanya menjelajah ke seluruh penjuru ruangan, kemudian berhenti di sebuah meja. Di sana sudah duduk seorang laki-laki yang tidak asing baginya. Memang ada beberapa perubahan, tapi ia tetap mengenali sahabatnya itu.

“Yo! Di sini.” Fandy melambaikan tangan.

Aryo melanjutkan langkahnya ke meja tempat Fandy menunggu. Fandy berdiri dan menyambut kedatangan sahabatnya itu.

“Apa kabar?” Tanya Fandy sembari menjabat tangan Aryo.
“Baik. Udah lama nunggu?”
“Ah, enggak. Baru sampai.”

Kedua sahabat itu duduk dan memesan kopi. Seperti biasa, Aryo memesan segelas cappucino sedangkan Fandy coffe latte. Mereka berdua mengenang kembali masa-masa sekolah. Aryo sangat rindu kepada Fandy. Lima tahun semenjak lulus SMA, mereka belum pernah bertemu kembali. Tapi, memang dasarnya laki-laki, serindu apapun, mereka akan terlihat biasa saja. Padahal, hatinya senang luar biasa.

Obrolan antara dua orang sahabat itu semakin seru. Fandy menceritakan kembali kejadian masa lalu, di mana mereka pernah kabur bersama saat pelajaran Pak Hamid –guru yang dianggap killer oleh Aryo dan Fandy- hingga mereka berdua di panggil keesokan harinya. Atau, mereka yang tidak pernah ikut kegiatan pramuka yang diwajibkan sekolahnya. Masih banyak lagi kekonyolan yang mereka lakukan dulu. Masalah asmara pun tak luput dari bahasannya. Aryo sering dibilang cupu karena tidak punya pacar, sedangkan Fandy dicap sebagai playboy karena sering gonta-ganti pasangan.

Langit cerah mulai tertutup awan mendung. Satu persatu butir air hujan jatuh membasahi bumi. Aryo dan Fandy masih asik berbagi cerita. Kadang, tawa menghiasi wajah mereka berdua. Tiba-tiba, Fandy terdiam.

“Yo, hidup itu sulit, ya.” Ucap Fandy dengan nada serius.

Aryo tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil sembari menyeruput cappucino miliknya.

“Gak semudah yang gue bayangin. Dulu, gue selalu bicara seolah kesuksesan itu buah yang tinggal dipetik. Tapi ternyata, memetiknya gak mudah. Lupakan dulu soal uang yang berlimpah, mencari selembar uang lima ribu aja, perlu ngeluarin keringet sampe seember. Di Belitung, gue pernah kerja jadi seorang ABK buat kapal pariwisata. Gak gede, cuma kapal sederhana dari kayu. Dalam sejam berlayar, gue cuma dikasih lima puluh ribu. Bayangin, keringet yang sampe bikin baju gue basah kuyup, cuma dihargain lima puluh ribu doang. Atau, waktu gue jadi seorang pelayan di sebuah cafe. Hampir setiap hari ada pelanggan yang seolah-olah dia itu raja di sana. Ya, memang, pelanggan adalah raja. Tapi, bukan berarti bisa seenaknya sama pelayan, kan? Gue juga pernah tinggal di jalanan. Gaji gue waktu itu cuma cukup buat makan doang. Sebulan gue tinggal di jalan, kalo lagi untung, sih, bisa nginep di rumah temen. Itu pun gak bisa setiap hari.”

Aryo mendengarkan cerita sahabatnya itu dengan seksama.

“Empat tahun gue kerja kayak gitu. Pindah sana, pindah sini. Kalo udah ngerasa gak sreg sama kerjaan ini, gue bakal resign dan cari pekerjaan baru. Beruntung gue kenal sama salah satu temen bokap, dia punya perusahaan. Akhirnya, gue diajak kerja di tempat dia. Baru deh gue ngerasain hidup yang sedikit lebih enak dari sebelumnya.”

Aryo tetap tidak menjawab. Ia memerhatikan keadaan sekitar. Ada seorang bapak yang sedang membaca koran. Di depannya, kopi hitam tersaji dalam gelas transparan. Di sudut lain, terlihat seorang wanita muda yang sedang meneguk segelas kopi sambil matanya tak lepas dari gadget yang ia genggam. Cukup banyak pengunjung di kedai siang itu. Udara dingin akibat hujan memang pas untuk menikmati secangkir kopi.

“Fan, lo liat kopi ini?” Aryo bicara sambil menunjuk kopi di hadapannya.

Fandy tidak mengerti maksud Aryo. Ia hanya mengangguk sambil memasang wajah bingung.

“Hidup itu kayak kopi. Pahit. Tinggal terserah lu mau diracik seperti apa. Kopi hitam, simple, sederhana, cuma tinggal campur kopi dan gula. Atau, lo mau yang lebih enak? Cappucino,espresso, coffe latte? Tinggal pilih sesuka hati. Tapi ingat, membuatnya pasti perlu usaha lebih dibanding kopi hitam biasa. Begitu juga dengan hidup. Kalo lo mau hidup simple, sederhana, lo hanya perlu jalanin tanpa perlu usaha lebih. Tapi, ya mungkin hidup lo bakal gitu-gitu aja. Kalo lo mau yang lebih enak? Lo harus usaha lebih keras dari biasanya. Lo juga harus contoh para penikmat kopi. Sepahit apapun kopi yang diminum, ia tetap menikmatinya.”

Mendengar penjelasan Aryo, Fandy hanya terdiam. Mulutnya seperti terkunci, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Fan, hidup itu memang pahit. Lo hanya perlu tambah gula biar manis. Untuk mendapat gula kehidupan, lo harus berjuang dengan keras. Setelah itu, lo tinggal nikmatin.”

Setelah penjelasan itu, keduanya sama-sama terdiam. Ada sedikit senyum yang mulai terpancar di bibir Fandy.

Hujan mulai reda. Kopi yang mereka pesan pun sudah habis. Kedua sahabat itu memutuskan untuk pulang. Sampai di depan pintu, Fandy berhenti.

“Bener, Yo. Hidup tidak terlalu buruk.” Ucapnya sambil tersenyum.

Aryo membalas senyum Fandy sambil menepuk pundaknya dua kali.



 ***

Yosh! #Memfiksikan lagi. Temanya KOPI. Gue bikin sebuah cerpen. Seperti biasa cerpen gue kali ini masih tentang Aryo, sama seperti yang sebelumnya. 


Gue tunggu tulisan kalian, ya!

Best Regards



Agung Adiwangsa
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

29 comments:

  1. Makin lama jago lu, Gung! Hahaha. Kerenlah. :)
    Analogi kopinya mantep. Yuk terus #memfiksikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha bisa aja lo, Yog! :D
      Ya, semoga bisa terus. :)

      Delete
  2. wah itu nama saya, fandy nama saya X)))

    ReplyDelete
  3. Hidup ini ibarat minum kopi.. pahit2 dikit telan aja..
    http://ilhamabdii.blogspot.com

    ReplyDelete
  4. Iya, Gung. Kalo mau kopinya lebih enak, memang perlu usaha. dan ngebayar lebih mahal. :-d *ini emot jempol*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sih. Tapi, penikmat kopi selalu punya kepuasan sendiri, tidak peduli berapapun harganya. :D

      Delete
  5. Keren lah yaa.. Cerpennya mudah dipahamii. Sukaa~ \o/
    Jadi, kopi kehidupan mana yang mau diminum? :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha makasih, Rim. :)
      Yang lebih enak tentunya :)

      Delete
  6. Soal analogi, gue gak bisa meragukan lo. Gue suka sama tiap analogi lo. Ini serius! Hahaha
    Tolong jelasin kenapa ambisiusnya harus dicetak miring? Ada maksud lainkah? Soalnya cetak miring biasanya ada maksud lain, untuk menekankan sesuatu. Patikel pun! Buka lagi catatannya. Lalu, soal kalimat langsung. Masih suka salah-salah. Okeey. Good job! *mwaack

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke, gue keren! :D
      Siap ! Jangan pernah bosen ngajarin gue, ya!

      Delete
  7. Soal analogi, gue gak bisa meragukan lo. Gue suka sama tiap analogi lo. Ini serius! Hahaha
    Tolong jelasin kenapa ambisiusnya harus dicetak miring? Ada maksud lainkah? Soalnya cetak miring biasanya ada maksud lain, untuk menekankan sesuatu. Patikel pun! Buka lagi catatannya. Lalu, soal kalimat langsung. Masih suka salah-salah. Okeey. Good job! *mwaack

    ReplyDelete
  8. Bagus ceritanya.
    Mulai dari karakter, alur, konflik, semua dapet. Analogi kopinya juga oke. Cuma peran Lolita dikit ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lolita, ya? Coba kita lihat cerita berikutnya. :)

      Delete
  9. hahahahaha, makin keren aja bro. pasti gara-gara sering dikritik :)
    hmm, iya nih ya. aryo lagi tokohnya. namanya sama kayak guru pkn gue! ganti yang kerenan dong, justin gitu... yap, gue juga sedang mencari gula yang bisa bikin hidup gue lebih manis :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya, kritik membangun. :D Semoga bisa semkin baik lagi. :)
      Selamat mencari!

      Delete
  10. Wow! Ini keren analogi kopinya mas agung. Bener juga sih, idup yang biasa-biasa aja sama kayak kopi item. Gue mau hidup gue kayak coffe latte ah. \:D/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pilih sesukamu, berjuang sekuat hatimu! YES! :D

      Delete
  11. Keren cerpennya, gue suka kalo tentang kopi :)

    ReplyDelete
  12. Gila! ini kenapa pada jago-jago banget bikin fiksi. Keren, Gung!
    Nyicil2 aja nulis buku! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha masih belajar sih, Ta. Ya, semoga bisa jadi buku! :D

      Delete
  13. Kopi kehidupan, gue sih emang tiap hari ngopi, dan kopi yang gue minum itu kopi shaset, jadi udah ditentukan ukuran gulanya. kalau kebanyakan air ya paling kurang manis. #lah
    Tapi keren ko fiksinya, gue kira ceweknya mau buat rebutan oleh si Aryo sama si Fandi. Ternyata enggak. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kopi saschet~ Simple. Sudah ditentukan sejak awal. Rasanya gitu-gitu aja, kan? Coba yang lebih enak. Tapi ingat, perlu usaha lebih. :)

      Delete
  14. Bagus, Om. Diksinya ringan tapi ceritanya bagus. Yang ngeganggu adalah Lolitanya mana? Gue tungguin sampe akhir Lolitanya ga nongol-nongol padahal gue udah dandan segala *eh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cerpen gue dari awal memfiksikan itu masih satu cerita. Gue coba sambungin. Nah, soal Lolita, tunggu aja di memiksikan selanjutnya gue bisa bikin apa. :)

      Delete
  15. keren abis, semakin hebat aja nulisnya...
    KOPI KOPI KOPI
    tambah susunya nggak sekalian nih? eheh
    keep posting
    salam katanyaaja.blogspot

    ReplyDelete
  16. Kopi itu pahit sebenarnya jika kopi itu manis karna terdapat gula didalamnya. Sama halnya dengan kehidupan, kehidupan itu pahit sebenarnya pengalamanlah yang membuat kehidupan berubah sedikit demi sedikit menjadi manis :)

    www.diankusumawatit7.blogspot.com

    ReplyDelete