Sebuah Ruangan



“Yo, ada tugas buat lo. Bikin satu artikel tentang tempat wisata yang ada di Bogor. Namanya Lido. Nanti, lo ke sana ditemenin Lolita.” perintah Pak Gondo.

***

Aryo dan Lolita sudah berada di jalan menuju ke tempat tujuan. Satu jam terjebak kemacetan, mereka langsung menuju alamat yang ada di kertas pemberian Pak Gondo. Indah yang diharapkan ternyata hanya khayalan. Di hadapannya, sebuah rumah besar bercat putih, kusam. Dinding bagian bawahnya mulai dilapisi oleh lumut. Di halaman depan, berserakan daun-daun kering yang belum disapu. Lebih cocok jadi rumah hantu. Megah, tapi menyeramkan.  

“Mas Aryo dan Mbak Lolita, ya?” seorang bapak mengagetkan mereka berdua.
“Eh, iya, Pak. Bapak siapa, ya?” Aryo bingung
“Panggil aja Mang Yadi. Kemarin Pak Gondo bilang kalo kalian mau datang. Saya disuruh mendampingi selama kalian disini.”
“Emm, tinggal di rumah ini, Pak? Gak serem apa?” Lolita ikut bicara.
“Hahaha! Enggak kok, Mbak. Kalo ada hantu juga, udah takut hantunya sama Mamang.” jawabnya sambil tertawa.

Setelah mengeluarkan barang bawaan, mereka bertiga masuk. Langkah pertama ketika memasuki ruang tamu, bulu kuduk Lolita sedikit berdesir. Interior ruangan yang mirip rumah ala belanda,  membuatnya sedikit begidik. Furniture dari kayu zaman dulu seperti menunjukan bahwa, rumah ini sudah ada sejak Westerling masih berkeliaran di Indonesia. Tidak sampai di situ, sebuah lukisan abstrak yang tergantung di dinding dekat lemari berisi barang antik, memberikan aura mistis tersendiri.

“Yang punya rumah ini collector barang antik. Jadi, jangan heran kalo barang-barangnya terkesan seperti peninggalan sejarah.” Mang Yadi bercerita.

Mang Yadi mengantar Aryo dan Lolita ke kamarnya masing-masing. Di lantai dua sebelum pergi, ia menitipkan satu pesan. Pesan yang cukup aneh.

“Mas, Mbak, kalian anggap saja ini rumah sendiri, ya. Tapi, ingat, jangan sekali-kali masuk ke kamar yang ada di dekat dapur.”

Sebuah pesan yang mengundang banyak pertanyaan. Di rumah seseram ini, mengapa ada ruangan yang tidak boleh dimasuki? Apa ruangan itu bekas pembunuhan si empunya rumah? Kemudian mayatnya dikubur di dalam? Ya, begitulah yang biasanya terjadi di dalam film horror.

***

Langit senja sudah berganti malam. Udara dingin desa Cigombong menyeruak masuk di setiap ruangan. Gemericik air hujan menjadi musik pengiring malam itu. Lampu temaram membuat suasana lebih romantis –atau tepatnya lebih menyeramkan.

Tok..tok..tok... Seseorang mengetuk pintu kamar Aryo.

“Siapa?”
“Ini gue, Yo. Lolita.” jawab seseorang di balik pintu.
“Masuk, Lol.”

Lolita memasuki kamar. Sambil menenteng bantal, tubuhnya yang berbalut selimut menunjukan aura ketakutan.

“Yo, gue tidur di sini, ya? Takut.”
“Lah, kenapa?”
“Lo gak liat, rumah ini udah kayak rumah hantu. Serem!”
“Ah, lebay!”
“Bodo amat!” Lolita meringkuk di kasur sebelah Aryo.

Malam semakin larut. Sudah jam sebelas. Aryo masih asik berkutat dengan laptopnya. Tetiba, ia merasa ingin buang air kecil. Itu berarti ia harus pergi ke WC. Walaupun terlihat berani, ada rasa takut yang terselip dalam hatinya. Kalo gue tahan sampe pagi,bisa jadi penyakit. Kalo keluar, anjir,ngeri juga. Haduuuh. Gumamnya dalam hati.

Perang batin itu tidak berlangsung lama. Ia nekat pergi sendiri. Rasa takut yang berusaha keluar, ia tahan kuat-kuat. Ia berjalan tanpa sekalipun menengok ke arah lain. Langkahnya pun dipercepat..

KREEEKKK...

Sebuah suara seperti orang yang membuka pintu terdengar. Aryo yang sedang asik menunaikan hajatnya, terkejut. Asalnya dari arah dapur –tepatnya sebuah ruangan di sampingnya. Seketika bulu kuduk Aryo berdiri. Jantungnya berdetak seperti Mike Portnoy sedang menggebuk drum. Kencang. Ia menoleh ke arah sumber suara. Tidak ada apa-apa. Tanpa berpikir panjang, ia segera kembali ke kamar. Langkahnya lebih cepat. Ketika melewati ruangan yang dimaksud Mang Yadi,  

PRAAAANGG....

Kali ini suara sesuatu yang pecah. Tanpa menengok ke belakang, Aryo berjalan secepat yang ia bisa. Rasa takut yang sedari tadi ia tahan, akhirnya keluar.

***

Aryo dan Lolita sudah berada di tepi danau. Menikmati udara pagi yang sejuk di sana. Aryo tidak ingin mengingat kejadian semalam. Bersama dengan Mang Yadi, mereka berdua berkeliling untuk mencari informasi. Pemandangan yang cukup indah pun tak lupa Aryo abadikan dalam kameranya.

Sampai sore, mereka baru kembali. Ingatan Aryo kembali ke malam kemarin. Malam ini, ia juga harus menikmati keseraman rumah ini. Rasa berani yang ada saat pertama tiba, kini mulai tergerus oleh rasa takut.

Selesai membersihkan diri, Aryo dan Lolita duduk di dalam kamar. Malam ini pun Lolita tidur di kamar Aryo. Ia percaya sahabatnya itu tidak akan berbuat macam-macam padanya. Lagipula, Aryo sudah menganggap Lolita seperti adiknya sendiri.

“Tempatnya bagus, ya.” Lolita membuka pembicaraan.
“Hmm, gitulah.” jawab Aryo sembari menulis.
“Kapan-kapan, kita ke sini lagi. Jangan pas kerja, kita liburan di sini.”
“Boleh, asal jangan nginep di rumah ini lagi.”
“Di rumah ini lagi? Ogah! Mending gue tidur di mushola.”

Aryo diam tak menjawab.

“Eh, Yo, semalem lo kemana? Gue bangun, lo gak ada.”
“Oh, gue ke WC.”
“Sendiri? Berani emang?”
“Ngapain takut?” Aryo berbohong.

***

Pukul sepuluh malam. Aryo duduk di atas kasur, merangkum informasi yang ia dapat. Lolita berada di hadapannya, membantu Aryo.

“Yo, anter pipis, yuk?”

Aryo tersentak. Ia takut kejadian semalam kembali terulang. Tapi, ia tidak mau memberi tahu Lolita. Rasa takutnya pasti akan menjadi-jadi.

“Ah, lagi tanggung, nih. Tahan aja sampe pagi.”
“Lo gila kali, ya? Bisa kena kencing batu gue!”

Dengan terpaksa, Aryo mengantar Lolita ke kamar kecil. Lolita menggandeng tangan Aryo, ia takut. Mereka berjalan pelan. Suasana gelap membuat jarak pandang mereka berkurang. Jika salah langkah, bisa terjatuh.

Ketika usai menuruni tangga, ada sesosok bayangan hitam berjalan di balik jendela. Seperti ada orang yang lewat di luar. Lolita yang melihatnya langsung terkejut. Pegangannya pada lengan Aryo, semakin kencang.

“YO, ITU APAAA!!!” Lolita sedikit menjerit.
“I-iya, gue juga liat. Ah, elu, sih, pake kebelet segala!”
“Gue takut, Yo!”
“Udah, ayo jalan.”

Hasrat ingin buang air Lolita sudah tersalurkan. Kini, mereka harus kembali ke kamar. Ketika melewati ruangan yang di katakan oleh Mang Yadi, Aryo berhenti.

“Ih, ngapain, sih?” ucap Lolita ketakutan.
“Gue penasaran. Kenapa kita gak boleh masuk ke sini, ya?” Aryo mendekati pintu.
“Yo, lo jangan macem-macem. Mang Yadi bilang gak boleh. Jangan cari masalah.”
“Bentar.” Aryo mendekatkan kupingnya ke pintu.

SREEEKK..... SREEEKK

Keduanya saling pandang. Ada suara terdengar. Sama seperti malam sebelumnya, saat Aryo hendak buang air kecil. Kali ini bukan suara pintu atau barang pecah, tapi seperti suara kuas yang menggores kanvas. Tanpa berbicara sepatah kata pun, mereka langsung pergi dari tempat itu.

Ketika akan menaiki tangga, lagi-lagi Aryo berhenti. Ia terdiam seperti patung. Matanya menatap ke arah lukisan yang tergantung di ruang tamu. Ia mencolek bahu Lolita, lalu menunjukan apa yang dilihatnya. Ada orang berdiri tepat di bawah lukisan, di samping lemari antik. Entah manusia atau bukan. Berpakaian serba hitam, sosok bertubuh tinggi besar itu tidak bergerak sedikit pun. Wajahnya menatap ke arah lantai.

“AAAAARRRGGHHH!!!” Lolita teriak, lalu berlari. Aryo mengikuti dari belakang. Sampai di kamar, mereka langsung menimbun diri dalam selimut. Mencoba melupakan yang baru saja terjadi.

***

Pagi hari, mereka merapikan barang-barang. Bersiap untuk pulang.

“Yo, bener, kan, rumah ini angker.” ucap Lolita.
“Entahlah. Tapi, gue masih penasaran sama ruangan yang ada di dapur itu.”
“Tuh, kan. Udah, jangan cari masalah!”

Selesai merapikan barang, mereka keluar. Ketika menuruni tangga, di anak tangga yang terakhir, Aryo berhenti. Ia langsung membalikkan badan dan berjalan ke arah dapur. Tekadnya bulat. Rasa takut di hatinya, dikalahkan oleh rasa penasaran. Ia berniat membuka ruangan yang dilarang oleh Mang Yadi.

“Yo! Udah, ayo pulang!” Lolita mencoba menghentikan.
“Tunggu bentar!”

Aryo bediri di depan ruangan misterius itu. Mencoba membukanya. Terkunci. Ia tidak menyerah, pintu itu dia dobrak. Satu kali, masih terkunci, dua kali, belum juga terbuka. Di hentakan yang ketiga, pintu itu terbuka. Aryo terdiam melihat isi ruangan, Lolita pun sama. Di dalamnya, terdapat seperangkat alat untuk melukis. Beberapa kanvas terlihat berserakan, sepertinya gambar yang gagal. Dindingnya pun penuh dengan hasil lukisan yang aneh. Aryo tidak mengerti, kenapa Mang Yadi menyembunyikan semua ini.

“Kan udah dibilang, jangan masuk ruangan ini.” Mang Yadi sudah berada di belakang Aryo dan Lolita.
“Mang, ini maksudnya apa? Kenapa Mamang nyembunyiin ini?” ucap Aryo.

Lolita hanya berdiri di balik Aryo.

“Baiklah, Mamang jelasin. Sebenernya, Mamang lagi belajar ngelukis. Kalian lihat lukisan di ruang tamu? Itu satu-satunya karya Mamang yang paling bagus. Sisanya, buruk. Anak Mamang selalu minta dibuatkan lukisan, makanya Mamang belajar terus. Biasanya, tiap malam Mamang ke sini, lalu belajar melukis di ruangan ini.”
“Jadi, suara pintu, barang pecah, dan suara goresan kanvas itu ulah Mamang?”
“Mamang gak mau ganggu kalian. Jadi, Mamang diam-diam masuk ke sini. Suara barang pecah itu asalnya dari guci yang gak sengaja ke senggol.”
“Semalam, yang lewat di depan rumah, itu Mamang juga?”
“Iya, tadinya Mamang mau masuk lewat pintu depan, tapi gak jadi. ”

Mendengar penjelasan Mang Yadi, Aryo dan Lolita tertawa lega. Ternyata, kejadian yang menyeramkan itu ulah Mang Yadi. Mang Yadi pun Ikut tertawa.

“Terus, yang berdiri di samping lukisan semalem, siapa?” Lolita bertanya.
“Wah, kalo itu saya gak tau.”

Seketika semuanya terdiam.


 ***

#Memfiksikan lagi. Temanya Hantu. Sama sepeti sebelumnya, tulisan saya kali ini tetap menceritakan tentang Si Aryo. 

#Memfiksikan 1 : Terjebak Pikiran
#Memfiksikan 2 : Diary Itu
#Memfiksikan 3 : Kopi Kehidupan
 
Terimakasih sudah membaca !




Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

13 comments:

  1. woohhhooo. endingnya keren. menyisakan tanya.
    kalau gua jadi Aryo, udah gua peluk deh tuh Lolita pas di kamar karena ketakuan. hahaha

    ReplyDelete
  2. Bisa aja bikin cerita bersambung. Hahaha. Njir. Gue udah kebawa takut. Mendadak ketawa. Oke, ini bagua. :)

    ReplyDelete
  3. Gilaaak. Gue takut tapi penasaran terus sama ceritanya sampe abis. Tapi gue agak kecewa hantunya malah cowok ya? Menurut gue sih hantu paling serem itu yang cewek. Karna biasanya suaranya mendramatisir .____.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hantu itu cowok karena tokohnya Mang Yadi, bukan Neng Deva. :D
      Iya, gue bikin hantunya cowok karena ngikut tokoh Mang Yadi yang juga cowok. :D

      Delete
  4. Entah kenapa endingnya bikin aku ketawa. Hahaha. XD
    Serem! Tapi, lucu! \o/

    Si Aryo sama kayak aku. Yang takut ke kamar mandi malem-malem karena ketakutan. Tapi, akhirnya panggilan alam mengalahkan rasa takut. Keren. Pfffttt.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Horror Komedi kali, ya? :D
      Ya, cerita hantu gak harus selalu berakhir menakutkan. :D

      Hati-hati, Rim. Kalo ke kamar mandi, jangan nengok ke atas. Nanti ada.....

      Delete
  5. Itu, Lolita, mesti banget ya dipanggil "Lol"... xD
    Mantep, Gung. Lu jago kalo mendeskripsikan keadaan. Gue nggak bisa-bisa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, iya, ya. Gue baru ngeh. :D
      Nanti gue nyari nama panggilan lain deh. :D

      Delete
  6. Dari segi isi, gak tau lagi. Keren. Gue degdegan. Sialan. Hahaha.

    Tapi dari EYD, COBA DIBACA LAGI CATETANNYA, NAK! :(

    ReplyDelete
  7. wadahhhhhhhhhhhhhh, mistis bener. sebagai penyuk film bergenre thriller-mystery, gue suka sama cerita aryo kali ini. meskipun namanya masih aryo (mirip guru pkn gue), tapi tegangnya dapet. tapi gue setuju tu sama komen pertama. kalau gue jadi aryo bisa kali gue ambil kesempatan dikit :))

    ReplyDelete
  8. Bagus lah. Ternyata bukan hantu. :D

    ReplyDelete