Surat Untuk Pelukis #8

Teruntuk Pelukisku,


Apa kabarmu ? Baikkah? Semoga begitu, ya! Jaga selalu kesehatanmu. Musim hujan begini, gampang kena penyakit.

Pelukisku, sudah berapa lama aku tidak mengirimmu surat? Maaf, bukan aku melupakanmu. Tapi, tidak sempat. Setiap kali aku mencoba menulisnya, selalu saja ada halangan. Apa kamu merindukanku? Kalo aku, sudah pasti. Rindu parasmu yang menawan itu.

Aku ingin sedikit cerita padamu, tentang apa yang kualami saat ini. Sudah hampir seminggu aku selalu tidur saat pagi tiba. Bukan tanpa alasan. Saat ini, nenekku sedang sakit. Stroke. Tidak hanya itu, masih ada beberapa penyakit lain –yang tidak bisa disebut ringan- menggerogoti tubuh nenekku. Hampir setiap malam dia tidak bisa tidur. Maka dari itu, aku dan pamanku bergantian menjaganya.

Sebenarnya, tubuhku sudah terasa aneh. Gak enak. Ya, mungkin karena terlalu sering begadang. Tapi, bukan masalah bagiku. Mumpung masih diberi kesempatan untuk berbakti kepada orangtua. Tanpa sedikit pun berpikiran negatif, hari esok tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi.

Ketika sedang terjaga, aku selalu memerhatikan nenekku. Kadang, ada air di sudut matanya. Apalagi kalau bukan air mata? Membayangkan apa yang ia rasakan, hati ini sedih sekali. Diusianya yang sudah senja, ia harus merasakan sakit seperti ini. Tapi, aku tidak bisa menentang. Allah selalu punya rencana untuk hambanya.

Aku jadi ingat ayahku. Sembilan tahun lalu, penyakit sama diderita olehnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berbaring di atas kasur. Sebagian anggota tubuhnya tidak berfungsi. Sebulan ibu membawanya ke Jakarta untuk terapi. Tapi, hasilnya nihil. Sampai akhirnya, tanggal 14 April 2006 di RSUD CIawi, ayahku dipanggil oleh penciptanya. Sejak saat itu, aku tidak pernah mau pergi ke sana lagi. Apapun alasannya.

Awalnya, aku tidak bisa menerima kenyataan. Tapi, semakin dewasa, aku berpikir. Allah memang selalu punya rencana untuk hambanya. Ia pasti memberikan yang terbaik. Coba bayangkan saja, jika saat ini ayahku masih ada, mungkin ia sudah tersiksa oleh penyakitnya. Betul bukan? Sekarang, aku ikhlas.

Dulu, sewaktu ayahku sakit, aku tidak bisa merawatnya, karena aku masih kecil dan harus sekolah. Maka dari itu, sekarang aku tidak ingin menyesal untuk ke sekian kalinya. Selagi aku masih bebas, aku ingin menjaga nenekku. Berbakti padanya.

Pelukisku, aku minta kepadamu, tolong doakan kesembuhan nenekku dan kesehatanku. Karena, sehat itu adalah sesuatu tidak ternilai harganya. Dan untukmu juga, sekali lagi, jaga selalu kesehatanmu. Ingat, jaga.

Pelukisku, itu yang ingin aku ceritakan padamu. Sampai jumpa di suratku yang lainnya, ya. Semoga pak pos tidak terlambat menyampaikannya padamu.

Salam sayang,



Agung Adiwangsa




Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

8 comments:

  1. Pengen bikin, tapi bingung mau nulis apa. Surat cinta rupanya bukan hal yang mudah untuk ditulis buat saya :(

    ReplyDelete
  2. Semoga cepat diberi kesembuhan, ya, neneknya.. Aamiin. :)

    ReplyDelete
  3. Kenapa ngga coba ikut berpartisipasi di #30HariMenulisSuratCinta, tulisanmu menarik.
    Di tunggu kunjungannya di http://strainsofharmony.blogspot.com/ :)

    ReplyDelete
  4. Lu. Keren.
    Ini ngapa gue jadi sedih begini yak. Buat nenek cepet sembuh ya.

    ReplyDelete
  5. Cepet sembuh untuk neneknya ya. :)

    ReplyDelete
  6. Get well soon, Neneknya!
    Pembukaannya gak ada yang lebih ngebosenin lagi, Bang?

    ReplyDelete
  7. Setuju sama Tiwi. Kalimat pembukanya ganti. :) Tapi diksi lu makin keren, Gung.
    Btw, cepet sembuh buat neneknya. Aamiin. Dan cerita tentang ayahnya, gue turut berduka. :')

    ReplyDelete
  8. Semoga Nenek kamu cepet sembuh ya.. Syafakillah.. :)

    ReplyDelete