Surat Untuk Pelukis #9

Teruntuk Pelukisku,

Sudah dua minggu penuh aku selalu tidur menjelang Subuh. Sepertinya, aku benar-benar kembali sakit. Badanku semakin tidak enak. Mataku sering perih. Kedua lenganku terasa sakit. Ini karena aku selalu mengangkat nenekku ketika ia ingin bangun dari tidurnya, atau menidurkannya.

Kondisi nenekku masih belum ada perkembangan. Bicaranya yang sudah tidak jelas membuat kami sulit mengerti apa yang dia ucapkan. Aku kasihan. Aku sering membayangkan jika aku menjadi dia. Menyebalkan ketika kita bicara, tapi orang lain tidak mengerti. Itu juga yang dirasakan nenek. Dia sering marah karena kami tidak mengerti apa yang ia inginkan. Makanya, aku selalu pura-pura mengerti apa yang ia ucapkan, padahal sebenarnya aku menebak-nebak apa yang ia mau. Aku pikir, itu untuk mngurangi sedikit rasa kesalnya.

Malam Minggu kemarin, aku ngobrol berdua dengan seorang bapak. Bapak yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Ia seperti ayahku, karena selalu memberiku nasihat. Ada beberapa nasihat yang ia sampaikan padaku.

Yang pertama, jangan pernah memberi hutang kepada orangtua. Maksudnya, bukan ketika ibumu meminjam uang tapi tidak kamu beri. Tapi, jika ibumu meminjam uang, jangan anggap itu pinjaman. Anggap saja itu pemberian. Dan jika ibumu punya hutang padamu, jangan ditagih.

Yang kedua, jangan pernah sayang kepada sesuatu yang sedikit. Contohnya begini, ketika kamu punya uang lebih, lalu ada orang yang ingin meminjamnya lima ribu, sedekahkan saja. Jangan anggap itu hutang. Ada hak orang lain dalam rejekimu. Jangan sampai Allah mengambilnya secara paksa. Aku juga belum pernah melihat orang miskin karena sedekah.

Yang ketiga, jangan bedakan orang tua. Misalnya begini, ibumu dan ibu temanmu itu sama. Mereka harus kamu hormati. Jangan karena ia adalah ibu dari teman yang kamu benci, lalu kamu jadi ikut membencinya. Dan untuk masa depanmu nanti, ya, semoga masa depan kita berdua, jangan bedakan antara ibumu dan mertuamu.

Peluksiku, aku selalu ingin yang terbaik untukmu. Aku pikir, pesan ini juga penting aku sampaikan padamu. Semoga kamu bisa menjadi pribadi yang baik untuk orangtuamu, orang di sekitarmu, dan juga menjadi yang terbaik untukku. Amin.

Ah, aku rindu padamu. Sungguh!

Pelukisku, rinduku padamu seperti hujan. Datangnya tidak bisa diprediksi. Kadang, aku merasa sangat merindukanmu, seperti hujan yang turun dengan deras, atau hanya rindu kecil, seperti gerimis. Rasa rindu itu sering bertahan lama, seperti hujan yang turun dari pagi hingga sore. Atau, hanya sebentar, seperti hujan yang hanya sesaat. Tapi, sama seperti hujan, selama awan masih berkeliling di angkasa, selama itu pula hujan akan turun. Selama cinta ini masih bersemayam di hati, selama itu pula rindu akan selalu menemani. 

Yap! Aku tunggu balasanmu, ya!


Salam Sayang,


Agung Adiwangsa
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

2 comments:

  1. Iya.. Menyayangi serta menghormati orang tua adalah hal yang baik yah :D

    ReplyDelete