Teruntuk Pelukisku,

Hey, Pelukis. Di awal suratku kali ini, aku ingin mengatakan, aku rindu padamu. Ya, sangat rindu. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bahkan, terakhir jumpa pun aku sudah tidak ingat. Memang, permasalahan kita yang paling berat itu adalah jarak. Posisi yang berjauhan membuat kita sulit untuk bertemu. Rindulah hasilnya.

Kadang, aku mengeluh kepada tuhan. Kenapa kita harus bersatu tapi tidak bisa bersama? Kenapa kita tidak bisa bersama dalam satu tempat? Berjauhan seperti ini cukup menyiksa. Iya, menyiksa hati kala rindu tiba. Tidak hanya sekali, berkali-kali.

Aku sering merasa iri kepada mereka yang bisa bertemu dengan pasangannya kapan pun dia mau. Seperti tadi pagi, di tempatku biasa jogging, banyak sekali pasangan yang asik berpacaran. Mereka berolahraga bersama, dengan pacar masing-masing. Terlihat menyenangkan. Tertawa bersama dengan orang yang dicintai, menyenangkan bukan?

Bohong jika aku tidak ingin seperti mereka. Berjalan bersama denganmu, menikmati udara pagi yang segar dan pemandangan yang indah. Membayangkannya saja sudah senang, apalagi benar-benar terjadi.

Pelukisku, aku memang pernah mengeluh. Tapi, itu tidak lama. Malah, sekarang aku lebih sering bersyukur. Walaupun berjauhan, aku bahagia bersamamu. Apa mereka yang sering bertemu, bisa sebahagia kita yang berjauhan? Belum tentu. Bisa saja mereka sering bertemu, sering pula bertengkar. Kita? Kapan terakhir kita marahan? Tidak pernah, bukan?

Hubungan jarak jauh ini mengajarkanku banyak hal. Dan yang paling terasa itu adalah belajar bersabar. Ya, bersabar mengahadapi rindu ini misalnya. Kadang memang terasa sangat berat, sampai-sampai aku hampir menyerah. Tapi, kamu selalu bisa membuatku bertahan.

Pelukisku, tak peduli seberapa jauh jarak yang memisahkan kita, aku akan terus bertahan untukmu. Aku selalu berdoa, agar tuhan menjaga perasaanku, perasaanmu, dan perasaan kita agar selalu bersama. Walaupun harus berakhir, aku harap akan menjadi akhir yang indah. Berakhir dengan sebuah pernikahan, indah bukan?

Pelukisku, aku ingin menjadi pohon yang tumbuh di mana pun kamu berada. Yang menjadi tempatmu bersandar saat kamu merasa lelah. Menyediakan oksigen untukmu bernapas. Jika lapar, kamu bisa memetik buahku. Dan jika suatu saat nanti hatimu kehilangan arah, aku akan tetap berdiri di situ. Agar kamu tahu, di mana cinta itu berada.


Salam sayang,


Agung Adiwangsa  

Ketika kamu datang membawa sebuah cerita. Kamu mulai menuliskan kisah baru pada lembar yang masih kosong itu. Dengan kata sederhana, kamu merangkumnya menjadi sebuah kalimat yang sempurna. Serupa purnama di antara jutaan bintang. Indah.

Melukiskan kenangan yang aku sendiri tidak pernah membayangkannya. Kamu membawaku ke sebuah dunia yang hanya ada kebahagiaan di dalamnya. Aku bertanya-tanya, apakah ini mimpi atau nyata? Atau, kenyataan yang selalu kuimpikan? Hingga akhirnya, kamu menjawab dengan sebuah senyuman yang membuatku yakin. Ya, ini nyata.

Ada benih yang tertanam dalam hati yang mulai gersang. Ada senyum terpancar dari wajah yang mulai kering. Itu semua ulahmu. Kamulah pemeran utamanya.

Aku selalu berdoa. Semoga tuhan memberikan waktu lebih kepada kita. Agar aku bisa terus bersama satu ciptaan-Nya yang begitu sempurna. Tidak. Kamu tidak sempurna. Kamu sederhana. Ya, kesederhanaan yang sempurna, itu kamu.

Di bawah langit musim semi penuh warna, kamu berjalan sendirian. Di jalan panjang yang selalu kamu bayangkan, sama seperti mimpi yang pernah kamu impikan. Aku akan menjadi pohon sakura yang abadi, tak akan bergerak dari sini. Ketika hatimu kehilangan arah

"Aku akan berdiri di sini. Agar kamu tahu, di mana cinta itu berada"
“Yah, cuma lima ratus ribu doang. Itu aja yang paling murah. Kapan lagi aku bisa nonton One Direction langsung? Apalagi, Zayn Maliknya mau keluar.”
“Ayah lagi gak ada uang. Nanti kalo ada, pasti Ayah kasih.”
“Kapan, Yah? Kan, Ayah cuma pulang seminggu sekali. Nanti konsernya keburu lewat.”

***

Begitu yang dipinta Yuri setiap kali ayahnya pulang kerja. Anak tunggal dari pasangan Pak Yusuf dan Bu Indah cukup keras kepala. Jika memiliki kemauan, harus selalu dituruti. Seperti sekarang, fans berat One Direction ini ingin menyaksikan idolanya tampil. Memang masih satu bulan lagi. Tapi, uang lima ratus ribu untuk satu tiket itu tidaklah sedikit. Ditambah, mereka bukanlah dari keluarga kaya, hanya berkecukupan. Tentu uang sebanyak itu sangat berharga. Daripada membeli tiket yang hanya sekali pakai, lebih baik untuk membeli makanan.

Pak Yusuf, ayah Yuri, bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Ia hanya seminggu sekali pulang ke rumah. Ia lebih memilih menetap di sana ketimbang harus bulak-balik Bogor-Jakarta. Selain boros ongkos, energi pun cukup terkuras selama di perjalanan. Oleh karena itu, setiap kali ada di rumah, Yuri selalu merengek minta dibelikan tiket kepada ayahnya, karena hanya pada saat itulah mereka bisa bertemu. Bu Indah pun sudah pusing dengan kelakuan anaknya itu. Tidak hanya sekali, Yuri sering meminta sesuatu dan harus selalu di turuti. Seperti beberapa waktu lalu, ia minta dibelikan sepatu baru. Terpaksa ibunya memakai uang simpanannya untuk memenuhi keinginan Yuri.

“Nak, Ayah lagi gak ada uang. Kan masih satu bulan lagi. Nanti, kalo Ayah ada, pasti dikasih, kok.”
“Ayah ini, nanti mulu. Nanti kapan? Kalo konsernya udah selesai? Teman-temanku yang lain pada nonton. Masa aku enggak?”
“Teman-temanmu kan orang kaya. Orangtua mereka bisa kasih begitu aja. Sedangkan Ayah? Lagian, baru kemarin kamu beli sepatu baru, uangnya sudah habis.”
“Ah, Ayah gak sayang sama aku!”

***
Konser One Direction sudah tinggal tiga hari lagi. Yuri belum juga mendapatkan uang lima ratus ribu itu. Ayahnya selalu memberikan alasan yang sama. Nanti, nanti, dan nanti. Kesabarannya sudah habis. Ia berniat menyusul sang ayah ke tempat kerjanya. Dengan bermodal kertas alamat yang ia dapat dari teman ayahnya, ia pergi sepulang sekolah.

Jalanan pada saat itu cukup bersahabat. Ia sampai di tempat kerja ayahnya pukul empat sore. Ia mencari tahu keberadaan ayahnya kepada para pekerja lain. Memang selama ini Yuri tidak tahu apa pekerjaan sang ayah. Ia hanya tahu ayah bekerja di sebuah perusahaan asing di daerah Jakarta Selatan.

“Mbak, bisa saya bertemu dengan Pak Yusuf?” Yuri bertanya kepada bagian informasi.
“Maaf, Dek. Pak Yusuf yang mana, ya?”
“Yusuf Aditya, Mbak.”
“Baik, tunggu sebentar ya, Dek.”

Petugas bagian informasi itu segera menghubungi bagian tempat ayah Yuri kerja. Yuri duduk menanti kedatangan sang ayah. Tak lama, seorang pria berumur empat puluh delapan tahun berjalan ke arahnya. Dengan seragam berwarna biru dan di pundaknya terdapat handuk kecil berwarna putih.

“Yuri, ngapain kamu ke sini?” ucap pria yang tidak lain adalah ayah Yuri.
“Mau nyusulin Ayah.”
“Hmm... tunggu Ayah sebentar lagi, ya? Ayah belum selesai kerja. Ngobrolnya jangan di sini.”

***

Jam kerja selesai. Yuri masih menunggu di bagian inormasi. Ayahnya datang menghampiri.

“Huh, lama banget, sih?” Yuri menggerutu.
“Sabar. Ini sudah selesai kok. Ayo, kita ke tempat ayah.”

Keduanya berjalan menuju tempat tinggal ayah Yuri selama di Jakarta.

“Sebenarnya, Ayah kerja apa, sih?”

 Ayahnya tidak menjawab. Ia hanya membalas pertanyaan Yuri dengan senyuman.

Setelah berjalan beberapa lama, sampailah ayah dan anak itu di sebuah mushola. Ayah Yuri masuk ke dalam. Bukan untuk shalat, karena ini bukan waktunya. Yuri mengikuti dari belakang. Ia bingung, apa yang akan ayahnya lakukan di tempat ini.

“Katanya mau ke rumah Ayah?”
“Ya, ini, kita sudah sampai di rumah Ayah.”
“Hah? Mushola ini?”
“Iya, ayo duduk. Gak ada kursi di sini. Jadi, di lantai saja,”

Mereka berdua duduk di lantai yang beralaskan sajadah. Yuri masih dengan ekspresinya yang kebingungan.

“Kenapa? Kamu heran, Ayah tinggal di mushola ini?”
Yuri mengangguk.
“Nak, dulu memang Ayah tinggal di sebuah kontrakan. Tapi, semakin hari kebutuhan keluarga kita semakin banyak. Uang Ayah tidak cukup untuk memenuhi semua itu. Makanya, Ayah tidak lagi tinggal di sana. Dan sekarang, Ayah tinggal di sini.”
“Lalu, Ayah masaknya gimana? Kan, gak ada alat masak di sini.”
“Ayah biasa beli makanan di warung. Ya, beli mie instan. Kalo ada uang, beli yang lebih enak. Tapi, kadang ada temen yang ngajak makan. Dia yang bayarin.”

Yuri terkejut dengan cerita dari ayahnya. Ia tidak menyangka, selama bertahun-tahun, ayahnya tinggal di sebuah mushola kecil dekat tempat kerjanya.

“Tadi kamu nanya kerjaan Ayah? Baiklah, sekarang Ayah kasih tau. Di sini, Ayah kerja jadi cleaning services.
“Serius, Yah?”
“Iya, dari situlah Ayah bisa membayar sekolahmu, membeli makanan untukmu dan Ibumu, baju yang kamu pakai sekarang,” jelas ayahnya.
“Oh, iya. Ayah jadi lupa nanya tujuanmu ke sini. Kamu masih tetep pengen nonton konser itu?”
Yuri diam tak menjawab.
“Ayah bukan gak sayang sama kamu. Ayah sayang banget sama kamu. Kalau tidak, ngapain Ayah cape-cape kerja kayak gini? Ayah bukan gak mau nurutin kemauan kamu. Tapi, Ayah memang lagi gak ada uang. Kamu tau sendiri, kan, setiap kali kamu pengen sesuatu, Ayah selalu belikan. Kalau gak sayang, ngapain Ayah bela-belain nyari uang buat itu?”

Perlahan, kepala Yuri tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Konser itu? Penting banget buat Kamu? Baiklah, ini ada uang simpanan Ayah. Kalau dengan ini kamu bisa percaya Ayah sayang sama kamu, pakailah.”

Beban di kepala Yuri seperti bertambah. Ia semakin tertunduk. Matanya pun sudah tak mampu lagi bertahan. Butiran air mulai mengalir melalui pipinya dan terjatuh di hamparan sajadah yang ia duduki. Hatinya terasa sakit sekali. Ya, sakit karena ulahnya sendiri.

“Ayaah! Maapin aku!”

Yuri memeluk ayahnya. Air matanya pecah, berhamburan ke mana-mana. Cerita dari sang ayah membuat hatinya tersadar. Saat ini, bukan lagi konser One Direction yang ada di pikirannya. Ia hanya ingin memeluk ayahnya dengan sangat erat.

***

Adzan Maghrib berkumandang. Pak Yusuf berdiri mengimami Yuri yang ada di belakangnya. Selesai shalat, mereka berdua membeli makanan.

“Ibu tau kalo kamu ke sini?”
“Oh, iya! Aku lupa bilang.”
“Hmm... lain kali jangan diulangi lagi. Ibumu pasti khawatir.”

Keduanya asik menyantap makanan yang ada di hadapan mereka. Sambil diselingi candaan, mereka menghabiskan makanannya dan bersiap untuk pulang ke rumah.

“Jadi, gimana? Masih mau nonton konser itu?”
“Hmm... enggak. Sekarang idolaku bukan mereka. Ada yang lebih hebat. Ayahku.” Yuri tersenyum.
Aku tidak pernah mengira bisa dipanggil “Pak Guru.” Padahal, aku sama sekali tidak punya niatan untuk bekerja di bidang itu. Memang, alm. Ayah dulu seorang guru. Waktu kecil aku sempat punya keinginan untuk menjadi guru, seperti ayahku. Tapi, seiring berjalannya waktu, keinginan itu terkikis oleh cita-citaku yang lain.

Ini berawal ketika bibiku menawari pekerjaan untuk mengajar di tempat bimbingan belajar miliknya. Aku sempat menolak, karena aku tidak punya pengalaman apa-apa perihal mengajar. Selain itu, aku hanya tamatan SMA. Aku merasa ilmuku belum cukup.

Satu waktu, aku iseng main ke tempat bimbel bibiku. Kebetulan, salah seorang guru yang mengajar kelas lima SD tidak hadir. Melihatku yang tidak ada kerjaan, bibi memintaku untuk menggantikan posisinya. Lagi, aku menolak permintaannya itu. Tapi, lama-lama aku merasa kasihan juga. Anak-anak jadi terlantar karena tidak ada yang memperhatikan. Akhirnya, aku bersedia menggantikan posisi guru yang tidak hadir hanya untuk hari itu saja. Dengan bermodal buku dan sok tau, aku mulai membimbing mereka.

Setelah kegiatan hari itu, aku diminta mampir ke rumah bibiku. Aku memang biasa main ke sana. Di sana, lagi-lagi aku ditawari pekerjaan yang sama. Aku tetap dengan sikapku yang menolak.

“A, mumpung belum dapet kerjaan, mending ngajar dulu. Cari pengalaman, belajar jadi guru.”
“Ah, Bi, Agung gak bisa. Jadi guru kan harus bisa materi yang mau diajarkan. Materi SD banyak yang udah lupa.”
“Kan ada buku, kamu bisa baca-baca. Lagian cuma anak SD ini. Pelajarannya belum terlalu sulit. Kebetulan masih kurang guru buat kelas lima. A Femi harus fokus di kelas enam.”

Begitulah percakapan yang terjadi antara aku dan bibiku. Hingga bujukan-bujukan yang dilontarkan bibi membuatku menerima pekerjaan itu dengan alasan “nyoba dulu”

Setelah beberapa kali mengajar, aku mulai menikmati pekerjaan ini. Mungkin karena ayahku yang seorang guru, jadi ilmu mengajarnya sedikit mengalir dalam darahku. Aku selalu mencoba beberapa cara untuk membuat anak didikku merasa nyaman dan senang belajar bersamaku. Misalnya, dalam memilih pelajaran, aku tidak pernah menentukan pelajaran apa yang akan kami peajari saat itu, aku biasa memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih pelajaran sesuka hati. Ini aku lakukan karena menurutku, dengan membiarkan mereka menentukan sendiri, itu akan lebih membuat mereka semangat dalam belajar, karena pelajaran itu yang mereka inginkan. Beda dengan jika aku yang menentukan. Aku takut, jika aku memilih pelajaran yang ternyata tidak ingin mereka pelajari saat itu, mereka akan menjadi malas dan belajar dengan terpaksa. Aku juga sering mengajak bercanda agar tidak terkesan menegangkan.

Selama mengajar, aku menyebut diriku dengan sebutan “Kakak.”. Tapi, murid-muridku malah memanggil dengan sebutan “Bapak” atau “Pak Guru”. Itulah awalnya kenapa aku bisa dipanggil “Pak Guru” sampai ada satu momen, salah seorang anak bertanya kepadaku.

“Pak Guru, kok masih muda udah dipanggil bapak?”

Aku hanya tertawa kecil mendengar pertanyaannya itu. Ya, umurku baru dua puluh tahun, masih terlalu muda untuk dipanggil “Bapak”.

Ada sedikit kebingungan. Di tempat bimbel itu, kakakku juga ikut menjadi pengajar untuk kelas tiga. Ini yang menjadi aneh. Aku yang hanya lulusan SMA mendapat tugas di kelas lima, sedangkan kakakku yang S1 di kelas tiga. Padahal, itu berarti ilmu kakakku lebih tinggi dariku. Aku sempat protes. Tapi, bibiku menjawab dengan santai “Ya, bagus dong. Itu berarti kemampuanmu sebanding dengan mereka yang gelarnya lebih tinggi darimu. Harusnya bangga, bukan protes.”

Sudah hampir setengah tahun aku menjelma menjadi seroang Pak Guru. Aku sudah sangat menikmatinya. Bahkan sekarang, aku membimbing beberapa anak di rumahku. Aku lakukan itu tanpa meminta bayaran sepeser pun. Sempat kepikiran membuat tempat bimbingan belajar untuk anak-anak kurang mampu, tapi belum kesampean juga. Seringkali aku merasa sedih ketika bepergian dan melihat anak-anak jalanan yang harusnya sekolah tapi malah mencari rejeki di pinggir jalan. Dari situlah muncul ide untuk membuat tempat bimbingan belajar itu. Yah, semoga suatu saat bisa terlaksana. 

Kemarin aku merasa bangga sendiri. Anak pamanku, kelas lima SD, mengkuti olimpiade sains. Aku mencoba untuk mengantarkannya menjadi yang terbaik. Setiap hari aku memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan. Tidak secara serius. Kadang, saat aku sedang mengerjakaan pekerjaan lain, atau dia sedang asik bermain, aku tiba-tiba memberinya pertanyaan dan dia menjawabnya. Kami terus melakukannya sampai hari itu tiba, Olimpiade Sains Nasional tingkat kabupaten. Setelah hari itu, aku tidak langsung mendengar kabar darinya. Aku harus menjaga nenekku yang sedang sakit. Saat aku pulang ke rumah, tiba-tiba dia datang dan mengucapkan terimakasih. Katanya, ia lolos tingkat kabupaten dan harus bersiap untuk tingkat berikutnya.

Mendengar kabar itu, aku senang. Bukan aku yang hebat, tapi dia yang pintar. Selama ini, aku hanya membimbingnya, bukan mengajarinya. Aku tidak memberinya pengetahuan baru, hanya memberi jalan bagi ilmu yang ada pada dirinya agar keluar. Ya, aku pikir, semua orang itu pintar. Mereka sudah punya ilmu terpendam dalam diri mereka sendiri. Tapi, tidak semua bisa membuka dan mengeluarkan ilmu itu. Buktinya, banyak yang pintar tanpa belajar dari seorang guru. Sama dengan kisah Nabi Yunus as ketika ia ditelan oleh seekor paus. Ia harus mengeluarkan dirinya agar bisa bermanfaat bagi banyak orang. Ilmu pun begitu. Kita harus mengeluarkannya, agar bisa bermanfaat untuk orang banyak. Tapi, itu hanya menurutku saja yang sok tahu. Menyambungkan kisah yang satu dan lainnya. Bagiku, itu bermanfaat, untuk motivasi diri.

Baiklah, ini adalah sepenggal kisahku. Semoga dengan kamu membacanya, bisa bermanfaat untukmu. Sampai jumpa di kisahku selanjutnya.


Best Regards,


Agung Adiwangsa




Teruntuk Pelukisku,


Maaf, dua minggu kemarin aku tidak mengirimmu surat. Aku tidak lupa. Tidak. Hanya saja, aku tidak sempat menulisnya. Sudah beberapa hari aku absen menulis. Padahal, banyak yang aku ingin ceritakan kepadamu.

Oh iya, apa kabarmu? Baik-baik saja, kan? Aku dengar, sekarang makanmu sudah teratur, ya? Hmm... bagus. Kamu harus banyak makan. Agar selalu sehat. Kalau nanti badanmu gemuk, aku jadi gampang berlatih tinju. Emm... maaf, bercanda hehehe!

Pelukisku, sudah genap satu bulan, bahkan lebih, semenjak nenekku sakit. Sebetulnya, dia memang sudah sakit sejak lama. Tapi, satu bulan terakhir, sakitnya semakin parah. Sampai-sampai, sekarang dia tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Untuk pergi ke kamar mandi pun, aku dan ibuku harus menggandengnya.

Satu bulan nenekku sakit, satu bulan juga aku selalu bergantian menjaganya pada malam hari. Itu berarti, selama itu pula aku selalu begadang bersama dengan pamanku. Ya, sebenarnya, badanku rasanya sudah tidak mampu. Tapi, kalau bukan kami, siapa lagi? Anak-anaknya yang lain sudah terlalu tua. Selain itu, beberapa diantara mereka sudah berkeuarga.

Pagi tadi, dadaku sakit sekali. Seperti tertusuk dari depan tembus ke belakang. Ah, rupanya tubuhku sudah mulai kelelahan. Dia minta istirahat. Tapi, aku sedikit ngeyel. Bukannya istirahat, malah disuruh kerja lebih. Alhasil, tumbanglah aku ini.

Bukannya aku tidak mau istirahat. Tapi, mencuri waktu untuk istirahatnya itu yang agak sulit. Ya, aku memang pengangguran yang sibuk. Aku punya anak didik baru selain murid-muridku di tempat bimbel. Setiap hari, aku belajar bersama anak-anak di rumahku. Masih saudara, sih. Lalu, sorenya, aku baru berangkat mengajar muridku di tempat les.

Oh iya, aku punya kabar baik. Kemarin, sepupuku mengikuti olimpiade sains. Aku mencoba kemampuanku untuk mengantarkannya menjadi juara. Setiap hari, aku membimbingnya dalam pelajaran. Dan alhamdulilah, dia masuk sepuluh besar tingkat kabupaten. Itu berarti, dia memang pintar.

Pelukisku, sampai di sini dulu suratku kali ini, ya. Badanku sepertinya perlu istirahat. Kamu harus selalu menjaga kesehatanmu. Dan ingat, jangan pernah berhenti belajar dan beribadah. Karena dua hal itu yang akan menyelamatkanmu di dunia dan akhirat.

Salam sayang,



Agung Adiwangsa
Sudah jam sembilan malam. Aryo masih asik bercengkrama dengan laptopnya. Ia masih di kantor. Mengutak-atik tulisan yang harus segera rampung hari itu juga. Minggu ini majalah yang diterbitkan oleh perusahaan tempatnya bekerja harus segera beredar. Sedangkan, ini sudah hari Jumat, ia belum selesai juga. Dengan terpaksa, ia harus berada lebih lama di kantor.

“Mas Aryo belum pulang?” tanya Ali -salah seorang security yang sedang berkeliling.
“Belum, nih. Biasa, kerja lembur.”
“Wah, deadline lagi, Mas?”

Aryo mengangguk.

“Mas Aryo masih lama?”
“Hmm... kayaknya, sih, gitu. Kenapa?”
“Gak apa-apa. Jangan pulang terlalu malam. Sekarang, kan, lagi rame-ramenya begal.”

Berita akhir-akhir ini memang sedang ramai dengan kejahatan dari para begal. Mereka tidak segan-segan melukai korbannya, bahkan membunuh. Terlalu beresiko untuk pulang sendiri larut malam. Ditambah, Aryo yang sudah mulai mengantuk. Otaknya yang dipaksa kerja keras membuat ia menjadi cepat lelah.

“Iya, ya. Haduh, belum beres, nih. Pak Ali pulang jam berapa?”
“Jam sebelas, pas pergantian shift.
“Bawa motor juga, kan? Bareng dong.”
“Yaudah, asal Mas Aryo mau nungguin aja.”
“Oke, nanti saya ke pos kalo udah beres.”
“Saya keliling dulu ya, Mas.”

Aryo kembali meneruskan pekerjaannya. Jarinya beradu dengan huruf-huruf yang tersebar di keyboard laptopnya.

Setelah beberapa lama, pekerjaannya selesai juga. Ia merenggangkan pinggangnya yang sedari tadi duduk. Tangannya ia rentangkan selebar mungkin, menyebabkan bunyi di antara sendi tulangnya. Duduk terlalu lama membuat badannya terasa pegal. Matanya mulai memberat menahan kantuk. Ia sandarkan punggungya ke sandaran kursi. Mencoba duduk se-rileks mungkin. Mengistirahatkan matanya yang sejak tadi menatap layar laptop.

***

Aryo sudah berada di parkiran motor bersama dengan Ali dan Eko –security di kantor tempatnya bekerja. Ketiganya membawa sepeda motor. Mereka bertiga pulang bersama, untuk menghindari ancaman dari para begal.

Aryo memacu motornya lebih dulu, Ali dan Eko mengikuti di belakang. Mereka bertiga berjalan beriringan. Baru jam sebelas, tapi kondisi lalu lintas sudah sepi. Mungkin karena berita tentang begal itulah, orang-orang jadi takut keluar saat malam.

Sampailah mereka di jalur yang sangat sepi. Di sekitar hanya ada lahan kosong dan pohon-pohon jalanan. Sesekali terlihat rumah, namun sangat jarang. Jarak dari rumah yang satu ke rumah yang lainnya cukup jauh. Tempat yang cocok untuk para begal beraksi.

Aryo mulai merasa gelisah. Ia seperti merasa akan terjadi suatu hal yang buruk. Mencoba untuk tidak menghiraukannya hanya membuat ia semakin gelisah. Berkali-kali ia melihat ke arah spion. Tidak ada apa-apa. Kedua temannya masih setia mengikuti dari belakang.

Beberapa meter kemudian, Aryo melihat sebuah batang pohon melintang di tengah jalan. Ia langsung menghentikan laju motornya.

“Apaan, nih? Kok ada batang pohon di tengah jalan gini?” Aryo kebingungan.
“Wah, yang pernah saya baca, sih, ini salah satu cara penjahat mencari mangsanya.” jawab Eko.

Mereka bertiga segera memindahkan batang pohon itu ke pinggir jalan. Takut apa yang dikatakan Eko menjadi nyata. Setelah itu, mereka kembali ke sepeda motornya masing-masing.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara sepeda motor yang dikebut. Ali menoleh ke arah belakang. Terlihat tiga sepeda motor yang berjalan sangat cepat ke arahnya.

“Wah, gawat, ada yang ngikutin! Cepet jalan!”

Aryo dan yang lain segera memacu kendaraanya secepat mungkin. Tapi, tiga pengendara di belakang tidak sedikit pun mengurangi kecepatannya, mereka semakin dekat. Mereka berteriak, memerintahkan Aryo dan temannya untuk berhenti. Sambil mengacungkan senjata tajam, mereka mengancam. Eko yang berada paling belakang menjadi sasaran empuk. Ia dihimpit oleh dua motor, memaksanya untuk berhenti. Ia mencoba melawan. Akibatnya, satu sabetan clurit mendarat tepat di lengan kirinya. Eko terjatuh.

Ali yang masih berjalan di belakang Aryo langsung menghentikan motornya. Ia mencoba menolong temannya itu. Aryo yang melihat Ali berhenti menjadi bingung. Berhenti berarti harus menghadapi para penjahat itu, pergi berarti meninggalkan temannya. Ia takut, tapi tidak ingin temannya menjadi mangsa para penjahat itu.

Tanpa berpikir lebih lama lagi, ia langsung menghentikan motornya dan langsung berbalik arah. Sebelumnya, ia memncari sebatang kayu untuk senjata. Dari kejauhan ia melihat Ali sedang berkelahi dengan tiga orang pembegal. Sebagai security, ia memang dibekali ilmu bela diri. Beberapa sabetan parang berhasil ia hindari. Sedangkan Eko, dengan tangan bercucuran darah, ia mencoba melawan serangan dua orang musuh lainnya.

Aryo berlari menghampiri sambil membawa sebatang kayu yang ia ambil di pinggir jalan tadi. Dua orang penjahat menyambut kedatangannya. Kini lengkap sudah, mereka bertiga mendapat lawan masing-masing. Lima lawan tiga. Aryo melawan dua orang, Ali juga melawan dua orang, dan Eko, dengan tangan yang cedera harus melawan satu orang.

Malam semakin larut. Tidak ada satu orang pun yang lewat di jalan itu. Ini merupakan malapetaka bagi Aryo dan temannya. Mereka kalah jumlah. Sudah dipastikan, para penjahat itulah yang menang. Mereka pergi membawa motor Ali dan Eko. Sedangkan motor Aryo mereka tinggalkan, karena tidak ada yang mengendarai.

Eko tergeletak bersimbah darah, ia tidak sadarkan diri. Beberapa luka bacok bersarang di tubuhnya. Begitu juga Ali yang berada tidak jauh dari Eko. Baju security-nya yang berwarna putih kini berganti menjadi merah karena darah. Di sisi lain, Aryo duduk bersandar di bahu jalan. Tangannya memegang perut bagian kiri. Ada luka tusuk menganga di sana. Ia mencoba bangkit dan menghampiri Ali.

“L-li, bangun, Li!”

Tidak ada respon. Ali tidak bergerak sedikit pun.

“Aliii!” dengan lemah Aryo berteriak.

Tetap tidak ada respon.

Aryo memegang urat nadi Ali. Tidak berdetak. Ia mencoba lagi, kali ini di lehernya. Masih sama. Ali tewas. Ia kehilangan satu temannya. Ia menatap ke arah tubuh Eko yang tidak bergerak sama sekali. Sambil menahan rasa sakit, ia mencoba merangkak ke tempatnya. Berharap temannya itu masih selamat. Namun, hal sama terjadi padanya. Tidak ada denyut nadi. Kedua temannya itu telah meninggal dunia.

Angin berhembus melewati luka-luka di tubuh Aryo, membuatnya semakin kesakitan. Darah segar terus mengalir di luka sobek akibat tusukan tadi. Sekuat tenaga ia menahannya. Ia berharap ada orang yang lewat, dan menolong mereka bertiga. Tapi, seperti sudah direncanakan, tidak ada satu pun orang yang lewat. Air matanya menetes. Sepertinya ini hari terakhir Aryo. Pandangannya semakin kabur, kesadarannya mulai hilang. Dengan tenaga yang tersisa, ia mencoba mengambil handphone di saku celananya. Mencari satu nama kontak. Lolita. Ya, dialah harapan satu-satunya saat ini. Namun sial, tenaganya habis. Untuk memencet tombol pun ia tidak mampu. Handphone-nya terjatuh. Pandangannya semakin hilang. Kepalanya berputar, pusing. Tubuhnya semakin lemah. Ia terjatuh, tidak sadarkan diri.

***
“Mas Aryo. Mas, bangun, Mas.” Seseorang membangunkan Aryo.

Matanya terbuka. Di depannya berdiri Ali dan Eko. Keduanya baik-baik saja. Tidak ada satu pun luka di tubuh mereka berdua. Begitupun Aryo, luka tusuk yang tadi menghiasi tubuhnya, kini hilang. Seperti kejadian pembegalan itu tidak pernah terjadi.

“Kalian baik-baik aja? Begal tadi kemana?” Aryo kebingungan.
“Begal? Begal yang mana, Mas?”
“Bukannya tadi kita diserang begal?”
“Ah, Mas Aryo ngaco, nih. Baru aja kita mau ngajak pulang. Yang shift malam sudah datang. Mas Aryo kayaknya kecapean, sampe ketiduran gitu” jelas Ali.

Aryo bernapas lega. Ternyata, serangan dari para pembegal itu hanya mimpi. Ia kelelahan, sampai-sampai tertidur di meja kerjanya sendiri.   



 ***

#memfiksikan minggu ini. Terimakasih sudah membaca!.



Best Regards,



Agung Adiwangsa
Menjadi seorang penulis itu bukan cita-cita gue. Bahkan, menulis pun sebenarnya bukan hobi utama gue. Dulu, gue memang sempet, sih, kepikiran untuk jadi penulis. Tapi, itu Cuma pikiran selewat aja. Karena gue gak tau apa-apa perihal menulis. Cara penulisan yang baik aja gue gak tau. Tulisan pun kayak ceker ayam yang udah jadi sop. Jadi, maklumin, ya, kalo posting-an gue yang dulu-dulu pada hancur.

Gue berkecimpung di dunia tulis-menulis, itu karena temen gue. Dieqy. Dia ngenalin gue sama yang namanya blog. Gue sendiri waktu itu gak tau, apa itu blog. Setelah gue dapet penjelasan dari dia, gue putuskan untuk bikin. Sejak saat itulah gue mulai nulis.

Gue belajar cara nulis yang baik itu baru banget. Awal Januari 2015 kalo gak salah. Malem-malem gue curhat sama Tiwi. Biasa, curhatan anak muda. Gue sering minta kritik buat tulisan-tulisan gue. Tapi, gue minta dia kasih kritik sepedas mungkin. Ya, buat memacu adrenalin aja. *apaan sih?!

Dari sering dikritik itulah, gue jadi minta ajarin ke dia cara menulis yang bener. Untung dia baik (Gue muji, nih, Tiw!) mau ngajarin. Gue disuruh kirim tulisan ke dia sebelum posting, buat dikoreksi. Setelah kembali, gue kaget. Banyak tanda merah, itu berarti cara menulisnya salah.

Selain membuat tulisan, sebagai seorang blogger gue pasti sering blogwalking. Silaturahmi antar blogger. Gue sering main-main ke blog orang, walaupun lebih sering jadi silent reader. Buat baca tulisannya, sekaligus nambah ilmu dari tulisan yang mereka bikin. Sialnya, gue adalah blogger yang hidupnya tergantung kuota. Jadi, kalo kuoata mumpuni, gue baru bisa main. Ada beberapa blog yang pasti gue datengin atau gue tunggu tulisannya. Bukan karena mengidolakan. Tapi, karena menurut gue tulisan mereka itu menarik.


Uni Dzalika (Unidzalika.com)
Gue suka mampir ke blognya Uni buat baca cerpen bikinannya. Buat gue, yang bisa dibilang awam, cerpen dia itu keren. Gue suka jadiin cerpen dia buat bahan referensi. Ya, gue lagi suka bikin-bikin cerpen gitu. Ada beberapa di #ceritasiagung yang udah gue post. Sisanya, masih di draft. Jangan dibandingin. Udah pasti gue kalah telak.

Pertiwi Yuliana (pertiwiyuliana.blogspot.com)
Kalian pasti tau siapa dia. Dia editor pribadi gue yang kejam. Kok kejam? Ya, cara kritik dia yang cukup pedas itulah yang bikin dia keliatan kejam. Padahal, aslinya kagak. Serius. Gue suka mampir ke blog dia, karena tulisannya itu, lho, keren. Dia itu kaya akan diksi. Sampe-sampe, gue harus baca berulang-ulang buat paham maksud tulisannya. Walaupun kadang masih gak paham juga. Tapi, serius, gue suka sama tulisan-tulisannya yang gak gampang dipahami itu. Sekejam apapun dia, sejutek apapun komentarnya, dialah yang berperan penting buat cara menulis gue. *sungkem sama Tiwi.

Rizki Eka Mardiansyah (Shamposachet.com)
Gue biasa panggil dia Bang Kay (jangan digabung!). Blog yang satu ini gak pernah absen gue datengin. Bahkan, gue tunggu tulisannya. Cara menulis dia yang suka dibumbui dengan komedi sederhana itulah penyebabnya. Sederhana, tapi asik. Ah, bingung gue jelasinnya. Kalo mau tau, liat sendiri aja deh. Selain itu, doi juga suka nyelipin pelajaran dalam tulisannya. Gak ada pelajaran yang gak bermanfaat, betul?

Gue bingung. Waktu ketemu dia pas kopdar di Kota Tua, dia itu gak keribo. Tapi, kenapa disebut keribo? Hmm... okelah biarin dia dengan ke-keribo-annya. Yang penting tulisannya. Sama kayak Bang Kay, gue suka juga sama cara dia nulis. Entah dapet ilham darimana dia bisa nulis kayak begitu. Sederhana, tapi gak ngebosenin.

Hawadis (Howhaw.com)
Gue suka sama cara berpikirnya. Bisa membuat hal sepele –yang mungkin gak kepikiran sama orang- jadi satu bahasan yang sangat menarik. V-sika nya itu yang bikin gue suka. Bisa menghubungkan dua hal yang kayaknya gak ada hubungannya sama sekali. Kayak kemarin, entah ide darimana, dia menghubungkan kipas angin sama move on. Haw, gue suka sama lo. Sorry, maksudnya tulisan lo.

Sebenernya, ada banyak blog yang suka gue datengin. Tapi, di antara yang banyak itu, mereka yang (paling) sering gue buka. Selalu ada ilmu yang gue dapet dari bermain ke blog orang. Maka dari itu, betapa pentingnya blogwalking.

Saat ini, gue lagi seneng bikin cerpen. Gue juga suka ikutan #memfiksikan setiap hari Jumat. Kegiatan baru, sih. Membuat sebuah karya fiksi dengan tema yang ditentukan setiap minggunya. Kalo penasaran dan mau ikutan, sok, follow aja @memfiksikan atau di twitter gue @EPGadiwangsa juga boleh. #memfiksikan itu gak harus cerpen. Bebas. Gue bikin cerpen karena cuma bisa itu doang.

Selain itu, gue punya rencana buat bikin satu cerita, yang mudah-mudahan jadi naskah novel. Udah mulai, sih, dikit-dikit. Gue juga pengen bikin satu cerita fantasy. Ide ini datang karena gue suka main playstation. Gue pengen bikin cerita semacam Final Fantasy gitu. Tapi, ini semua baru rencana. Semoga terwujud dan idenya ngalir terus. Amin.




Teruntuk Pelukisku,



Ternyata menjadi anak laki-laki itu cukup berat juga. Sepeninggal ayah, ibu jadi lebih sering curhat kepadaku. Entah apa alasannya. Tapi, aku merasa ibu menjadikanku sebagai pengganti ayah. Ya, memang, saat ini akulah pengganti ayah. Karena aku anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga.

Aku jadi punya peran tambahan. Selain menjadi anak untuk orangtuaku, adik untuk kakakku, kakak untuk adikku, aku juga berperan sebagai ayah. Dalam kata lain, akulah pemimpin keluargaku saat ini. Walaupun, ibu masih tetap merangkap menjadi ayahku, kadang dia juga suka meminta saran untuk masalah yang dihadapinya.

Menjadi orangtua ternyata tidak mudah. Masalah-masalah yang dihadapinya juga tidak selalu ringan, lebih banyak masalah sulit. Aku kira, selama ini yang kuhadapi sudah teramat berat. Tapi ternyata, masih ada masalah lain yang lebih sulit. Di atas langit masih ada langit.

Untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi, aku harus berpikir layaknya orangtua. Lalu, bagaimana denganku yang tidak punya pengalaman sama sekali? Berat memang, tapi aku harus bisa. Saat ini, aku sering ngobrol bersama dengan orang-orang yang umurnya jauh di atasku. Kami sering sharing masalah kehidupan. Aku suka mencuri pelajaran dari pengalaman mereka. Mencuri ilmu itu tidak buruk bukan?

Beruntung aku punya sosok yang bisa kuanggap sebagai orangtua. Ya, dia yang sering memberiku nasihat. Dia selalu mengajariku bagaimana menjalani hidup yang baik. Tentu itu semua berasal dari pengalamannya. Belajar dari pilihan tepat yang ia pilih, dan kesalahan yang pernah ia lakukan. Hidup ini memang berat. Maka, aku harus membangun pondasi yang kuat.

Aku sedang membangun pondasi diri. Agar aku siap menghadapi beratnya dunia. Aku menyesal, kenapa tidak dari dulu aku belajar hal seperti ini? Tapi, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Aku akan belajar sampai napas ini berhenti berhembus dan jantung ini berhenti berdetak. Sampai raga ini kembali ke dalam tanah dan jiwa ini kembali kepada penciptanya. Aku tidak mau semakin menyesal di kemudian hari.

Untukmu, Pelukisku. Aku selalu ingin engkau menjadi yang terbaik di antara yang terbaik. Jangan sampai kamu merasakan penyesalan yang kurasa. Oleh karena itu, pesanku, jangan pernah berhenti belajar. Tidak ada ilmu yang berat untuk dipikul. Satu lagi, jangan pernah berhenti beribadah. Karena, ilmu akan membuatmu hidup, dan ibadah akan membuatmu selamat.



Salam sayang,


Agung Adiwangsa
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home