Surat Untuk Pelukis #11

Teruntuk Pelukisku,


Maaf, dua minggu kemarin aku tidak mengirimmu surat. Aku tidak lupa. Tidak. Hanya saja, aku tidak sempat menulisnya. Sudah beberapa hari aku absen menulis. Padahal, banyak yang aku ingin ceritakan kepadamu.

Oh iya, apa kabarmu? Baik-baik saja, kan? Aku dengar, sekarang makanmu sudah teratur, ya? Hmm... bagus. Kamu harus banyak makan. Agar selalu sehat. Kalau nanti badanmu gemuk, aku jadi gampang berlatih tinju. Emm... maaf, bercanda hehehe!

Pelukisku, sudah genap satu bulan, bahkan lebih, semenjak nenekku sakit. Sebetulnya, dia memang sudah sakit sejak lama. Tapi, satu bulan terakhir, sakitnya semakin parah. Sampai-sampai, sekarang dia tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Untuk pergi ke kamar mandi pun, aku dan ibuku harus menggandengnya.

Satu bulan nenekku sakit, satu bulan juga aku selalu bergantian menjaganya pada malam hari. Itu berarti, selama itu pula aku selalu begadang bersama dengan pamanku. Ya, sebenarnya, badanku rasanya sudah tidak mampu. Tapi, kalau bukan kami, siapa lagi? Anak-anaknya yang lain sudah terlalu tua. Selain itu, beberapa diantara mereka sudah berkeuarga.

Pagi tadi, dadaku sakit sekali. Seperti tertusuk dari depan tembus ke belakang. Ah, rupanya tubuhku sudah mulai kelelahan. Dia minta istirahat. Tapi, aku sedikit ngeyel. Bukannya istirahat, malah disuruh kerja lebih. Alhasil, tumbanglah aku ini.

Bukannya aku tidak mau istirahat. Tapi, mencuri waktu untuk istirahatnya itu yang agak sulit. Ya, aku memang pengangguran yang sibuk. Aku punya anak didik baru selain murid-muridku di tempat bimbel. Setiap hari, aku belajar bersama anak-anak di rumahku. Masih saudara, sih. Lalu, sorenya, aku baru berangkat mengajar muridku di tempat les.

Oh iya, aku punya kabar baik. Kemarin, sepupuku mengikuti olimpiade sains. Aku mencoba kemampuanku untuk mengantarkannya menjadi juara. Setiap hari, aku membimbingnya dalam pelajaran. Dan alhamdulilah, dia masuk sepuluh besar tingkat kabupaten. Itu berarti, dia memang pintar.

Pelukisku, sampai di sini dulu suratku kali ini, ya. Badanku sepertinya perlu istirahat. Kamu harus selalu menjaga kesehatanmu. Dan ingat, jangan pernah berhenti belajar dan beribadah. Karena dua hal itu yang akan menyelamatkanmu di dunia dan akhirat.

Salam sayang,



Agung Adiwangsa
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

6 comments:

  1. Hahah.. Kalok uda gendut bisa jadi sasak gitu ya.. :D

    Ini cerita beneran apa fiksi sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener. :D

      Ini kisah nyata yang difiksikan :)

      Delete
  2. Selalu menyuruhnya menjaga kesehatan, tapi kurang memperhatikan kesehatan sendiri--"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Abis gak ada yang merhatiin. ~~~ hahaha

      Delete
    2. Pasti ada, hanya saja dia tak pernah mengatakannya pada kakak :)

      Delete
    3. Semoga dia lekas mengatakannya. :)

      Delete