Teruntuk Pelukisku,


Pelukis, maaf, aku baru sempat membalas surat darimu. Beberapa hari terakhir, kondisi badanku agak menurun. Sekarang saja, aku flu. Ya, seperti katamu, tubuhku terlalu ringkih. Kamu memang menyebalkan, bukannya memberi perhatian, malah meledek. Huh!

Bagaimana tidak gampang sakit, sekarang ini, aku sudah hampir tiga bulan begadang, nonstop! Hebat, bukan? Tapi tenang Pelukisku, aku tidak ingin mengeluh sekarang. Kemarin aku sudah membaca suratmu. Kamu memang selalu bisa melukiskan senyuman, ketika senyum itu terasa sangat sulit hadir di wajah ini. Pelukisku, kamu tidak perlu khawatir. Aku hanya sedang ingin mengeluh, bukan menyerah. Mungkin cobaan yang kuterima ini cukup berat. Kadang, aku merasa lelah dan ingin menyerah. Tapi, kamu hadir membawa semangat yang membuatku kembali berdiri tegap, menghadapi rintangan. Terimakasih, Pelukisku!


Ah, aku jadi kangen kamu. Ya, rindu dan rindu lagi. Kamu tidak bosan, kan? Ingin rasanya aku mencubit pipimu yang menggemaskan itu. Atau, menarik hidungmu yang mancungnya cuma bohongan itu. Setiap kalimat yang kamu kirim, seperti menyuntikan rasa rindu sedikit demi sedikit. Akhirnya, menggunung dan meluap.

Sial, laptopku bermasalah. Kemarin, dia tidak bisa booting. Entahlah apa penyebabnya. Akhirnya, aku harus menghapus semua data yang ada. Untung saja tidak rusak total, aku hanya kehilangan semua tulisanku, naskah cerita yang sedang kubuat, semua koleksi foto saat aku hunting dulu, dan data-data lain termasuk fotomu yang aku kumpulkan sejak lama. Aku jadi tidak bisa melihatmu kala rindu menyergap, seperti sekarang ini.

Sedih memang, semua hilang begitu saja. Tapi, hanya sekejap. Percuma ditangisi, itu tidak akan kembali. Semua tulisanku yang hilang, biarlah Allah ganti dengan ide baru yang lebih baik. Koleksi fotoku yang hilang, biarlah Allah ganti dengan momen baru yang lebih indah. Dan fotomu yang hilang, biarlah Allah ganti dengan kamu, yang bukan sekedar foto. Amin.

Aku akan terus bersabar untuk pertemuan kita. Bertahan untukmu. Jika kamu kuat, aku akan lebih kuat. Sekarang, tolong kamu terima rindu ini. Simpan baik-baik. Hingga saatnya nanti, kita akan melepaskannya bersama. Di satu tempat dan suasana yang sama, bahagia.



Salam sayang,



Agung Adiwangsa





Teruntuk Pelukisku,

Rindu darimu sudah sampai, terasa sampai ke hati. Aku pun sama, merindu, kamu yang pendiamnya cuma bohongan. Yang katanya pemalu, tapi suka malu-maluin. Yang gila, tapi membuatku tergila-gila.

Pelukisku, kamu masih ingat cerita tentang nenekku? Hmm... aku ingin sedikit mengeluh. Boleh, kan? Sampai saat ini, sudah hampir tiga bulan nenekku tidak berdaya di atas kasur. Sakitnya belum juga sembuh. Memang, mulai membaik. Tapi, tidak terlalu banyak perubahan.

Nenekku masih sulit berbicara. Aku dan keluargaku sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkannya. Ia hanya bisa mengerang ketika ingin sesuatu, atau merasakan sakit. Kami harus menebak-nebak apa yang ia inginkan. Kadang benar, tapi lebih sering salah.

Malam kemarin, seperti biasa aku dan pamanku begadang, menjaga nenekku. Ia merintih, seperti menahan sakit. Kami tidak tahu apa yang ia rasakan. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Pamanku berbaring di samping ibunya itu. Ia menutupi wajahnya, menyembunyikan sesuatu. Tapi aku tahu, ia menangis. Aku hanya memerhatikan dari jauh. Bisa kamu tebak bagaimana perasaanku? Melihat seorang anak menangis di samping ibunya yang sedang merintih kesakitan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Beritahu aku jika ada orang yang tidak teriris hatinya ketika melihat itu. Kamu pasti mengerti.

Aku rasa, keluargaku sedang mendapat cobaan dari Allah. Belum sembuh sakit nenekku, ibuku jatuh. Otomatis ia tidak bisa bekerja seperti biasa. Lalu dua hari yang lalu, dompet kakakku hilang ketika sedang mengajar di tempat les. Aku yang mendengar kabar itu langsung pulang. Karena ketika kejadian, aku juga sedang mengajar di tempat yang sama.

Sepanjang jalan pulang, aku berpikir. Aku teringat perkataan seseorang. “Jika kamu sedang dalam kesusahan, sadarlah. Allah sedang mengujimu.” Di situ aku sadar, Allah sedang mengujiku. Aku hanya berdoa.  

Ya Allah, Jika ini cobaan dariMu, aku tidak akan menolak. Aku terima. Tapi tolong, beri aku dan keluargaku kekuatan untuk menghadapinya. Tunjukan aku jalan keluarnya. Aku lelah, tapi jangan biarkan aku menyerah. Semuanya aku serahkan kembali kepadaMu.

As-sami, Allah maha mendengar. Sehari kemudian, dompet kakakku kembali. Di tempat yang sama, seorang murid menemukannya. Masih utuh, tidak ada satu pun yang hilang. Lalu, sakit yang diderita ibuku akibat terjatuh itu juga ikut membaik. Alhamdulillah.

Sekarang tinggal nenekku. Pelukisku, maukah kamu ikut membantu, mendoakan kesembuhannya? Kita sama-sama berdoa ya, sayang.

Aku harus selalu semangat. Kalau aku patah semangat, siapa yang mau menyemangatimu ketika merasa lelah? Kamu juga harus semangat, karena kamulah semangatku. Sebenarnya, aku tidak ingin mengeluh. Tapi kurasa, aku perlu menceritakan ini padamu. Aku selalu ingin yang tebaik untukmu. Ambilah pelajaran dari ceritaku ini. Walaupun sedikit, semoga bermanfaat untukmu.

Salam sayang,


Agung Adiwangsa

Dari jendela lantai dua tempatku berdiri, pemandangannya cukup bagus. Awan yang berkejaran, induk burung sedang memberi makan anaknya. Ah, indah sekali. Bahkan, aku bisa merasakan angin yang berhembus mengusap kulit. Aku tidak ingin melewatkan saat ini. Seperti ini kali terakhir aku menikmati dunia.

Sudah dua minggu aku mengurung diri di kamar. Dunia luar menjadi asing bagiku. Atau, aku yang mengasingkan diri? Rasa bersalah itu terus menyelimuti pikiranku. Melekat erat di setiap dinding otakku. Bingung, takut, malu, selalu menghantuiku setiap waktu.

Pikiranku tertuju pada seseorang. Romi. Ya, dia yang selama ini menjadi Romeo dalam hidupku. Yang selalu menjadi alasanku untuk tersenyum. Setidaknya, sampai saat itu tiba.

Masih tergambar jelas di benakku, bagaimana kami bertemu. Masa orientasi sekolah. Itulah kali pertama aku melihatnya. Seorang kakak kelas yang menjadi primadona di SMP-ku dulu. Wajahnya memang tak setampan para personil Super Junior. Tapi, sikapnya yang begitu lembut dan romantis menjadi daya tarik tersendiri. Pernah suatu waktu, sekolah kami mengadakan camping. Aku dapat tugas memasak untuk reguku. Saat sedang memotong bahan masakan, tanpa sengaja jari tanganku teriris. Darah mulai mengalir dan aku berusaha menahannya dengan menekan bagian yang luka. Tiba-tiba, Romi datang menghampiriku. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung memasukan jari tanganku itu ke mulutnya. Setelah itu, ia membersihkan lukaku dan menutupnya dengan kain yang ia robek dari baju yang dipakainya.

“Lain kali hati-hati, ya,ucapnya sembari tersenyum.

Itu adalah senyuman pertama yang ditujukan padaku. Ah, manis betul Kak Romi ini. Jantungku berdebar kencang. Mulutku seperti terkunci.

Kejadian saat camping itu membuat kami semakin dekat. Kami jadi sering bertegur sapa di sekolah. Setiap kali aku bertemu dengannya, jantung ini akan berdebar lebih cepat dari biasanya. Aku menjadi salah tingkah. Apa ini yang dinamakan cinta?

Perasaan itu semakin lama semakin menguat. Aku tidak bisa mengelak. Ini benar cinta. Ya, aku mencintai dia. Tapi, aku tidak tahu, apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku? Sikapnya yang misterius membuat aku harus menebak-nebaknya sendiri.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Hari yang indah itu datang juga. Pertanyaan tentang sikapnya yang penuh misteri itu terjawab sudah. Di depan mading sekolah, ia mengungkapkan perasaannya.  Kisah cinta kami dimulai sejak hari itu. Kami berpacaran.

Waktu berlalu begitu cepat. Aku sudah kelas 2 SMA, sedangkan Romi masuk perguruan tinggi. Banyak kenangan indah yang kami ukir bersama. Sudah tak terhitung pula berapa senyuman yang ia lukis di wajahku. Perasaan cinta kami semakin kuat. Kadang, pertengkaran menghiasi hubungan ini. Tapi, kami selalu bisa mengatasinya. Orangtua kami pun sudah tau tentang hubunganku dan Romi. Tidak ada lagi rasa canggung yang kurasakan saat berkunjung ke rumahnya. Di hari jadi kami yang kedua tahun, Romi memberiku hadiah berupa cincin emas yang sangat indah. Aku tak pernah melepasnya sejak ia pakaikan di jari manisku. Dia benar-benar Romeo yang aku harapkan.

Sampai saat itu tiba. Sebuah kejadian yang tidak pernah aku duga seumur hidupku.

Ayah Romi masuk rumah sakit. Penyakit jantung yang dideritanya kambuh lagi. Aku menjenguknya. Di perjalanan pulang, hujan turun sangat deras. Memaksa Romi mengehentikan sepeda motornya di sebuah halte. Kami terjebak di sana.

“Hujannya deras banget. Kamu ke rumah aku dulu, ya. Nanti kalo hujannya reda, aku anter kamu pulang.”

Aku menyetujui sarannya. Karena, aku pikir benar juga apa katanya. Jarak dari rumah sakit menuju rumah Romi lebih dekat jika dibanding dengan rumahku. Kami sampai dengan keadaan basah kuyup. Romi meminjamkan pakaian adik perempuannya padaku. Kebetulan ukuran baju kami sama.

Hujan semakin deras. Hari pun mulai gelap. Saat sedang asik menenton televisi, aku menyadari satu hal. Di rumah ini hanya ada kami berdua. Ibu dan adik Romi pergi ke rumah sakit untuk menjaga ayahnya.

Romi duduk di sampingku. Aku menyandarkan kepalaku ke pundaknya. Hawa saat itu cukup dingin. Beruntung Romi mengerti apa yang kurasakan. Ia menggenggam erat kedua tanganku. Cukup untuk membuatku merasa hangat. Ia menatap mataku sambil tersenyum. Manis sekali. Kemudian ia mendekatiku, semakin dekat, terus mendekat hingga kejadian itu terjadi.


Aaaaaaaarrrrggghhhhh!!!! Aku berteriak keras. Membuyarkan lamunanku dua bulan yang lalu. Aku melemparkan semua yang ada di hadapanku. Bingkai foto kami yang kutaruh di atas meja, pecah, hancur berantakan.

“Nayaaaaaa!Kamu kanepa, Nak?” Mama berlari menghampiriku.

Aku tidak menjawab. Tubuhku menjadi terasa berat. Kepalaku pusing. Aku tak sadarkan diri.

Aroma minyak kayu putih membangunkanku. Mama duduk di sampingku.

“Naya, kamu kenapa? Sudah dua minggu kamu ngurung diri di kamar. Kamu juga jadi jarang makan. Ada apa? Cerita sama mama, Nak.”

Mama terlihat sangat khawatir. Sesekali ia menyeka air mata di pipinya. Aku tidak menjawab semua pertanyaan mama.

“Kamu makan dulu, ya? Mama buatin sup kesukaan kamu. Bentar, Mama ambilin.”

Mama pergi mengambil makan untukku. Aku hanya bisa menangis. Membayangkan perasaan mama jika mengetahui apa yang terjadi pada anaknya. Naya Aziza Wafa, putrinya seorang ustadz hamil diluar nikah. Sudah pasti nama baik keluargaku akan hancur. Akulah penyebabnya.

Langit sore itu sangat indah. Sama seperti satu minggu yang lalu, ketika aku bertemu dengan Romi. Aku sudah tidak sanggup menahan beban ini sendirian. Tapi, cerahnya langit kala itu tidak membuat hatiku menjadi cerah.

“Gak mungkin, Nay, kamu sendiri tahu kalo aku masih kuliah. Baru semester satu lagi. Orangtuaku pasti gak akan pernah setuju kalau kita menikah.”

Itu jawaban dari orang yang aku anggap pangeran dalam hidupku. Kecewa, takut, bingung, berbaur menjadi satu. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa.

“Temenku ada yang dokter. Kita gugurin aja kandungan kamu.”Terdengar lirih Romi menyarankannya padaku.

Tanpa menjawab ucapan Romi, aku melangkah pergi. Sambil kubawa semua kepedihan dan rasa luka ini. Bendunganku sudah tak tertahan lagi. Ia mulai mengalir tak beraturan. “Aku benci dia!!!” geramku dalam hati.

Aku sangat kecewa padanya. Dia pangeran yang selalu aku puja. Romeo yang selalu membisikkan kata cinta di telingaku. Tapi, dia juga yang menghancurkan hidupku.

Perlahan, aku berjalan ke arah jendela kamarku yang terbuka. Pikiranku kosong.Tak berbayang seperti apa marah ayah atau betapa kecewanya mama ketika mengetahui anaknya hamil. Langkahku semakin lemah. Ketika aku sadar, kakiku sudah tak menyentuh lantai lagi. Aku terjatuh. Tak banyak yang kuingat. Hanya terdengar mama berteriak memanggil namaku. Darah segar mengalir dari kepalaku. Sempat terlintas senyum Romi yang begitu manis. Namun, perlahan menjadi kabur, menghilang dan gelap. Kini aku tahu, bukan cintanya yang kotor. Tapi, perbuatan kita yang mengotori cinta.
Teruntuk Pelukisku,


Ah, aku terlambat lagi menulis surat untukmu. Maaf, Pelukisku. Jangan marah, nanti cepat tua. Padahal, aku sendiri bingung. Apa hubungan antara marah dan cepat tua? Apa jika kita marah, umur kita langsung bertambah lima tahun? Ya, mungkin begitu. Atau, anggap begitu sajalah. Kamu tidak mau, kan, tua sebelum waktunya? Makanya, jangan marah.

Kemarin, temanku menunjukan beberapa foto miliknya. Foto ketika ia berlibur besama kekasihnya. Mereka sama seperti kita, pasangan virtual. Atau yang sering orang bilang LDR, Long Distance Reladiduain. Eh, maksudnya Long Distance Relationship. Maaf, maaf. Yang reladiduain itu cuma bercanda, kok. Jangan dianggap serius, nanti aku malah pengen jadi serius. Ehh... maaf lagi. Ini cuma selingan. Cukup hubungan kita saja yang serius.

Di dalam foto itu, mereka terlihat bahagia. Bercanda bersama di sebuah tempat makan. Suap-suapan satu sama lain. Ada juga foto-foto konyol yang mereka buat. Pokoknya, melihat foto itu membuatku iri.

Pelukisku, jika kita bertemu, apa yang akan kita lakukan? Apa kamu ingin pergi makan malam seperti temanku itu? Atau, pergi ke tempat kesukaanmu?

Kalau aku bertemu denganmu. aku ingin mengajakmu ke tempat yang indah. Bukan ke sebuah restoran mahal. Bukan mall besar. Apalagi hotel bintang lima. Aku ingin mengajakmu ke tempat yang bisa membuatmu berdecak kagum.

Bagaimana jika kita pergi mendaki gunung Bromo? Menikmati pemandangan yang indah dari puncak gunung. Berlarian dan berkuda di atas hamparan pasir sepertinya menyenangkan. Aku bisa membayangkan bagaimana ekspresimu ketika mendaki. Kamu, kan, jarang jalan kaki, ya kan? Siap-siap saja aku bully kalau tidak kuat. Hahaha! Tenang, tenang. Kalau tidak kuat, aku siap menggendong. Yosh!

Jadikan Bromo itu cadangan. Aku juga ingin mengajakmu ke sebuah pantai. Bagaimana kita ke pantai Bale Kambang? Sudah menjadi rahasia umum, jika pantai itu tempat yang cocok untuk berlibur, apalagi bersama sang kekasih. Maka dari itu, aku ingin mengajakmu kesana, kekasihku.

Terlalu banyak tempat indah di bumi ini. Aku jadi bingung mau mengajakmu ke mana. Dari dulu, aku memang pencinta keindahan alam. Bahkan, sejak pertama aku belajar fotografi, aku lebih senang memotret landscape daripada objek lain. Sampai-sampai, aku punya satu keinginan. Aku ingin mengunjungi tempat-tempat indah yang ada di Indonesia. Yap! Indonesia. Negeri yang kucintai ini menyimpan surga-surga kecil yang ingin aku kunjungi. Kalau di beranda rumah sendiri saja sudah sangat bagus, ngapain jauh-jauh ke rumah orang, betul?

Sebenarnya, untuk bahagia, tidak perlu jauh-jauh ke tempat wisata yang harus mengeluarkan uang lebih. Cukup duduk di tepi sawah, di sebuah pedesaan yang udaranya sejuk, asal bersamamu. Ya, menikmati pemandangan yang indah, senyummu. Tapi, kupikir menyandingkan dua ciptaan Allah yang sangat indah itu akan lebih membuatku bahagia. Kamu dan alam ini.

Pelukisku, sepertinya kita harus mulai membuat rencana untuk apa yang akan kita lakukan jika bertemu nanti. Ah, tidak sabar aku rasanya. Sampai jumpa nanti ya, Pelukisku!



Salam sayang,



Agung Adiwangsa









Teruntuk Pelukisku,



Hai, Pelukis. Bagaimana surat kemarin? Apa pak pos terlambat mengantarkannya padamu?

Sudah sampaikah rasa rindu yang kukirim bersama dengan surat kemarin? Apa kamu bisa merasakannya? Rindu itu tak juga hilang. Terus menempel, bahkan merekat erat dalam benakku. Aku sendiri bingung harus bagaimana. Yang bisa kulakukan hanyalah memandangi foto yang terkumpul dalam folder khusus tentangmu. Setiap kali aku ingin melihatmu, aku harus menghidupkan laptopku. Setelah itu, kumatikan lagi. Menghidupkan laptop hanya untuk melihat fotomu, gila bukan? Ya, aku memang gila. Tergila-gila padamu tepatnya.

Pelukisku, ada satu pertanyaan darimu yang selalu menggelitik otakku. “Kenapa kamu bisa mencintaiku?” ya, itu. Setiap kali aku memikirkannya, bukan mendapat jawaban, malah bingung. Rasanya, aku lebih memilih soal fisika daripada itu.

Kenapa aku bisa mencintaimu? Hmm... kenapa, ya? Kamu cantik? Ah, tidak. Bukan karena itu. Banyak wanita yang lebih cantik darimu. Jika karena fisik, kenapa aku harus memilihmu? Di sini banyak yang lebih cantik, jaraknya pun dekat. Tidak seperti kamu yang jauh.

Karena kamu baik? Menurutku, semua manusia itu baik. Hanya saja setiap orang punya kadarnya masing-masing. Misalnya, seorang ustadz punya kadar kebaikan yang lebih tinggi dari seorang penjahat. Selain itu, baik juga tidak mutlak. Orang baik pasti pernah melakukan kejahatan, begitu juga sebaliknya. Jadi, aku mencintaimu karena kamu baik? Tidak.

Karena kamu pintar? Bukan. Aku tidak cinta pada kepintaranmu. Kamu pun tidak selalu pintar. Orang yang pintar tidak selalu mengerti. Buktinya, banyak orang yang tau kenapa terlalu banyak meminum alkohol itu berbahaya, tapi mereka tetap saja meminumnya. Jadi, kalau kamu berpikir aku mencintaimu karena kamu pintar, kamu salah.

Pelukisku, cinta tidak harus beralasan bukan?

Coba bayangkan, jika aku mencintaimu karena alasan itu. Suatu hari kamu menjadi jelek, tidak ada alasan lagi untukku mencintaimu. Jika suatu hari kamu berbuat kesalahan, yang membuatku merasakan sakit, tidak ada lagi alasan untukku mencintaimu. Jika suatu hari kamu bertindak bodoh, tidak ada lagi alasan untukku mencintaimu. Lalu, aku harus mencintaimu karena apa?

Pelukisku, mungkin ada banyak alasan untuk apa yang kulakukan, tapi tidak untuk yang satu ini. Yang terpenting bukanlah “Kenapa aku mencintaimu” tapi “Bagaimana aku mencintaimu”. Kamu tidak cantik, tidak selalu baik, dan tidak selalu pintar. Itu semua bukan ukuran untuk rasa cintaku padamu. Kamu biasa saja. Sederhana. Cinta pun begitu, sederhana. Sesederhana aku mencintaimu. Dan untuk jawaban atas pertanyaanmu, 
"Aku mencintaimu karena aku mencintaimu."



Salam sayang,


Agung Adiwangsa
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home