Aku sedang membangun rumah. Ya, untuk masa depanku kelak.

Ternyata, membangun rumah yang baik itu tidak mudah, ya? Banyak proses yang harus kulewati. Aku tidak bisa membangun sekaligus. Semuanya bertahap. Makanya, saat ini aku sedang fokus pada pondasi. Aku ingin membangun sebuah pondasi yang kuat. Sehingga angin sekencang apa pun tidak bisa merobohkannya, gempa sedahsyat apa pun tidak bisa menghancurkannya.

Bahan yang kugunakan pun tidak boleh sembarangan. Banyak orang salah memilih bahan, sehingga pondasinya tidak kuat. Hantaman kecil saja, bisa goyah, akhirnya hancur. Kupikir, di sini letak kesalahan orang-orang. Mereka tergiur pada popularitas. Mencari bekal kepada orang yang "katanya" tepat, "nyatanya" tidak baik. Mereka disuguhi sesuatu yang terlihat baik, padahal buruk.

Aku tidak ingin seperti mereka, tersesat ke dalam jurang yang terlihat indah. Sampul kadang bisa mengelabui. Berbalut emas, belum tentu berisi berlian. Beruntung aku menemukan tempat yang tepat. Memang, tidak terihat bagus seperti yang lain, tapi memiliki kualitas yang lebih. Aku sudah mulai, dengan bahan yang tepat, membangun sebuah pondasi yang kuat untuk diriku.

Jika pondasiku sudah selesai, aku akan membangun dinding yang kokoh. Aku sadar, dunia ini sangat kejam. Maka dari itu,  aku ingin membuat tempat untuk berlindung dari segala macam kejahatan. Agar aku bisa selamat dari segala gangguan, tentu selamat hingga akhir. Itu bukan, impian semua orang?

Setelah itu, aku akan menghias rumahku, agar semua betah dan ingin tinggal di sana. Mereka yang berniat baik dan membawa kebaikan tentunya. Menyenangkan bukan, jika rumah kita yang indah ini dihuni oleh orang-orang yang baik? Namun, kalaupun aku harus berhadapan dengan mereka yang berniat buruk, aku sudah siap. Pondasi yang kuat dan dinding yang kokoh itu akan tetap berdiri, melindungiku dari berbagai macam kejahatan. InsyaAllah.

Membangun rumah yang nyata memang tidak mudah, perlu modal besar dan usaha yang keras. Aku belum bisa. Tapi, aku ingin membangun rumah lain, rumah yang ada dalam diriku. Rumah sempurna, seperti yang kuceritakan. Dimulai dari sekarang, untuk masa depanku nanti.




Teruntuk pelukisku,


Maaf, Pelukisku. Aku baru sempat menulis surat lagi untukmu. Bukan aku melupakanmu, tidak sedetikpun.

Pelukisku, nenek sudah pulang. Tepat tiga bulan semenjak ia jatuh sakit, di jari Jum'at, ia dipanggil oleh penciptanya. Ia pergi dengan sebuah senyum di bibirnya. Aku ingat ketika pertama kali ia sakit. Aku dan pamanku membawanya dari rumahku ke rumahnya dengan kursi roda. Sakitnya belum terlalu parah, kami masih tertawa bersama ketika di perjalanan. Ia masih bisa berjalan, dengan dipapah. Tapi, untuk berjalan jauh, ia sudah tidak mampu.

Sebulan kemudian, sakitnya bertambah parah. Sebagian anggota tubuhnya tidak berfungsi. Bicaranya pun sudah mulai tidak jelas. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. Seperti yang pernah kuceritakan, ia hanya bisa mengerang ketika ingin sesuatu, atau ketika merasa sakit. Semakin hari, sakitnya semakin parah. Anggota tubuhnya sudah tidak berfungsi, lemas. Bicara pun sudah tidak bisa. Untuk makan saja, ibu harus memaksa makanan masuk ke mulutnya. Tidak banyak, paling hanya beberapa sendok. Hingga akhirnya, di bulan ketiga, Allah memanggilnya.

Selama nenek sakit, selama itu pula aku tidak pernah pulang ke rumahku. Aku setia menemaninya bersama dengan pamanku. Bayangkan, selama tiga bulan, aku tidur paling cepat jam tiga pagi. Kadang aku tidak tidur sama sekali. Untung saja, aku masih bebas. Jadi, itu bukan masalah buatku. Hanya saja, terlalu banyak begadang membuat kondisi tubuhku lemah. Tapi, aku tidak pernah bilang ketika aku sakit. Aku tidak ingin merepotkan ibu yang fokus merawat nenek. Benar saja, tanpa di obati, penyakit itu sembuh sendiri. Wajar kalau kamu sering meledekku dengan kata "Ringkih." Tapi, aku punya alasan untuk itu.

Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa aku lakukan semua ini untuk nenekku? Padahal, ada anak-anaknya yang seharusnya menjaga. Kamu masih ingat? Aku pernah berkata "Jangan membedakan orangtua."? Nenek adalah ibu dari ibuku. Aku berpikir, jika aku berbakti padanya, itu sama dengan aku berbakti pada ibuku. Toh, nenek juga orangtuaku, kan? Dari sekian banyak cucunya, hanya aku yang melakukan semua ini. Aku bangga dengan hal itu.

Ada satu kejadian unik ketika aku dan pamanku jiarah ke makam nenek. Makamnya sangat harum. Padahal, sudah seminggu lebih. Wangi bunga melati mengelilingi rumahnya yang baru itu. Hanya di makam nenekku. Aku tersenyum, nenek sudah tenang di sana.

Oh, iya. Mengenai harapan yang selalu kamu ucapkan. Pelukis, kamu boleh berharap setinggi langit. Tapi, jangan pernah tinggalkan bumi. Aku pun sama, berharap sepertimu. Ingin agar kisah kita menemui akhir yang bahagia. Tapi, pada hakikatnya, manusia hanya bisa berharap, Allah yang menentukan akhirnya. Maka dari itu, kita paksa Allah mewujudkan harapan kita, dengan berdoa tentunya.

Selagi kita menanti harapan itu, kita sama-sama memperbaiki diri. Mengobati luka yang masih bertebaran di tubuh masing-masing. Agar nanti ketika kita bersatu, kita tidak hanya menjadi pasangan yang serasi, tapi juga sempurna.



Salam sayang,



Agung Adiwangsa






Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home