Teruntuk Pelukis,

Surat datang, Pelukisku! Cukup lama dari suratku sebelumnya. Apa kamu merindukanku? Ah, salah. Aku tidak perlu bertanya begitu. Kamu sudah pasti rindu padaku, kan? hahaha! Aku terlalu percaya diri.

Pelukis, sudah masuk bulan ramadhan. Waktu memang tidak terasa, berlalu begitu saja. Rasanya, baru kemarin kita puasa. Aku jadi ingat ramadhan beberapa tahun lalu. Aku langganan membangunkan sahur bersama teman-temanku. Kami tidur di mesjid, atau di rumah salah seorang teman. Setelah waktunya tiba, kami segera berkeliling sambil memukul-mukul benda untuk membangunkan orang-orang. Lalu, ketika waktu berbuka sudah lewat, kami bersama-sama pergi ke mesjid untuk melaksanakan shalat tarawih. Ada satu kegiatan yang cukup menyenangkan, perang samping. Kamu tahu? Biasanya, aku bersama teman-temanku akan melakukan ini sampai tarawih akan dimulai, atau setidaknya sampai ada orang yang memarahi, karena kegaduhan akibat ulah kami. Hahaha ! Menyenangkan sekali.

Itu dulu. Sekarang, beda lagi. Teman-temanku sudah punya kesibukannya masing-masing. Untuk berkumpul saja, sulit sekali. Yah, seperti kataku, waktu memang cepat berlalu. Bagaimana ramadhanmu, sayang? Menyenangkan ? Harus!

Pelukis, kamu tahu dengan kalimat ini "Pada bulan ramadhan, setan-setan akan diikat." Kamu pasti tahu. Tapi, aku bingung. Begini, katanya, setan diikat. Lalu, orang-orang yang terang-terangan tidak berpuasa tanpa halangan, apa itu bukan setan? Yang tetap berbuat jahat, apa itu bukan setan? Aku pikir, kalau setan diikat, sudah pasti setiap kali bulan ramadhan tiba, hidup kita akan tentram. Lalu, siapa yang mengikat setan? Orang hanya tahu kalimat itu, tapi mereka tidak mencari tahu maksudnya. Sama sepertiku.

Aku berpikir, sampai akhirnya aku mendapat jawabanku sendiri.  Siapa yang mengikat setan? Kita sendiri. Kita yang harus mengikat setan. Ingat, puasa itu bukan cuma menahan lapar dan haus, bukan? Tapi juga menahan hawa nafsu. Hawa nafsu itu, bisa diibaratkan setan, kan? Ya, nafsu untuk makan ketika puasa, nafsu untuk berbohong, nafsu untuk berbuat jahat, bukankah itu pekerjaan setan? Menurutku, jika seseorang benar-benar puasa dan menahan hawa nafsu mereka, berarti dia telah mengikat setan. Jika semua orang benar-benar puasa, berarti semua telah mengikat setan. Maka benar, saat ramadhan itu, setan diikat. Betul tidak? Hahaha! Ini menurutku yang sok tahu, sih. Dan dengan ke sok tahuanku ini, aku ingin mengajakmu benar-benar mengikat setan.  Ya, dimulai dari kita, semoga semua orang mengikuti. Agar ramadhan ini, setan benar-benar diikat.

Pelukis, kita ingin jadi pasangan dunia akhirat, bukan? Seperti katamu, cukup berjalan kepada-Nya, agar kita bisa bertemu. Dan satu hal, kita juga perlu membersihkan jalan kepada-Nya, agar perjalanan kita tidak sulit. Ya, butuh perjuangan memang. Tapi, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Kamu tidak perlu takut. Kamu tidak sendiri. Ada aku, kita berjuang bersama, oke?

Sampai jumpa di akhir jalan yang bahagia, dalam skema kebahagiaan kita bersama. Aku dan kamu, sayang.

Salam sayang,


Agung Adiwangsa
Teruntuk Pelukisku,


Haiii, Pelukisku!!! Sudah bulan Juni. Sebentar lagi bulan ramadhan. Tidak terasa, ya?
Sampai saat ini, sudah berapa lama kita bersama? Ah, aku tidak pernah menghitung. Jumlah itu hanya sebuah ukuran. Aku ingin bersamamu selamanya, tanpa terpaut hitungan tersebut. Bahkan, hari jadi kita pun, aku tidak tahu. Bagiku, setiap hari adalah hari kita. Begitu lebih menyenangkan bukan?

Pelukis, kamu lihat berita yang ramai sekarang ini? Ya, tentang suara terompet dari langit, cuaca ekstrim di India, dan masih banyak fenomena yang lain. Kebanyakan orang menganggap itu adalah kiamat atau pertanda kiamat. Ada juga yang bilang itu hanya fenomena alam biasa. Menurutmu, bagaimana?

Tentang kiamat. Menurutku, setiap hari kita selalu berhadapan dengan kiamat. Bukan peristiwa hancurnya seluruh alam semesta ini. Tapi, kiamat-kiamat kecil yang selalu terjadi. Seperti gempa bumi, gunung meletus, longsor dan bencana alam lain. Itu kiamat kecil, bukan? Bakhan, kematian seseorang pun bisa disebut kiamat.

Kemarin aku sempat ngobrol dengan si bapak yang sering kuceritakan. Ada satu pertanyaan yang membuatku merasa bodoh. Kami sedang membahas kiamat ini. Lalu dia bertanya,

"Gung, syahadat emang gimana?"

Aku menjawab dengan membaca dua kalimat syahadat beserta artinya.

"Berarti kamu yakin akan adanya Allah dan nabi Muhammad? Kamu takut sama Allah?"

Aku mengangguk.

"Yakin sama Allah, takut sama Allah, tapi masih bikin kesalahan. Ngelakuin dosa."

Aku diam mendengar ucapan si bapak itu.

"Jarang orang yang bener-bener syahadat. Mungkin jaman rasul ada. Bapak sendiri masih salah. Bapak masih suka bikin dosa. Setan memang menggoda kita setiap detik, berbarengan dengan berdetaknya nadi kita. Nah, makanya dengan syahadat itu, kita jangan kalah sama setan. Kok mau-maunya dikalahin setan."

Sentilan yang menakjubkan bukan?

Sama seperti kiamat yang ramai sekarang. Kamu jangan seperti aku, ya? Takut sama kiamat, takut mati, pengen masuk surga, tapi cuma ngomong doang. Bukannya sudah jelas yang bisa menyelamatkan kita, ya diri sendiri. Yang udah, yaudahlah. Kan, pepatah juga bilang "Jangan ngeliat kebelakang, nanti nabrak." Itu maksudnya kesalahan yang udah, jangan dijadiin pikiran. Benerin aja yang ada di depan. Liat spion buat mempelajari yang di belakang, supaya kita tahu apa yang harus dilakuin ke depannya. Begitu, bukan?

Baru kemarin kita buka lembar baru. Aku pengen ngebenerin diri. Aku mau ajak kamu, kamu mau, kan? Bukannya cita-cita kita menjadi pasangan dunia akhirat? Makanya aku lagi ngebangun rumah masa depanku. Kamu juga, ya? Supaya kita bisa tinggal di rumah yang aman, nyaman, wangi, bersih. Dengan begitu, kita gak perlu mencari kebahagiaan. Tapi buat kebahagiaan kita sendiri. Oke?

Sampai berjumpa di rumah masa depan kita, Pelukisku.




Salam sayang,


Agung Adiwangsa


Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home