Play The Life

Kuminum secangkir kopi yang berada di sampingku. Sudah mulai dingin. Maklum, udara di taman pagi itu memang cukup dingin. Napasku saja sampai mengeluarkan asap, seperti kereta uap saja. Kucabut sebatang rokok dari bungkusnya, membakarnya, lalu menghisap perlahan. Nikmat. Itu yang pertama kali tergambar di benakku.

Sepi pagi itu mulai terusir oleh orang-orang yang beraktivitas. Ya, hari libur seperti ini, taman memang selalu jadi tempat yang pas untuk meluangkan waktu. Untuk olahraga atau hanya sekedar bermain.  Bersama keluarga, kekasih, atau sendirian, seperti aku ini.

Jauh di tanah terbuka di sana, aku melihat seorang anak kecil sedang berlari-lari mengejar bola. Tak jauh dari tempatnya, ada satu keluarga yang sedang duduk beralaskan tikar. Menyiapkan makanan yang mereka bawa dari rumah. Hmm… piknik kecil-kecilan mungkin. Ide yang bagus.
Pandanganku kembali kepada si anak tadi. Ia dengan asik mengejar-ngejar bola sendirian. Aku perhatikan, sepertinya ia masih belajar. Kadang bola itu meleset dari kakinya. Sesekali ia terjatuh. Duduk sebentar, mengusap kakinya yang kotor karena terjatuh tadi, lalu kembali bangkit. Hebat juga, aku pikir ia akan menangis.

Tak lama, seorang anak datang menghampirinya. Sepertinya kakak dari anak kecil itu. Mungkin ia ingin ikut bermain. Tapi, tunggu sebentar. Itu, kan, tidak adil. Si kakak yang lebih dewasa sudah pasti lebih hebat dari si adik. Hebatnya, si anak kecil itu tidak terlihat takut. Ia malah menantang kakaknya. Ayolah, nak, jangan mau kalah dari kakakmu!

Permainan dimulai. Si anak kecil melawan kakaknya. Mula-mula, bola di kuasai si adik. Ia menggiring dengan percaya diri. Lucunya, kadang bola itu tertinggal. Atau, ia menggiring terlalu keras. Hingga yang tadinya berniat menggiring, malah seperti mengoper kepada kakaknya. Beda dengan kakaknya yang sudah mahir memainkan bola. Berkali-kali ia membuat pusing adiknya. Si adik berusaha keras mendapatkan bolanya. Tapi tetap saja tidak berhasil.

Permainan terus berjalan dengan posisi bola masih berada di kaki sang kakak. Malah, saat ini ia sedang mempermainkan adiknya. Ah, sudah tidak seru lagi. Bahkan, aku bisa tebak, pasti akhirnya si adik menangis, lalu mengadu pada orangtuanya, kemudian permainan berakhir.

Aku mengambil sebatang rokok lagi. Kopi yang tinggal setengah itupun kembali aku seuruput. Biarpun dingin, tapi tetap enak. Matahari yang tadi bersembunyi dibalik pepohonan, sekarang mulai menampakan sinarnya. Mengusir dingin yang sedari tadi menyelimuti kulit.

Pandanganku kembali ke anak-anak tadi. Betul dugaanku. Anak kecil yang tadinya penuh semangat, sepertinya mulai menyerah. Ia duduk ditanah, terlihat kesal karena tidak mampu merebut bola dari kakaknya. Sedangkan kakaknya malah tertawa melihat adiknya itu. Apa sekarang anak kecil itu akan menangis lalu mengadu kepada orangtuanya? Ia berdiri, lalu berlari ke arah keluarganya. Aha, tebakanku betul lagi, ia mengadu kepada ibunya. Tapi, tunggu. Ia tidak terlihat menangis. Ia meminta minum. Lalu kembali bersama anak lain yang seumuran dengannya. Jadi, kembali hanya untuk mengisi tenaga dan mencari bantuan? Pintar juga. Dua anak kecil melawan satu anak dewasa. Melihat kemampuan si kakak, aku rasa ini cukup adil.

Pertandingan kembali dimulai. Tapi, bantuan yang didapat sepertinya tidak memberi perubahan. Si kakak tetap menguasai bola itu. Adiknya dan anak kecil itu dengan mudahnya ia lewati. Hadangan demi hadangan bisa ia atasi. Hebat juga.

Dua anak kecil itu terdiam. Mengatur napas, kemudian saling berbisik. Apa ia merencanakan sesuatu? Yap, sepertinya memang begitu. Kali ini mereka lebih semangat. Mereka berusaha lebih keras lagi, dan kali ini lebih kompak. Hmm… jadi itu yang mereka bisikan. Sampai akhirnya, posisi berbalik. Bola berhasil direbut. Malah, sekarang mereka berdua yang mempermainkan kakaknya. Tak lama si kakak mulai terlihat lelah dan meminta permainan dihentikan. Adiknya dan anak kecil tadi terlihat senang. Mereka berhasil mengalahkan kakaknya. Si kakak hanya tersenyum, lalu mengajak keduanya untuk beristirahat.

Aku bersandar di bangku taman. Pikiranku jauh melayang. Lalu kembali lagi ke permainan anak kecil tadi. Ada pelajaran terselip diantaranya. Seperti kata Iwan Fals “Walau hidup adalah permainan, walau hidup adalah hiburan.” Hidup adalah permainan? Ya, seperti permainan bola tadi mungkin. Aku mencoba menelaah dari awal. Ketika si anak kecil mulai bermain. Coba anggap tujuan adalah bola itu. Untuk mendapatkanya, tentu harus mengejarnya. Tidak mungkin bola itu akan menghampiri dengan sendirinya. Ketika bola tersebut meleset dari kaki, tidak jarang juga kita meleset dalam mencapai tujuan. Tapi jangan ragu untuk kembali berusaha. Terjatuh itu hal yang biasa. Tidak ada jalan yang mulus untuk mencapai satu kesuksesan. Poin pentingnya adalah jangan menyerah.

Kemudian tentang si kakak yang tiba-tiba datang sebagai lawan. Sudah menjadi hal biasa jika dalam hidup kita menemui lawan. Yap, masalah. Dalam perjalanan, kita pasti menemui masalah. Entah itu jalan berkelok, atau jalan buntu sekalipun. Dan lagi, pasti akan ada orang yang berusaha membuat kita tersesat. Supaya kita tidak bisa mencapai tujuan. Jika tidak mahir, sudah pasti kita akan dipermainkan oleh si masalah itu sendiri. Berlarilah bukan untuk menjauhi masalah, tapi menghadang untuk menghadapi. Buat ia takut, jangan sampai kita yang takut. Anak kecil itu duduk dan terlihat kesal. Kadang kita juga tidak bisa menerima apa yang terjadi. Kita marah. Tapi itu bukan cara yang baik. Boleh saja mengeluh, asal jangan menyerah. Masalah dan solusi itu selalu berdampingan. Beristilahatlah sejenak, sempatkan sedikit waktu untuk minum, mengisi ulang tenaga, lalu mulailah mencari solusi. Meminta bantuan orang lain misalnya.

Semakin dekat dengan tujuan, semakin besar rintangannya. Semakin kuat pula lawan kita. Disitulah kita harus berpikir tentang strategi. Lalu bisikan kepada teman, karena bekerja sama akan membuat kita tak terkalahkan. Sampai akhirnya kita sampai di tujuan kita. Sambil tersenyum lalu berkata “Yap, aku menang.”

Hmm… Pagi yang luar biasa. Pelajaran memang bukan hanya dari orang yang berdiri di depan kelas sambil menerangkan materi. Ada banyak ilmu yang harus di ambil dengan tangan kita sendiri. Belajar dari alam, dari orang sekitar, dan belajar dari hidup.

Satu teguk terakhir dari gelas plastik kopiku. Aku berdiri dan menarik napas panjang. Segar sekali. Kemudian aku melangkahkan kaki dari tempatku duduk tadi. Hmm… apa yang akan kulakukan hari ini? Yes! I will play my life…
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

7 comments:

  1. Ngeluh boleh, nyerah jangan. Mengeluhlah kemana kamu seharusnya kamu mengeluh. Hmmm :')

    ReplyDelete
  2. Apapun itu, hal yang sedang kamu perjuangkan untuk hidup luar biasamu, semoga bisa terbayarkan kelak oleh masa depan yang hebat.

    ReplyDelete
  3. Intinya sih tetep berjuang, apapun rintangannya, pasti bisa dilalui dan pada akhirnya kita akan berdiri tegap dan dengan bangga berkata, "Aku berhasil."

    ReplyDelete
  4. Bijak sekali kamu, Anak Muda :'D

    Ayooo jangan nyerah. Harus semangat!

    Btw jadi inget perjuangan skripsi yg sampe 1.5 tahun. Hiks :'

    ReplyDelete
  5. enak di baca nya tulisan lu, gung :D

    ReplyDelete
  6. okeey pelajaran asik dari lingkungan

    ReplyDelete
  7. Hi Agung, salam kenal ya sebelumnya. Wah suka pergi ke taman juga ya? taman emang tempat yang cocok untuk menenangkan pikiran dari segudang rutinitas yaa, hehehe.

    ReplyDelete