Aku duduk termangu di samping sebuah batu. Angin berembus menghantam tubuhku yang rapuh. Kupandangi barisan semut yang berjalan tepat di depanku. Sungguh, aku malu. Bahkan jika dibandingkan dengan makhluk sekecil itu pun, aku kalah tangguh. Pekerja keras. Sedangkan aku?

“Ayah, aku lelah,” ucapku lirih.

Dia tak menjawab. Suasana yang sangat sepi membuat deru angin semakin jelas di telingaku. Aku semakin tertunduk seolah menopang batu besar di kepalaku.

“Menjadi dewasa itu ternyata sulit, Yah.”

Tetap tidak ada jawaban.

“Aku menyesal karena dulu selalu mengabaikan kata-kata Ayah. Ayah yang dulu selalu mengingatkanku untuk belajar, tapi aku malah asyik bermain tanpa mau mendengar. Dan sekarang, aku merasakan dampaknya. Banyak yang aku tidak tahu, karena aku mengabaikan waktu. Aku menyesal, Yah.

Langit meredup, seolah mengerti akan apa yang sedang aku rasakan.

“Yah, ternyata mencari uang itu sulit. Anakku sudah kelas enam, sebentar lagi ujian. Pasti butuh banyak biaya. Sedangkan, iuran sekolah yang sudah dua bulan pun belum mampu kubayar. Upah dari pekerjaan yang aku dapat hanya cukup untuk makan sehari-hari, kadang aku harus mencari pinjaman untuk mencukupi kebutuhan lainnya. Aku bingung, Yah,

bola mataku mulai berkaca-kaca.

“Aku menyesal. Aku menyesal dulu tidak pernah menghargai pemberian Ayah. Aku selalu marah ketika uang jajan yang Ayah berikan kuanggap kurang. Yang aku lakukan hanya meminta, tanpa pernah aku memikirkan betapa sulitnya mencari uang. Aku selalu merengek meminta uang untuk bermain dan aku hamburkan begitu saja. Aku tidak pernah menyadari seberapa banyak keringat yang Ayah kucurkan untuk mendapatkannya. Semasa sekolah dulu, aku sering membolos, aku tidak serius selama belajar, aku sering meminta uang dengan alasan untuk mengerjakan tugas, padahal aku gunakan uang itu untuk nongkrong dengan teman-teman. Aku selalu memaksa dibelikan sesuatu hanya karena teman-temanku memiliki itu. Tapi aku tidak pernah tau, betapa keras usaha yang Ayah lakukan untuk mendapatkannya. Kadang, aku diam-diam mengambil uang simpanan Ayah, padahalmungkinuang itu akan digunakan untuk keperluan yang lebih penting. Aku menyesal,Yah. Ayah mau memaafkan aku?”

Bendunganku tak mampu bertahan lagi. Sedikit demi sedikit ia mulai mengalir melewati sudut pipi.

“Aku juga menyesal. Dulu, aku tidak pernah mensyukuri apa yang kupunya. Ayah ingat Darto? Teman kecilku? Ayahnya punya mobil. Setiap pagi, ia selalu diantar oleh supir. Aku selalu meminta Ayah membeli mobil, karena aku ingin seperti Darto. Padahal, Ayah selalu mengantarkan aku dengan sepeda sebelum berangkat kerja. Jarak dari sekolahku ke tempat Ayah kerja, kan, cukup jauh. Atau, Ayah ingat waktu aku menangis seharian karena ingin dibelikan playstation? Ayah sampai rela menjual biola kesayangan Ayah. Ayah pergi dalam keadaan hujan. Hanya karena aku. Hanya karena Ayah ingin aku berhenti menangis. Aku selalu berpikir, seandainya aku menjadi orang lain. Aku tidak pernah mensyukuri apa yang kupunya. Aku menyesal, Yah. Aku menyesal. ”

Butir air mata itu semakin deras mengalir. Satu persatu menetes ke tanah. Burung wiwik kelabu yang sejak tadi memerhatikanku pun pergi, seolah ia tidak sudi melihatku.

“Oh iya, Yah, sudah berapa lama aku tidak datang kemari? Rumah Ayah sudah kotor. Rumput-rumputnya pun mulai tinggi, biar aku bersihkan.”

Aku mulai mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar rumah ayahku.Aku keluarkan saputangan biru dari saku celanaku. Aku menyeka tanah yang menempel di keramiknya. Kemudian aku melihat alroji yang terpasang di tangan kiriku. Sudah hampir maghrib.

“Yah, aku harus segera pulang. Anak dan istriku pasti sudah menunggu di rumah. Sekali lagi, maafkan aku, Yah. Oh iya, tolong sampaikan salamku pada Ibu. Aku pamit, Yah.

Aku bangkit. Kuusap air mata yang tersisa di sudut mataku. Sebelum pergi, aku simpan saputangan yang kupakai tadi di atas batu nisan ayahku. Baru kemudian kumelangkah pergi meninggalkan pemakaman itu.


Sore itu ditepi jembatan. Senja menampakan indahnya. Sunyi. Aku duduk menghadap sungai. Memerhatikan aliran air yang mengalir. Nampak samar ikan berenang hilir mudik. Tak jelas kemana arah dan tujuannya. Sesekali suara burung terdengar.

“Pokoknya, kita harus terus berjuang! Kita paksa mereka agar mau menuruti kemuan kita. Tidak, tidak. Ini kemauan kita bersama. Demi kebahagiaan dan kemakmuran kita semua!”

“betul! Kita hajar terus. Berjuang sampai akhir”
Dua orang itu berteriak menggebu-gebu.

Kerumunan masa terlihat berkumpul. Penuh semangat seperti memperjuangkan sesuatu. Sedikit demi sedikit, massa bertambah. Datang dari berbagai arah. Hingga membentuk sebuah kumpulan yang sangat banyak. Semua berkumpul dengan satu visi dan misi. Untuk memperjuangkan kehendak mereka, atas nama kebahagiaan bersama.

Disisi lain, terlihat barisan manusia. Berbaris menggunakan tameng membentuk benteng. Aparat keamanan berjaga, bersiap menghalau para pengunjuk rasa. Tidak lebih banyak, namun dengan peralatan lengkap. Beberapa kendaraanpun dikerahkan. Water canon dan sebagainya.

Para pengunjuk rasa itu perlahan berjalan. Menuju arah dimana para aparat keamanan berjaga. Sambil memakai atribut dan membawa bendera. Mereka berteriak. Mengumandangkan yel-yel serta meneriakan apa yang mereka tuntut. Satu orang memimpin di depan. Sebagai komando. Semua mengikuti arahannya.

Sampailah para pengunjuk rasa itu di depan aparat keamanan. Saling berhadapan satu sama lain. Dengan jarak yang tidak begitu jauh. Mereka sama-sama diam. Tak lama, dua orang dari pengunjuk rasa itu berjalan menghampiri aparat. Mungkin pemimpinnya. Diikuti seseorang dari arah aparat. Mereka bernegosiasi. Entah apa yang mereka bicarakan.

Negosiasi selesai. Mereka menemukan sepakat, mungkin. Salah satunya, mengijinkan para pengunjuk rasa berorasi. Menyampaikan apa tuntutan-tuntutan yang mereka inginkan kepada si penguasa. Satu orang menggunakan pengeras suara, berteriak sambil berjalan bolak-balik di depan para pengunjuk rasa dan barisan benteng petugas keamanan. Meneriakan aspirasi mereka dengan lantang. Dikepalanya terikat kain bertuliskan “Merdeka”. Merdeka dari apa? Rasanya bukan lagi berada di jaman penjajahan, atau masih?

Pengunjuk rasa yang lain ikut berteriak. Terbawa semangat dari sang orator. Sesekali meneriakan yel-yel. Membentangkan spanduk yang telah mereka siapkan sebelumnya. Riuh terdengar dari arah pengunjuk rasa. Sementara itu, petugas keamanan tetap siaga dibalik tamengnya. Mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Suasana aman. Damai. Hanya teriakan-teriakan dari orator yang terdengar, tanpa kekerasan. Namun tak lama kemudian, dari massa, ada batu yang terlempar ke arah petugas. Tepat mengenai kaki petugas yang bersiap dibalik barisan paling depan. Petugas itu jatuh. Sontak petugas yang lain kaget. Mereka berteriak ke arah massa. Barisan paling depan maju perlahan. Mendorong para pengunjuk rasa itu agar mundur. Kondisi yang awalnya damai, mulai kacau. Saling teriak satu sama lain. Memaki dan menghujat. Karena ulah salah satu oknum yang dengan sengaja melempar batu ke arah petugas. Memicu suasana menjadi panas. Tiba-tiba, batu kedua melayang. Beruntung kali ini tidak ada petugas yang terkena lemparat itu.

Melihat kondisi yang sudah tidak kondusif, akhirnya petugas berusaha membubarkan massa. Gas air mata ditembakan. Membentuk sebuah lingkaran besar di tengah kerumunan massa yang menghindar. Mereka berhamburan. Berlarian menyelamatkan diri. Mulai terjadi konflik. Para pengunjuk rasa itu mulai menyerang petugas dengan melempari mereka batu, bambu, bahkan ada yang melempar mereka dengan petasan. Para pengunjuk rasa berlarian kesana-kemari. Menghindar dari tembakan gas air mata dan juga semburan water canon. Beberapa polisi terlihat mengejar namun kembali karena di hadang dengan bambu oleh massa.

Disalah satu tempat, polisi terlihat mengejar beberapa pengunjuk rasa. Menggunakan pakaian serba hitam, beda dengan pengunjuk rasa yang lain. Nampaknya mereka adalah provokator yang membuat kekacauan ini terjadi. Akhirnya salah seorang pelaku berhasil di tangkap, dan diamankan oleh petugas. Aksi unjuk rasa itu menjadi kacau. Akibat beberapa provokator yang menyulut konflik. Saling lempar terjadi. Pengunjuk rasa pun membakar ban, menciptakan kepulan asam hitam. Beberapa fasilitas umum rusak. Kaca-kaca toko pecah akibat terkena lemparan batu.

Setelah dua jam bentrok, suasana mulai mendingin. Tidak ada lemparan dari kedua belah pihak. Namun masih terdengar makian dan teriakan dari arah massa. Kepala petugas keamanan berbicara menggunakan pengeras suara. Meminta kedua belah pihak untuk menahan diri.

Waktu semakin sore. Langit menguning. Terdengar kumandang adzan dari arah barat. Aku tersadar dari lamunanku. Tidak terasa, hampir satu jam aku duduk di tepi jembatan ini. Lucu sekali pikirku, menyamakan apa yang kurasa dengan kejadian akhir-akhir ini. Mungkin itu juga yang terjadi pada diriku. Dimana hati sebagai pengunjuk rasa dan pikiran sebagai petugas keamanan. Menuntut keinginan si hati yang ditolak oleh pikiran. Sampai akhirnya, perang batin. Konflik antara hati dan pikiran. Bisa sangat chaos sampai aku sulit mengendalikan diriku sendiri. Lalu, bagaimana solusinya? Harus dibawa ke pengadilan, untuk menentukan siapa yang benar. Kepada siapa? Ya, Adzan itu clue-nya. Sang Hakim yang maha adil memanggilku.




Shakila baru saja pulang dari sekolah. Hari itu masih ada kegiatan sanlat. Pesantren kilat. Ustadz disekolah menceritakan tentang Lailatul Qadar. Satu malam di bulan Ramadhan yang disebut lebih baik daripada seribu bulan.

Sampai dirumah, Umi sedang duduk di ruang tamu sambil membenahi pakaian yang baru diangkat dari jemuran.

“Umi, Lailatul Qadar itu apa, sih?” Tanya shakila

“Lailatul Qadar itu satu malam di bulan Ramadhan, yang istimewanya sama seperti seribu bulan. Jadi, kalau shakila beribadah pada malam itu, akan dapat pahala dan berkah yang banyak sekali dari Allah” jawab umi.

“Oh, gitu. Emang kapan Umi?”

“Gak ada yang tau, sayang. Kalau cerita orang-orang, adanya di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Begitu istimewanya, jadi Allah pengen kita sendiri yang cari.”

“Kalo begitu, aku mau cari, ah”

Umi hanya tersenyum menanggapinya.

Shakila berniat untuk menemukan malam Lailatul Qadar. Ia bertanya-tanya kepada Pak Ustadz tentang ciri-ciri datangnya malam Lailatul Qadar. Pada malam itu, suasana malam sangatlah tenang. Tidak panas, tidak juga dingin. Angin berhembus sejuk, tidak kencang. Langitpun cerah, tidak menurunkan hujannya. Esoknya, Suasana pagi begitu tenang. Matahari bersinar cerah, tapi tidak panas, tidak menyengat dikulit.

Sejak saat itu, tiap malam Shakila selalu tadarus Al-Quran. Sambil menunaikan niatnya untuk meng-Khatam-kan Al-Quran. Umi sering menemaninya. Ia sangat senang melihat anak bungsunya begitu semangat beribadah. Tidak ada rejeki yang paling berharga selain anak yang soleh dan solehah.

Sepuluh malam terakhir Ramadhan. Shakila semakin giat beribadah. Ia sangat berharap bisa menemui malam Lailatul Qadar –si malam yang sangat istimewa itu. Tiap malam ganjil, sesekali Ia berdiam diri di luar. Memerhatikan keadaan. Menyesuaikan dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Pak Ustadz di sekolah. Malam demi malam berlalu. Tapi rasanya, tiap malam sama saja. Shakila kembali bertanya-tanya. Umi memberi semangat.

“Lebih dekatkan diri kamu kepada Allah. InsyaAllah, Ia memberikan ke istimewaan itu untukmu, Nak.” Ucap Umi.

Kali ini, Shakila tidak sendirian. Ia ditemani Umi dan Kakaknya yang sudah pulang dari pondok, untuk merayakan Idul Fitri bersama-sama.

Idul Fitri pun tiba. Seluruh umat muslim merayakan hari kemenangan itu. Setiap orang berbahagia. Saling maaf memaafkan, kembali fitri, bersih layaknya bayi yang baru lahir. Lalu Shakila, masih tetap dengan rasa penasarannya tentang Lailatul Qadar. Sepulang ziarah, mereka berkumpul di ruang tamu.

“Umi, aku masih penasaran sama malam Lailatul Qadar.” Tanya Shakila.
Umi tersenyum.

“Umi mau sedikit cerita sama kalian”
Anak-anak umi duduk memerhatikan.

“Suatu hari, ada empat orang bersaudara. Mereka dipanggil ayahnya. Ayah mereka memberikan sepetak tanah. Tidak terlalu besar. Hanya saja, ayahnya bilang disana terdapat sebongkah emas yang tidak tahu dimana letaknya. Keempat bersaudara itu harus mencari agar bisa mendapatkannya. Anak pertama, karena tidak sabar, dan bernafsu untuk mendapatkan emas itu, Ia menggunakan mesin keruk untuk menggali tanahnya. Tapi emas itu tidak ditemukan. Lalu tanahnya dikembalikan ke tempat semula, dan Ia menyerah. Kemudian anak kedua, Ia menggunakan sekop. Menggali dan mencari emas yang disebutkan oleh sang ayah. Ia juga tidak menemukannya. Selanjutnya anak ketiga, kali ini Ia menggunakan sendok tembok, dengan harapan bisa lebih baik memilah tanah sehingga bisa menemukan emas yang dimaksud. Lagi-lagi Ia gagal menemukannya. Terakhir si bungsu, perempuan. Ia menggunakan sendok makan untuk mencarinya. Sedikit demi sedikit Ia gali dengan sabar. Karena merasa lama, Ia tidak ingin apa yang dikerjakannya sia-sia tanpa hasil. Sambil menggali, tanah itu Ia tanami dengan sayuran, cabai, tomat dan masih banyak lagi. Sampai akhirnya, Ia pun tidak menemukan emas itu. Namun,tanaman-tanaman yang Ia tanam tumbuh dan berbuah. Ia petik buahnya. Sebagian Ia gunakan untuk kebutuhan. Sebagiannya lagi Ia berikan kepada tetangga. Karena sisanya masih banyak, Ia menjualnya ke pasar. Ketika akan pulang, karena takut uang yang Ia dapat di curi orang di jalan, Ia memutuskan untuk membelikannya emas. Sampai dirumah, akhirnya Ia sadar itulah emas yang disebutkan sang ayah. Tidak ada emas di dalam tanah itu. Ayah ingin anak-anaknya berusaha, bersabar, berikhtiar untuk mendapatkan rejeki dari Allah. Pada akhirnya, anak-anak itu bisa mendapatkan kebutuhan dapur, mendapatkan pahala karena berbagi kepada orang lain, juga mendapatkan emas.”

Lalu Umi menghampiri dan duduk disamping Shakila.

“Nak…”

“Iya Umi?” Jawab Shakila

“Ramadhan ibarat sepetak tanah itu. Lalu didalamnya ada emas yang bernama Lailatul Qadar. Gak ada yang tahu pasti kapan malam itu tiba. Karena Rasul pun nyuruh kita untuk mencarinya. Maka, kita harus mencari dari awal sampai akhir. Petunjuknya sudah jelas diceritakan dalam Al-Quran. Amalkan.”

Umi menjelaskan.

“Sekarang Umi mau nanya, gimana perasaan kalian setelah beribadah?”

“Lebih tenang Umi. Rasanya hati ini damai sekali. Senang terus” Kakak menjawab.

“Tanda-tanda Lailatul Qadar itu tenang, damai. Tidak panas, tidak juga dingin. Sejuk. Sama seperti kalian setelah beribadah. Hati kalian menjadi tenang. Tidak ada amarah, tidak ada dendam. Ikhlas. Begitu seterusnya. Tidak ada prasangka buruk. Senantiasa bersyukur. Sampai kita pada hari ini, hari kemenangan. Yang terpenting adalah prosesnya. Kalian menjadi lebih dekat dengan Allah. Semoga Istiqomah. InsyaAllah, Allah telah memberikan kalian keistimewaan itu. Kalian itu anak-anak Umi yang sangat istimewa. Emas nya Umi.”

Umi mencium kening anak-anaknya. Shakila dan kakaknya begitu senang mendengar penjelasan Umi. Mereka merayakan hari kemenangan itu dengan hati yang berbahagia.

Teruntuk : Kamu


Apa kabar kamu? Sehat selalu kan? Jaga selalu kesehatanmu ya, sayang. Agar Aku tenang di sini.
Maaf aku baru bisa mengirimmu surat lagi. Akhir-akhir ini Aku sibuk dengan pekerjaanku. Jadi, aku baru sempat mengirim surat lagi buat kamu.

Jaga terus kesehatanmu. Agar kamu bisa terus berpuasa. Jangan seperti aku ini, terlalu memforsir diri sampai-sampai kurang memerhatikan kesehatan. Tapi gak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Hanya mungkin agak kecapean saja.

Kemarin aku baru saja mengikuti reuni teman-teman SMA ku. Sekalian buka puasa bersama. Aku jadi panitia. Heran kadang, apa bisaku sampai-sampai beberapa kegiatan sering diajak jadi panitia. Tapi aku bersyukur, dengan begitu aku bisa bermanfaat bagi orang lain.
Acaranya sederhana, namun luar biasa. Bagiku bukan tentang seberapa mewah acara itu, tapi bisa berkumpul lagi bersama teman-teman lama itu yang membuat berharga. Walaupun tidak semua ikut, tapi sudah cukup mewakili.

Selama acara, aku ngobrol-ngobrol bersama teman sekelasku dulu. Kami  bernostalgia tentang kejadian-kejadian lucu semasa sekolah dulu. Gak bisa di pungkiri, kalau masa SMA itu memang benar-benar masa terindah. Selain bernostalgia, kami juga sharing tentang kehidupan sekarang. Beberapa sudah ada yang bekerja, menikah. Ada juga yang masih kuliah, ada yang berwirausaha, ya pokoknya macam-macam.

Kami ngobrol soal pekerjaan. Tentang bagaimana pekerjaan masing-masing. Suka duka yang ada. Yah, kebanyakan yang dibicarakan adalah gimana “tidak enaknya” pekerjaan mereka. Dari mulai gaji, suasana tempat kerja, pekerjaan terlalu berat dan macam-macam. Masing-masing punya ceritanya sendiri, dengan versinya sendiri. Aku gak begitu banyak bicara soal itu, lebih banyak mendengar dan memerhatikan. Sesekali memberi masukan sembari memberi semangat.

Sayang, bagaimana pendapatmu? Sama sepertimu bukan? Sering mengeluh tentang pekerjaan. Memang, tidak ada pekerjaan yang mudah. Setiap pekerjaan ada tantangannya sendiri. Salah satu temanku bertanya “ada gak sih perkerjaan yang enak?” aku jawab dengan sedikit bercanda, “pekerjaan yang enak cuman tidak bekerja” begitu jawabku. Mereka tertawa.

Tapi menurutku, itu benar. Yang enak cuman tidak bekerja. Tidak perlu memikirkan tanggung jawab dan tugas yang harus diselesaikan. Soal tidak dapat penghasilan, ya itu resiko. Hasil ada karena usaha. Gak ada usaha ya gak ada hasil. Yang harus kita lakukan itu bukan mencari pekerjaan yang enak, tapi menerima semua pekerjaan yang ada, dengan ikhlas. Setiap ada masalah, pasti ada solusi ko. Aku yakin itu. Makanya, kamu juga ya. Harus terus semangat. Hadapi tantangan  yang ada. Yang penting kamu harus tetap semangat. Selalu ikhlas dan bersyukur. Tidak apa mengeluh, asal jangan menyerah. Aku siap menjadi buku diarimu. Siap mendengar keluh kesahmu.

Disela kegiatan, ada salah satu temanku berkata “hari ini kita ketawa, sekaan gak ada beban, padahal besok harus hidup seperti biasa. Nyari uang lagi, nyari makan lagi. Padahal pengennya balik lagi ke masa masa ini. Tapi, ya gak bisa.” Betul memang. Tapi kita gak bisa nyalahin keadaan. Aku yakin apa yang terjadi memang sudah semestinya terjadi. Ditolakpun percuma. Pengen kembali kemasa dulu, ya gabisa juga. Jarum jam gak akan berjalan ke arah yang berlawanan. Terima tidak terima ya harus terima. Begitupun aku, hari itu ketawa-ketawa, besok ya harus kerja lagi seperti biasa. Harus kangen lagi, seperti biasanya. Kerja sampinganku, kan, itu, kangen sama kamu. Nikmati saja.

Sayang, inti dari suratku kali ini, jangan menyerah. Mengeluh boleh saja, wajar kok, sifat manusia memang begitu. Tapi kalau bisa, mengeluhlah pada tempatnya. Masalah itu gak selalu buruk. Mungkin itu cara Tuhan ngajarin kita. Kita gak tau loh. Tuhan memang maha asyik. Gak bisa kita tebak.

Janji ya? Kamu jangan menyerah. Aku janji sama kamu. Gak akan menyerah, dan akan terus semangat. Apalagi, kita punya tujuan kan. Buat sampai kesana, tentu perlu usaha. Dan aku akan berjuang untuk itu, bantu aku ya. Percayalah, sampai nanti tiba waktunya, kita pasti akan bersama. Sabar, ya.


Salam Sayang


Agung Adiwangsa


Dulu, pas SD gue punya cita-cita sebagai ini, sebagai itu. Liat bapak gue yang seorang guru, gue pengen jadi guru. Liat di rumah sakit ada dokter pengen jadi dokter, liat di tv ada pilot, pengen jadi pilot. Liat di tv ada penyanyi, pengen jadi pemusik. Serius, itu semua gue pengen.

Tapi makin kesini, makin dewasa perlahan apa yang gue pengen dulu itu hilang. Yang awalnya gue pengen ini itu, sekarang sama sekali engga. Malah, yang kepikir saat ini adalah gue pengen bahagiain diri gue, orang yang disekitar gue, orang tua gue, orang yang gue sayang dan semua nya

Dari SD gue udah berandai-andai. Nanti lulus SD gue mau ke sekolah ini karena favorit. Abis dari SMP gue pengen ke sekolah ini karena keren. Abis SMA gue pengen kuliah disini, karena apa? Karena gue liat temen-temen gue pada kuliah. Tapi sayangya, kepengen gue buat kuliah itu gak kecapai karena biaya. Orang tua gue gak punya biaya buat nguliahin gue. Sedih memang, karena apa yang gue pengen gak kecapai.

Dari situ gue coba buat ngehibur diri dengan mengatakan “gapapa ijazah SMA tapi otak harus sarjana” itu cuman ngehibur diri aja. Asli padahal gimana coba cara jadi sarjana tanpa kuliah?

Gue nyari kerja, dengan niat apa? Gue kerja dulu, terus nabung, terus kuliah. Jadi kuliahnya pake hasil kerja sendiri. Setelah beberapa tahun kerja, punya penghasilan sendiri, terus lanjut kuliah? Enggak. Males malah jadinya. Malah paman gue, bibi gue nyuruh gue kuliah, katanya dibantu. Temen kerja gue nyuruh kuliah, di arahin jalannya supaya kuliahnya gampang. Terus gue ambil? Enggak. Kenapa? Karena apa yang ditawarkan gak sesuai dengan minat gue. Dan karena males.

Awalnya mungkin kalimat “Gak apa-apa ijazah SMA tapi otak harus sarjana” itu cuman buat ngehibur diri. Tapi, akhirnya itu jadi motivasi gue. Caranya gimana? Jangan nutup mata. Itu aja. Karena dijaman sekarang, sesungguhnya ilmu itu lu bisa dapet dimana aja. Contoh, lu pengen bisa apa? Masak? Editing? Fotografi? Main musik? Menulis? Programer? Asal lu punya koneksi internet, lu bisa. Gak ada komputer, pake hape. Lu tinggal buka youtube. Cari tutorial. Cari di Google. Pelajari dah tuh semau lu.

Banyak sekali ilmu yang bisa kita ambil. Gak ada patokan waktu, gak ada patokan tempat. Dimana saja, kapan saja, bisa. Asal kita nya mau. Jangan pernah kasih puas rasa penasaran kita. Karena dari penasaran itu kita banyak belajar sampai akhirnya bisa. Sukses itu bukan karena ilmu, tapi karena kita mau dan punya niat.

Memang, gue sendiri gak sebut apa yang gue bilang diatas itu benar. Karena ada juga ilmu yang cuman bisa lu dapat dari sekolah. Tapi buat gue bukan itu pointnya, yang gue bahas di sini adalah, Gak usah takut, gak usah malu, gak usah minder ketika lu gak bisa kuliah, ketika lu gak bisa ngelanjutin sekolah lu. Karena masih ada cara untuk bisa dapat ilmu. Dijaman sekarang ini, apapun yang lu pengen, bisa.


Gue juga gak bilang bahwa sekolah itu gak penting. Sekolah itu penting. Karena kita hidup di tempat dimana Ijazah masih jadi patokan buat dapat pekerjaan. Dan dari sekolah itu juga kita belajar bagaimana bersosialisasi, bagaimana cara membaur, bagaimana bersikap yang baik. Selama bisa, dan selama mampu, sekolahlah setinggi mungkin. Tapi sekali lagi, menurut gue sekolah itu bukan patokan buat dapat ilmu.

Pasti ada pertanyaan buat gue “ah, lu ngomong begini, emang udah punya apa? Udah bisa apa? Udah sukses?” Gue gak punya apa-apa. Mungkin bagi orang banyak, sukses itu adalah ketika lu punya duit banyak, lu bisa kemanapun semau lu, lu bisa beli apapun yang lu mau. Tapi, enggak bagi gue. Karena sukses buat gue adalah ketika gue bisa nikmatin hidup gue se nikmat mungkin. Gue udah merasa sukses, cuman belum puas. Gue masih pengen ngelakuin banyak hal, belajar banyak hal, supaya gue bisa lebih menikmati hidup gue.

Tulisan ini benar apa salah? Tergantung. Benar dan salah itu tergantung dimana posisi lu. Buat yang setuju, ini benar. Buat yang gak setuju, ini salah. Ambil aja baiknya dan buang buruknya. Karena segala sesuatu juga ada baik dan buruknya. Gak ada yang benar-benar hitam dan benar-benar putih. Semuanya juga abu-abu. Tinggal lu harus bisa memilih dan memilah.

Dijaman sekarang ini, ilmu itu udah kayak sampah. Ada dimana-mana. Tinggal mungutin. Tapi inget, ditangan orang cerdas, sampah itu bisa jadi permata. Tinggal Lu aja mau gimana, mau menjadikan sampah itu tetap sampah, apa merubah sampah itu menjadi permata?


Teruntuk : Kamu


Sayang, sudah sampai rindu yang kukirim padamu lewat suratku sebelumnya? Semoga sampai, ya!

Entah kapan rindu itu akan terpenuhi. Seperti teka-teki, banyak misteri di dalamnya. Tapi, biarkan saja itu tetap ada. Karena rindu yang membuat cinta tetap hidup. Dan rindu juga yang membuat cinta lebih berwarna.

Aku akan menjadi penggemarmu. Yang senantiasa menanti akan kehadiranmu. Menyebut namamu dengan bangga di depan kawan-kawanku. Memberimu semangat dari kejauhan. Mendoakan agar kamu selalu dalam lindungan-Nya

Tidak ada harga pas didalam cinta. Tapi, cinta tidak mengenal kembalian. Kamu tidak perlu repot-repot mengembalikannya, biar saja itu mengalir sebagaimana mestinya. Karena kasih sayang, kasih itu memberi. Bukan meminta.

Aku akan mencintaimu dengan caraku. Maaf jika belakangan ini, Aku cuek. Saat ini aku sedang sibuk memintamu kepada pemilikmu. Aku hanya akan mengingatkanmu, agar tetap berada di jalan yang benar. Sampai Kita dipertemukan di ujung jalan itu. Dan ketika sampai nanti, akan kutuntun Kamu menuju jalan bahagia.

Aku akan meminta Tuhan agar Ia menyandingkan satu ciptaannya yang cantik itu denganku. Menyempurnakan kelebihanku, dan menutup kekuranganku.  Biarkan rindu itu mengudara, tak perlu ditahan, tak perlu dilarang. Biarkan semua berjalan sebagaimana ia harus berjalan. Karena kita tidak pernah tau, bagaimana isi naskah Tuhan. Tapi yakinlah, rencana-Nya selalu indah.

Sampai jumpa, Sayang. Semoga kita bertemu!


Salam sayang,


Agung Adiwangsa


Teruntuk : Kamu


Hallo, sayang. Ada titipan untukmu. Dari hati yang mulai rindu. Katanya, kapan akan bertemu?

Ada salam dari mata. Yang rindu ingin melihatmu. Melihat senyum yang manis itu. Rindu memandang wajah cantikmu. Rindu melihat tingkahmu yang konyol itu.

Ada salam dari telinga. Yang juga rindu mendengar suaramu. Suara merdu, yang selalu ditunggu. Suara yang seringkali membisikan kata cinta. Sampai-sampai, ia tidak ingin mendengar suara lain. Hanya Kamu. Kamu yang ditunggu.

Ada juga salam dari jemariku. Yang sama merindu. Rindu menjabat tangan lembutmu. Rindu mencubit pipimu. Rindu akan hangatnya genggamanmu. Ia bertanya “dimana kamu? Aku rindu. Biar kutuntun Kamu ke jalan bahagia”

Ada salam dari senja. Ia bilang, kapan Kita berdua akan bermain lagi bersamanya? Dia suka melihat Kita bahagia. Duduk bersama, bercanda tawa. Berlari menari mengikuti irama. Sederhana namun luar biasa. Aku, Kamu dan senja.

Rindu bukan sebuah persoalan. Ia adalah jawaban yang belum tuntas. Bahkan, tak harus. Rindu seperti hujan. Kadang datang kadang pergi. Tapi terus ada. Kadang besar, kadang kecil. Tapi terasa. Selama ada cinta, selalu ada rindu. Karena rindu tak mengenal jarak dan waktu. Rindu tidak melulu tentang temu. Ada sesuatu yang belum tuntas.

Malam ini Aku duduk di teras rumah. Memerhatikan air yang menetes dari daun. Menikmati udara dingin sisa hujan. Sesekali berbisik kepada angin. “hey, tolong sampaikan salam ini padanya, salam rindu.”

Aku titip rindu lewat surat ini. Tolong Kamu terima, dan jaga sampai Kita bertemu nanti. Aku akan menunggumu di persimpangan jalan. Biar kutuntun Kamu nanti. Bersama, menuju jalan bahagia.


Dari Aku, yang merindu.


Agung Adiwangsa


Teruntuk : Kamu

Lagi-lagi surat dariku, apa kamu bosan? Semoga tidak. Jangan pernah bosan ya, sayang. Karena, aku akan terus mengirimu surat. Sampai nanti aku tidak bisa mengirim lagi. Dan ketika aku tidak bisa mengirimmu surat lagi, tolong simpan baik-baik. Jadikan saksi bisu tentang betapa aku mencintaimu.

Sayang, beberapa hari lalu, aku berkumpul bersama teman-temanku. Mereka membawa pasangannya masing-masing. Beberapa temanku itu ada yang sudah menikah, ada juga yang masih berpacaran. Salah satu diantara mereka ada yang membawa anak. Lucu sekali anak kecil itu, gemas aku melihatnya.

Lalu aku? Ya, aku sendiri. Tanpa kamu. Eh, enggak. Sama kamu kok, aku di motor, kamu dihatiku. Hihi.

Kami berbincang-bincang. Bernostalgia tentang masa sekolah dulu. Dari kejadian yang lucu, sampai kejadian yang menyedihkan. Betul memang masa sekolah itu masa yang paling indah. Ingin rasanya kembali ke masa itu.

Sedang asik berbincang, tiba-tiba salah satu temanku bertanya. “Gung, kapan mau nyusul?” aku senyum kecil. Kujawab “nanti, kalo sudah waktunya” mereka membalas dengan tertawa. Temanku yang lain malah meledekku karena mungkin pada saat itu aku datang sendiri, mereka mengira aku tidak punya pasangan. Temanku yang satunya lagi bilang “ayo, nanti rejeki pasti ngikutin. Gausah takut” aku hanya menjawab mereka dengan tawa.

Sayang, bagaimana menurutmu? Haha jadi tertawa sendiri aku membayangkannya. Apa kamu berpikiran sama seperti mereka? Ingin cepat-cepat? Haha

Maaf ya, tapi sepertinya, saat ini aku belum siap. Iya, memang betul apa kata mereka. Rejeki itu pasti ada, gak usah takut. Tapi, bukan hanya itu. Menikah itu mudah tapi sulit. Mudah saat menikahnya, sulit setelahnya. Menikah itu bukan mainan. Harus siap lahir dan batin.

Aku sedang mempersiapkan itu, sayang. Kamu tau kenapa aku selalu memberimu pelajaran di setiap suratku? Sebenarnya disitu juga aku sedang mengingatkan diri. Aku ingin dan harus menjadi pribadi yang baik, karena suatu waktu nanti aku akan menjadi pemimpin keluarga. Aku harus membawa keluargaku ke jalan yang benar. Iya, kamu dan anak-anak kita nanti.

Dimulai dari diri sendiri, aku harus menjadi tiang yang kokoh. Agar aku bisa menopang rumah tangga kita dengan kuat. Saat ini, aku masih belum siap. Aku masih sering terbawa emosiku. Belum bisa mengontrol diri dengan baik. Coba bayangkan, gimana kalau aku yang masih sering terbawa emosi ini. Bisa-bisa kita sering marahan, kan, apalagi sikapmu yang kadang seperti anak-anak. Aku juga masih sering terbawa egoku sendiri. Makanya, aku sering ngobrol dengan orang yang umurnya lebih tua dariku. Karena, dari kisah hidup mereka itu aku dapat banyak pelajaran.

Rejeki memang sudah ada yang atur, tapi kita tetap harus berusaha mencarinya. Begitupun aku, saat ini aku sedang berusaha untuk itu. Mungkin kamu kecewa, karena aku jarang mengajakmu main, jalan-jalan, seperti pasangan-pasangan pada umumnya. Maaf sayang, bukan aku tidak mau. Jujur, aku sangat ingin mengajakmu jalan-jalan. Laki-laki mana yang tidak ingin melihat wanita yang ia cintai bahagia? Ya, minimal tersenyum. Aku juga ingin. Sangat! Tapi, sekali lagi, aku minta maaf. Belum bisa membuatmu bahagia saat ini. Yang kupikirkan adalah bagaimana berusaha, agar aku bisa membuatmu bahagia nanti. Aku tidak ingin bergantung pada rejeki orang tua. Karena menurutku, laki-laki yang baik itu yang bertanggung jawab. Walaupun begitu, aku tetap berusaha agar bisa mengajakmu jalan, membuatmu bahagia. Seperti kemarin, sewaktu kita jalan-jalan bersama. Kamu tidak perlu bertanya darimana aku dapat uang, karena buatku, yang terpenting adalah kamu tersenyum.

Selama masih diberi waktu dan kesempatan, selama itu pula aku akan terus berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Sedih rasanya ketika aku sadar aku tidak punya apa-apa untuk membuatmu bahagia. Tapi, aku berjanji, aku akan terus berjuang dan berusaha untukmu, dan untuk kita. Tak apa, aku tidak ingin bahagia saat ini, aku  ingin bahagia nanti, bersamamu, bersama anak kita dalam satu keluarga.

Bagaimana denganmu? Apa kamu ingin cepat menikah? Kalau kamu ingin segera, lupakan ketidak siapanku. Ayo, besok lusa kalau tidak hujan, kita ke KUA! Hahaha

Mungkin kamu bosan dengan isi suratku yang selalu berisi nasihat. Tapi, asal kamu tahu, sampai saat ini aku masih memegang ucapan Ayahmu. Yang menitipkan kamu kepadaku, supaya aku mengajarimu agar lebih baik. Agar aku mengingatkanmu ketika kamu melakukan kesalahan. Kamu jangan bosan, ya. Ini semua demi kebaikanmu juga.

Sayang, tetaplah seperti bintang dilangit. Biarpun awan mendung menutupinya, tapi ia tetap bersinar terang. Tak peduli ada orang yang melihat atau tidak. Jaga hatimu selalu untukku, ya! Sampai jumpa!


Salam Sayang,


Agung Adiwangsa

Previous PostOlder Posts Home