“Yo, sebenernya gue gak
mau marah sama lo. Tapi, coba
lo baca sendiri cerita lo. Udah lima kali lo kasih gue cerita dan isinya
itu-itu terus. Gue udah bilang, kan, ganti. Cerita itu jelek. Pikiran lo tuh stuck di satu titik. Lo harus coba yang baru, jangan itu mulu. Kalo
gini terus, sorry, gue kayaknya harus cari penulis lain.”
“Sorry, Pak. Gue bakal tulis cerita
baru.”
Pak Gondo menarik napas
panjang, kemudian
mengembuskannya kembali.
“Last chance, okey? Gue
kasih lo waktu tiga hari. Yo, jangan sampe gue nyari penulis baru.”
Aryo mengangguk.
Merapikan kertas yang berserakan di atas meja. Kemudian melangkah keluar ruangan. Wajahnya kusut. Pikirannya semrawut.
Ia sudah lima kali membuat cerita, lima kali pula ceritanya ditolak. Semenjak
putus dari Sonya, ide-ide di otaknya serasa tersembunyi di suatu tempat. Setiap
kali ia mencoba menuangkan, akan berujung pada
alur yang sama.
Aryo duduk di kantin
kantor. Segelas cappucino terlihat di depannya. Ia membuka laptop,
membaca kembali cerita-cerita yang pernah ia buat. Membandingkannya dengan cerita yang sedang ia genggam. Memang,
hampir semuanya sama.
Mengisahkan tentang seorang wanita. Bayangannya tentang Sonya membuat ia sulit
berpikir. Kenangan yang terjalin selama dua tahun itu tidak bisa dilepasnya begitu saja.
Lolita datang
menghampirinya. Ia duduk tepat di samping sahabatnya itu.
“Kenapa lagi lo? Masih galauin Sonya?”
“Ng-nggak, enggak.”
“Ah elah, lo gak usah bohong, Yo.”
“Enggak kok, suer.
Barusan gue dari ruangan Pak
Gondo. Dia nolak tulisan gue lagi.”
“Coba gue liat.”
Loli membaca cerita yang
dipegang Aryo.
“Hmm... jelas. Tanpa lo
bilang, gue udah tau kalo ini cerita tentang Sonya. Sama kayak cerita-cerita lo
sebelumnya.”
Aryo diam.
“Lo masih kepikiran soal
Sonya, Yo?”
“Dikit”
“Lo gak usah bohong sama
gue. Cerita lo ngegambarin jelas banget.”
“Hmm... yah lo tau
sendiri, Lol.”
“Lo butuh sesuatu yang
baru. Pikiran lo tuh cuma terpaku sama Sonya. Makanya, tulisan-tulisan lo,
walaupun ditulis dengan cara apa pun,
tapi intinya sama.”
Aryo diam. Ia meneguk cappucino
yang tinggal setengah itu.
“Gue cabut dulu, ya. Ada
janji sama temen. Yo, coba lo buka, biarin yang lain masuk.”
Loli bangkit, dan meninggalkan
tempat itu. Sedangkan Aryo, masih terdiam. Apa maksud Loli dengan membuka, lalu
membiarkan yang lain masuk?
Gelas di depan Aryo sudah
kosong. Capuccino itu sudah berpindah ke dalam perut Aryo. Ia merapikan laptopnya, kemudian bangkit, dan melangkah pulang.
Ia sudah berdiri di halte
depan kantor. Menunggu bus
yang akan membawanya pulang. Sambil menunggu, ia memerhatikan keadaan di
sekitar. Di sampingnya
ada sepasang suami istri yang sedang membicarakan anak mereka. Suasana halte
yang saat itu sepi membuat percakapan mereka terdengar jelas.
“Pah, Adi mulai bandel, tuh. Main mulu. Mulai gak
betah di rumah," ujar
sang istri.
“Ya biar sajalah, Mah. Adi mulai dewasa. Jangan dikurung
terus. Biarin dia keluar supaya pergaulannya luas," jawab suaminya.
“Tapi, mamah takut dia malah jadi gak bener.”
“Yasudah, kita percaya saja sama Adi,
ya.”
Percakapan pasangan suami
istri itu seperti memberi sebuah pesan kepada Aryo. Pikirannya mencoba meneliti
pesan itu.
Bus yang ditunggu Aryo akhirnya tiba.
Pikiran tentang suami istri itu buyar bersamaan dengan langkahnya. Ia duduk
dekat jendela. Menerawang ke arah luar. Mencari sesuatu yang mungkin bisa ia
gunakan untuk bahan menulis. Tapi percuma saja. Pikirannya tetap kembali pada
satu hal. Sonya. Ya, kenangan tentang wanita itu masih tetap menyelimuti
pikiran Aryo. Apalagi ketika ia melewati sebuah cafe. Tempat di mana ia
pernah makan malam bersama Sonya. Aryo ingat betul ketika itu ia menyanyikan
sebuah lagu untuk Sonya. Tapi sekarang, tempat itu hanya menjadi saksi bisu
atas kisah cinta mereka yang telah hilang terbawa angin.
Suara klakson membuyarkan
lamunan Aryo. Bus yang
ia tumpangi tiba-tiba berhenti. Ia melihat ke arah luar, mobil-mobil lain pun
ikut berhenti. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba macet? Padahal sudah hampir
sampai. Aryo berdiri dari duduknya. Ia melihat ke arah depan. Dari kaca supir terlihat di
perempatan ada polisi yang menghentikan laju mobil dari kedua arah.
“Ada apaan ya, Mbak?” Aryo bertanya pada
penumpang di sebelahnya.
“Katanya, sih, mau ada pejabat lewat," jawabnya.
Aryo kembali duduk. Ia
melihat handphone-nya.
Tidak ada pemberitahuan satu pun.
Lama ia menunggu, tapi
mobil-mobil itu belum juga melaju.
Kemudian Aryo memutuskan untuk turun dan melanjutkan perjalanannya dengan
berjalan kaki. Toh,
jarak menuju rumahnya pun sudah tidak jauh lagi. Tanpa terasa, resleting tasnya
terbuka. Buku-buku yang ia bawa tersembul dan jatuh keluar. Aryo berhenti sejenak.
Berjongkok dan mengambil kembali bukunya yang terjatuh. Di dekatnya, terlihat seorang ibu dan
anaknya yang ingin menyebrang jalan. Anaknya yang masih berseragam SD itu
bertanya kepada si ibu.
“Bu, kok polisi itu
nutupin jalan, sih? Kan, yang lain jadi gak bisa
lewat,” tanya si anak.
“Pak polisi itu nutup jalan
ini buat ngebuka jalan lain, supaya yang lebih penting bisa lewat tanpa
hambatan,” jawab si ibu sambil
menggandeng anaknya menyebrang jalan.
Aryo terdiam sejenak
mendengar jawaban si Ibu tadi. Kemudian kembali melanjutkan perjalanan
pulangnya.
Hari berganti malam. Aryo
duduk di teras rumahnya. Malam itu cukup tenang. Udara tidak panas dan tidak
terlalu dingin. Aryo merasa malam itu cocok ia gunakan untuk menulis cerita
yang akan menentukan nasib pekerjaannya. Segelas kopi menemaninya malam itu. Di
sampingnya terdapat satu bungkus rokok Mild, padahal Aryo sudah lama berhenti merokok. Ia hanya
teringat perkataan temannya,
"Kalo gue lagi stres, biasanya gue ngerokok biar tenang.”
Padahal, sebenarnya ia
tidak tahu apa hubungan antara stres dengan sebatang rokok.
Ia membuka Ms. Word dan
mulai menulis. Ia merangkum kata-kata menjadi sebuah kalimat, dan
menggabungkannya menjadi sebuah paragraf. Di tengah tulisannya, pikiran tentang Sonya tiba-tiba terbesit di
benak Aryo. Jari tangannya yang sejak tadi mengetik itu seketika berhenti.
“Brengsek! Kenapa dia
mulu yang muncul?" maki Aryo.
Aryo menengadahkan
kepalanya ke atas. Menatap langit-langit rumahnya. Kemudian, ia membakar satu batang rokoknya.
Hisapan pertama ditandai dengan batuk. Ia sudah tidak terbiasa lagi menghisap
rokok. Ia berdiri, dan berjalan menuju tiang penyangga rumahnya. Menatap ke
arah langit. Ia teringat pada kejadian yang ia alami hari ini. Dimulai dari
perkataan Loli, sahabatnya, sampai jawaban dari seoang ibu untuk anaknya. Pikirannya
berkelana mencari jawaban atas kebingungan yang ia alami.
Sesaat ia terdiam. Lalu
tiba-tiba tersenyum. Senyum itu berubah mejadi tawa kecil dari bibirnya. Aryo
seperti menyadari satu hal. Pikirannya seperti sudah pulang membawa jawaban
atas kebingungan yang ia rasakan. Sekali lagi ia menatap ke langit.
Bintang-bintang seperti bersinar semakin terang. Aryo membuang batang rokok
yang tinggal setengah itu. Merogoh saku untuk mengambil telepon genggamnya. Ia
mencari satu nama kontak “Lolita” kemudian menelponnya.
“Hallo, Yo, ada apa
nelpon malem-malem?” tanya Loli yang setengah sadar di telponnya.
“Lo udah tidur? Hahaha sorry
ya ganggu. Gue cuma mau bilang makasih aja sama lo.”
“Eh, makasih buat apa, nih?”
“Lo udah nyadarin gue.”
“Tunggu, tunggu, apa
maksudnya? Gue gak ngerti.”
“Udah, lo terusin aja
tidurnya. Gue mau nulis cerita baru hahaha!”
“Tunggu dulu, Yo. Lo harus jelasin dulu."
“Nanti gue jelasin.”
Telepon itu ia matikan. Ia
kembali duduk di depan laptopnya. Mulai menulis cerita baru, dengan pikiran
baru yang lebih bebas dari sebelumnya.
Tiga hari berlalu. Kini
saatnya Aryo memberikan hasil tulisannya kepada Pak Gondo. Ia sudah berdiri di depan
ruangan Pak Gondo.
Menarik napas panjang, lalu mengembuskannya lagi. Hari itu ia lebih percaya
diri. Tapi rasa degdegan
pun masih ada pada dirinya. Bagaimana tidak, tulisannya kali inilah yang
menentukan pekerjaannya. Jika ditolak lagi, ia harus mulai mencari pekerjaan
baru. Aryo membuka pintu, dan masuk menghadap Pak Gondo.
Sekitar satu jam ia di
dalam. Entah apa yang terjadi. Tak lama, gagang pintu itu terbuka. Aryo keluar
dengan wajah yang tidak jauh beda dari tiga hari yang lalu. Seperti ada kabar
buruk yang ia terima. Loli sudah berdiri di depan ruangan Pak Gondo. Menanti kabar dari sahabatnya
itu.
“Gimana?” tanya Loli.
“Pak Gondo bilang gak
bisa...” jawab Aryo
dengan tidak bersemangat.
“Hmm... sabar ya, Yo. Gue
pasti bantu lo.”
“Barusan dia bilang gak
bisa nolak tulisan gue kali ini.”
Mimik lesu yang tadi
tergambar di wajah Aryo kini berubah menjadi senyum kemenangan. Tulisan yang ia
buat diterima oleh Pak
Gondo.
“Eh, sialan lo! Berani nipu gue!” ucap Loli
kesal.
“Hahahaha bodo amat!”
“Eh, tunggu, lo masih
hutang penjelasan sama gue.”
“Oke, oke, gue jelasin.
Tapi gak di sini. Sambil makan aja. Tenang, gue selalu tau lo bokek, jadi gue
traktir.”
“Hih, enak aja lo ngomong!" sangkalnya sembari memukul bahu
Aryo.
Di sebuah restoran dekat
kantor, kedua sahabat itu duduk sambil menikmati makanan yang tersaji.
“Nah, sekarang lo jelasin
maksud lo nelpon gue malem itu.”
“Waktu itu lo di kantin
bilang ke gue buat coba ngebuka, dan biarin yang lain masuk. Awalnya, gue gak ngerti maksud lo
apaan. Sampe gue nemuin kejadian yang akhirnya bikin gue sadar. Pertama, pas
gue pulang dari kantin waktu itu, gue denger sepasang suami istri yang
ngomongin anaknya. Anaknya sering keluar rumah buat main. Si ayah membiarkan
dengan alasan agar anaknya tidak terkurung dan biar pergaulannya luas. Dari situ
gue mikir. Saat itu, pikiran gue lagi terkurung oleh satu hal. Sonya. Pikiran-pikiran
tentang Sonya bikin gue gak bisa mikir luas. Terus, pas gue hampir sampe rumah,
jalanan macet. Waktu itu ada penutupan jalan karena akan ada pejabat lewat
situ. Ada seorang anak SD nanya ke ibunya, kenapa polisi itu nutup jalan.
Ibunya jawab, polisi itu nutup jalan biar orang penting itu bisa lewat tanpa
hambatan. Gue kembali mikir. Saat itu pikiran gue cuma terpaku sama Sonya.
Sampai-sampai pikiran dan ide lain yang lebih baik, yang lebih penting itu gak
bisa berjalan dengan normal. Pikiran gue kayak lagi ada dalam sebuah kemacetan.
Gak bisa maju ataupun mundur. Pikiran gue cuma stuck di satu tempat.
Makanya, gue harus
menghentikan pikiran tentang Sonya dan biarin ide-ide lain yang lebih penting
berjalan. Sampai akhirnya gue ngerti maksud perkataan lo. Gue harus ngebuka
pikiran gue. Biarin dunia yang luas ini masuk ke dalam pikiran gue, biarin ide-ide baru yang lebih bagus itu
masuk ke dalam pikiran gue. Bukan lagi tentang satu hal doang. Bukan lagi
tentang Sonya. Posisi gue waktu itu kayak seekor lalat yang berada dalam
toples. Gue cuma bisa
liat apa yang ada di depan gue. Sampe akhirnya lo ngebuka tutup toplesnya, dan
gue bisa terbang menjelajahi dunia yang sangat luas ini.”
Lolita hanya tersenyum
mendengar penjelasan Aryo. Ia merasa, sahabatnya itu telah melakukan sesuatu
yang sangat tepat. Kemudian Loli mengacak-acak rambut Aryo sambil tertawa
senang.
***
Oke,
kali ini gue mau memperkenalkan kalian dengan #memfiksikan.
#memfiksikan adalah sebuah kebiasaan yang dibangun untuk belajar membuat
fiksi. Bebas. Gak harus berbentuk cerpen seperti yang gue bikin
sekarang. Kalian bisa membuat puisi, flashfiction, prosa, dan lain-lain.
So, sampai jumpa di fiksi-fiksi gue lainnya. Mari #memfiksikan !!!
Best regards
Agung Adiwangsa
Keren jalan ceritanya :D gue bisa menikmati suasana ceritanya hehehe
ReplyDeleteTerimakasih. Biar lebih asik, yuk ikutan #memfiksikan :)
DeleteBangkeeeekkkk Agung. Sumpah, ini keren banget. :)) Senyum-senyum sendiri gue bacanya. Terus #memfiksikan yaaak. :)
ReplyDeleteYog, jangan sampe lo gila karena tulisan gue. :((
DeleteAnyway, thanks !
Enggak. Gue nggak gila. Cuma hampir aja.
DeleteSama-sama. :)
hahaha, keren. kayak di novel-novel serius.
ReplyDeletebagian keren di endingnya tuh, waktu si haryo bilang kalau lolita udah ngebuka toples buat dia :))
Berlebihan, Jeff. Gue cuma penulis amateur :3
DeleteSatu lagi, itu Aryo, bukan Haryo :((
cerita fiksi yang keren nih,,alur ceritanya juga bagus.di tunggu cerita selanjutnya :)
ReplyDeleteTerimakasih. Ikutan #memfiksikan yuk :)
Deleteberbakat lu nulis gini-ginian gung,
ReplyDeletekeren!
lanjutkan!!!
Siap, bang !
DeleteCiee, tulisannya semakin keren, semakin bagus! Tambah suksess trusss...
ReplyDeleteEyd nya juga bagus ya..
Knpa gak coba ngirim ke penerbit, kak? Eh, Apa sedang dicoba? Haha
Waaah terimakasih :D
DeleteSejujurnya, aku bingung harus kirim kemana :3
Gung, kok elu jadi jago banget gini sih...? O_o
ReplyDelete#memfiksikan... tiap jumat, ok. Gue akan coba ikutan.
Bang Haw berlebihan. Saya masih belajar :3
DeleteYap, ayo dah ramein!