Aryo terbaring di atas kasur. Matanya menatap ke arah langit-langit kamar.
Pikirannya berkelana. Sudah satu minggu setelah percakapannya
di restoran dengan Lolita. Sejak saat itu, ia bertekad untuk melupakan semua
hal tentang Sonya. Tapi, melupakan itu bukan perkara mudah. Ia harus menentang
hatinya yang masih tertambat pada Sonya. Ia harus melawan pikirannya yang
selalu tertuju pada Sonya. Memang, pikirannya kali ini sudah sedikit terbuka berkat
nasihat dari Lolita. Tapi, itu bukan berarti ia sudah sepenuhnya terlepas dari
bayang-bayang Sonya.
Aryo bangkit dari tidurnya. Mengusap wajahnya seakan
ingin mengusap habis semua pikiran tentang Sonya. Matanya menyapu semua yang
ada di dalam ruangan. Bingkai foto, music
box, jam weker, lukisan, apapun yang berada dalam pandangannya. Sial, semua barang-barang itu adalah barang tentang dia dan Sonya.
Seperti sebuah lukisan sepasang kekasih yang tidak lain adalah Aryo dan Sonya. Music box hadiah dari Sonya ketika ia
berulangtahun. Dan masih banyak lagi. Awalnya, ia menganggap semua itu hanya
untuk kenang-kenangan sekaligus penghias kamar saja. Tapi, itu pula yang
membuatnya kembali teringat pada Sonya. Bagaimana mengusir pikiran yang ada di
kepalanya, jika semua itu mengundang kembali ingatan tentang Sonya?
Aryo kembali teringat perkataan Lolita sebelum pulang makan dari restoran
minggu lalu.
“Kalo lo mau lupain semua tentang Sonya, lo harus buang semua yang
berhubungan sama dia.”
Aryo berdiri dan mulai melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia kembali ke
kamarnya dengan membawa sebuah kardus kosong. Satu persatu barang-barang yang
berkaitan dengan Sonya ia masukkan. Tekadnya sudah
benar-benar bulat. Ia berniat membuang semua hal yang berkaitan dengan Sonya.
Ketika akan mengambil buku pemberian Sonya, buku lain terjatuh. Buku usang
yang diselimuti debu. Di cover-nya terdapat sebuah tulisan. “The Adventure of Aryo
Bayu.” Itu adalah buku hariannya, yang dulu selalu menjadi teman curhat Aryo.
Aryo duduk di bangku yang berada di dekat meja komputernya. Membersihkan
debu yang menyelimuti buku itu. Ia mulai membaca halaman demi halaman.
Terkadang, tawa kecil tergambar di wajahnya ketika menemukan tulisan yang
menurutnya lucu. Sampai pada sebuah halaman yang dimulai dengan tulisan “AS Love Story.” Itu adalah halaman awal
untuk tulisan-tulisan tentang kisah cinta Aryo dan Sonya.
Aryo terdiam sejenak. Batinnya berguncang. Hatinya meminta untuk membaca
tulisan tersebut, tapi pikirannya menolak melanjutkan. Pertarungan antara hati
dan pikiran itu dimenangkan oleh si hati. Tangan Aryo mulai membuka lembar
berikutnya. Matanya mulai membaca kata demi kata.
Tetiba, pikirannya melayang pada masa dua tahun silam--1 April 2012
tepatnya. Dia masih menjabat sebagai seorang marketing di sebuah perusahaan swasta. Ia harus menemui seorang
klien. Di sebuah cafe, ia duduk
sendiri menunggu kliennya. Sambil menunggu, ia menulis sesuatu. Ya, Aryo memang
sangat suka menulis dari kecil.
Tak lama, di depannya sudah berdiri
sesosok wanita. Lama Aryo menatap wanita itu tanpa mengeluarkan sepatah kata
pun.
“Siang, dengan Mas Aryo, ya?” ucap wanita itu bertanya.
“I-iya, Mbak siapa, ya?”
“Perkenalkan, nama saya Sonya.”
“Oh, Mbak Sonya. Mari, silakan duduk.”
“Iya, Mas. Maaf saya terlambat.”
Aryo tak henti menatap wajah Sonya. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang ia
rasakan. Aryo termasuk orang yang tidak terlalu banyak bergaul dengan wanita.
Kecuali Lolita, sahabatnya dari kecil. Tapi, ia tidak berpikir macam-macam.
Mungkin ini hanya perasaan wajar yang dirasakan ketika seorang laki-laki
melihat wanita cantik.
Sudah dua jam sejak sapaan pertama tadi. Urusan pekerjaan mereka pun sudah
selesai. Saatnya mereka berdua berpisah. Tapi, mata Aryo enggan untuk berpaling
dari wajah cantik Sonya. Ini perasaan yang baru pertama kali ia rasakan.
Ketika sampai di tempat parkir, tiba-tiba hujan turun. Sial memang, hari
itu Aryo mengendarai sepeda motor. Mereka terjebak di sana.
“Kamu bawa kendaraan?” Aryo mencairkan suasana.
“Enggak, aku pake kendaraan umum. Mas Aryo sendiri?”
“Aku bawa motor. Eh, jangan panggil mas. Aryo aja.”
“Oke, mas. Eh, Aryo.”
“Nah, gitu lebih enak didenger.”
Hari semakin sore. Tapi hujan belum juga reda. Hawa dingin mulai menusuk
kulit sampai ke tulang. Untung Aryo selalu membawa jaket kemanapun ia pergi.
Aryo menoleh ke arah Sonya. Ia terlihat memeluk lengannya, sambil sesekali
menggosokan telapak tangannya. Ia kedinginan. Rok yang ia pakai mulai basah
terkena cipratan hujan. Aryo membuka jaket yang ia kenakan. Lalu memberikannya
pada Sonya.
“Nih, pake biar gak dingin.”
“Loh, nanti kamu kedinginan.”
“Ah, jangan banyak mikir, ayo pake.” Aryo mengenakan
jaketnnya ke Sonya.
Hujan mulai reda. Hampir satu jam mereka terjebak di sana. Hari pun berubah
menjadi gelap.
Aryo mengantar Sonya pulang. Padahal, ia jarang sekali membonceng wanita di
belakangnya. Pernah sesekali mengantar Lolita. Itu pun bisa terhitung oleh
jari tangan.
Selama di perjalanan, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut
mereka berdua. Keduanya sama-sama diam. Mungkin karena ini pertemuan pertama.
Mereka sudah sampai di depan gang rumah Sonya.
“Udah, Yo. Di sini aja. Rumahku deket, kok, dari sini.”
“Okey.”
“Hmm... makasih banyak, ya. Aku jadi gak enak sama kamu. Padahal, kita baru
kenal hari ini, lho.”
“Gak apa-apa. Lagian udah malem. Cewek gak baik pulang sendirian. Nanti
diculik sama hantu hahaha!”
“Ah, kamu ini bisa aja. ”
“Yaudah, aku langsung pulang, ya.”
“Iya, ini jaketnya. Makasih banyak yah, Yo”
“Okey”
Aryo langsung menjalankan sepeda motornya. Ia melirik ke arah kaca spion.
Sonya sudah tidak terlihat. Sepertinya, ia sudah masuk ke dalam gang.
Di perjalanan pulangnya, Aryo senyum-senyum sendiri. Entah apa penyebabnya. Ia
merasakan perasaan yang aneh hari ini. Pikirannya mulai mencari jawaban akan
perasaan yang ia rasakan. Apa ini yang dinamakan cinta? Ah, entahlah.
Dua bulan berlalu. Sejak saat itu, mereka jadi sering berkomunikasi.
Perasaan aneh yang Aryo rasakan semakin menjadi-jadi. ia sering diam-diam
memerhatikan foto Sonya. Wajah manisnya membuat ia merasa tenang. Senyumnya
yang begitu indah tak pernah bosan ia pandangi.
Ia juga selalu mencari cara agar bisa bertemu dengan Sonya. Ada saja alasan
yang ia buat untuk bisa memandang wajah Sonya dari dekat. Aryo tidak bisa
mengelak lagi. Ia mencintai Sonya. Ya, ini cinta.
Mereka duduk di cafe. Hari itu
Aryo berniat mengungkapkan perasaannya kepada Sonya. Tapi, ia tidak tahu harus
bagaimana. Pengalamannya yang sangat minim dalam dunia percintaan membuat ia
sulit mengungkapkan perasaannya. Ketika Aryo melihat band penghibur di cafe itu,
ia mendapat sebuah ide. Aryo meminta izin pada Sonya untuk pergi ke toilet. Padahal sebenarnya, ia pergi ke panggung yang ada di cafe itu.
“Malam ini saya ingin menyanyikan sebuah lagu. Lagu ini saya tujukan untuk
wanita cantik yang duduk di sana. Sonya Liana Putri.” Aryo berbicara di atas
panggung.
Sonya terkejut namanya disebut. Ia menoleh ke sumber suara. Terlihat Aryo
duduk di kursi yang berada di atas panggung. Sambil memainkan gitar, ia
menanyikan sebuah lagu untuk Sonya. Lagu yang berjudul Laguku milik grup band Ungu.
Sonya terdiam. Mulutnya tak bisa berkata-kata.
Setelah lagu itu selesai. Aryo langsung menghampiri. Tangannya ia sembunyikan
di belakang tubuh.
“Sejak awal ketemu kamu, rasanya ada yang aneh. Aku gak ngerti. Yang jelas,
setiap ngeliat kamu bikin aku tenang. Awalnya aku gak percaya sama perasaan
ini. Tapi, akhirnya aku yakin. Ya, aku yakin ini cinta. Aku cinta sama kamu,
Sonya Liana Putri, dengan segala kelebihan dan kekuranganku. Aku harap kamu mau
jadi pengisi hati sebagai pacarku?" ucap Aryo sembari memberikan setangkai
mawar merah yang ia sembunyikan tadi.
Sonya terkejut dengan apa yang dilakukan Aryo. Matanya berkaca-kaca karena
terharu. Ia menjawab dengan sebuah anggukan. Sebuah anggukan yang bermakna
besar bagi Aryo. Ia tersenyum dan langsung memeluk Sonya. Sejak saat itu,
mereka berdua resmi menjadi sepasang kekasih.
Semakin lama, hubungan mereka semakin erat. Perasaan cinta yang
terjalin semakin kuat. Mereka sering menghabiskan waktu berdua. Suka dan duka
selalu mereka lewati bersama. Setiap pagi, Aryo selalu mengantar Sonya ke
tempat kerjanya. Ia juga tak pernah absen memberikan setangkai bunga.
Mereka pernah berlibur ke Pulau Bintan. Sebuah pulau yang luar biasa
indahnya. Di atas hamparan pasir putih dan luasnya lautan, Aryo berteriak.
“Aku mencintai Sonya Liana Putri! Alam ini saksinya!”
Sampai saat itu tiba. Sebuah kabar yang membuat hati Aryo hancur.
Jantungnya seakan berhenti berdetak. Otaknya membeku,
tidak bisa berpikir.
“Sayang, maafkan aku. Ayahku mempunyai seorang sahabat kecil. Dulu, mereka
pernah saling berjanji untuk menjodohkan anak mereka kelak. Aku tahu ini sulit.
Tapi, aku tidak ingin mendurhakai orang tuaku. Aku harap kamu bisa mengerti.
Semoga kamu menemukan bidadari yang akan selalu membuatmu bahagia. Tapi, maaf.
Itu bukan aku.”
Kalimat yang amat sangat menyakitkan bagi Aryo. Seolah, bukan kata-kata
yang keluar dari mulut Sonya, melainkan ribuan pedang yang langsung tertancap
di hatinya. Kenapa ini bisa terjadi? Apa aku sedang berada di zaman Siti Nurbaya? Atau, ini hanya mimpi? Terlalu menyakitkan untuk menjadi
sebuah mimpi.
Sejak hari itu, Aryo sering melamun. Sampai perkerjaannya pun menjadi
korban. Ia tidak fokus dalam bekerja. Hampir saja ia dipecat. Permaisurinya kini
telah pergi dengan pangeran yang lain. Bukan Aryo.
TEENG!! Sebuah bunyi lonceng menyadarkan Aryo dari lamunannya. Sudah jam
dua belas malam. Ia menutup buku hariannya. Memasukannya ke dalam kardus tadi.
Lalu membawanya ke gudang.
Kenangan tentang wanita yang pernah singgah di hatinya itu ia kubur
dalam-dalam. Ya, kenangan bukan untuk selalu diingat. Biar saja menjadi sebuah sejarah
dari kehidupan yang hanya sementara.
***
Selamat #memfiksikan! Tema minggu ini adalah KENANGAN. Oh iya, tulisan gue kali ini masih ada hubungannya sama #memfiksikan minggu lalu. Judulnya Terjebak Pikiran. Yuk, masih ada waktu buat ikutan. Selamat membaca!
Best Regards
Agung Adiwangsa
Mas terlamat, maksudnya terlambat? Typo, tuh. Ada lagi, sih, yang lain. Cuma males komennya. Ketularan Tiwi jadi editor. :(
ReplyDeleteWoaaahhh. Hebat, bisa bikin cerita bersambung dari fiksi sebelumnya.Terus #memfiksikan , Bro. :))
Jangan males! Mata gue kadang eror, nih. Gak teliti. -_-
DeleteJangan memuji berlebihan, Yog. :p
Yoga mah menganggap gue virus. Gue sedih. Hih!
ReplyDeleteNote gue yang di email pokoknya diperhatiin aja, dah. Jangan nyemplung ke lubang yang sama. *eaak
Siap, bu editor !
Deletewahh, nice fiction seperti sebelumnya bro. hahaha, komen-komen diatas gue ini emang jago nulis. gue lumayan sering main ke blog mereka, kritiknya mantep-mantem semua! :)
ReplyDeletelagi-lagi, tokoh nya bernama aryo. tapi so sweet juga ya dia di bagian nyatain cinta sambil teriak cinta sama sonya. disaksikan lagi sama alam :))
Ya, betul. Apalagi yang komen kedua, kritiknya tajem. :3
DeleteBtw, thanks, ya!
Ceritanya melow T.T Kenapa ya, kalo anak dijodohkan orangtua, selalu dihubungkan dengan Siti Nurbaya? Bukankah kalo menurut keyakinan, jodoh itu dari Tuhan. Mau dijodohin siapa pun, kalo gak atas restu Tuhan, ya nggak bakal jadi. Iya kan? Tapi, bodo amat lah. Anggap komentar ini hanya kenangan. *masukin kardus*
ReplyDeleteSebenernya gue juga gak tau. Gue cuma pake dia buat contoh aja. Salah apa Siti Nurbaya kayak gitu, ya? Kasian dia. :(
DeleteTerkadang kita memang harus menyimpan kenangan yang baik aja.. :P
ReplyDeletejodoh itu ditangan Ibu-Bapak, kalo mereka bilang setuju nah kamu bisa apa?
ReplyDelete