Aku duduk di bangku kamar. Mataku menatap sebuah bingkai. Di dalamnya,
tergambar foto seseorang yang sangat aku cintai. Seorang yang berjasa besar
dalam hidupku. Dia yang tak pernah lelah mencintaiku. Ya, dialah ibuku.
Malaikat yang dikirim oleh tuhan untuk melindungiku.
Ibu tinggal di Bogor, sedangkan aku di
Jakarta. Pekerjaan membuatku terpaksa tinggal di sana. Aku terlalu sibuk.
Sampai aku jarang pulang untuk menemuinya. Ia memaklumi, karena ini juga
untuk kebaikanku.
Saat ini, ibu tinggal dengan Fitri –adik perempuanku. Ia sudah terlalu tua
untuk tinggal sendiri. Kondisinya yang sudah mulai sakit-sakitan membuat adikku
tidak bisa bekerja. Tapi, itu tidak terlalu penting. Karena, untuk kebutuhan
sehari-hari, aku selalu mengirimi mereka uang.
Ibuku orangnya sangat penakut. Bayangkan, jika ingin tidur, ia selalu minta
ditemani. Walaupun di rumah banyak orang, ia tetap saja takut kalau di kamarnya
tidak ada yang siapa-siapa.
Karena adikku tidak bekerja, otomatis akulah satu-satunya yang menjadi
tulang punggung keluarga. Walaupun ada sedikit uang pensiunan dari almarhum
ayah, tapi tidak cukup untuk membiayai kebutuhan kami, apalagi sekarang ini
apa-apa sudah mahal.
Suatu hari, adikku mengirim pesan.
“A, ibu sakit. Nanyain Aa terus.”
“Aa gak bisa pulang, Fit. Lagi banyak kerjaan. Nanti Aa kirim uang. Kamu
bawa ke dokter, ya.”
“Yaudah, iya, A.”
Sebenarnya, aku ingin pulang menemui ibuku. Tapi, aku tidak bisa
meninggalkan pekerjaan yang sedang menumpuk di kantor. Lagipula, aku kira ibu
sakit biasa, karena usianya yang sudah tua. Jadi, aku hanya mengirim uang agar
adikku membawanya ke dokter.
Dua bulan berlalu. Berkali-kali adikku memberitahu kalau ibu
menanyakanku. Tapi, aku selalu tidak bisa meninggalkan perkerjaan dan hanya
mengirim uang untuk berobat ibu. Sampai suatu ketika, adikku menelepon.
“A, sakit ibu makin parah. Ngomongnya aja udah gak jelas. Jalan juga harus
selalu digandeng. Ibu udah gak inget apa-apa. ”
“Yaudah, besok Aa pulang, ya.”
Besoknya, aku memaksakan diri untuk pulang. Kuambil jatah cuti seminggu di
kantor. Atasanku langsung menyetujuinya setelah mendengar alasan tentang ibu.
Setelah meminta ijin, aku langsung bergegas pulang ke rumahku di Bogor.
Sampai di rumah, aku lihat ibu sedang duduk di ruang tamu. Tatapannya
lemah mengarah ke lantai. Entah apa yang ia lihat. Aku menghampirinya.
“Bu, ini Deri. Deri pulang, Bu.”
Tidak ada jawaban. Ibu malah melihatku dengan tatapan kosong. Aku bingung.
Aku mengatakannya lagi, kali ini lebih dekat dengan telinganya. Tapi, tetap
saja, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut ibu.
Tak lama, adikku datang menghampiri. Tetiba, ibu mengulurkan tangannya pada
adikku. Ia minta diantar ke kamar. Sedangkan aku, ibu menghiraukanku. Seakan aku
ini orang asing baginya. Hatiku begitu sakit. Sakit karena ulahku sendiri. Aku
lebih mementingkan pekerjaan dibanding ibuku. Sesal sudah tidak ada arti, semua
telah terjadi.
Hari berganti malam. Ibu sudah berada di kamarnya. Tapi, seperti biasa, ia
belum bisa tidur jika tidak ada teman. Malam itu aku tidur bersamanya. Ketika ia
mulai terlelap, kupandangi wajahnya. Wajah yang terlihat lelah. Keriput tulang
pipinya menggambarkan beban berat yang ia tanggung selama ini.
Terlintas di benakku, kejadian yang sudah lalu. Sembilan bulan ia
mengandungku, tanpa sekali pun ia mengeluh. Susah payah ia berjuang
mempertaruhkan jiwa dan raganya, agar aku bisa lahir ke dunia. Tidak sampai
disitu, ia juga merawatku dengan penuh kasih sayang. Berkali-kali aku membuatnya
kesal dan melakukan kesalahan. Tapi, pintu maafnya selalu terbuka lebar. Lalu,
sekarang, aku mengabaikannya hanya karena sebuah pekerjaan. Hah! Betapa menjijikannya
aku ini.
Butir-butir air mata mulai menetes. Kupeluk erat tubuhnya. Kuusap keningnya.
Maafkan aku, Ibu.
Pagi menjelang. Suara kicau burung menyambut matahari yang mulai menampakan
sinarnya. Ibu duduk di teras rumah. Sudah kebiasaannya berjemur setiap pagi.
Sekali lagi aku mencoba berbicara dengannya.
“Ibu udah mandi belum?”
Ia hanya menjawab dengan senyuman. Aku sedikit tenang. Sepertinya ibu mulai
mengenaliku.
“Mandi dulu, yuk, Bu?”
Kali ini ia tidak menjawab. Ketika aku akan memapahnya ke kamar mandi, ia
menolak. Ibu tidak mau bangun. Aku tidak berpikir macam-macam. Mungkin ia belum
mau mandi. Tak lama kemudian, adikku datang. Lagi, ibu mengulurkan tangannya,
meminta untuk diantar mandi. Aku terkejut. Ternyata benar, ibu tidak mengenaliku.
Rasa sesal kembali menyelimuti hatiku. Aku memaki diriku sendiri karena merasa durhaka kepadanya.
Sakit ibu semakin parah. Saat ini, ia hanya bisa terbaring di atas kasur.
Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Selesai shalat, aku mengaji di kamarnya.
Ketika sampai di surat Luqman yang artinya
“Dan Kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S Luqman, 31:14)
Air mataku tak
terbendung lagi. Mengalir dengan deras melalui pipi dan menetes ke lembar Al-Quran yang kupegang.
Tiba-tiba, ibu
mulai berbicara.
“Deri, kamu sudah
pulang, Nak? Maafin ibu, ya. Ibu gak bisa masak buat makan kamu.” Ucap ibu
lemah.
Aku terkejut dan
langsung menggenggam lengannya.
“Iya, Bu. Gak
apa-apa. Ibu istirahat aja. Maafin Deri, ya, Bu. Deri baru bisa pulang.” Aku menjawab.
“ Ibu yang minta
maaf sama kamu.” Air matanya mulai mengalir.
“Enggak, Bu. Aku
yang banyak salah sama Ibu. Aku yang harusnya minta maaf sama Ibu. Maafin Deri,
Bu. Deri belum bisa berbakti sama Ibu. ” Tangisanku semakin menjadi-jadi.
Adikku yang
memerhatikan kami juga ikut menangis.
“Ibu cape, Nak.
Ibu pulang dulu, ya.” Ucap ibu semakin lemah.
“Pulang kemana,
Bu? Ini kan rumah Ibu. Itu juga ada Fitri. Ibu gak harus pulang kemana-mana.”
Tidak ada
jawaban. Mata ibu terpejam. Wajahnya begitu tenang. Ia sudah pulang menghadap
penciptanya.
Sebuah tepukan di pundak membuyarkan lamunanku tentang Ibu.
“A, tahlilannya mau dimulai.” Ucap adikku.
“Oh iya, nanti Aa ke sana.”
Aku simpan bingkai foto yang sejak tadi kupegang. Lalu melangkahkan kakiku
keluar kamar. Kini, semua sudah terjadi. Ibu sudah pulang menghadap sang
pencipta. Waktu tidak mungkin di ulang. Yang tertinggal hanya rasa sesal.
Maafkan aku, Ibu.
Mumpung masih punya Ibu, harus selalu berkata baik dan selalu menemani beliau :'
ReplyDeleteYa, mumpung masih ada, berbaktilah padanya:)
DeleteIni beneran mas? Bagus ceritanya.
ReplyDeleteSekarang sih, saya masih dekat sama ibu. Maksudnya masih serumah. Semoga bisa membuatnya bahagia. Aamiin.
Beneran apanya nih? Ini cuma cerita fiksi :)
DeleteBagus.
DeleteKirain curhat. :)
Inget kata bang haji roma... restu ibu kita seperti restu tuhan..
ReplyDeleteIya, gue inget banget. Apalagi yang "Begadang jangan begadang, kalau tiada kopinya" :(
DeleteSedihnya aku baca tulisanmu :(
ReplyDeleteAku juga sedih :(
DeleteArrgghhh. gue mata gue jadi sembab gini. :'(
ReplyDeleteBang Haw, lo kenapa? :(
DeleteFiksinya juara banget. Aku sedih bacanya mas. :"((
ReplyDeleteMakasih, ya! :)
DeleteBaydeway, Juara keberapa, Dev? :3
Lagi kangen sama ibu ya :)
ReplyDeleteEnggak kok. Ini serius fiksi. Ibuku masih ada. Alhamdulilah sehat. :)
DeleteGue mau curhat boleh kan, Gung? Gue nggak mau komentar soal EYD lagi. Gue bukan editor, dan nggak punya tugas untuk mengoreksi tulisan orang. Apalagi cuma blog. Nanti disindir-sindir. Beberapa penulis yang memandang sebelah mata, editor itu terkesan jahat, ya? Padahal, mereka nggak sehina itu. Sorry nggak nyambung. Gue pengin komentar panjang aja. :p
ReplyDeleteGue lemah kalo baca tentang ibu gini. Jahat lu, Gung. Hati gue langsung mellow. :(
Ya Tuhan, dosa gue banyak. :')
Kenapa gak komentarin EYD gue? :3 Editor itu ibarat kompas. Penunjuk arah untuk paraa penulis.
DeleteSedikit cerita. Gue sendiri waktu nulis ini, asli sedih banget ngebayanginnya. Ada banyak yang pengen gue tulis. Tapi, gue gak tau gimana cara nuanginnya. Sebenernya ini berdasarkan kisah nyata, tapi bukan kisah gue. Gue cuma ngeliat orang. Waktu gue ngeliat kejadiannya pun gue ikutan nangis. Gue cuma pengen titip pesen buat pembaca, berbaktilah sama orang tua. Selagi masih ada waktu. :)