Sudah jam sembilan malam. Aryo masih asik bercengkrama dengan laptopnya. Ia
masih di kantor. Mengutak-atik tulisan yang harus segera rampung hari itu juga.
Minggu ini majalah yang diterbitkan oleh perusahaan tempatnya bekerja harus
segera beredar. Sedangkan, ini sudah hari Jumat, ia belum selesai juga. Dengan
terpaksa, ia harus berada lebih lama di kantor.
“Mas Aryo belum pulang?” tanya Ali -salah seorang security yang sedang berkeliling.
“Belum, nih. Biasa, kerja lembur.”
“Wah, deadline lagi, Mas?”
Aryo mengangguk.
“Mas Aryo masih lama?”
“Hmm... kayaknya, sih, gitu. Kenapa?”
“Gak apa-apa. Jangan pulang terlalu malam. Sekarang, kan, lagi rame-ramenya
begal.”
Berita akhir-akhir ini memang sedang ramai dengan kejahatan dari para
begal. Mereka tidak segan-segan melukai korbannya, bahkan membunuh. Terlalu
beresiko untuk pulang sendiri larut malam. Ditambah, Aryo yang sudah mulai
mengantuk. Otaknya yang dipaksa kerja keras membuat ia menjadi cepat lelah.
“Iya, ya. Haduh, belum beres, nih. Pak Ali pulang jam berapa?”
“Jam sebelas, pas pergantian shift.”
“Bawa motor juga, kan? Bareng dong.”
“Yaudah, asal Mas Aryo mau nungguin aja.”
“Oke, nanti saya ke pos kalo udah beres.”
“Saya keliling dulu ya, Mas.”
Aryo kembali meneruskan pekerjaannya. Jarinya beradu dengan huruf-huruf
yang tersebar di keyboard laptopnya.
Setelah beberapa lama, pekerjaannya selesai juga. Ia merenggangkan
pinggangnya yang sedari tadi duduk. Tangannya ia rentangkan selebar mungkin,
menyebabkan bunyi di antara sendi tulangnya. Duduk terlalu lama membuat
badannya terasa pegal. Matanya mulai memberat menahan kantuk. Ia sandarkan
punggungya ke sandaran kursi. Mencoba duduk se-rileks mungkin. Mengistirahatkan matanya yang sejak tadi menatap
layar laptop.
***
Aryo sudah berada di parkiran motor bersama dengan Ali dan Eko –security di kantor tempatnya bekerja. Ketiganya
membawa sepeda motor. Mereka bertiga pulang bersama, untuk menghindari ancaman
dari para begal.
Aryo memacu motornya lebih dulu, Ali dan Eko mengikuti di belakang. Mereka
bertiga berjalan beriringan. Baru jam sebelas, tapi kondisi lalu lintas sudah
sepi. Mungkin karena berita tentang begal itulah, orang-orang jadi takut keluar
saat malam.
Sampailah mereka di jalur yang sangat sepi. Di sekitar hanya ada lahan
kosong dan pohon-pohon jalanan. Sesekali terlihat rumah, namun sangat jarang.
Jarak dari rumah yang satu ke rumah yang lainnya cukup jauh. Tempat yang cocok
untuk para begal beraksi.
Aryo mulai merasa gelisah. Ia seperti merasa akan terjadi suatu hal yang
buruk. Mencoba untuk tidak menghiraukannya hanya membuat ia semakin gelisah.
Berkali-kali ia melihat ke arah spion. Tidak ada apa-apa. Kedua temannya masih
setia mengikuti dari belakang.
Beberapa meter kemudian, Aryo melihat sebuah batang pohon melintang di
tengah jalan. Ia langsung menghentikan laju motornya.
“Apaan, nih? Kok ada batang pohon di tengah jalan gini?” Aryo kebingungan.
“Wah, yang pernah saya baca, sih, ini salah satu cara penjahat mencari
mangsanya.” jawab Eko.
Mereka bertiga segera memindahkan batang pohon itu ke pinggir jalan. Takut
apa yang dikatakan Eko menjadi nyata. Setelah itu, mereka kembali ke sepeda
motornya masing-masing.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara sepeda motor yang dikebut. Ali
menoleh ke arah belakang. Terlihat tiga sepeda motor yang berjalan sangat cepat
ke arahnya.
“Wah, gawat, ada yang ngikutin! Cepet jalan!”
Aryo dan yang lain segera memacu kendaraanya secepat mungkin. Tapi, tiga
pengendara di belakang tidak sedikit pun mengurangi kecepatannya, mereka
semakin dekat. Mereka berteriak, memerintahkan Aryo dan temannya untuk
berhenti. Sambil mengacungkan senjata tajam, mereka mengancam. Eko yang berada
paling belakang menjadi sasaran empuk. Ia dihimpit oleh dua motor, memaksanya
untuk berhenti. Ia mencoba melawan. Akibatnya, satu sabetan clurit mendarat
tepat di lengan kirinya. Eko terjatuh.
Ali yang masih berjalan di belakang Aryo langsung menghentikan motornya. Ia
mencoba menolong temannya itu. Aryo yang melihat Ali berhenti menjadi bingung. Berhenti
berarti harus menghadapi para penjahat itu, pergi berarti meninggalkan
temannya. Ia takut, tapi tidak ingin temannya menjadi mangsa para penjahat itu.
Tanpa berpikir lebih lama lagi, ia langsung menghentikan motornya dan
langsung berbalik arah. Sebelumnya, ia memncari sebatang kayu untuk senjata. Dari
kejauhan ia melihat Ali sedang berkelahi dengan tiga orang pembegal. Sebagai security, ia memang dibekali ilmu bela diri.
Beberapa sabetan parang berhasil ia hindari. Sedangkan Eko, dengan tangan
bercucuran darah, ia mencoba melawan serangan dua orang musuh lainnya.
Aryo berlari menghampiri sambil membawa sebatang kayu yang ia ambil di
pinggir jalan tadi. Dua orang penjahat
menyambut kedatangannya. Kini lengkap sudah, mereka bertiga mendapat lawan
masing-masing. Lima lawan tiga. Aryo melawan dua orang, Ali juga melawan dua
orang, dan Eko, dengan tangan yang cedera harus melawan satu orang.
Malam semakin larut. Tidak ada satu orang pun yang lewat di jalan itu. Ini
merupakan malapetaka bagi Aryo dan temannya. Mereka kalah jumlah. Sudah
dipastikan, para penjahat itulah yang menang. Mereka pergi membawa motor Ali
dan Eko. Sedangkan motor Aryo mereka tinggalkan, karena tidak ada yang
mengendarai.
Eko tergeletak bersimbah darah, ia tidak sadarkan diri. Beberapa luka bacok
bersarang di tubuhnya. Begitu juga Ali yang berada tidak jauh dari Eko. Baju security-nya yang berwarna putih kini
berganti menjadi merah karena darah. Di sisi lain, Aryo duduk bersandar di bahu
jalan. Tangannya memegang perut bagian kiri. Ada luka tusuk menganga di sana. Ia
mencoba bangkit dan menghampiri Ali.
“L-li, bangun, Li!”
Tidak ada respon. Ali tidak bergerak sedikit pun.
“Aliii!” dengan lemah Aryo berteriak.
Tetap tidak ada respon.
Aryo memegang urat nadi Ali. Tidak berdetak. Ia mencoba lagi, kali ini di
lehernya. Masih sama. Ali tewas. Ia kehilangan satu temannya. Ia menatap ke
arah tubuh Eko yang tidak bergerak sama sekali. Sambil menahan rasa sakit, ia
mencoba merangkak ke tempatnya. Berharap temannya itu masih selamat. Namun,
hal sama terjadi padanya. Tidak ada denyut nadi. Kedua temannya itu telah
meninggal dunia.
Angin berhembus melewati luka-luka di tubuh Aryo, membuatnya semakin kesakitan.
Darah segar terus mengalir di luka sobek akibat tusukan tadi. Sekuat tenaga ia
menahannya. Ia berharap ada orang yang lewat, dan menolong mereka bertiga.
Tapi, seperti sudah direncanakan, tidak ada satu pun orang yang lewat. Air
matanya menetes. Sepertinya ini hari terakhir Aryo. Pandangannya semakin kabur,
kesadarannya mulai hilang. Dengan tenaga yang tersisa, ia mencoba mengambil handphone di saku celananya. Mencari
satu nama kontak. Lolita. Ya, dialah harapan satu-satunya saat ini. Namun sial,
tenaganya habis. Untuk memencet tombol pun ia tidak mampu. Handphone-nya terjatuh. Pandangannya semakin hilang. Kepalanya
berputar, pusing. Tubuhnya semakin lemah. Ia terjatuh, tidak sadarkan diri.
***
“Mas Aryo. Mas, bangun, Mas.” Seseorang membangunkan Aryo.
Matanya terbuka. Di depannya berdiri Ali dan Eko. Keduanya baik-baik saja.
Tidak ada satu pun luka di tubuh mereka berdua. Begitupun Aryo, luka tusuk yang
tadi menghiasi tubuhnya, kini hilang. Seperti kejadian pembegalan itu tidak
pernah terjadi.
“Kalian baik-baik aja? Begal tadi kemana?” Aryo kebingungan.
“Begal? Begal yang mana, Mas?”
“Bukannya tadi kita diserang begal?”
“Ah, Mas Aryo ngaco, nih. Baru aja kita mau ngajak pulang. Yang shift malam sudah datang. Mas Aryo
kayaknya kecapean, sampe ketiduran gitu” jelas Ali.
Aryo bernapas lega. Ternyata, serangan dari para pembegal itu hanya mimpi.
Ia kelelahan, sampai-sampai tertidur di meja kerjanya sendiri.
***
#memfiksikan minggu ini. Terimakasih sudah membaca!.
Best Regards,
Agung Adiwangsa
wah keren. tapi gua pikir endingnya bakal jd kayak dejavu. peringatan dari mimpi
ReplyDeleteWah, gue malah gak kepikiran buat dibikin dejavu gitu. :D
DeleteWahaha. Keren.
ReplyDeleteKirain Aryo-nya bakalan tewas. Udah deg-degan aja bacanya. Sebenernya, sih, berharap Aryonya mati. Terus #memfiksikan Jumat depan, tokohnya diganti sama tokoh yang lebih ganteng lagi. Haji Lulung gitu misalnya. :3
Jadi, Haji Lulung itu cukup ganteng untuk menggantikan Aryo? :3
DeleteMimpi..... Kupikir Aryo akan menjadi hantu dan membalas dendam. kayak film yang aku tonton barusan. xD
ReplyDeleteFilm apaaa? -_-
DeleteSampai tahan napas bacanya..
ReplyDeleteberharap lanjutannya beneran terjadi apa yang dimimpi, terus mantannya aryo datang menolong, ahh *gagal move on deh* :p
Pasti kamu gak bisa move on, ya? :3
DeleteKebaca ending-nya dari awal. Tapi keren, :))
ReplyDeleteBisa mulu lo, Yog. :D
Deletekeren :)
ReplyDeletehttps://aksarasenandika.wordpress.com/
Thanks!
Deleteawal-awalnya tegang juga sih,
ReplyDeletetapi ending-endingnya aryo mimpi ternyata.
tapi tetep keren bro :)
Hahaha makasih, Jev. :D
DeleteDuh.. Syukurlah cumak mimpi! Takut banget selama ngebaca cerpen ini, :'(
ReplyDeleteJangan takut! Cuma cerita doang. :D
DeleteWuah ternyata cuman mimpi. Serem juga nih.
ReplyDeleteMasa serem, sih, Di? :3
DeleteMantap...
ReplyDeletecuma binggung, apa ada satpam pas pulang kerja masih pake baju dinas putihnya..?
hehehe.. suka" penulisnya sih...
lanjutkan...
Saudaraku satpam. Dia pulang dengan baju dinasnya...
Delete