Dari jendela lantai dua tempatku berdiri, pemandangannya
cukup bagus. Awan yang berkejaran, induk burung sedang memberi makan anaknya.
Ah, indah sekali. Bahkan, aku bisa merasakan angin yang berhembus mengusap
kulit. Aku tidak ingin melewatkan saat ini. Seperti ini kali terakhir aku
menikmati dunia.
Sudah dua minggu aku mengurung diri di kamar. Dunia luar
menjadi asing bagiku. Atau, aku yang mengasingkan diri? Rasa bersalah itu terus
menyelimuti pikiranku. Melekat erat di setiap dinding otakku. Bingung, takut,
malu, selalu menghantuiku setiap waktu.
Pikiranku tertuju pada seseorang. Romi. Ya, dia yang
selama ini menjadi Romeo dalam hidupku. Yang selalu menjadi alasanku untuk
tersenyum. Setidaknya, sampai saat itu tiba.
Masih tergambar jelas di benakku, bagaimana kami bertemu.
Masa orientasi sekolah. Itulah kali pertama aku
melihatnya. Seorang kakak kelas yang menjadi primadona di SMP-ku
dulu. Wajahnya memang tak setampan para personil Super Junior. Tapi, sikapnya yang begitu lembut dan romantis
menjadi daya tarik tersendiri. Pernah suatu waktu, sekolah kami mengadakan camping. Aku dapat tugas memasak untuk
reguku. Saat sedang memotong bahan masakan, tanpa sengaja jari tanganku
teriris. Darah mulai mengalir dan
aku berusaha menahannya dengan menekan bagian yang luka.
Tiba-tiba, Romi datang menghampiriku. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung
memasukan jari tanganku itu ke mulutnya. Setelah itu, ia membersihkan lukaku
dan menutupnya dengan kain yang ia robek dari baju yang dipakainya.
“Lain kali hati-hati, ya,” ucapnya sembari
tersenyum.
Itu adalah senyuman pertama yang ditujukan padaku. Ah,
manis betul Kak Romi ini. Jantungku berdebar kencang. Mulutku seperti
terkunci.
Kejadian saat camping
itu membuat kami semakin dekat. Kami jadi sering bertegur sapa di sekolah. Setiap
kali aku bertemu dengannya, jantung ini akan berdebar lebih cepat dari
biasanya. Aku menjadi salah tingkah. Apa ini yang dinamakan cinta?
Perasaan itu semakin lama semakin menguat. Aku tidak bisa
mengelak. Ini benar cinta. Ya, aku mencintai dia. Tapi, aku tidak tahu, apakah
dia juga merasakan hal yang sama denganku? Sikapnya yang misterius membuat aku harus menebak-nebaknya sendiri.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Hari yang indah itu datang
juga. Pertanyaan tentang sikapnya yang penuh misteri itu terjawab sudah. Di
depan mading sekolah, ia mengungkapkan perasaannya. Kisah cinta kami dimulai sejak hari itu. Kami
berpacaran.
Waktu berlalu begitu cepat. Aku sudah kelas 2 SMA, sedangkan
Romi masuk perguruan tinggi. Banyak kenangan indah yang kami ukir bersama.
Sudah tak terhitung pula berapa senyuman yang ia lukis di wajahku. Perasaan
cinta kami semakin kuat. Kadang, pertengkaran menghiasi hubungan ini. Tapi,
kami selalu bisa mengatasinya. Orangtua kami pun sudah tau tentang hubunganku
dan Romi. Tidak ada lagi rasa canggung yang kurasakan saat berkunjung ke
rumahnya. Di hari jadi kami yang kedua tahun, Romi memberiku hadiah berupa
cincin emas yang sangat indah. Aku tak pernah melepasnya sejak ia pakaikan di
jari manisku. Dia benar-benar Romeo yang aku harapkan.
Sampai saat itu tiba. Sebuah kejadian yang tidak pernah
aku duga seumur hidupku.
Ayah Romi masuk rumah sakit. Penyakit jantung yang dideritanya
kambuh lagi. Aku menjenguknya. Di perjalanan pulang, hujan turun sangat deras.
Memaksa Romi mengehentikan sepeda motornya di sebuah halte. Kami terjebak di
sana.
“Hujannya deras banget. Kamu ke rumah aku dulu, ya. Nanti
kalo hujannya reda, aku anter kamu pulang.”
Aku menyetujui sarannya. Karena, aku pikir benar juga apa
katanya. Jarak dari rumah sakit menuju rumah Romi lebih dekat jika dibanding
dengan rumahku. Kami sampai dengan keadaan basah kuyup. Romi meminjamkan
pakaian adik perempuannya padaku. Kebetulan ukuran baju kami
sama.
Hujan semakin deras. Hari pun mulai gelap. Saat sedang
asik menenton televisi, aku menyadari satu hal. Di rumah ini hanya ada kami
berdua. Ibu dan adik Romi pergi ke rumah sakit untuk menjaga ayahnya.
Romi duduk di sampingku. Aku menyandarkan kepalaku ke
pundaknya. Hawa saat itu cukup dingin. Beruntung Romi mengerti apa yang kurasakan.
Ia menggenggam erat kedua tanganku. Cukup untuk membuatku merasa hangat. Ia
menatap mataku sambil tersenyum. Manis sekali. Kemudian ia mendekatiku, semakin
dekat, terus mendekat hingga kejadian itu terjadi.
Aaaaaaaarrrrggghhhhh!!!! Aku berteriak keras. Membuyarkan
lamunanku dua bulan yang lalu. Aku melemparkan semua yang ada di hadapanku.
Bingkai foto kami yang kutaruh di atas meja, pecah, hancur berantakan.
“Nayaaaaaa!Kamu kanepa, Nak?” Mama berlari
menghampiriku.
Aku tidak menjawab. Tubuhku menjadi terasa berat.
Kepalaku pusing. Aku tak sadarkan diri.
Aroma minyak
kayu putih membangunkanku. Mama duduk di sampingku.
“Naya, kamu kenapa? Sudah dua minggu kamu ngurung diri di
kamar. Kamu juga jadi jarang makan. Ada apa? Cerita sama mama, Nak.”
Mama terlihat sangat khawatir. Sesekali ia menyeka air
mata di pipinya. Aku tidak menjawab semua pertanyaan mama.
“Kamu makan dulu, ya? Mama buatin sup kesukaan kamu. Bentar, Mama ambilin.”
Mama pergi mengambil makan untukku. Aku hanya bisa
menangis. Membayangkan perasaan mama jika mengetahui apa yang terjadi pada
anaknya. Naya Aziza Wafa, putrinya seorang ustadz hamil diluar nikah. Sudah pasti nama baik keluargaku akan hancur. Akulah
penyebabnya.
Langit sore itu sangat indah. Sama seperti satu minggu
yang lalu, ketika aku bertemu dengan Romi. Aku sudah tidak sanggup menahan
beban ini sendirian. Tapi, cerahnya langit kala itu tidak membuat hatiku menjadi
cerah.
“Gak mungkin, Nay, kamu sendiri tahu
kalo aku masih kuliah. Baru semester satu lagi. Orangtuaku pasti gak akan pernah setuju kalau kita menikah.”
Itu jawaban dari orang yang aku anggap pangeran dalam
hidupku. Kecewa, takut, bingung, berbaur menjadi satu.
Aku tak tahu lagi harus berbuat apa.
“Temenku
ada yang dokter. Kita gugurin aja
kandungan kamu.”Terdengar lirih Romi menyarankannya padaku.
Tanpa menjawab ucapan Romi, aku melangkah pergi. Sambil
kubawa semua kepedihan dan rasa luka ini.
Bendunganku sudah tak tertahan lagi. Ia mulai mengalir tak beraturan. “Aku
benci dia!!!” geramku dalam hati.
Aku sangat kecewa padanya. Dia pangeran yang selalu aku
puja. Romeo yang selalu membisikkan kata cinta di telingaku. Tapi, dia juga yang menghancurkan
hidupku.
Perlahan, aku berjalan ke arah jendela kamarku yang
terbuka. Pikiranku kosong.Tak berbayang seperti apa marah ayah atau betapa
kecewanya mama ketika mengetahui anaknya hamil. Langkahku semakin lemah. Ketika
aku sadar, kakiku sudah tak menyentuh lantai lagi. Aku terjatuh. Tak banyak
yang kuingat. Hanya terdengar mama berteriak memanggil namaku. Darah segar
mengalir dari kepalaku. Sempat terlintas senyum Romi yang begitu manis. Namun,
perlahan menjadi kabur, menghilang dan gelap. Kini aku tahu, bukan cintanya
yang kotor. Tapi, perbuatan kita yang mengotori cinta.
Dia melompat ke luar jendela ya? Kusedih. :(
ReplyDeletePesan yang dapat kuambil dari cerita ini, "Jangan ngiris jari tangan." entar jarinya diemut - suka - keujanan - berduaan - hamil - lompat dari jendela
makanya, kalau bisa hindarilah pergaulan bebas..
ReplyDeletecinta memang tak pernah kotor. manusia yang mengotorinya :")
Yeppp.. setijuuuu.. manusia yang mengotori cinta.
DeleteSediiiih.. :(
ReplyDeleteKetika cinta menghampiri, nafsu pun tak dapat dipungkiri.. Ia selalu menyertai.. Kasian banget sampek bunuh diri gitu T_T