Sepi pagi itu mulai terusir oleh orang-orang yang beraktivitas.
Ya, hari libur seperti ini, taman memang selalu jadi tempat yang pas untuk
meluangkan waktu. Untuk olahraga atau hanya sekedar bermain. Bersama keluarga, kekasih, atau sendirian,
seperti aku ini.
Jauh di tanah terbuka di sana, aku melihat seorang anak kecil
sedang berlari-lari mengejar bola. Tak jauh dari tempatnya, ada satu keluarga
yang sedang duduk beralaskan tikar. Menyiapkan makanan yang mereka bawa dari
rumah. Hmm… piknik kecil-kecilan mungkin. Ide yang bagus.
Pandanganku kembali kepada si anak tadi. Ia dengan asik mengejar-ngejar
bola sendirian. Aku perhatikan, sepertinya ia masih belajar. Kadang bola itu
meleset dari kakinya. Sesekali ia terjatuh. Duduk sebentar, mengusap kakinya
yang kotor karena terjatuh tadi, lalu kembali bangkit. Hebat juga, aku pikir ia
akan menangis.
Tak lama, seorang anak datang menghampirinya. Sepertinya
kakak dari anak kecil itu. Mungkin ia ingin ikut bermain. Tapi, tunggu
sebentar. Itu, kan, tidak adil. Si kakak yang lebih dewasa sudah pasti lebih
hebat dari si adik. Hebatnya, si anak kecil itu tidak terlihat takut. Ia malah
menantang kakaknya. Ayolah, nak, jangan mau kalah dari kakakmu!
Permainan dimulai. Si anak kecil melawan kakaknya.
Mula-mula, bola di kuasai si adik. Ia menggiring dengan percaya diri. Lucunya,
kadang bola itu tertinggal. Atau, ia menggiring terlalu keras. Hingga yang
tadinya berniat menggiring, malah seperti mengoper kepada kakaknya. Beda dengan
kakaknya yang sudah mahir memainkan bola. Berkali-kali ia membuat pusing
adiknya. Si adik berusaha keras mendapatkan bolanya. Tapi tetap saja tidak
berhasil.
Permainan terus berjalan dengan posisi bola masih berada di
kaki sang kakak. Malah, saat ini ia sedang mempermainkan adiknya. Ah, sudah
tidak seru lagi. Bahkan, aku bisa tebak, pasti akhirnya si adik menangis, lalu
mengadu pada orangtuanya, kemudian permainan berakhir.
Aku mengambil sebatang rokok lagi. Kopi yang tinggal
setengah itupun kembali aku seuruput. Biarpun dingin, tapi tetap enak. Matahari
yang tadi bersembunyi dibalik pepohonan, sekarang mulai menampakan sinarnya.
Mengusir dingin yang sedari tadi menyelimuti kulit.
Pandanganku kembali ke anak-anak tadi. Betul dugaanku. Anak
kecil yang tadinya penuh semangat, sepertinya mulai menyerah. Ia duduk ditanah,
terlihat kesal karena tidak mampu merebut bola dari kakaknya. Sedangkan
kakaknya malah tertawa melihat adiknya itu. Apa sekarang anak kecil itu akan
menangis lalu mengadu kepada orangtuanya? Ia berdiri, lalu berlari ke arah
keluarganya. Aha, tebakanku betul lagi, ia mengadu kepada ibunya. Tapi, tunggu.
Ia tidak terlihat menangis. Ia meminta minum. Lalu kembali bersama anak lain
yang seumuran dengannya. Jadi, kembali hanya untuk mengisi tenaga dan mencari
bantuan? Pintar juga. Dua anak kecil melawan satu anak dewasa. Melihat
kemampuan si kakak, aku rasa ini cukup adil.
Pertandingan kembali dimulai. Tapi, bantuan yang didapat
sepertinya tidak memberi perubahan. Si kakak tetap menguasai bola itu. Adiknya
dan anak kecil itu dengan mudahnya ia lewati. Hadangan demi hadangan bisa ia
atasi. Hebat juga.
Dua anak kecil itu terdiam. Mengatur napas, kemudian saling
berbisik. Apa ia merencanakan sesuatu? Yap, sepertinya memang begitu. Kali ini
mereka lebih semangat. Mereka berusaha lebih keras lagi, dan kali ini lebih
kompak. Hmm… jadi itu yang mereka bisikan. Sampai akhirnya, posisi berbalik. Bola
berhasil direbut. Malah, sekarang mereka berdua yang mempermainkan kakaknya.
Tak lama si kakak mulai terlihat lelah dan meminta permainan dihentikan.
Adiknya dan anak kecil tadi terlihat senang. Mereka berhasil mengalahkan
kakaknya. Si kakak hanya tersenyum, lalu mengajak keduanya untuk beristirahat.
Aku bersandar di bangku taman. Pikiranku jauh melayang. Lalu
kembali lagi ke permainan anak kecil tadi. Ada pelajaran terselip diantaranya.
Seperti kata Iwan Fals “Walau hidup adalah permainan, walau hidup adalah
hiburan.” Hidup adalah permainan? Ya, seperti permainan bola tadi mungkin. Aku
mencoba menelaah dari awal. Ketika si anak kecil mulai bermain. Coba anggap
tujuan adalah bola itu. Untuk mendapatkanya, tentu harus mengejarnya. Tidak
mungkin bola itu akan menghampiri dengan sendirinya. Ketika bola tersebut
meleset dari kaki, tidak jarang juga kita meleset dalam mencapai tujuan. Tapi
jangan ragu untuk kembali berusaha. Terjatuh itu hal yang biasa. Tidak ada
jalan yang mulus untuk mencapai satu kesuksesan. Poin pentingnya adalah jangan
menyerah.
Kemudian tentang si kakak yang tiba-tiba datang sebagai lawan.
Sudah menjadi hal biasa jika dalam hidup kita menemui lawan. Yap, masalah. Dalam
perjalanan, kita pasti menemui masalah. Entah itu jalan berkelok, atau jalan
buntu sekalipun. Dan lagi, pasti akan ada orang yang berusaha membuat kita
tersesat. Supaya kita tidak bisa mencapai tujuan. Jika tidak mahir, sudah pasti
kita akan dipermainkan oleh si masalah itu sendiri. Berlarilah bukan untuk
menjauhi masalah, tapi menghadang untuk menghadapi. Buat ia takut, jangan
sampai kita yang takut. Anak kecil itu duduk dan terlihat kesal. Kadang kita
juga tidak bisa menerima apa yang terjadi. Kita marah. Tapi itu bukan cara yang
baik. Boleh saja mengeluh, asal jangan menyerah. Masalah dan solusi itu selalu
berdampingan. Beristilahatlah sejenak, sempatkan sedikit waktu untuk minum,
mengisi ulang tenaga, lalu mulailah mencari solusi. Meminta bantuan orang lain
misalnya.
Semakin dekat dengan tujuan, semakin besar rintangannya.
Semakin kuat pula lawan kita. Disitulah kita harus berpikir tentang strategi.
Lalu bisikan kepada teman, karena bekerja sama akan membuat kita tak
terkalahkan. Sampai akhirnya kita sampai di tujuan kita. Sambil tersenyum lalu
berkata “Yap, aku menang.”
Hmm… Pagi yang luar biasa. Pelajaran memang bukan hanya dari
orang yang berdiri di depan kelas sambil menerangkan materi. Ada banyak ilmu
yang harus di ambil dengan tangan kita sendiri. Belajar dari alam, dari orang
sekitar, dan belajar dari hidup.
Satu teguk terakhir dari gelas plastik kopiku. Aku berdiri
dan menarik napas panjang. Segar sekali. Kemudian aku melangkahkan kaki dari
tempatku duduk tadi. Hmm… apa yang akan kulakukan hari ini? Yes! I will play my
life…
Ngeluh boleh, nyerah jangan. Mengeluhlah kemana kamu seharusnya kamu mengeluh. Hmmm :')
ReplyDeleteApapun itu, hal yang sedang kamu perjuangkan untuk hidup luar biasamu, semoga bisa terbayarkan kelak oleh masa depan yang hebat.
ReplyDeleteIntinya sih tetep berjuang, apapun rintangannya, pasti bisa dilalui dan pada akhirnya kita akan berdiri tegap dan dengan bangga berkata, "Aku berhasil."
ReplyDeleteBijak sekali kamu, Anak Muda :'D
ReplyDeleteAyooo jangan nyerah. Harus semangat!
Btw jadi inget perjuangan skripsi yg sampe 1.5 tahun. Hiks :'
enak di baca nya tulisan lu, gung :D
ReplyDeleteokeey pelajaran asik dari lingkungan
ReplyDeleteHi Agung, salam kenal ya sebelumnya. Wah suka pergi ke taman juga ya? taman emang tempat yang cocok untuk menenangkan pikiran dari segudang rutinitas yaa, hehehe.
ReplyDelete