“Yah, cuma lima ratus ribu doang. Itu aja yang paling murah. Kapan lagi aku bisa nonton One Direction langsung? Apalagi, Zayn Maliknya mau keluar.”
“Ayah lagi gak ada uang. Nanti kalo ada, pasti Ayah kasih.”
“Kapan, Yah? Kan, Ayah cuma pulang seminggu sekali. Nanti konsernya keburu lewat.”

***

Begitu yang dipinta Yuri setiap kali ayahnya pulang kerja. Anak tunggal dari pasangan Pak Yusuf dan Bu Indah cukup keras kepala. Jika memiliki kemauan, harus selalu dituruti. Seperti sekarang, fans berat One Direction ini ingin menyaksikan idolanya tampil. Memang masih satu bulan lagi. Tapi, uang lima ratus ribu untuk satu tiket itu tidaklah sedikit. Ditambah, mereka bukanlah dari keluarga kaya, hanya berkecukupan. Tentu uang sebanyak itu sangat berharga. Daripada membeli tiket yang hanya sekali pakai, lebih baik untuk membeli makanan.

Pak Yusuf, ayah Yuri, bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Ia hanya seminggu sekali pulang ke rumah. Ia lebih memilih menetap di sana ketimbang harus bulak-balik Bogor-Jakarta. Selain boros ongkos, energi pun cukup terkuras selama di perjalanan. Oleh karena itu, setiap kali ada di rumah, Yuri selalu merengek minta dibelikan tiket kepada ayahnya, karena hanya pada saat itulah mereka bisa bertemu. Bu Indah pun sudah pusing dengan kelakuan anaknya itu. Tidak hanya sekali, Yuri sering meminta sesuatu dan harus selalu di turuti. Seperti beberapa waktu lalu, ia minta dibelikan sepatu baru. Terpaksa ibunya memakai uang simpanannya untuk memenuhi keinginan Yuri.

“Nak, Ayah lagi gak ada uang. Kan masih satu bulan lagi. Nanti, kalo Ayah ada, pasti dikasih, kok.”
“Ayah ini, nanti mulu. Nanti kapan? Kalo konsernya udah selesai? Teman-temanku yang lain pada nonton. Masa aku enggak?”
“Teman-temanmu kan orang kaya. Orangtua mereka bisa kasih begitu aja. Sedangkan Ayah? Lagian, baru kemarin kamu beli sepatu baru, uangnya sudah habis.”
“Ah, Ayah gak sayang sama aku!”

***
Konser One Direction sudah tinggal tiga hari lagi. Yuri belum juga mendapatkan uang lima ratus ribu itu. Ayahnya selalu memberikan alasan yang sama. Nanti, nanti, dan nanti. Kesabarannya sudah habis. Ia berniat menyusul sang ayah ke tempat kerjanya. Dengan bermodal kertas alamat yang ia dapat dari teman ayahnya, ia pergi sepulang sekolah.

Jalanan pada saat itu cukup bersahabat. Ia sampai di tempat kerja ayahnya pukul empat sore. Ia mencari tahu keberadaan ayahnya kepada para pekerja lain. Memang selama ini Yuri tidak tahu apa pekerjaan sang ayah. Ia hanya tahu ayah bekerja di sebuah perusahaan asing di daerah Jakarta Selatan.

“Mbak, bisa saya bertemu dengan Pak Yusuf?” Yuri bertanya kepada bagian informasi.
“Maaf, Dek. Pak Yusuf yang mana, ya?”
“Yusuf Aditya, Mbak.”
“Baik, tunggu sebentar ya, Dek.”

Petugas bagian informasi itu segera menghubungi bagian tempat ayah Yuri kerja. Yuri duduk menanti kedatangan sang ayah. Tak lama, seorang pria berumur empat puluh delapan tahun berjalan ke arahnya. Dengan seragam berwarna biru dan di pundaknya terdapat handuk kecil berwarna putih.

“Yuri, ngapain kamu ke sini?” ucap pria yang tidak lain adalah ayah Yuri.
“Mau nyusulin Ayah.”
“Hmm... tunggu Ayah sebentar lagi, ya? Ayah belum selesai kerja. Ngobrolnya jangan di sini.”

***

Jam kerja selesai. Yuri masih menunggu di bagian inormasi. Ayahnya datang menghampiri.

“Huh, lama banget, sih?” Yuri menggerutu.
“Sabar. Ini sudah selesai kok. Ayo, kita ke tempat ayah.”

Keduanya berjalan menuju tempat tinggal ayah Yuri selama di Jakarta.

“Sebenarnya, Ayah kerja apa, sih?”

 Ayahnya tidak menjawab. Ia hanya membalas pertanyaan Yuri dengan senyuman.

Setelah berjalan beberapa lama, sampailah ayah dan anak itu di sebuah mushola. Ayah Yuri masuk ke dalam. Bukan untuk shalat, karena ini bukan waktunya. Yuri mengikuti dari belakang. Ia bingung, apa yang akan ayahnya lakukan di tempat ini.

“Katanya mau ke rumah Ayah?”
“Ya, ini, kita sudah sampai di rumah Ayah.”
“Hah? Mushola ini?”
“Iya, ayo duduk. Gak ada kursi di sini. Jadi, di lantai saja,”

Mereka berdua duduk di lantai yang beralaskan sajadah. Yuri masih dengan ekspresinya yang kebingungan.

“Kenapa? Kamu heran, Ayah tinggal di mushola ini?”
Yuri mengangguk.
“Nak, dulu memang Ayah tinggal di sebuah kontrakan. Tapi, semakin hari kebutuhan keluarga kita semakin banyak. Uang Ayah tidak cukup untuk memenuhi semua itu. Makanya, Ayah tidak lagi tinggal di sana. Dan sekarang, Ayah tinggal di sini.”
“Lalu, Ayah masaknya gimana? Kan, gak ada alat masak di sini.”
“Ayah biasa beli makanan di warung. Ya, beli mie instan. Kalo ada uang, beli yang lebih enak. Tapi, kadang ada temen yang ngajak makan. Dia yang bayarin.”

Yuri terkejut dengan cerita dari ayahnya. Ia tidak menyangka, selama bertahun-tahun, ayahnya tinggal di sebuah mushola kecil dekat tempat kerjanya.

“Tadi kamu nanya kerjaan Ayah? Baiklah, sekarang Ayah kasih tau. Di sini, Ayah kerja jadi cleaning services.
“Serius, Yah?”
“Iya, dari situlah Ayah bisa membayar sekolahmu, membeli makanan untukmu dan Ibumu, baju yang kamu pakai sekarang,” jelas ayahnya.
“Oh, iya. Ayah jadi lupa nanya tujuanmu ke sini. Kamu masih tetep pengen nonton konser itu?”
Yuri diam tak menjawab.
“Ayah bukan gak sayang sama kamu. Ayah sayang banget sama kamu. Kalau tidak, ngapain Ayah cape-cape kerja kayak gini? Ayah bukan gak mau nurutin kemauan kamu. Tapi, Ayah memang lagi gak ada uang. Kamu tau sendiri, kan, setiap kali kamu pengen sesuatu, Ayah selalu belikan. Kalau gak sayang, ngapain Ayah bela-belain nyari uang buat itu?”

Perlahan, kepala Yuri tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Konser itu? Penting banget buat Kamu? Baiklah, ini ada uang simpanan Ayah. Kalau dengan ini kamu bisa percaya Ayah sayang sama kamu, pakailah.”

Beban di kepala Yuri seperti bertambah. Ia semakin tertunduk. Matanya pun sudah tak mampu lagi bertahan. Butiran air mulai mengalir melalui pipinya dan terjatuh di hamparan sajadah yang ia duduki. Hatinya terasa sakit sekali. Ya, sakit karena ulahnya sendiri.

“Ayaah! Maapin aku!”

Yuri memeluk ayahnya. Air matanya pecah, berhamburan ke mana-mana. Cerita dari sang ayah membuat hatinya tersadar. Saat ini, bukan lagi konser One Direction yang ada di pikirannya. Ia hanya ingin memeluk ayahnya dengan sangat erat.

***

Adzan Maghrib berkumandang. Pak Yusuf berdiri mengimami Yuri yang ada di belakangnya. Selesai shalat, mereka berdua membeli makanan.

“Ibu tau kalo kamu ke sini?”
“Oh, iya! Aku lupa bilang.”
“Hmm... lain kali jangan diulangi lagi. Ibumu pasti khawatir.”

Keduanya asik menyantap makanan yang ada di hadapan mereka. Sambil diselingi candaan, mereka menghabiskan makanannya dan bersiap untuk pulang ke rumah.

“Jadi, gimana? Masih mau nonton konser itu?”
“Hmm... enggak. Sekarang idolaku bukan mereka. Ada yang lebih hebat. Ayahku.” Yuri tersenyum.

Teruntuk : Kamu



Hai, sayang.

Apa kabar? Semoga baik-baik saja. Aku gak akan bosen-bosen buat ngingetin kamu soal kesehatan. Aku tahu kamu sangat sibuk. Jadi, jaga selalu kesehatanmu, ya!

Sayang, aku ingin sedikit bercerita kepadamu. Tentang apa yang ku alami, dan tentang pelajaran yang ku dapat dari situ.
Kamu masih ingat? Aku pernah bilang, bahwa pelajaran tentang kehidupan itu di dapat dari kehidupan itu sendiri. Kadang kita tidak sadar, bahwa hidup ini sedang mengajari kita suatu hal. Sehingga kita tak acuh, padahal itu sangat berharga untuk kita.
Beberapa waktu lalu, aku sedang duduk santai di depan rumah omku. Kebetulan dekat rumah omku itu, ada tetangga yang profesinya sebagai pedagang es keliling. Kamu tahu kan cendol? Nah, itu yang Ia jual. Minuman yang segar untuk dinikmati ketika cuaca panas. Sayangnya, saat itu hujan turun. Cukup lebat. Sampai aku yang mau ke warung pun tertahan. Dari kejauhan aku lihat si Bapak itu sedang bersiap untuk berangkat jualan. Menyiapkan cendolnya, gula nya, dan es yang sudah ia serut di rumah. Nah, itu yang membuatku agak bingung. Kamu bisa bayangkan. Kondisi hujan, minum es, apa yang terjadi? Pikiran dangkalku berkata “ah, ada-ada aja si bapak. Mana ada orang mau beli es pas hujan begini. Enakan ngopi anget” Singkat cerita, si bapak itu selesai dengan persiapannya. Dan berangkat untuk berjualan. Kebetulan ia berhenti di depan rumah omku. Aku sapa dia sambil sedikit bertanya “Emang hujan gini ada yang mau beli es, pak?” jawaban si bapak itu sangat menarik. Dia jawab “Yah , Kang, namanya juga usaha. Kalo satu orang gak mau beli, siapa tau orang yang lain ada yang beli. Rejeki kan bukan di atur sama hujan” Aku hanya tertawa mendengar jawabannya, dan sedikit bercanda karena memang kami sudah akrab.

Dilain tempat. Aku melihat tetanggaku yang lain, seorang ibu-ibu yang menggerutu karena jemurannya basah terkena cipratan air hujan. Kulihat ia marah-marah dan sesekali memaki hujan sambil berusaha untuk mengamankan pakaiannya dari cipratan air hujan itu. Aku hanya memerhatikan dan kembali dengan aktifitasku. Minum kopi.

Sayang, setelah dua kejadian itu, aku berpikir. Kok rasanya ada yang aneh. Tapi apa ya? Belum terpikir. Sampai akhirnya aku sadar. Kamu tahu apa yang ada dipikiranku saat itu? Ya! Ada pelajaran penting yang terselip diantaranya. Dari si Bapak penjual es itu aku sadar. Betul, usaha tidak akan menghianati hasil. “Jika orang yang satu tidak mau membeli, mungkin ada orang lain yang mau” ia tetap optimis dan tidak menyerah. Mungkin kalau aku, sudah balik badan dan kembali ke tempat tidur. Tapi, si bapak ini enggak. Ia tetap semangat untuk berjualan. Setiap usaha pasti ada cobaannya. Sama hal nya dengan si bapak itu. Ketika ia akan pergi berusaha, ada halangan dari si hujan. Dan apa yang ia lakukan sangat tepat. Tetap berusaha dan melawan cobaan itu.

Lalu, bagaimana dengan si ibu yang marah-marah itu? Begini, saat itu dalam pikiranku muncul pertanyaan. “ini sebenernya yang salah siapa? Si ibu, atau hujan?” Coba kamu bayangkan. Hujan itu alami. Ketika waktunya ia turun, maka ia akan turun. Lalu si ibu itu menjemur pakaian, dan kembali basah karena cipratan air hujan dan Dia marah-marah. Sekarang coba pikir, apa dengan marah-marah pakaian itu akan kembali kering? Apa dengan marah hujan itu akan langsung berhenti? Tidak mungkin! Pakaian itu tetap akan basah dan hujan akan tetap turun sampai waktunya ia berhenti. Lalu buat apa marah-marah? Salah hujan yang turun, apa salah dia yang tidak mengantisipasi dengan memindahkan pakaiannya ketika melihat cuaca yang akan turun hujan? Istilah “sedia payung sebelum hujan” itu bukan hanya untuk mereka yang akan bepergian. Itu maksudnya mengantisipasi hal buruk sebelum itu terjadi. Ya sama seperti cerita si ibu itu. Dia gak sedia “payung” sebelum hujan.

Sayang, aku bercerita bukan hanya untuk di dengar. Aku ingin kamu pun belajar. Masih ingat suratku sebelumnya? Yang kubilang ingin membangun hubungan denganmu? Untuk itu, aku ingin kita sama-sama belajar. Agar hubungan itu menjadi lebih baik. Karena banyak hal yang kita tidak tahu dalam hidup ini. Aku berbagi karena aku sayang sama kamu. Aku ingin kamu pun menjadi pribadi yang lebih baik. Aku sadar, suatu saat aku akan menjadi imammu. Dimana kamu menjadi pengikutku, maka aku harus membawamu ke arah yang benar. Sampai saat ini, aku terus berusaha untuk menjadi lebih baik.

Jodoh memang ditangan Tuhan, tapi bagaimana Tuhan mau memberi kalau kita tidak mau meminta? Rencana Tuhan memang tidak ada yang tahu, tapi kembali lagi seperti kejadian yang kuceritakan, usaha tidak akan menghianati hasil dan jangan marah ketika apa yang terjadi, tidak sesuai dengan harapan kita. Untuk sebagian orang mungkin rejeki itu berupa materi, tapi tidak untukku. Seperti halnya hujan yang menurunkan rejeki, saat itu yang kudapat bukan materi, tapi hujan memberiku pelajaran.

Sampai jumpa di suratku berikutnya, ya! Jaga selalu hatimu.


Salam Sayang,



Agung Adiwangsa


Ketika kamu datang membawa sebuah cerita. Kamu mulai menuliskan kisah baru pada lembar yang masih kosong itu. Dengan kata sederhana, kamu merangkumnya menjadi sebuah kalimat yang sempurna. Serupa purnama di antara jutaan bintang. Indah.

Melukiskan kenangan yang aku sendiri tidak pernah membayangkannya. Kamu membawaku ke sebuah dunia yang hanya ada kebahagiaan di dalamnya. Aku bertanya-tanya, apakah ini mimpi atau nyata? Atau, kenyataan yang selalu kuimpikan? Hingga akhirnya, kamu menjawab dengan sebuah senyuman yang membuatku yakin. Ya, ini nyata.

Ada benih yang tertanam dalam hati yang mulai gersang. Ada senyum terpancar dari wajah yang mulai kering. Itu semua ulahmu. Kamulah pemeran utamanya.

Aku selalu berdoa. Semoga tuhan memberikan waktu lebih kepada kita. Agar aku bisa terus bersama satu ciptaan-Nya yang begitu sempurna. Tidak. Kamu tidak sempurna. Kamu sederhana. Ya, kesederhanaan yang sempurna, itu kamu.

Di bawah langit musim semi penuh warna, kamu berjalan sendirian. Di jalan panjang yang selalu kamu bayangkan, sama seperti mimpi yang pernah kamu impikan. Aku akan menjadi pohon sakura yang abadi, tak akan bergerak dari sini. Ketika hatimu kehilangan arah

"Aku akan berdiri di sini. Agar kamu tahu, di mana cinta itu berada"

Teruntuk Kamu…

Apa kabar? Semoga sehat dan bahagia selalu.

Disuratku sebelumnya, Aku menjawab pertanyaanmu tentang kenapa Aku bisa suka sama Kamu. Yap, kemarin Aku sudah jawab itu dan kuharap Kamu bisa mengerti dan memahaminya.

Suratku kali ini, Aku ingin membahas mengenai hubungan. Membangun sebuah hubungan. Ya, hubungan Kita.

Dalam sebuah hubungan, ada beberapa hal penting yang sering kali Kita anggap itu sepele. Komunikasi. Ini yang paling penting. Karena segala sesuatu akan baik jika dikomunikasikan dengan baik dan akan menjadi buruk jika dikomunikasikan dengan buruk.

Sayang, Aku harap Kita bisa sama-sama menjaga itu. Dimulai dari hal sederhana. Aku minta sama Kamu, apapun itu, kalau ada sesuatu hal yang kurang baik, bilang, yah. Jangan Kamu pendam sendiri. Aku, kan, sering bilang, kalau kamu ngerasa gak enak, atau apapun itu, bilang padaku. Mari Kita duduk sama-sama, bahas dan cari solusinya. Daripada Kita emosi, karena apapun yang dimulai dengan emosi, akan berakhir dengan penyesalan. Aku yakin segala suatu hal itu pasti ada jalan keluarnya. Manusiawi memang kalau Kita kebawa emosi. Wajar. Karena Aku juga pasti pernah begitu. Tapi sebisa mungkin, Kita kesampingkan dulu emosi Kita demi hubungan Kita tetap baik-baik saja.

Lalu, apalagi? Kepercayaan? Yap! Itu juga penting. Sebuah hubungan dibangun dengan kepercayaan. Aku percaya dan yakin, Kamu sayang padaku. Aku minta Kita sama-sama jaga kepercayaan ini, ya. Kamu pasti pernah dengar kalimat “jujurlah walaupun itu menyakitkan” itu betul. Jadi, Aku minta sama Kamu, kalau ada suatu hal yang mau Kamu bilang, sampaikanlah walaupun itu menyakitkan. Daripada harus berbohong supaya Aku seneng. Akupun begitu, Aku bakal bilang kalau ada hal-hal yang perlu dibicarakan. Tapi semoga gak ada hal buruk yang terjadi di antara Kita. Amin.

Masih ada lagi? Menghargai? Iya, itu juga penting. Kita harus saling menghargai. Oh iya, Kamu kan sudah tahu, kalau aku itu orangnya cemburuan. Semoga Kamu mengerti ya. Tapi Aku bisa, kok, mengontrol perasaan itu. Aku gak akan larang-larang kamu buat main, bergaul, berteman dengan siapapun. Hanya saja, Aku yakin kamu pasti paham, ada batasan-batasannya. Kita saling menghargai ya, dengan menjaga batasan itu misalnya.

Saling mengerti, itu juga penting? Tentu. Kita harus saling mengerti satu sama lain. Kita sama-sama punya kesibukan masing-masing. Aku harap Kamu bisa mengerti dengan kondisiku, yang sering kali karena pekerjaan jadi kurang memerhatikanmu. Begitupun Aku, akan berusaha untuk mengerti Kamu. Hanya saja satu pesanku, sesibuk apapun Kita. Sempatkan waktu untuk bersama. Tidak perlu lama, sebentar saja cukup. 

Itu hanya beberapa hal yang penting dalam membangun sebuah hubungan. Masih banyak hal lain yang tidak kalah penting. Jangan menganggap ini berat. Let it flow saja, Aku yakin Kamu bisa, dan Kita bisa.

Menurutku, hubungan itu bukan berasal dari dua orang yang sempurna. Karena setiap orang punya kekurangannya masing-masing. Seperti yang Aku bilang sebelumnya, Aku tidak mengharapkan Kamu sempurna. Aku mencintaimu bukan karena kelebihanmu. Aku memilihmu berarti Aku menerima semua kelebihan dan kekuranganmu. Maka dari itu, Aku minta sama Kamu, mari sama-sama Kita bangun hubungan ini. Kesampingkan dulu hal-hal yang kurang baik. Wajar memang kalau kadang Kita kebawa emosi, orang bilang itu bumbu-bumbu dalam sebuah hubungan. Tapi, selama itu bisa di bicarakan, mari Kita bicarakan.

Diakhir surat ini, Aku berharap dan selalu berdoa agar hubungan Kita kedepan bisa lebih baik lagi tanpa ada halangan dan rintangan apapun. Mungkin suatu saat nanti akan ada rintangan dan halangan yang datang, tapi semoga Kita bisa hadapi bersama.

Oiya, bilang pada orangtua mu, maaf Aku belum bisa silaturahmi ke rumah. InsyaAllah nanti Aku kesana kalau pekerjaanku sudah agak santai. Jaga terus kesehatanmu, ya!




Salam Sayang,



Agung Adiwangsa



Teruntuk Kamu,


Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja dan selalu dalam lindungan-Nya

Sudah sampaikah rasa rindu yang kukirim untukmu? Apa kamu bisa merasakannya? Rindu itu tak juga hilang. Terus menempel, bahkan merekat erat dalam benakku. Aku sendiri bingung harus bagaimana. Yang bisa kulakukan hanyalah memandangi foto yang terkumpul dalam folder khusus tentangmu. Setiap kali aku ingin melihatmu, aku harus menghidupkan laptopku. Setelah itu, kumatikan lagi. Menghidupkan komputer hanya untuk melihat fotomu, gila bukan? Ya, aku memang gila. Tergila-gila padamu tepatnya.

Kekasihku, ada satu pertanyaan darimu yang selalu menggelitik otakku. “Kenapa kamu bisa mencintaiku?” ya, itu. Setiap kali aku memikirkannya, bukan mendapat jawaban, malah bingung. Rasanya, aku lebih memilih soal fisika daripada itu.

Kenapa aku bisa mencintaimu? Hmm... kenapa, ya? Kamu cantik? Ah, tidak. Bukan karena itu. Banyak wanita yang lebih cantik darimu. Jika karena fisik, kenapa aku harus memilihmu? Bukan karena itu.

Karena kamu baik? Menurutku, semua manusia itu baik. Hanya saja setiap orang punya kadarnya masing-masing. Misalnya, seorang ustadz punya kadar kebaikan yang lebih tinggi dari seorang penjahat. Selain itu, baik juga tidak mutlak. Orang baik pasti pernah melakukan kejahatan, begitu juga sebaliknya. Jadi, aku mencintaimu karena kamu baik? Tidak.

Karena kamu pintar? Bukan. Aku tidak cinta pada kepintaranmu. Kamu pun tidak selalu pintar. Orang yang pintar tidak selalu mengerti. Buktinya, banyak orang yang tau kenapa terlalu banyak meminum alkohol itu berbahaya, tapi mereka tetap saja meminumnya. Jadi, kalau kamu berpikir aku mencintaimu karena kamu pintar, kamu salah.

Sayang, cinta tidak harus beralasan bukan?

Coba bayangkan, jika aku mencintaimu karena alasan itu. Suatu hari kamu menjadi jelek, tidak ada alasan lagi untukku mencintaimu. Jika suatu hari kamu berbuat kesalahan, yang membuatku merasakan sakit, tidak ada lagi alasan untukku mencintaimu. Jika suatu hari kamu bertindak bodoh, tidak ada lagi alasan untukku mencintaimu. Lalu, aku harus mencintaimu karena apa?

Sayang, mungkin ada banyak alasan untuk apa yang kulakukan, tapi tidak untuk yang satu ini. Yang terpenting bukanlah “Kenapa aku mencintaimu” tapi “Bagaimana aku mencintaimu”. Kamu tidak cantik, tidak selalu baik, dan tidak selalu pintar. Itu semua bukan ukuran untuk rasa cintaku padamu. Kamu biasa saja. Sederhana. Cinta pun begitu, sederhana. Sesederhana aku mencintaimu. Dan untuk jawaban atas pertanyaanmu, 
"Aku mencintaimu karena aku mencintaimu."



Salam sayang,


Agung Adiwangsa
Seorang perempuan tua duduk sambil memandangi lututnya yang terluka. Seperti dia baru saja mengalami kecelakaan. Darah terlihat keluar dari kulitnya yang mengelupas. Sementara, lengan kanan nya memar sedikit.

“Kenapa, bu?” seorang pemuda datang menghampiri.
“Saya baru saja di jambret, nak” Jawabnya
“Astagfirullah... tapi ibu gak kenapa-kenapa?”
“Hanya luka kecil dan sedikit memar di tangan”
“Mari saya bantu”

Pemuda itu membelikan obat merah dan plester untuk si ibu.

“Gimana ceritanya, kok bisa kejambretan bu?” Pemuda itu mulai bertanya.
“Tadi saya lagi jalan mau ke rumah cucu. Tiba-tiba, ada dua orang laki-laki menggunakan motor mengambil tas yang saya gandeng. Kemudian karena tarikannya kencang, saya terjatuh. Untung saja cuma luka sedikit” Si ibu bercerita sambil mengobati lukanya.
“Loh, gak ada yang nolong?”
“Tadi ada anak muda yang lewat. Ngeliat sebentar, lalu pergi lagi. Pas kejadian juga di sebrang ada bapak yang lagi buka toko. Tapi, entah mungkin dia gak lihat”
“Hmmm... orang kok jahat ya sampe begitu.”
“Ndak usah heran, Nak. Emang dasarnya setan yang paling jahat itu manusia”

Anak muda terlihat heran dengan perkataan si ibu.

“Ya, tapi beda bu setan sama manusia”
“Iya, hanya saja, tempatnya setan itu di manusia. Bukan hantu-hantu yang orang sering lihat”
“hmm...”
“Coba kamu pikir. Ada setan yang tugasnya menggoda manusia. Ada setan yang tugas nya memfitnah. Ada setan yang tugasnya menghasut. Dimana itu semua adanya? Siapa yang bisa ngelakuin itu? Dan lihat sekarang, apa yang dilakukan manusia? Mereka membunuh, menghasut, berbohong, memfitnah. Bahkan semua tugas setan dia lakukan. Bukankah itu lebih parah dari setan?”

Pemuda itu terdiam.

“Padahal, saya baru saja mau belikan hadiah buat cucu saya. Dia berulang tahun yang ke satu tahun” lanjut si ibu.
“Saya ada sedikit uang. Mari bu kita carikan hadiah buat cucu ibu. Pasti dia bakal seneng”
“Tidak usah. Pakai saja buat kebutuhanmu. Kamu pasti lebih butuh itu. Terimakasih ya, nak, sudah bantu ibu. Saya mau pulang dulu” Si ibu berdiri dan bersiap pulang
“Iya, hati-hati di jalan ya, Bu”

Tiga langkah ibu itu berjalan, lalu membalikan badan.

“Oh iya, saya lupa.”

Si anak muda terlihat bingung.

“Selain setan, malaikat terbaik pun adanya di manusia. Semoga orang sepertimu tidak habis ya, nak” Ucap si ibu sambil tersenyum dan melangkahkan kakinya pulang.

Dalam hatinya, pemuda itu berkata “Amin”


 ***





Salam,



Agung Adiwangsa









31 Desember 2016.
Menjelang pergantian tahun 2016 ke 2017. Yosh, waktu emang gak kerasa. Mengalir terus menerut tanpa berhenti. Bagai air sungai yang mengalir. Jadi, kalo ada diantara kalian yang ngarep masa-masa indah sama mantan kalian kembali, lupakan. Percuma, mereka gak akan kembali. Bahkan mungkin mantan kalian sudah menikah dengan pasangannya yang baru. Kalian saja yang belom. Kasian banget.

Tahun baru, semua harus baru. Kata beberapa orang, sih, gitu. Baju baru, celana baru, gadget baru. Tapi, untuk yang satu ini gue gak terlalu setuju. Tahun baru bukan berarti melupakan atau meninggalkan yang lama. Yang lama belum tentu buruk, dan yang baru belum tentu baik. Ya, gitulah. Begitupun kalian-kalian yang masih belom bisa move on, tenang. Ada alasan kalo misalkan teman-teman kalian yang kampret-kampret itu ngeledekin. Jawab aja “Tahun baru bukan berarti harus sesuatu yang baru” abis itu lempar pake petasan. Sip!

Flashback ke belakang. Banyak kejadian yang mungkin bisa dibilang gak akan terlupakan di tahun 2016 ini. Tentunya ada banyak juga pelajaran dan pengalaman yang gue dapet. Dari mulai pengalaman terbaik, sampai yang terburuk sekalipun ada.
Tahun 2016 ini bisa dibilang gue tahun ngegame bagi gue. Gak muluk-muluk. Cuman game HP doang. Khususnya Game Seven Knight besutan Netmarble. Sampe yang baru-baru ini gue mainin. Stellacept.

Mungkin ada diantara kalian yang baca berpikir “ah, ini Cuma game HP. Biasa aja. Gak ada spesialnya” eits bentar dulu. Buat gue beda lagi. Karena dari game ini juga gue dapet banyak pelajaran. Yang kayaknya kalo gue ceritain semua gak bakal selesai satu halaman.
Di game ini gue belajar tentang Leadership, Friendship, Partneship.  Kalo mau lebih jelasnya, PM aja. Girl Only!

Game itu hampir gue mainin selama tahun 2016 ini. Setiap hari, setiap waktu, siang dan malam. Ya gitulah kalo hobi udah kumat. Padahal sebelomnya udah tobat ngegame. Hahaha

Oia kalo ada yang main juga bisa kenalan IGN gue di Seven Knight yang sekerang Zekken Lead Guild Elvenz kalo di Stellacept IGN Tidez. Guild Master dari guild Rexstorm.

Selain soal game, 2016 ini keluarga kami nambah satu orang. Kakak gue yang udah nikah baru ngelahirin anak pertamanya. Perempuan. Cantik. Namanya Anezka Riana Saputri. Dan yang hari lahirnya, tepat di hari ulang tahun gue. Tanggal 22 November 2016. Fix!  Keponakan gue keren. Sama kayak om nya.  

Dipenghujung tahun, atau di akhir tahun, biasanya ada satu kebiasaan anak muda masa kini yang mungkin kalian sendiri pun melakukannya. Apa itu? Yap! Membuat Resolution. Yang pada kenyataannya, Resolution yang dibuat itu sama dengan yang dibuat di tahun sebelumnya. Jadi Resolusi tahun 2017, adalah kumpulan resolusi yang belom tercapai di tahun 2016 yang merupakan lanjutan dari resolusi di tahun 2015 yang dibuat pada tahun 2014. Tapi, gak apa-apa. Biarpun begitu, gue juga mau ikutan bikin resolusi. Cuman, dengan versi yang berbeda. Gue mau bikin Resolushit.

1. Semoga di tahun 2017 mak gue tobat nonton film india.
Please, yang satu ini kadang bikin bete. Ketika televisi dirumah dikuasai oleh ibu gue. Dari pagi yang ditonton itu drama India. Yang walaupun pada akhirnya gue ikutan duduk, dan nonton juga. Sampe sampe kesel liat Tapasha dijahatin mulu sama orang. Greget kan jadinya.

2. Semoga di tahun 2017 orang-orang semakin kreatif membuat sebutan
Pernah dengar istilah “cewek cabe-cabean” PASTI! Gue juga pernah denger istilah “Cewe lidi-lidian” sebutan untuk mereka yang punya bentuk tubuh ramping kayak lidi. Nah, semoga di tahun 2017 ini yang membuat istilah-istilah itu semakin keren dan kreatif. Kebayang gak, kalo bener ada cewe lidi-lidian. Jangankan mau pegang tangan apalagi peluk, senggol dikit aja patah. Kan berabe.

3. Semoga di tahun 2017 kasir di Supermarket atau mini market membuat salam sambutan baru.
Yap. Ini penting. Mungkin ada beberapa diantara kalian yang merupakan seorang jomblo tulen, jomblo menahun, atau bahkan jomblo karatan. Pasti dong kangen di panggil sayang. Alangkah lebih baik kalo pas kita masuk supermarket, si penjaga kasir nyambut dengan kalimat “ selamat pagi, selemat berbelanja sayang, apa kabar? Have a nice day ya sayang” kurang lebih seperti itulah. Ya, sesekali bikin jomblo seneng bolehlah.

Cukup. Jangan banyak-banyak. Nanti kalian nyesel bacanya.

Tapi, diantara itu, ada satu harapan gue. Gue berharap di tahun ini segala sesuatu buruk yang terjadi, gak terulang lagi buat gue khususnya, buat kalian semua yang baca, dan untuk negaraku tercinta Indonesia. Semoga di tahun yang baru ini kita semua bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya, Amin.

Yosh, pepatah mengatakan “Lebih baik terlambat, dari pada tidak sama sekali” oleh karena itu, daripada gue terlambat, mending ngucapin duluan.

Selamat tahun baru 2017, semoga kalian semakin keren!!

Best Regards..


Agung Adiwangsa




Kuminum secangkir kopi yang berada di sampingku. Sudah mulai dingin. Maklum, udara di taman pagi itu memang cukup dingin. Napasku saja sampai mengeluarkan asap, seperti kereta uap saja. Kucabut sebatang rokok dari bungkusnya, membakarnya, lalu menghisap perlahan. Nikmat. Itu yang pertama kali tergambar di benakku.

Sepi pagi itu mulai terusir oleh orang-orang yang beraktivitas. Ya, hari libur seperti ini, taman memang selalu jadi tempat yang pas untuk meluangkan waktu. Untuk olahraga atau hanya sekedar bermain.  Bersama keluarga, kekasih, atau sendirian, seperti aku ini.

Jauh di tanah terbuka di sana, aku melihat seorang anak kecil sedang berlari-lari mengejar bola. Tak jauh dari tempatnya, ada satu keluarga yang sedang duduk beralaskan tikar. Menyiapkan makanan yang mereka bawa dari rumah. Hmm… piknik kecil-kecilan mungkin. Ide yang bagus.
Pandanganku kembali kepada si anak tadi. Ia dengan asik mengejar-ngejar bola sendirian. Aku perhatikan, sepertinya ia masih belajar. Kadang bola itu meleset dari kakinya. Sesekali ia terjatuh. Duduk sebentar, mengusap kakinya yang kotor karena terjatuh tadi, lalu kembali bangkit. Hebat juga, aku pikir ia akan menangis.

Tak lama, seorang anak datang menghampirinya. Sepertinya kakak dari anak kecil itu. Mungkin ia ingin ikut bermain. Tapi, tunggu sebentar. Itu, kan, tidak adil. Si kakak yang lebih dewasa sudah pasti lebih hebat dari si adik. Hebatnya, si anak kecil itu tidak terlihat takut. Ia malah menantang kakaknya. Ayolah, nak, jangan mau kalah dari kakakmu!

Permainan dimulai. Si anak kecil melawan kakaknya. Mula-mula, bola di kuasai si adik. Ia menggiring dengan percaya diri. Lucunya, kadang bola itu tertinggal. Atau, ia menggiring terlalu keras. Hingga yang tadinya berniat menggiring, malah seperti mengoper kepada kakaknya. Beda dengan kakaknya yang sudah mahir memainkan bola. Berkali-kali ia membuat pusing adiknya. Si adik berusaha keras mendapatkan bolanya. Tapi tetap saja tidak berhasil.

Permainan terus berjalan dengan posisi bola masih berada di kaki sang kakak. Malah, saat ini ia sedang mempermainkan adiknya. Ah, sudah tidak seru lagi. Bahkan, aku bisa tebak, pasti akhirnya si adik menangis, lalu mengadu pada orangtuanya, kemudian permainan berakhir.

Aku mengambil sebatang rokok lagi. Kopi yang tinggal setengah itupun kembali aku seuruput. Biarpun dingin, tapi tetap enak. Matahari yang tadi bersembunyi dibalik pepohonan, sekarang mulai menampakan sinarnya. Mengusir dingin yang sedari tadi menyelimuti kulit.

Pandanganku kembali ke anak-anak tadi. Betul dugaanku. Anak kecil yang tadinya penuh semangat, sepertinya mulai menyerah. Ia duduk ditanah, terlihat kesal karena tidak mampu merebut bola dari kakaknya. Sedangkan kakaknya malah tertawa melihat adiknya itu. Apa sekarang anak kecil itu akan menangis lalu mengadu kepada orangtuanya? Ia berdiri, lalu berlari ke arah keluarganya. Aha, tebakanku betul lagi, ia mengadu kepada ibunya. Tapi, tunggu. Ia tidak terlihat menangis. Ia meminta minum. Lalu kembali bersama anak lain yang seumuran dengannya. Jadi, kembali hanya untuk mengisi tenaga dan mencari bantuan? Pintar juga. Dua anak kecil melawan satu anak dewasa. Melihat kemampuan si kakak, aku rasa ini cukup adil.

Pertandingan kembali dimulai. Tapi, bantuan yang didapat sepertinya tidak memberi perubahan. Si kakak tetap menguasai bola itu. Adiknya dan anak kecil itu dengan mudahnya ia lewati. Hadangan demi hadangan bisa ia atasi. Hebat juga.

Dua anak kecil itu terdiam. Mengatur napas, kemudian saling berbisik. Apa ia merencanakan sesuatu? Yap, sepertinya memang begitu. Kali ini mereka lebih semangat. Mereka berusaha lebih keras lagi, dan kali ini lebih kompak. Hmm… jadi itu yang mereka bisikan. Sampai akhirnya, posisi berbalik. Bola berhasil direbut. Malah, sekarang mereka berdua yang mempermainkan kakaknya. Tak lama si kakak mulai terlihat lelah dan meminta permainan dihentikan. Adiknya dan anak kecil tadi terlihat senang. Mereka berhasil mengalahkan kakaknya. Si kakak hanya tersenyum, lalu mengajak keduanya untuk beristirahat.

Aku bersandar di bangku taman. Pikiranku jauh melayang. Lalu kembali lagi ke permainan anak kecil tadi. Ada pelajaran terselip diantaranya. Seperti kata Iwan Fals “Walau hidup adalah permainan, walau hidup adalah hiburan.” Hidup adalah permainan? Ya, seperti permainan bola tadi mungkin. Aku mencoba menelaah dari awal. Ketika si anak kecil mulai bermain. Coba anggap tujuan adalah bola itu. Untuk mendapatkanya, tentu harus mengejarnya. Tidak mungkin bola itu akan menghampiri dengan sendirinya. Ketika bola tersebut meleset dari kaki, tidak jarang juga kita meleset dalam mencapai tujuan. Tapi jangan ragu untuk kembali berusaha. Terjatuh itu hal yang biasa. Tidak ada jalan yang mulus untuk mencapai satu kesuksesan. Poin pentingnya adalah jangan menyerah.

Kemudian tentang si kakak yang tiba-tiba datang sebagai lawan. Sudah menjadi hal biasa jika dalam hidup kita menemui lawan. Yap, masalah. Dalam perjalanan, kita pasti menemui masalah. Entah itu jalan berkelok, atau jalan buntu sekalipun. Dan lagi, pasti akan ada orang yang berusaha membuat kita tersesat. Supaya kita tidak bisa mencapai tujuan. Jika tidak mahir, sudah pasti kita akan dipermainkan oleh si masalah itu sendiri. Berlarilah bukan untuk menjauhi masalah, tapi menghadang untuk menghadapi. Buat ia takut, jangan sampai kita yang takut. Anak kecil itu duduk dan terlihat kesal. Kadang kita juga tidak bisa menerima apa yang terjadi. Kita marah. Tapi itu bukan cara yang baik. Boleh saja mengeluh, asal jangan menyerah. Masalah dan solusi itu selalu berdampingan. Beristilahatlah sejenak, sempatkan sedikit waktu untuk minum, mengisi ulang tenaga, lalu mulailah mencari solusi. Meminta bantuan orang lain misalnya.

Semakin dekat dengan tujuan, semakin besar rintangannya. Semakin kuat pula lawan kita. Disitulah kita harus berpikir tentang strategi. Lalu bisikan kepada teman, karena bekerja sama akan membuat kita tak terkalahkan. Sampai akhirnya kita sampai di tujuan kita. Sambil tersenyum lalu berkata “Yap, aku menang.”

Hmm… Pagi yang luar biasa. Pelajaran memang bukan hanya dari orang yang berdiri di depan kelas sambil menerangkan materi. Ada banyak ilmu yang harus di ambil dengan tangan kita sendiri. Belajar dari alam, dari orang sekitar, dan belajar dari hidup.

Satu teguk terakhir dari gelas plastik kopiku. Aku berdiri dan menarik napas panjang. Segar sekali. Kemudian aku melangkahkan kaki dari tempatku duduk tadi. Hmm… apa yang akan kulakukan hari ini? Yes! I will play my life…
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home