Seorang perempuan tua duduk sambil memandangi lututnya yang
terluka. Seperti dia baru saja mengalami kecelakaan. Darah terlihat keluar dari
kulitnya yang mengelupas. Sementara, lengan kanan nya memar sedikit.
“Kenapa, bu?” seorang pemuda datang menghampiri.
“Saya baru saja di jambret, nak” Jawabnya
“Astagfirullah... tapi ibu gak kenapa-kenapa?”
“Hanya luka kecil dan sedikit memar di tangan”
“Mari saya bantu”
Pemuda itu membelikan obat merah dan plester untuk si ibu.
“Gimana ceritanya, kok bisa kejambretan bu?” Pemuda itu
mulai bertanya.
“Tadi saya lagi jalan mau ke rumah cucu. Tiba-tiba, ada dua
orang laki-laki menggunakan motor mengambil tas yang saya gandeng. Kemudian karena tarikannya kencang, saya terjatuh. Untung saja cuma luka sedikit” Si ibu
bercerita sambil mengobati lukanya.
“Loh, gak ada yang nolong?”
“Tadi ada anak muda yang lewat. Ngeliat sebentar, lalu pergi
lagi. Pas kejadian juga di sebrang ada bapak yang lagi buka toko. Tapi, entah
mungkin dia gak lihat”
“Hmmm... orang kok jahat ya sampe begitu.”
“Ndak usah heran, Nak. Emang dasarnya setan yang paling jahat
itu manusia”
Anak muda terlihat heran dengan perkataan si ibu.
“Ya, tapi beda bu setan sama manusia”
“Iya, hanya saja, tempatnya setan itu di manusia. Bukan
hantu-hantu yang orang sering lihat”
“hmm...”
“Coba kamu pikir. Ada setan yang tugasnya menggoda manusia.
Ada setan yang tugas nya memfitnah. Ada setan yang tugasnya menghasut. Dimana
itu semua adanya? Siapa yang bisa ngelakuin itu? Dan lihat sekarang, apa yang
dilakukan manusia? Mereka membunuh, menghasut, berbohong, memfitnah. Bahkan
semua tugas setan dia lakukan. Bukankah itu lebih parah dari setan?”
Pemuda itu terdiam.
“Padahal, saya baru saja mau belikan hadiah buat cucu saya. Dia
berulang tahun yang ke satu tahun” lanjut si ibu.
“Saya ada sedikit uang. Mari bu kita carikan hadiah buat
cucu ibu. Pasti dia bakal seneng”
“Tidak usah. Pakai saja buat kebutuhanmu. Kamu pasti lebih
butuh itu. Terimakasih ya, nak, sudah bantu ibu. Saya mau pulang dulu” Si ibu
berdiri dan bersiap pulang
“Iya, hati-hati di jalan ya, Bu”
Tiga langkah ibu itu berjalan, lalu membalikan badan.
“Oh iya, saya lupa.”
Si anak muda terlihat bingung.
“Selain setan, malaikat terbaik pun adanya di manusia.
Semoga orang sepertimu tidak habis ya, nak” Ucap si ibu sambil tersenyum dan
melangkahkan kakinya pulang.
Dalam hatinya, pemuda itu berkata “Amin”
Salam,
Agung Adiwangsa
Hm. Tergantung manusianya, kan. Tergoda nggak sama setan itu~ Untuk tulisan fiksi sesingkat ini, menurut saya kebanyakan dialognya, Gung. Mungkin porsi narasinya bisa lebih diseimbangin. :)
ReplyDeleteRealita yang banyak terjadi jaman now. Kepedulian diantara kepentingan pribadi.
ReplyDeleteKesempatan jadi "sesuatu" yang langka bisa dilakukan sekarang.