Teruntuk Kamu,
Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja dan selalu dalam lindungan-Nya
Sudah sampaikah rasa rindu yang kukirim untukmu? Apa kamu bisa merasakannya? Rindu itu tak juga hilang. Terus menempel, bahkan merekat erat dalam benakku. Aku sendiri bingung harus bagaimana. Yang bisa kulakukan hanyalah memandangi foto yang terkumpul dalam folder khusus tentangmu. Setiap kali aku ingin melihatmu, aku harus menghidupkan laptopku. Setelah itu, kumatikan lagi. Menghidupkan komputer hanya untuk melihat fotomu, gila bukan? Ya, aku memang gila. Tergila-gila padamu tepatnya.
Kekasihku, ada satu pertanyaan darimu yang selalu menggelitik otakku. “Kenapa kamu bisa mencintaiku?” ya, itu. Setiap kali aku memikirkannya, bukan mendapat jawaban, malah bingung. Rasanya, aku lebih memilih soal fisika daripada itu.
Kenapa aku bisa mencintaimu? Hmm... kenapa, ya? Kamu cantik? Ah, tidak. Bukan karena itu. Banyak wanita yang lebih cantik darimu. Jika karena fisik, kenapa aku harus memilihmu? Bukan karena itu.
Karena kamu baik? Menurutku, semua manusia itu baik. Hanya saja setiap orang punya kadarnya masing-masing. Misalnya, seorang ustadz punya kadar kebaikan yang lebih tinggi dari seorang penjahat. Selain itu, baik juga tidak mutlak. Orang baik pasti pernah melakukan kejahatan, begitu juga sebaliknya. Jadi, aku mencintaimu karena kamu baik? Tidak.
Karena kamu pintar? Bukan. Aku tidak cinta pada kepintaranmu. Kamu pun tidak selalu pintar. Orang yang pintar tidak selalu mengerti. Buktinya, banyak orang yang tau kenapa terlalu banyak meminum alkohol itu berbahaya, tapi mereka tetap saja meminumnya. Jadi, kalau kamu berpikir aku mencintaimu karena kamu pintar, kamu salah.
Sayang, cinta tidak harus beralasan bukan?
Coba bayangkan, jika aku mencintaimu karena alasan itu. Suatu hari kamu menjadi jelek, tidak ada alasan lagi untukku mencintaimu. Jika suatu hari kamu berbuat kesalahan, yang membuatku merasakan sakit, tidak ada lagi alasan untukku mencintaimu. Jika suatu hari kamu bertindak bodoh, tidak ada lagi alasan untukku mencintaimu. Lalu, aku harus mencintaimu karena apa?
Sayang, mungkin ada banyak alasan untuk apa yang kulakukan, tapi tidak untuk yang satu ini. Yang terpenting bukanlah “Kenapa aku mencintaimu” tapi “Bagaimana aku mencintaimu”. Kamu tidak cantik, tidak selalu baik, dan tidak selalu pintar. Itu semua bukan ukuran untuk rasa cintaku padamu. Kamu biasa saja. Sederhana. Cinta pun begitu, sederhana. Sesederhana aku mencintaimu. Dan untuk jawaban atas pertanyaanmu,
"Aku mencintaimu karena aku mencintaimu."
Salam sayang,
Agung Adiwangsa
0 komentar:
Post a Comment