Sore itu ditepi jembatan. Senja menampakan indahnya. Sunyi. Aku
duduk menghadap sungai. Memerhatikan aliran air yang mengalir. Nampak samar
ikan berenang hilir mudik. Tak jelas kemana arah dan tujuannya. Sesekali suara
burung terdengar.
“Pokoknya, kita harus terus berjuang! Kita paksa mereka agar
mau menuruti kemuan kita. Tidak, tidak. Ini kemauan kita bersama. Demi
kebahagiaan dan kemakmuran kita semua!”
“betul! Kita hajar terus. Berjuang sampai akhir”
Dua orang itu berteriak menggebu-gebu.
Kerumunan masa terlihat berkumpul. Penuh semangat seperti
memperjuangkan sesuatu. Sedikit demi sedikit, massa bertambah. Datang dari
berbagai arah. Hingga membentuk sebuah kumpulan yang sangat banyak. Semua
berkumpul dengan satu visi dan misi. Untuk memperjuangkan kehendak mereka, atas
nama kebahagiaan bersama.
Disisi lain, terlihat barisan manusia. Berbaris menggunakan
tameng membentuk benteng. Aparat keamanan berjaga, bersiap menghalau para
pengunjuk rasa. Tidak lebih banyak, namun dengan peralatan lengkap. Beberapa
kendaraanpun dikerahkan. Water canon dan sebagainya.
Para pengunjuk rasa itu perlahan berjalan. Menuju arah
dimana para aparat keamanan berjaga. Sambil memakai atribut dan membawa
bendera. Mereka berteriak. Mengumandangkan yel-yel serta meneriakan apa yang
mereka tuntut. Satu orang memimpin di depan. Sebagai komando. Semua mengikuti
arahannya.
Sampailah para pengunjuk rasa itu di depan aparat keamanan.
Saling berhadapan satu sama lain. Dengan jarak yang tidak begitu jauh. Mereka
sama-sama diam. Tak lama, dua orang dari pengunjuk rasa itu berjalan
menghampiri aparat. Mungkin pemimpinnya. Diikuti seseorang dari arah aparat.
Mereka bernegosiasi. Entah apa yang mereka bicarakan.
Negosiasi selesai. Mereka menemukan sepakat, mungkin. Salah
satunya, mengijinkan para pengunjuk rasa berorasi. Menyampaikan apa
tuntutan-tuntutan yang mereka inginkan kepada si penguasa. Satu orang
menggunakan pengeras suara, berteriak sambil berjalan bolak-balik di depan para
pengunjuk rasa dan barisan benteng petugas keamanan. Meneriakan aspirasi mereka
dengan lantang. Dikepalanya terikat kain bertuliskan “Merdeka”. Merdeka dari
apa? Rasanya bukan lagi berada di jaman penjajahan, atau masih?
Pengunjuk rasa yang lain ikut berteriak. Terbawa semangat
dari sang orator. Sesekali meneriakan yel-yel. Membentangkan spanduk yang telah
mereka siapkan sebelumnya. Riuh terdengar dari arah pengunjuk rasa. Sementara
itu, petugas keamanan tetap siaga dibalik tamengnya. Mengantisipasi terjadinya
hal-hal yang tidak diinginkan.
Suasana aman. Damai. Hanya teriakan-teriakan dari orator
yang terdengar, tanpa kekerasan. Namun tak lama kemudian, dari massa, ada batu
yang terlempar ke arah petugas. Tepat mengenai kaki petugas yang bersiap
dibalik barisan paling depan. Petugas itu jatuh. Sontak petugas yang lain
kaget. Mereka berteriak ke arah massa. Barisan paling depan maju perlahan.
Mendorong para pengunjuk rasa itu agar mundur. Kondisi yang awalnya damai,
mulai kacau. Saling teriak satu sama lain. Memaki dan menghujat. Karena ulah
salah satu oknum yang dengan sengaja melempar batu ke arah petugas. Memicu
suasana menjadi panas. Tiba-tiba, batu kedua melayang. Beruntung kali ini tidak
ada petugas yang terkena lemparat itu.
Melihat kondisi yang sudah tidak kondusif, akhirnya petugas
berusaha membubarkan massa. Gas air mata ditembakan. Membentuk sebuah lingkaran
besar di tengah kerumunan massa yang menghindar. Mereka berhamburan. Berlarian
menyelamatkan diri. Mulai terjadi konflik. Para pengunjuk rasa itu mulai
menyerang petugas dengan melempari mereka batu, bambu, bahkan ada yang melempar
mereka dengan petasan. Para pengunjuk rasa berlarian kesana-kemari. Menghindar
dari tembakan gas air mata dan juga semburan water canon. Beberapa polisi
terlihat mengejar namun kembali karena di hadang dengan bambu oleh massa.
Disalah satu tempat, polisi terlihat mengejar beberapa
pengunjuk rasa. Menggunakan pakaian serba hitam, beda dengan pengunjuk rasa
yang lain. Nampaknya mereka adalah provokator yang membuat kekacauan ini
terjadi. Akhirnya salah seorang pelaku berhasil di tangkap, dan diamankan oleh
petugas. Aksi unjuk rasa itu menjadi kacau. Akibat beberapa provokator yang
menyulut konflik. Saling lempar terjadi. Pengunjuk rasa pun membakar ban,
menciptakan kepulan asam hitam. Beberapa fasilitas umum rusak. Kaca-kaca toko
pecah akibat terkena lemparan batu.
Setelah dua jam bentrok, suasana mulai mendingin. Tidak ada
lemparan dari kedua belah pihak. Namun masih terdengar makian dan teriakan dari
arah massa. Kepala petugas keamanan berbicara menggunakan pengeras suara.
Meminta kedua belah pihak untuk menahan diri.
Waktu semakin sore. Langit menguning. Terdengar kumandang
adzan dari arah barat. Aku tersadar dari lamunanku. Tidak terasa, hampir satu
jam aku duduk di tepi jembatan ini. Lucu sekali pikirku, menyamakan apa yang
kurasa dengan kejadian akhir-akhir ini. Mungkin itu juga yang terjadi pada
diriku. Dimana hati sebagai pengunjuk rasa dan pikiran sebagai petugas
keamanan. Menuntut keinginan si hati yang ditolak oleh pikiran. Sampai
akhirnya, perang batin. Konflik antara hati dan pikiran. Bisa sangat chaos
sampai aku sulit mengendalikan diriku sendiri. Lalu, bagaimana solusinya? Harus
dibawa ke pengadilan, untuk menentukan siapa yang benar. Kepada siapa? Ya,
Adzan itu clue-nya. Sang Hakim yang maha adil memanggilku.
ceritanya bagus sekali, aku kira awalnya bercerita tentang cinta dua anak manusia, ternyata cinta pada Tuhan
ReplyDelete