Menjelma Menjadi Lailatul Qadar

Shakila baru saja pulang dari sekolah. Hari itu masih ada kegiatan sanlat. Pesantren kilat. Ustadz disekolah menceritakan tentang Lailatul Qadar. Satu malam di bulan Ramadhan yang disebut lebih baik daripada seribu bulan.

Sampai dirumah, Umi sedang duduk di ruang tamu sambil membenahi pakaian yang baru diangkat dari jemuran.

“Umi, Lailatul Qadar itu apa, sih?” Tanya shakila

“Lailatul Qadar itu satu malam di bulan Ramadhan, yang istimewanya sama seperti seribu bulan. Jadi, kalau shakila beribadah pada malam itu, akan dapat pahala dan berkah yang banyak sekali dari Allah” jawab umi.

“Oh, gitu. Emang kapan Umi?”

“Gak ada yang tau, sayang. Kalau cerita orang-orang, adanya di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Begitu istimewanya, jadi Allah pengen kita sendiri yang cari.”

“Kalo begitu, aku mau cari, ah”

Umi hanya tersenyum menanggapinya.

Shakila berniat untuk menemukan malam Lailatul Qadar. Ia bertanya-tanya kepada Pak Ustadz tentang ciri-ciri datangnya malam Lailatul Qadar. Pada malam itu, suasana malam sangatlah tenang. Tidak panas, tidak juga dingin. Angin berhembus sejuk, tidak kencang. Langitpun cerah, tidak menurunkan hujannya. Esoknya, Suasana pagi begitu tenang. Matahari bersinar cerah, tapi tidak panas, tidak menyengat dikulit.

Sejak saat itu, tiap malam Shakila selalu tadarus Al-Quran. Sambil menunaikan niatnya untuk meng-Khatam-kan Al-Quran. Umi sering menemaninya. Ia sangat senang melihat anak bungsunya begitu semangat beribadah. Tidak ada rejeki yang paling berharga selain anak yang soleh dan solehah.

Sepuluh malam terakhir Ramadhan. Shakila semakin giat beribadah. Ia sangat berharap bisa menemui malam Lailatul Qadar –si malam yang sangat istimewa itu. Tiap malam ganjil, sesekali Ia berdiam diri di luar. Memerhatikan keadaan. Menyesuaikan dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Pak Ustadz di sekolah. Malam demi malam berlalu. Tapi rasanya, tiap malam sama saja. Shakila kembali bertanya-tanya. Umi memberi semangat.

“Lebih dekatkan diri kamu kepada Allah. InsyaAllah, Ia memberikan ke istimewaan itu untukmu, Nak.” Ucap Umi.

Kali ini, Shakila tidak sendirian. Ia ditemani Umi dan Kakaknya yang sudah pulang dari pondok, untuk merayakan Idul Fitri bersama-sama.

Idul Fitri pun tiba. Seluruh umat muslim merayakan hari kemenangan itu. Setiap orang berbahagia. Saling maaf memaafkan, kembali fitri, bersih layaknya bayi yang baru lahir. Lalu Shakila, masih tetap dengan rasa penasarannya tentang Lailatul Qadar. Sepulang ziarah, mereka berkumpul di ruang tamu.

“Umi, aku masih penasaran sama malam Lailatul Qadar.” Tanya Shakila.
Umi tersenyum.

“Umi mau sedikit cerita sama kalian”
Anak-anak umi duduk memerhatikan.

“Suatu hari, ada empat orang bersaudara. Mereka dipanggil ayahnya. Ayah mereka memberikan sepetak tanah. Tidak terlalu besar. Hanya saja, ayahnya bilang disana terdapat sebongkah emas yang tidak tahu dimana letaknya. Keempat bersaudara itu harus mencari agar bisa mendapatkannya. Anak pertama, karena tidak sabar, dan bernafsu untuk mendapatkan emas itu, Ia menggunakan mesin keruk untuk menggali tanahnya. Tapi emas itu tidak ditemukan. Lalu tanahnya dikembalikan ke tempat semula, dan Ia menyerah. Kemudian anak kedua, Ia menggunakan sekop. Menggali dan mencari emas yang disebutkan oleh sang ayah. Ia juga tidak menemukannya. Selanjutnya anak ketiga, kali ini Ia menggunakan sendok tembok, dengan harapan bisa lebih baik memilah tanah sehingga bisa menemukan emas yang dimaksud. Lagi-lagi Ia gagal menemukannya. Terakhir si bungsu, perempuan. Ia menggunakan sendok makan untuk mencarinya. Sedikit demi sedikit Ia gali dengan sabar. Karena merasa lama, Ia tidak ingin apa yang dikerjakannya sia-sia tanpa hasil. Sambil menggali, tanah itu Ia tanami dengan sayuran, cabai, tomat dan masih banyak lagi. Sampai akhirnya, Ia pun tidak menemukan emas itu. Namun,tanaman-tanaman yang Ia tanam tumbuh dan berbuah. Ia petik buahnya. Sebagian Ia gunakan untuk kebutuhan. Sebagiannya lagi Ia berikan kepada tetangga. Karena sisanya masih banyak, Ia menjualnya ke pasar. Ketika akan pulang, karena takut uang yang Ia dapat di curi orang di jalan, Ia memutuskan untuk membelikannya emas. Sampai dirumah, akhirnya Ia sadar itulah emas yang disebutkan sang ayah. Tidak ada emas di dalam tanah itu. Ayah ingin anak-anaknya berusaha, bersabar, berikhtiar untuk mendapatkan rejeki dari Allah. Pada akhirnya, anak-anak itu bisa mendapatkan kebutuhan dapur, mendapatkan pahala karena berbagi kepada orang lain, juga mendapatkan emas.”

Lalu Umi menghampiri dan duduk disamping Shakila.

“Nak…”

“Iya Umi?” Jawab Shakila

“Ramadhan ibarat sepetak tanah itu. Lalu didalamnya ada emas yang bernama Lailatul Qadar. Gak ada yang tahu pasti kapan malam itu tiba. Karena Rasul pun nyuruh kita untuk mencarinya. Maka, kita harus mencari dari awal sampai akhir. Petunjuknya sudah jelas diceritakan dalam Al-Quran. Amalkan.”

Umi menjelaskan.

“Sekarang Umi mau nanya, gimana perasaan kalian setelah beribadah?”

“Lebih tenang Umi. Rasanya hati ini damai sekali. Senang terus” Kakak menjawab.

“Tanda-tanda Lailatul Qadar itu tenang, damai. Tidak panas, tidak juga dingin. Sejuk. Sama seperti kalian setelah beribadah. Hati kalian menjadi tenang. Tidak ada amarah, tidak ada dendam. Ikhlas. Begitu seterusnya. Tidak ada prasangka buruk. Senantiasa bersyukur. Sampai kita pada hari ini, hari kemenangan. Yang terpenting adalah prosesnya. Kalian menjadi lebih dekat dengan Allah. Semoga Istiqomah. InsyaAllah, Allah telah memberikan kalian keistimewaan itu. Kalian itu anak-anak Umi yang sangat istimewa. Emas nya Umi.”

Umi mencium kening anak-anaknya. Shakila dan kakaknya begitu senang mendengar penjelasan Umi. Mereka merayakan hari kemenangan itu dengan hati yang berbahagia.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

1 comment: