Idolaku

“Yah, cuma lima ratus ribu doang. Itu aja yang paling murah. Kapan lagi aku bisa nonton One Direction langsung? Apalagi, Zayn Maliknya mau keluar.”
“Ayah lagi gak ada uang. Nanti kalo ada, pasti Ayah kasih.”
“Kapan, Yah? Kan, Ayah cuma pulang seminggu sekali. Nanti konsernya keburu lewat.”

***

Begitu yang dipinta Yuri setiap kali ayahnya pulang kerja. Anak tunggal dari pasangan Pak Yusuf dan Bu Indah cukup keras kepala. Jika memiliki kemauan, harus selalu dituruti. Seperti sekarang, fans berat One Direction ini ingin menyaksikan idolanya tampil. Memang masih satu bulan lagi. Tapi, uang lima ratus ribu untuk satu tiket itu tidaklah sedikit. Ditambah, mereka bukanlah dari keluarga kaya, hanya berkecukupan. Tentu uang sebanyak itu sangat berharga. Daripada membeli tiket yang hanya sekali pakai, lebih baik untuk membeli makanan.

Pak Yusuf, ayah Yuri, bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Ia hanya seminggu sekali pulang ke rumah. Ia lebih memilih menetap di sana ketimbang harus bulak-balik Bogor-Jakarta. Selain boros ongkos, energi pun cukup terkuras selama di perjalanan. Oleh karena itu, setiap kali ada di rumah, Yuri selalu merengek minta dibelikan tiket kepada ayahnya, karena hanya pada saat itulah mereka bisa bertemu. Bu Indah pun sudah pusing dengan kelakuan anaknya itu. Tidak hanya sekali, Yuri sering meminta sesuatu dan harus selalu di turuti. Seperti beberapa waktu lalu, ia minta dibelikan sepatu baru. Terpaksa ibunya memakai uang simpanannya untuk memenuhi keinginan Yuri.

“Nak, Ayah lagi gak ada uang. Kan masih satu bulan lagi. Nanti, kalo Ayah ada, pasti dikasih, kok.”
“Ayah ini, nanti mulu. Nanti kapan? Kalo konsernya udah selesai? Teman-temanku yang lain pada nonton. Masa aku enggak?”
“Teman-temanmu kan orang kaya. Orangtua mereka bisa kasih begitu aja. Sedangkan Ayah? Lagian, baru kemarin kamu beli sepatu baru, uangnya sudah habis.”
“Ah, Ayah gak sayang sama aku!”

***
Konser One Direction sudah tinggal tiga hari lagi. Yuri belum juga mendapatkan uang lima ratus ribu itu. Ayahnya selalu memberikan alasan yang sama. Nanti, nanti, dan nanti. Kesabarannya sudah habis. Ia berniat menyusul sang ayah ke tempat kerjanya. Dengan bermodal kertas alamat yang ia dapat dari teman ayahnya, ia pergi sepulang sekolah.

Jalanan pada saat itu cukup bersahabat. Ia sampai di tempat kerja ayahnya pukul empat sore. Ia mencari tahu keberadaan ayahnya kepada para pekerja lain. Memang selama ini Yuri tidak tahu apa pekerjaan sang ayah. Ia hanya tahu ayah bekerja di sebuah perusahaan asing di daerah Jakarta Selatan.

“Mbak, bisa saya bertemu dengan Pak Yusuf?” Yuri bertanya kepada bagian informasi.
“Maaf, Dek. Pak Yusuf yang mana, ya?”
“Yusuf Aditya, Mbak.”
“Baik, tunggu sebentar ya, Dek.”

Petugas bagian informasi itu segera menghubungi bagian tempat ayah Yuri kerja. Yuri duduk menanti kedatangan sang ayah. Tak lama, seorang pria berumur empat puluh delapan tahun berjalan ke arahnya. Dengan seragam berwarna biru dan di pundaknya terdapat handuk kecil berwarna putih.

“Yuri, ngapain kamu ke sini?” ucap pria yang tidak lain adalah ayah Yuri.
“Mau nyusulin Ayah.”
“Hmm... tunggu Ayah sebentar lagi, ya? Ayah belum selesai kerja. Ngobrolnya jangan di sini.”

***

Jam kerja selesai. Yuri masih menunggu di bagian inormasi. Ayahnya datang menghampiri.

“Huh, lama banget, sih?” Yuri menggerutu.
“Sabar. Ini sudah selesai kok. Ayo, kita ke tempat ayah.”

Keduanya berjalan menuju tempat tinggal ayah Yuri selama di Jakarta.

“Sebenarnya, Ayah kerja apa, sih?”

 Ayahnya tidak menjawab. Ia hanya membalas pertanyaan Yuri dengan senyuman.

Setelah berjalan beberapa lama, sampailah ayah dan anak itu di sebuah mushola. Ayah Yuri masuk ke dalam. Bukan untuk shalat, karena ini bukan waktunya. Yuri mengikuti dari belakang. Ia bingung, apa yang akan ayahnya lakukan di tempat ini.

“Katanya mau ke rumah Ayah?”
“Ya, ini, kita sudah sampai di rumah Ayah.”
“Hah? Mushola ini?”
“Iya, ayo duduk. Gak ada kursi di sini. Jadi, di lantai saja,”

Mereka berdua duduk di lantai yang beralaskan sajadah. Yuri masih dengan ekspresinya yang kebingungan.

“Kenapa? Kamu heran, Ayah tinggal di mushola ini?”
Yuri mengangguk.
“Nak, dulu memang Ayah tinggal di sebuah kontrakan. Tapi, semakin hari kebutuhan keluarga kita semakin banyak. Uang Ayah tidak cukup untuk memenuhi semua itu. Makanya, Ayah tidak lagi tinggal di sana. Dan sekarang, Ayah tinggal di sini.”
“Lalu, Ayah masaknya gimana? Kan, gak ada alat masak di sini.”
“Ayah biasa beli makanan di warung. Ya, beli mie instan. Kalo ada uang, beli yang lebih enak. Tapi, kadang ada temen yang ngajak makan. Dia yang bayarin.”

Yuri terkejut dengan cerita dari ayahnya. Ia tidak menyangka, selama bertahun-tahun, ayahnya tinggal di sebuah mushola kecil dekat tempat kerjanya.

“Tadi kamu nanya kerjaan Ayah? Baiklah, sekarang Ayah kasih tau. Di sini, Ayah kerja jadi cleaning services.
“Serius, Yah?”
“Iya, dari situlah Ayah bisa membayar sekolahmu, membeli makanan untukmu dan Ibumu, baju yang kamu pakai sekarang,” jelas ayahnya.
“Oh, iya. Ayah jadi lupa nanya tujuanmu ke sini. Kamu masih tetep pengen nonton konser itu?”
Yuri diam tak menjawab.
“Ayah bukan gak sayang sama kamu. Ayah sayang banget sama kamu. Kalau tidak, ngapain Ayah cape-cape kerja kayak gini? Ayah bukan gak mau nurutin kemauan kamu. Tapi, Ayah memang lagi gak ada uang. Kamu tau sendiri, kan, setiap kali kamu pengen sesuatu, Ayah selalu belikan. Kalau gak sayang, ngapain Ayah bela-belain nyari uang buat itu?”

Perlahan, kepala Yuri tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Konser itu? Penting banget buat Kamu? Baiklah, ini ada uang simpanan Ayah. Kalau dengan ini kamu bisa percaya Ayah sayang sama kamu, pakailah.”

Beban di kepala Yuri seperti bertambah. Ia semakin tertunduk. Matanya pun sudah tak mampu lagi bertahan. Butiran air mulai mengalir melalui pipinya dan terjatuh di hamparan sajadah yang ia duduki. Hatinya terasa sakit sekali. Ya, sakit karena ulahnya sendiri.

“Ayaah! Maapin aku!”

Yuri memeluk ayahnya. Air matanya pecah, berhamburan ke mana-mana. Cerita dari sang ayah membuat hatinya tersadar. Saat ini, bukan lagi konser One Direction yang ada di pikirannya. Ia hanya ingin memeluk ayahnya dengan sangat erat.

***

Adzan Maghrib berkumandang. Pak Yusuf berdiri mengimami Yuri yang ada di belakangnya. Selesai shalat, mereka berdua membeli makanan.

“Ibu tau kalo kamu ke sini?”
“Oh, iya! Aku lupa bilang.”
“Hmm... lain kali jangan diulangi lagi. Ibumu pasti khawatir.”

Keduanya asik menyantap makanan yang ada di hadapan mereka. Sambil diselingi candaan, mereka menghabiskan makanannya dan bersiap untuk pulang ke rumah.

“Jadi, gimana? Masih mau nonton konser itu?”
“Hmm... enggak. Sekarang idolaku bukan mereka. Ada yang lebih hebat. Ayahku.” Yuri tersenyum.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment