Teruntuk : Kamu
Lagi-lagi surat dariku, apa kamu bosan? Semoga tidak. Jangan
pernah bosan ya, sayang. Karena, aku akan terus mengirimu surat. Sampai nanti
aku tidak bisa mengirim lagi. Dan ketika aku tidak bisa mengirimmu surat lagi,
tolong simpan baik-baik. Jadikan saksi bisu tentang betapa aku mencintaimu.
Sayang, beberapa hari lalu, aku berkumpul bersama
teman-temanku. Mereka membawa pasangannya masing-masing. Beberapa temanku itu
ada yang sudah menikah, ada juga yang masih berpacaran. Salah satu diantara
mereka ada yang membawa anak. Lucu sekali anak kecil itu, gemas aku melihatnya.
Lalu aku? Ya, aku sendiri. Tanpa kamu. Eh, enggak. Sama kamu
kok, aku di motor, kamu dihatiku. Hihi.
Kami berbincang-bincang. Bernostalgia tentang masa sekolah
dulu. Dari kejadian yang lucu, sampai kejadian yang menyedihkan. Betul memang
masa sekolah itu masa yang paling indah. Ingin rasanya kembali ke masa itu.
Sedang asik berbincang, tiba-tiba salah satu temanku
bertanya. “Gung, kapan mau nyusul?” aku senyum kecil. Kujawab “nanti, kalo
sudah waktunya” mereka membalas dengan tertawa. Temanku yang lain malah
meledekku karena mungkin pada saat itu aku datang sendiri, mereka mengira aku
tidak punya pasangan. Temanku yang satunya lagi bilang “ayo, nanti rejeki pasti
ngikutin. Gausah takut” aku hanya menjawab mereka dengan tawa.
Sayang, bagaimana menurutmu? Haha jadi tertawa sendiri aku
membayangkannya. Apa kamu berpikiran sama seperti mereka? Ingin cepat-cepat? Haha
Maaf ya, tapi sepertinya, saat ini aku belum siap. Iya,
memang betul apa kata mereka. Rejeki itu pasti ada, gak usah takut. Tapi, bukan
hanya itu. Menikah itu mudah tapi sulit. Mudah saat menikahnya, sulit
setelahnya. Menikah itu bukan mainan. Harus siap lahir dan batin.
Aku sedang mempersiapkan itu, sayang. Kamu tau kenapa aku
selalu memberimu pelajaran di setiap suratku? Sebenarnya disitu juga aku sedang
mengingatkan diri. Aku ingin dan harus menjadi pribadi yang baik, karena suatu
waktu nanti aku akan menjadi pemimpin keluarga. Aku harus membawa keluargaku ke
jalan yang benar. Iya, kamu dan anak-anak kita nanti.
Dimulai dari diri sendiri, aku harus menjadi tiang yang
kokoh. Agar aku bisa menopang rumah tangga kita dengan kuat. Saat ini, aku
masih belum siap. Aku masih sering terbawa emosiku. Belum bisa mengontrol diri
dengan baik. Coba bayangkan, gimana kalau aku yang masih sering terbawa emosi
ini. Bisa-bisa kita sering marahan, kan, apalagi sikapmu yang kadang seperti
anak-anak. Aku juga masih sering terbawa egoku sendiri. Makanya, aku sering
ngobrol dengan orang yang umurnya lebih tua dariku. Karena, dari kisah hidup
mereka itu aku dapat banyak pelajaran.
Rejeki memang sudah ada yang atur, tapi kita tetap harus
berusaha mencarinya. Begitupun aku, saat ini aku sedang berusaha untuk itu.
Mungkin kamu kecewa, karena aku jarang mengajakmu main, jalan-jalan, seperti
pasangan-pasangan pada umumnya. Maaf sayang, bukan aku tidak mau. Jujur, aku
sangat ingin mengajakmu jalan-jalan. Laki-laki mana yang tidak ingin melihat
wanita yang ia cintai bahagia? Ya, minimal tersenyum. Aku juga ingin. Sangat!
Tapi, sekali lagi, aku minta maaf. Belum bisa membuatmu bahagia saat ini. Yang
kupikirkan adalah bagaimana berusaha, agar aku bisa membuatmu bahagia nanti.
Aku tidak ingin bergantung pada rejeki orang tua. Karena menurutku, laki-laki
yang baik itu yang bertanggung jawab. Walaupun begitu, aku tetap berusaha agar
bisa mengajakmu jalan, membuatmu bahagia. Seperti kemarin, sewaktu kita
jalan-jalan bersama. Kamu tidak perlu bertanya darimana aku dapat uang, karena
buatku, yang terpenting adalah kamu tersenyum.
Selama masih diberi waktu dan kesempatan, selama itu pula
aku akan terus berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Sedih
rasanya ketika aku sadar aku tidak punya apa-apa untuk membuatmu bahagia. Tapi,
aku berjanji, aku akan terus berjuang dan berusaha untukmu, dan untuk kita. Tak
apa, aku tidak ingin bahagia saat ini, aku
ingin bahagia nanti, bersamamu, bersama anak kita dalam satu keluarga.
Bagaimana denganmu? Apa kamu ingin cepat menikah? Kalau kamu
ingin segera, lupakan ketidak siapanku. Ayo, besok lusa kalau tidak hujan, kita
ke KUA! Hahaha
Mungkin kamu bosan dengan isi suratku yang selalu berisi
nasihat. Tapi, asal kamu tahu, sampai saat ini aku masih memegang ucapan
Ayahmu. Yang menitipkan kamu kepadaku, supaya aku mengajarimu agar lebih baik. Agar
aku mengingatkanmu ketika kamu melakukan kesalahan. Kamu jangan bosan, ya. Ini semua
demi kebaikanmu juga.
Sayang, tetaplah seperti bintang dilangit. Biarpun awan
mendung menutupinya, tapi ia tetap bersinar terang. Tak peduli ada orang yang
melihat atau tidak. Jaga hatimu selalu untukku, ya! Sampai jumpa!
Salam Sayang,
Agung Adiwangsa
0 komentar:
Post a Comment