Surat Untukmu : Aku Tidak Ingin Bahagia...


Teruntuk : Kamu

Lagi-lagi surat dariku, apa kamu bosan? Semoga tidak. Jangan pernah bosan ya, sayang. Karena, aku akan terus mengirimu surat. Sampai nanti aku tidak bisa mengirim lagi. Dan ketika aku tidak bisa mengirimmu surat lagi, tolong simpan baik-baik. Jadikan saksi bisu tentang betapa aku mencintaimu.

Sayang, beberapa hari lalu, aku berkumpul bersama teman-temanku. Mereka membawa pasangannya masing-masing. Beberapa temanku itu ada yang sudah menikah, ada juga yang masih berpacaran. Salah satu diantara mereka ada yang membawa anak. Lucu sekali anak kecil itu, gemas aku melihatnya.

Lalu aku? Ya, aku sendiri. Tanpa kamu. Eh, enggak. Sama kamu kok, aku di motor, kamu dihatiku. Hihi.

Kami berbincang-bincang. Bernostalgia tentang masa sekolah dulu. Dari kejadian yang lucu, sampai kejadian yang menyedihkan. Betul memang masa sekolah itu masa yang paling indah. Ingin rasanya kembali ke masa itu.

Sedang asik berbincang, tiba-tiba salah satu temanku bertanya. “Gung, kapan mau nyusul?” aku senyum kecil. Kujawab “nanti, kalo sudah waktunya” mereka membalas dengan tertawa. Temanku yang lain malah meledekku karena mungkin pada saat itu aku datang sendiri, mereka mengira aku tidak punya pasangan. Temanku yang satunya lagi bilang “ayo, nanti rejeki pasti ngikutin. Gausah takut” aku hanya menjawab mereka dengan tawa.

Sayang, bagaimana menurutmu? Haha jadi tertawa sendiri aku membayangkannya. Apa kamu berpikiran sama seperti mereka? Ingin cepat-cepat? Haha

Maaf ya, tapi sepertinya, saat ini aku belum siap. Iya, memang betul apa kata mereka. Rejeki itu pasti ada, gak usah takut. Tapi, bukan hanya itu. Menikah itu mudah tapi sulit. Mudah saat menikahnya, sulit setelahnya. Menikah itu bukan mainan. Harus siap lahir dan batin.

Aku sedang mempersiapkan itu, sayang. Kamu tau kenapa aku selalu memberimu pelajaran di setiap suratku? Sebenarnya disitu juga aku sedang mengingatkan diri. Aku ingin dan harus menjadi pribadi yang baik, karena suatu waktu nanti aku akan menjadi pemimpin keluarga. Aku harus membawa keluargaku ke jalan yang benar. Iya, kamu dan anak-anak kita nanti.

Dimulai dari diri sendiri, aku harus menjadi tiang yang kokoh. Agar aku bisa menopang rumah tangga kita dengan kuat. Saat ini, aku masih belum siap. Aku masih sering terbawa emosiku. Belum bisa mengontrol diri dengan baik. Coba bayangkan, gimana kalau aku yang masih sering terbawa emosi ini. Bisa-bisa kita sering marahan, kan, apalagi sikapmu yang kadang seperti anak-anak. Aku juga masih sering terbawa egoku sendiri. Makanya, aku sering ngobrol dengan orang yang umurnya lebih tua dariku. Karena, dari kisah hidup mereka itu aku dapat banyak pelajaran.

Rejeki memang sudah ada yang atur, tapi kita tetap harus berusaha mencarinya. Begitupun aku, saat ini aku sedang berusaha untuk itu. Mungkin kamu kecewa, karena aku jarang mengajakmu main, jalan-jalan, seperti pasangan-pasangan pada umumnya. Maaf sayang, bukan aku tidak mau. Jujur, aku sangat ingin mengajakmu jalan-jalan. Laki-laki mana yang tidak ingin melihat wanita yang ia cintai bahagia? Ya, minimal tersenyum. Aku juga ingin. Sangat! Tapi, sekali lagi, aku minta maaf. Belum bisa membuatmu bahagia saat ini. Yang kupikirkan adalah bagaimana berusaha, agar aku bisa membuatmu bahagia nanti. Aku tidak ingin bergantung pada rejeki orang tua. Karena menurutku, laki-laki yang baik itu yang bertanggung jawab. Walaupun begitu, aku tetap berusaha agar bisa mengajakmu jalan, membuatmu bahagia. Seperti kemarin, sewaktu kita jalan-jalan bersama. Kamu tidak perlu bertanya darimana aku dapat uang, karena buatku, yang terpenting adalah kamu tersenyum.

Selama masih diberi waktu dan kesempatan, selama itu pula aku akan terus berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Sedih rasanya ketika aku sadar aku tidak punya apa-apa untuk membuatmu bahagia. Tapi, aku berjanji, aku akan terus berjuang dan berusaha untukmu, dan untuk kita. Tak apa, aku tidak ingin bahagia saat ini, aku  ingin bahagia nanti, bersamamu, bersama anak kita dalam satu keluarga.

Bagaimana denganmu? Apa kamu ingin cepat menikah? Kalau kamu ingin segera, lupakan ketidak siapanku. Ayo, besok lusa kalau tidak hujan, kita ke KUA! Hahaha

Mungkin kamu bosan dengan isi suratku yang selalu berisi nasihat. Tapi, asal kamu tahu, sampai saat ini aku masih memegang ucapan Ayahmu. Yang menitipkan kamu kepadaku, supaya aku mengajarimu agar lebih baik. Agar aku mengingatkanmu ketika kamu melakukan kesalahan. Kamu jangan bosan, ya. Ini semua demi kebaikanmu juga.

Sayang, tetaplah seperti bintang dilangit. Biarpun awan mendung menutupinya, tapi ia tetap bersinar terang. Tak peduli ada orang yang melihat atau tidak. Jaga hatimu selalu untukku, ya! Sampai jumpa!


Salam Sayang,


Agung Adiwangsa

Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment