Teruntuk : Kamu
Hallo, sayang. Ada titipan untukmu. Dari hati yang mulai rindu. Katanya, kapan akan bertemu?
Ada salam dari mata. Yang rindu ingin melihatmu. Melihat senyum yang manis itu. Rindu memandang wajah cantikmu. Rindu melihat tingkahmu yang konyol itu.
Ada salam dari telinga. Yang juga rindu mendengar suaramu. Suara merdu, yang selalu ditunggu. Suara yang seringkali membisikan kata cinta. Sampai-sampai, ia tidak ingin mendengar suara lain. Hanya Kamu. Kamu yang ditunggu.
Ada juga salam dari jemariku. Yang sama merindu. Rindu menjabat tangan lembutmu. Rindu mencubit pipimu. Rindu akan hangatnya genggamanmu. Ia bertanya “dimana kamu? Aku rindu. Biar kutuntun Kamu ke jalan bahagia”
Ada salam dari senja. Ia bilang, kapan Kita berdua akan bermain lagi bersamanya? Dia suka melihat Kita bahagia. Duduk bersama, bercanda tawa. Berlari menari mengikuti irama. Sederhana namun luar biasa. Aku, Kamu dan senja.
Rindu bukan sebuah persoalan. Ia adalah jawaban yang belum tuntas. Bahkan, tak harus. Rindu seperti hujan. Kadang datang kadang pergi. Tapi terus ada. Kadang besar, kadang kecil. Tapi terasa. Selama ada cinta, selalu ada rindu. Karena rindu tak mengenal jarak dan waktu. Rindu tidak melulu tentang temu. Ada sesuatu yang belum tuntas.
Malam ini Aku duduk di teras rumah. Memerhatikan air yang menetes dari daun. Menikmati udara dingin sisa hujan. Sesekali berbisik kepada angin. “hey, tolong sampaikan salam ini padanya, salam rindu.”
Aku titip rindu lewat surat ini. Tolong Kamu terima, dan jaga sampai Kita bertemu nanti. Aku akan menunggumu di persimpangan jalan. Biar kutuntun Kamu nanti. Bersama, menuju jalan bahagia.
Dari Aku, yang merindu.
Agung Adiwangsa
0 komentar:
Post a Comment