Surat Untukmu : Hujan, rejeki atau cobaan?


Teruntuk : Kamu



Hai, sayang.

Apa kabar? Semoga baik-baik saja. Aku gak akan bosen-bosen buat ngingetin kamu soal kesehatan. Aku tahu kamu sangat sibuk. Jadi, jaga selalu kesehatanmu, ya!

Sayang, aku ingin sedikit bercerita kepadamu. Tentang apa yang ku alami, dan tentang pelajaran yang ku dapat dari situ.
Kamu masih ingat? Aku pernah bilang, bahwa pelajaran tentang kehidupan itu di dapat dari kehidupan itu sendiri. Kadang kita tidak sadar, bahwa hidup ini sedang mengajari kita suatu hal. Sehingga kita tak acuh, padahal itu sangat berharga untuk kita.
Beberapa waktu lalu, aku sedang duduk santai di depan rumah omku. Kebetulan dekat rumah omku itu, ada tetangga yang profesinya sebagai pedagang es keliling. Kamu tahu kan cendol? Nah, itu yang Ia jual. Minuman yang segar untuk dinikmati ketika cuaca panas. Sayangnya, saat itu hujan turun. Cukup lebat. Sampai aku yang mau ke warung pun tertahan. Dari kejauhan aku lihat si Bapak itu sedang bersiap untuk berangkat jualan. Menyiapkan cendolnya, gula nya, dan es yang sudah ia serut di rumah. Nah, itu yang membuatku agak bingung. Kamu bisa bayangkan. Kondisi hujan, minum es, apa yang terjadi? Pikiran dangkalku berkata “ah, ada-ada aja si bapak. Mana ada orang mau beli es pas hujan begini. Enakan ngopi anget” Singkat cerita, si bapak itu selesai dengan persiapannya. Dan berangkat untuk berjualan. Kebetulan ia berhenti di depan rumah omku. Aku sapa dia sambil sedikit bertanya “Emang hujan gini ada yang mau beli es, pak?” jawaban si bapak itu sangat menarik. Dia jawab “Yah , Kang, namanya juga usaha. Kalo satu orang gak mau beli, siapa tau orang yang lain ada yang beli. Rejeki kan bukan di atur sama hujan” Aku hanya tertawa mendengar jawabannya, dan sedikit bercanda karena memang kami sudah akrab.

Dilain tempat. Aku melihat tetanggaku yang lain, seorang ibu-ibu yang menggerutu karena jemurannya basah terkena cipratan air hujan. Kulihat ia marah-marah dan sesekali memaki hujan sambil berusaha untuk mengamankan pakaiannya dari cipratan air hujan itu. Aku hanya memerhatikan dan kembali dengan aktifitasku. Minum kopi.

Sayang, setelah dua kejadian itu, aku berpikir. Kok rasanya ada yang aneh. Tapi apa ya? Belum terpikir. Sampai akhirnya aku sadar. Kamu tahu apa yang ada dipikiranku saat itu? Ya! Ada pelajaran penting yang terselip diantaranya. Dari si Bapak penjual es itu aku sadar. Betul, usaha tidak akan menghianati hasil. “Jika orang yang satu tidak mau membeli, mungkin ada orang lain yang mau” ia tetap optimis dan tidak menyerah. Mungkin kalau aku, sudah balik badan dan kembali ke tempat tidur. Tapi, si bapak ini enggak. Ia tetap semangat untuk berjualan. Setiap usaha pasti ada cobaannya. Sama hal nya dengan si bapak itu. Ketika ia akan pergi berusaha, ada halangan dari si hujan. Dan apa yang ia lakukan sangat tepat. Tetap berusaha dan melawan cobaan itu.

Lalu, bagaimana dengan si ibu yang marah-marah itu? Begini, saat itu dalam pikiranku muncul pertanyaan. “ini sebenernya yang salah siapa? Si ibu, atau hujan?” Coba kamu bayangkan. Hujan itu alami. Ketika waktunya ia turun, maka ia akan turun. Lalu si ibu itu menjemur pakaian, dan kembali basah karena cipratan air hujan dan Dia marah-marah. Sekarang coba pikir, apa dengan marah-marah pakaian itu akan kembali kering? Apa dengan marah hujan itu akan langsung berhenti? Tidak mungkin! Pakaian itu tetap akan basah dan hujan akan tetap turun sampai waktunya ia berhenti. Lalu buat apa marah-marah? Salah hujan yang turun, apa salah dia yang tidak mengantisipasi dengan memindahkan pakaiannya ketika melihat cuaca yang akan turun hujan? Istilah “sedia payung sebelum hujan” itu bukan hanya untuk mereka yang akan bepergian. Itu maksudnya mengantisipasi hal buruk sebelum itu terjadi. Ya sama seperti cerita si ibu itu. Dia gak sedia “payung” sebelum hujan.

Sayang, aku bercerita bukan hanya untuk di dengar. Aku ingin kamu pun belajar. Masih ingat suratku sebelumnya? Yang kubilang ingin membangun hubungan denganmu? Untuk itu, aku ingin kita sama-sama belajar. Agar hubungan itu menjadi lebih baik. Karena banyak hal yang kita tidak tahu dalam hidup ini. Aku berbagi karena aku sayang sama kamu. Aku ingin kamu pun menjadi pribadi yang lebih baik. Aku sadar, suatu saat aku akan menjadi imammu. Dimana kamu menjadi pengikutku, maka aku harus membawamu ke arah yang benar. Sampai saat ini, aku terus berusaha untuk menjadi lebih baik.

Jodoh memang ditangan Tuhan, tapi bagaimana Tuhan mau memberi kalau kita tidak mau meminta? Rencana Tuhan memang tidak ada yang tahu, tapi kembali lagi seperti kejadian yang kuceritakan, usaha tidak akan menghianati hasil dan jangan marah ketika apa yang terjadi, tidak sesuai dengan harapan kita. Untuk sebagian orang mungkin rejeki itu berupa materi, tapi tidak untukku. Seperti halnya hujan yang menurunkan rejeki, saat itu yang kudapat bukan materi, tapi hujan memberiku pelajaran.

Sampai jumpa di suratku berikutnya, ya! Jaga selalu hatimu.


Salam Sayang,



Agung Adiwangsa


Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment